
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 25
Ibu Delima sangat marah pada semua orang, terutama kepada suaminya sendiri dan Rinjani. Dia menatap sinis pada kedua orang itu. Dia berpikir kalau keduanya sudah bekerja sama ingin mempermalukan dirinya.
"Wah, aku tidak menyangka kalau suamiku sendiri membela si janda. Ada apa ini? Apa kalian memang sudah bersekongkol untuk menjebak aku?" Ibu Delima menyindir kepada Pak Handoko dan Rinjani.
"Asal kalian tahu saja, kemarin saat Rinjani mencuci dan menyetrika di rumah aku, menggoda suami aku. Aku punya buktinya!" Ibu Delima mengeluarkan handphone miliknya dan memutar sebuah video tanpa suara.
Dalam video itu terlihat kalau Pak Handoko dan Rinjani yang sedang mencuci itu berduaan dan entah membicara apa, yang jelas terlihat suaminya Ibu Delima ini, tersenyum-senyum sambil mencuri pandang kepada sang janda.
Kini orang-orang yang ada di sana menjadi bingung. Siapa yang jujur dan siapa yang berbohong.
Orang-orang yang suka kepo akan kehidupan orang lain biasanya selalu penasaran dan terus ingin mengorek informasi yang banyak. Entah berita itu benar atau salah yang penting rasa penasarannya terobati.
Bagaskara yang tahu Rinjani tidak mungkin menggoda laki-laki seperti Pak Handoko. Dirinya yang jauh lebih tampan, lebih muda, dan lebih kaya saja tidak bisa membuat Rinjani melirik ke arahnya.
"Apa saya boleh pinjam handphone milik Ibu?" tanya Bagaskara.
Orang-orang di sana mengenal Bagaskara sebagai saudara jauh Rinjani. Mereka berpikir kalau laki-laki ini pastinya akan membela sang janda kembang.
Pak RT menyuruh Ibu Delima untuk menyerahkan benda pipih itu kepada Bagaskara. Ketika barang itu sudah berada di tangannya. Dia mengirimkan video itu ke handphone miliknya. Setelah itu, dia meminta pada pihak IT perusahan miliknya untuk memperjelas pembicaraan antara Pak Handoko dengan Rinjani.
__ADS_1
Ibu Delima tersenyum sinis kepada Bagaskara, seakan wanita itu memang. Lalu, tidak lama kemudian Bagaskara memutar video itu dengan audio yang jelas.
Video kesatu
"Bu Rinjani, sini istirahat dulu! Jangan memaksakan diri kalau lelah." (Pak Handoko)
"Terima kasih, Pak. Saya tidak merasa kecapekan, karena sudah terbiasa." (Rinjani)
Video kedua
"Bu Rinjani, bagaimana kabar anak-anak?" (Pak Handoko yang kini duduk tidak jauh di samping Rinjani).
"Alhamdulillah, baik." (Rinjani).
"Aku sangat mendambakan sekali ingin memiliki anak yang banyak, tapi sepertinya takdir tidak memihak kepadaku." (Pak Handoko).
"Alhamdulillah, penyakitnya sudah berangsur membaik karena ditangani oleh dokter dan langsung dalam pengawasannya." (Rinjani).
Betapa malunya Ibu Delima dan Pak Handoko saat semua warga melihat rekaman video yang utuh beserta suaranya. Tentu saja ini membuat geger warga RT tempat Rinjani tinggal saat ini.
Ibu Delima yang sudah merasa terpojokkan akhirnya memilih pergi dari sana. Begitu juga dengan Pak Handoko. Laki-laki itu pulang menyusul istrinya dengan menggunakan motor yang berbeda. Padahal jarak rumahnya ke rumah Rinjani sekitar 300 meter, tetapi mereka suka bepergian naik motor, dari pada jalan kaki.
Setelah itu para warga pun membubarkan diri, masih dengan membicarakan kelakuan Ibu Delima yang tidak pantas ditiru, apalagi mendapat pujian. Padahal dulu mereka sering menjadikan pasangan itu sebagai contoh pasangan suami istri yang harmonis dan bahagia karena punya banyak harta. Berbeda dengan pasangan Rinjani dan Dewa juga terkenal harmonis dan sederhana, karena tidak memperlihatkan punya harta yang banyak.
***
__ADS_1
Bagaskara senyam-senyum sendiri mengingat kejadian tadi saat berada di rumah Rinjani. Kini laki-laki ini sedang berada di rumah kontrakan yang tidak jauh dari rumah Rinjani, hanya beda RT saja, tetapi masih satu RW.
Setelah sekian lama, dia bisa kembali menyentuh Rinjani. Meski hanya kepalanya saja.
"Rinjani, kenapa kamu selalu saja mengganggu pikiranku? Tidak dulu, tidak sekarang. Kamu masih saja sulit untuk aku lupakan," gumam Bagaskara sambil melihat foto wanita itu di layar handphone yang dia ambil secara diam-diam.
Bukan hanya foto Rinjani, ketiga anaknya juga dia ambil gambarnya yang banyak dan dia kirimkan kepada Kakek Atmaja. Setidaknya itu menjadi obat rindu untuknya, karena saat ini Rinjani masih belum bisa pergi ke ibu kota dengan status dia yang wajib lapor kepada polisi.
"Ya Allah, semoga Rinjani itu jodoh aku yang tertunda," ucap Bagaskara dalam doanya.
Laki-laki itu kini semakin giat mempelajari agama Islam dan rajin beribadah. Jangankan yang wajib, yang sunah pun dia kerjakan jika mampu.
Anak-anak Rinjani yang sudah menyadarkan dirinya kalau saat itu hidup dia tidak ada artinya. Tanpa menjadikan dirinya seorang hamba. Begitu dia sadar bahwa ada Tuhan Sang Pemilik Kehidupan, yang seharusnya dia sembah setiap hari setiap waktu, maka dia pun kembali bersujud kepadanya di waktu pagi, siang, petang, dan malam.
Bahkan Bagaskara memanggil guru mengaji ke rumahnya hanya untuk bisa mengaji yang tartil.
***
Rinjani bersujud dan berdoa dalam sholatnya, dia berserah diri kepada Allah, karena hanya Dia yang bisa menolong semua makhluknya. Saat dia di fitnah atau dipermalukan di depan semua orang, dengan Kasih Sayangnya, dia menggerakkan hati Bagaskara agar berbuat seperti tadi.
Bila tidak ada Bagaskara, belum tentu Rinjani akan selamat dari fitnah itu. Sebab, dia tidak punya bukti atau alat untuk mematahkan bukti milik Ibu Delima.
"Alhamdulillahi rabbil alamin. Ya Allah, berkat pertolongan Engkau, aku bisa terhindar dari fitnah. Semoga aku dan keluargaku selalu berada dalam lindungan-Mu."
Ketika Rinjani mengakhiri sholatnya, terlihat Aqilah sedang memandangi dirinya dengan berderai air mata. Melihat hal ini tentu saja perempuan itu bertanya-tanya, apa sesuatu telah terjadi kepada putrinya.
__ADS_1
***
Apa yang menyebabkan Aqilah menangis? Apakah Ibu Delima akan mendapatkan balasan atas kelakuannya? Tunggu kelanjutannya, ya!