Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)

Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)
Bab 18. Pembebasan Rinjani


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 18


Azzam pergi ke kantor polisi bersama dengan Pak RT. Air mata bocah laki-laki itu tidak berhenti sejak dia masih di rumah. Tangan kecilnya sesekali menyeka cairan bening itu di pipinya.


'Ya Allah, tolong ibu! Aku percaya ibu tidak mungkin mencuri. Tolong kami, Ya Allah. Perlihatkanlah kebenaran dari kejadian yang sudah menimpa ibu. Astaghfirullahal'adzim … astaghfirullahaladzim.'


Azzam tidak berhenti berdoa dan beristighfar dalam hatinya. Dia yakin dan percaya kalau Allah akan selalu bersama dengannya.


Hati bocah kecil itu teriris saat melihat ibunya datang bersama dengan seorang laki-laki berseragam polisi. Dia pun langsung berlari dan langsung memeluk tubuh wanita yang sudah menjaganya selama ini.


"Ibu." Azzam menangis tersedu-sedu begitu juga dengan Rinjani yang menahan isak tangisnya agar tidak membuat sang anak lebih bersedih lagi.


"Abang, ke sini sama siapa saja?" tanya Rinjani sambil mengelus kepala Azzam dengan lembut.


"Sama Pak RT dan Mang Jalil," jawab Azzam.


Rinjani pun mengucapkan terima kasih kepada Pak RT yang masih mau mengurus keluarganya. Selain itu, dia juga merasa tidak tenang karena harus meninggalkan Attar yang masih dalam penyembuhan.


"Bu Rinjani jangan khawatir, nanti anak-anak akan tinggal bersama di rumah kami," ucap Pak RT.


Rinjani merasa bersyukur karena keluarga Pak RT masih mempercayai dirinya dan juga mau mengurus anak-anak. Kini, tinggal dia berharap ada keajaiban yang terjadi yang bisa mengeluarkan dirinya dari penjara.


***


Sementara itu, Aqilah sambil menggendong Attar, mendatangi rumah Bu RT sambil membawa selembar kertas yang isinya berderet angka. Sebenarnya dia malu bertamu di saat ini, karena hari hampir magrib. Namun, tidak ada cara lain yang bisa dia lakukan saat ini.

__ADS_1


"Bu RT, bisa tolong telepon ke nomor ini. Aku mau bicara sama Om Bagas," kata Aqilah setelah ditanya kedatangannya ke rumah oleh Bu RT.


"Ini nomor saudara ibumu itu yang dulu menginap?" tanya Bu RT.


"Iya, Bu RT," jawab Aqilah, sementara dalam hatinya dia beristighfar karena sudah berbohong.


Wanita paruh baya itu langsung menghubungi nomor yang tertera di kertas. Setelah beberapa lama tersambung dari seberang sana terdengar suara laki-laki.


^^^"Halo."^^^


"Assalamualaikum, Om Bagas. Ini Aqilah."


^^^"Wa'alaikumsalam, Aqilah. Ada apa? tumben jam segini menelpon Om."^^^


"Om, tolongin ibu." 


Aqilah mulai menangis, suara dia bergetar karena menahan isakan tangisnya. Hanya dia satu-satunya orang yang terpikirkan oleh gadis kecil itu yang dapat menolong.


"Ibu sudah dituduh mencuri cincin berlian oleh Ibu Delima."


^^^"Apa? Lalu, ibu kamu bagaimana keadaannya sekarang?"^^^


"Ibu di bawah ke kantor Polisi dan dipenjara di sana."


Kini suara tangisan Aqilah pecah. Gadis kecil itu sudah tidak bisa menahan lagi rasa sakit hatinya.


^^^"Baiklah om akan ke sana sekarang. Saat ini kamu sedang berada di mana?"^^^


"Di rumah Bu RT."

__ADS_1


^^^"Kamu tinggal di rumah Bu RT dulu sampai Om datang ke sana."^^^


***


Bagaskara saat itu juga langsung pergi ke kampung Suka Jaya tempat tinggal Rinjani saat ini. Laki-laki itu percaya kalau ibu beranak tiga itu tidak mungkin mencuri cincin berlian milik orang lain. 


Begitu sampai ke kantor polisi Bagaskara mengurus dan memberikan uang jaminan untuk membebaskan Rinjani. Dia juga meminta polisi untuk melakukan penyelidikan yang benar. Apa benar Rinjani sudah mencuri cincin berlian itu atau hanya fitnah belaka dari seseorang..


"Saya harap Bapak mau memeriksa kembali cincin berlian itu. Apa terdapat sidik jari milik Rinjani atau tidak," ucap Bagaskara.


"Baiklah akan kami tinju kembali masalah ini. Sebenarnya kejadian ini bisa dilakukan dengan cara kekeluargaan. Mungkin saja sudah terjadi salah paham," balas laki-laki berseragam polisi.


Rinjani malam itu pun bisa terbebas dengan uang jaminan. Betapa bahagianya dia saat mendengarkan dirinya sudah terbebas dari penjara.


"Kami akan melakukan pemeriksaan kembali atas tuduhannya yang dilayangkan kepada Anda," ucap salah seorang polisi yang ada di sana.


Beberapa kali Rinjani mengucapkan terima kasih. Dia juga berharap kebenaran akan segera terungkap.


"Sebaiknya Anda juga berterima kasihlah kepada orang yang sudah memberikan jaminan untuk pembebasan Anda," lanjut polisi tadi.


"Di manakah orang itu berada sekarang?" tanya Rinjani.


"Dia ada di depan sedang menunggu Anda. Dia juga akan mengantarkan Anda pulang ke rumah," jawab laki-laki berbadan tegap.


Rinjani pun keluar dari kantor polisi dan berjalan ke arah parkiran. Terlihat ada mobil dan seorang laki-laki sedang berdiri.


'Apa itu orangnya, ya?' (Rinjani)


***

__ADS_1


Bagaimanakah reaksi Rinjani saat melihat Bagaskara? Apakah kebenaran akan cepat terungkap? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2