Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)

Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)
Bab 33. Hari Pertama Di Rumah Kakek


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 33


"Kalian mau, 'kan, tinggal di sini selamanya bersama Kakek?" tanya Kakek Atmaja.


Ketiga anak Rinjani saling satu sama lain, kamu ada yang terakhir mengarahkan pandangannya kepada sang ibu. Mereka tidak tahu harus menjawab apa. 


"Jika kalian ingin tinggal di sini bersama Kakek, maka ibu pun akan ikut bersama dengan kalian. Namun, jika kalian tidak ingin tinggal di sini, maka Kakeklah yang akan ikut bersama kita tinggal di desa," ucap Rinjani.


Mendengar ucapan ini Kakek Atmaja pun mengangkat tangannya. Tanda dia ingin menyela ucapan Rinjani.


"Sebaiknya kamu tinggal di sini dan urusan perusahaan. Kakek sudah sangat tua, sudah tidak ingin memikirkan hal seperti itu lagi. Bukannya itu juga perusahaan milikmu dan kelak akan menjadi milik anak-anakmu," balas Kakek Atmaja.


Rinjani tahu kalau dirinya adalah salah satu pemegang saham terbesar kedua dari perusahaan keluarganya ini. Sang Kakek adalah pemilik saham terbesar dan hanya selisih 5% saja. Sementara itu, Paman Agung juga masih punya sedikit saham di perusahaan PT. ATMAJA meski dia tinggal di luar negeri.


"Tapi, Kek," ucap Rinjani ingin membantah keinginan kakeknya ini.


"Apa kamu tidak mengasihani kakek kamu yang sudah tua ini?" tanya Kakek Atmaja dengan tatapan sendu yang membuat hati Rinjani merasa sedih.

__ADS_1


Dulu sebelum Rinjani pergi, posisi dia menempati direktur keuangan yang ada di perusahaan PT. ATMAJA dan Kakeknya adalah seorang komisaris. Meski begitu tetap saja Rinjani selalu terlibat dalam semua pekerjaan kakeknya. Dia tidak ingin laki-laki tua itu jatuh sakit karena kelelahan.


Rinjani pun melihat ke arah anak-anaknya dan meminta persetujuan kepada mereka. Bagaimanapun juga bagi dia kebahagiaan anak-anaknya 'lah yang nomor satu. Dia tidak mau memaksakan kehendaknya. Jika anak-anak ingin tinggal di ibu kota, maka dia harus menyelesaikan segala urusan yang ada di kampung. Namun, sebaliknya jika anak-anak ingin tinggal di kampung, maka dia akan melepaskan perusahaan itu untuk dikelola oleh orang lain.


Ketiga anak Rinjani pun berbisik-bisik, mereka sedang membahas mau tinggal di mana untuk kedepannya. Jika mereka ingin merasakan hidup yang serba berkecukupan, berarti harus tinggal di kota. Namun, jika mereka ingin hidup sederhana maka di desa adalah tempat yang terbaik.


"Jika kita tinggal di ibukota berarti semua fasilitas yang kita perlukan itu akan ada. Berbeda dengan di desa, segala fasilitas itu masih kurang, bahkan tidak ada," kata Aqilah.


"Abang juga setuju, Selain itu ibu juga bisa dekat dengan kakek kembali. Bukannya ini sangat bagus untuk hubungan mereka berdua ke depannya," sambung Azzam.


"Adik mau ikut Ibu, Kakak, dan Abang," ucap Attar ikut-ikutan.


"Berikan waktu Rinjani untuk berpikir, Kek," pinta ibu beranak tiga itu akhirnya.


Suasana di rumah Kakek Atmaja kini menjadi ramai. Para pekerja di sana pun suka terhadap anak-anak Rinjani, yang terlihat ramah dan sopan kepada mereka. Apalagi Attar yang selalu mencuri perhatian mereka, karena lucu.


Bahkan Kakek Atmaja bisa tertawa lepas, ketika melihat tingkah ketiga cucu buyutnya yang sedang bermain di taman samping. Ada ayunan, jungkitan, dan perosotan bekas bermain Rinjani dahulu. Semua masih terawat dengan baik.


"Seharusnya besok aku buat taman bermain yang kumplit di sini, agar mereka menjadi lebih senang dalam bermain," tukas Kakek Atmaja yang duduk di kursi teras bersama dengan Rinjani.


"Kakek jangan terlalu memanjakan mereka. Takutnya menjadi sesuatu yang tidak baik bagi anak-anak," tukas Rinjani.

__ADS_1


***


Bagaskara yang tahu kalau Rinjani saat ini sedang berada di ibu kota merasa sangat bahagia. Dia tadinya akan mengunjungi rumah Kakek Atmaja untuk bisa bercengkrama dengan ketiga bocah kecil itu. Namun, setelah dia pikir-pikir kembali, dia tidak ingin mengganggu momen kebersamaan Kakek Atmaja bersama Rinjani dan keluarganya.


"Kenapa, sih, Rinjani selalu saja menolak handphone pemberian dari aku. Padahal dengan adanya benda itu komunikasi dia dengan orang lain menjadi lebih mudah," gerutu Bagaskara.


Padahal niat dia dulu memberikan handphone agar dia bisa menghubungi perempuan itu setiap hari atau setiap waktu saat dia senggang. Namun, selalu saja ditolak tanpa alasan yang jelas.


"Rinjani dan ketiga anak-anak itu sekarang sedang apa, ya?" tanya Bagaskara sambil bergumam.


"Kak Bagas, sedang memikirkan apa? Dipanggil sejak tadi tidak menyahut," tanya Dirga.


"Yang jelas ini bukan urusan kamu," balas Bagaskara.


Kedua Kakak Adik itu saling beradu pandang. Mereka tidak suka kalau saudaranya mencampuri urusan pribadi masing-masing.


'Kenapa semua orang hari ini mendadak sangat menyebalkan sekali. Tadi juga pergi ke rumah Rinjani tidak ada seorang pun di sana. Sebenarnya mereka pergi ke mana, ya?' (Dirga)


***


Apakah Rinjani dan anak-anaknya akan memutuskan tinggal di ibu kota bersama dengan Kakek Atmaja? Atau tetap memutuskan tinggal di desa agar mudah mengunjungi makam suaminya? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


__ADS_2