Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)

Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)
Bab 38. Rinjani & Bagaskara (2)


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 38


Rinjani terdiam dan memikirkan ucapan Bagaskara. Belum juga mulutnya terbuka untuk mengucapkan sesuatu, laki-laki itu sudah memotongnya kembali.


"Atau kamu tidak mau kembali ke sini karena ada aku?" tanya Bagaskara dengan tatapan tajam seakan menembus jantung Rinjani.


Rinjani mengerutkan keningnya dan menggelengkan kepala. Baginya laki-laki ini bukanlah sebuah ancaman atau masalah yang ada dalam hidupnya.


"Aku ingin anak-anak tumbuh dengan baik. Mereka bisa bersosialisasi dengan baik kepada teman, tetangga, atau orang lain yang mereka temui di jalan. Aku ingin anak-anak memiliki adab yang baik. Bertutur kata dan bertindak baik serta sopan. Itu semua tidak di pelajari di mata pelajaran sekolah, tapi langsung di lingkungan keseharian tempat tinggal. Aku tidak mau anak-anak yang menjadi individualisme dan tidak bisa bersimpati atau berempati terhadap tetangga atau orang lain," balas Rinjani sambil menatap balik Bagaskara.

__ADS_1


"Aku merasakan sendiri hidup di sini itu seperti apa. Sulit berteman dengan anak tetangga kalau tidak satu kelas atau sekolah. Aku tidak punya teman yang tinggal di kompleks ini. Aku punya teman itu cuma teman sekolah dari TK sampai kuliah. Lalu, teman di tempat kerja. Aku tidak punya ingatan main kucing-kucingan dengan anak tetangga, karena mereka juga sama seperti aku. Hanya berteman dengan anak-anak di sekolah. Aku kadang iri saat melihat Azzam didatangi oleh teman-temannya yang datang ke rumah untuk diajak bermain bola di lapangan atau pergi menangkap ikan di sungai. Aqilah yang di ajak sama anak gadis diajak main boneka atau main congklak di teras rumah. Mereka menikmati masa anak-anak yang tidak pernah aku rasakan," lanjut Rinjani dengan mata yang berkaca-kaca.


"Mendengar tawa lepas mereka itu sudah membuat aku bahagia. Aku tidak mau merampas kebahagian mereka jika aku paksa mereka untuk tinggal di sini, sedangkan hati mereka menginginkan kehidupan di desa. Jadi, aku lebih mengutamakan kebahagiaan mereka." Cairan bening di netra milik Rinjani yang sudah menumpuk. Kini dalam satu kedipan bulir jernih di pelupuk matanya pun jatuh membasahi pipi mulusnya.


"Maaf, bukan maksud aku seperti itu. Aku tidak memikirkan sampai ke sana," kata Bagaskara dan kedua tangannya tanpa dia sadari menghapus jejak air mata di pipi sang pujaan hati.


Rinjani menjauhkan kepalanya sesaat Bagaskara menyentuh pipinya. Dia dengan cepat mengusap kedua pipinya itu untuk menghilangkan rasa hangat dari bekas jejak tangan laki-laki itu.


"Maaf, aku sudah lancang menyentuh kamu tanpa izin," ucap Bagaskara saat menyadari kesalahannya barusan. Seharusnya dia tidak menyentuh wanita yang ada di depannya ini.


Hembusan angin yang menggoyangkan ujung jilbab Rinjani yang ada di kening, sehingga membuatnya terlipat. Lalu, wanita itu pun membetulkan kembali ujung jilbabnya. Semua gerak tubuh Rinjani tidak lepas dari pandangan Bagaskara.


'Cantik.' (Bagaskara)

__ADS_1


'Ya Allah, dosakah aku jika menginginkan Rinjani menjadi jodoh aku?'


'Bukakanlah hatinya untukku, Ya Allah. Aku sangat mencintainya. Jangan biarkan cinta aku ini tidak berbalas kembali.'


'Jika Rinjani bukan jodohku, hilangkan saja perasaan cintaku ini untuknya.'


Hati Bagaskara tiada henti berdoa semenjak dia menatap wajah cantik Rinjani. Jika, wanita itu tidak berpegang teguh dengan aturan agama Islam, pastinya sudah dengan mudah di sentuh, meski hanya ujung jari saja. Atau bahkan dia tidak akan segan-segan memeluk dan mencium wanita yang dicintainya ini.


"Rinjani, aku masih mencintaimu," kata Bagaskara dengan lirih saat sang pujaan hati sudah masuk ke dalam.


***


Pilihan apa yang akan dipilih oleh ketiga anak Rinjani? Apa tinggal di kota atau tetap di desa? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Apalagi sudah tamat, bisa baca secara maraton.



__ADS_2