
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 23
Bagaskara menghubungi Kakek Atmaja agar bisa berbicara langsung dengan Rinjani. Begitu tersambung dia langsung memberikan gawai itu kepada wanita yang duduk di depannya. Lalu, dia pun pergi untuk memberikan ruang privasi pembicaraan antara kakek dan cucunya itu.
Air mata kedua orang itu langsung luruh saat panggilan video call itu sudah tersambung. Rinjani kini bisa melihat wajah kakeknya yang semakin tua. Terlihat jelas dari kerutan kening dan ujung netranya yang terdapat banyak sekali kerutan.
^^^"Rinjani!" ^^^
Kakek Atmaja terlihat menangis tergugu. Akhirnya, setelah 10 tahun tidak bertemu dengan sang cucu, hari ini dia bisa melihat kembali.
"Assalamu'alaikum, Kek."
Rinjani juga ikut menangis saat melihat wajah kakeknya. Wajah yang sudah lama tidak dilihat olehnya.
Dulu, Dewa pernah mengajak dirinya untuk menemui sang kakek, beberapa bulan setelah melahirkan Aqilah. Suaminya itu berharap kalau dia bisa kembali menjalin hubungan yang baik dengan keluarganya. Namun, saat mereka baru sampai ke pintu gerbang rumah, terlihat laki-laki tua itu memarahi beberapa orang karena Rinjani yang menjadi sumber masalahnya. Baik Rinjani maupun Dewa merasa waktu itu bukan yang tepat, maka mereka tidak jadi menemui kakek, karena takut terjadi apa-apa pada keluarga mereka. Itulah terakhir kali dia melihatnya.
^^^"Wa'alaikumsalam, Nak. Bagaimana kabar kamu?"^^^
Kakek Atmaja terlihat tersenyum dengan air mata masih berderai. Tangannya terlihat menyentuh layar handphone seakan sedang membelai wajah cucu kesayangannya ini.
"Alhamdulillah, baik. Kakek sendiri bagaimana kabarnya?"
Rasanya Rinjani ingin bilang kalau keadaan dia saat ini tidak dalam keadaan baik-baik saja, setelah kematian Dewa. Semua rasa bahagia yang dulu dia rasakan terasa ikut pergi menjauh seiring dengan kepergian belahan jiwanya.
^^^"Kakek juga baik. Kapan kamu akan pulang, Nak?" ^^^
__ADS_1
Suara Kakek Atmaja yang sudah lemah dan serak, kini ditambah bergetar dengan isak tangis yang tertahan. Dia sudah ingin rasanya pergi ke rumah sang cucu, tetapi harus menahan diri. Itu konsekuensi dia yang dulu berbuat egois pada Rinjani.
"Insha Allah, secepatnya, Kek. Rinjani juga ingin mengenalkan anak-anak pada Kakek. Mereka anak-anak yang hebat, aku bangga karena pernah mengandung, melahirkan, dan membesarkannya. Kakek juga akan suka sama mereka."
Rinjani berusaha tersenyum lebar dan menahan air mata agar jangan jatuh ke pipi. Dia ingin memperlihatkan kepada sang Kakek, kini dia sudah bukan cucu yang manja dan selalu bergantung kepadanya lagi.
^^^"Kakek tunggu kedatangan kalian."^^^
Rinjani rasanya ingin hari itu juga pergi ke rumah kakeknya. Namun, masih banyak yang harus dia lakukan di sini. Selain itu, dia juga masih wajib lapor ke kantor polisi. Pesanan keripik yang semakin banyak permintaannya, dan hutang kepada Dirga.
Saat Rinjani hendak memberikan gawai milik Bagaskara, dia melihat laki-laki itu sedang bermain dengan Attar. Keduanya terlihat senang, bahkan putra bungsunya itu tertawa bahagia. Wanita itu senang karena anak kecil itu sudah bisa ceria kembali.
"Ini handphone milikmu, terima kasih," ucap Rinjani sambil menyerahkan benda pipih itu.
Bagaskara tersenyum tampan saat menerima benda itu. Dia senang bisa melihat perubahan raut wajah sang pujaan hatinya. Ada pancaran rasa bahagia di sorot matanya saat ini. Jauh berbeda dengan pancaran netranya semalam.
"Jadi, kapan kamu akan pulang ke ibu kota?" tanya Bagaskara.
Bagaskara rasanya ingin membalas ucapan Rinjani barusan. Namun, baru saja dia membuka mulut dan belum juga mengeluarkan kata-katanya, datang beberapa orang ke rumah Rinjani.
Rinjani berjalan ke depan rumah karena mendengar suara teriakan seorang wanita yang mencaci maki dirinya.
"Keluar kau janda gatal! Aku tahu kamu sudah keluar dari penjara."
Ibu Delima sedang mencak-mencak di halaman depan rumah Rinjani. Wanita itu terlihat sangat marah, ekspresi wajahnya muram, masam, dan memerah.
Terlihat beberapa tetangga mulai berdatangan ke rumah Rinjani. Mereka penasaran apa yang sedang terjadi di ruang sang janda kembang.
Rinjani keluar rumah dan melihat ada kerumunan orang-orang yang ada di sana. Dia pun berdiri tanpa gentar menghadapi Ibu Delima di depan para tetangganya.
__ADS_1
"Ada apa, Ibu Delima? Kenapa Anda berteriak seperti itu di depan rumah orang lain?" tanya Rinjani dengan tenang dan tatapan tegas.
Orang-orang di sana kini melihat ke arah Rinjani. Mereka bertanya-tanya kenapa wanita itu sudah berada di rumah, padahal kemarin orang-orang melihatnya dibawa oleh Polisi.
"Apa maksud kamu menginginkan adanya penyelidikan tentang kasus pencurian cincin berlian punyaku kemarin?" tanya Ibu Delima dengan sewot.
Pada tetangga semakin penasaran apa yang sebenarnya sudah terjadi. Mereka menduga kalau Rinjani sudah difitnah oleh Ibu Delima, jadinya sekarang sudah dibebaskan oleh Polisi.
"Tentu saja, karena aku merasa tidak pernah mencuri cincin milik Ibu Delima. Melihat cincin itu saja aku tidak pernah," balas Rinjani. Dia sekarang tidak mau ada orang yang menganggap rendah dirinya hanya karena keadaan keluarga mereka saat ini dalam keadaan miskin.
"Aku percaya kalau Rinjani bukan orang seperti itu," ucap salah seorang tetangga Rinjani yang tinggal tidak jauh dari rumahnya.
"Iya, aku juga percaya kalau Rinjani bukanlah orang yang suka mengambil milik barang milik orang lain," lanjut yang lainnya.
Orang-orang di sana pun setuju kalau Rinjani pasti sudah difitnah oleh Ibu Delima. Bahkan yang mereka tahu kalau Rinjani adalah orang yang suka bersedekah dan memberi sesuatu kepada orang lain.
Mendengar obrolan orang-orang yang ada di sana membuat Ibu Delima semakin marah. Dia niatnya datang dengan berteriak seperti tadi itu untuk memancing para warga agar datang dan menyalahkan Rinjani yang sudah mencuri cincinnya. Bukan melakukan pembelaan terhadap janda kembang ini.
"Kalian tidak tahu apa yang sudah dilakukan oleh wanita ini di rumahku!" bentak Ibu Delima.
"Bukannya kamu menyuruhnya mencuci dan menyetrika baju?" balas Mbok Mirah yang tadi datang karena penasaran.
"Benar aku menyuruhnya untuk mencuci dan menyetrika pakaian, tetapi selain itu dia juga telah mencuri cincin milik aku dengan menggoda suamiku terlebih dahulu, agar dia bisa masuk ke dalam kamar pribadi kamu," ujar Ibu Delima dengan mata melotot sambil menuju ke arah Rinjani.
'Astaghfirullahal'adzim. Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui. Apa yang sudah terjadi hari kemarin kepada kami semua. Tunjukkanlah kebenaran dan kebesaran-Mu, Ya Allah. Jangan sampai ada orang lain yang kembali difitnah oleh Ibu Delima.' (Rinjani)
"Kalau begitu panggil suamimu ke sini biar sekalian kami tahu kejadian yang sebenarnya!" titah Mbok Mirah.
***
__ADS_1
Apakah yang akan terjadi setelah kedatangan Pak Handoko, suami Ibu Delima ke sana? Tunggu kelanjutannya, ya!