Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)

Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)
Bab 20. Masa Lalu Rinjani


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 20


Keheningan kini menguasai kedua orang yang sedang berada di dalam mobil. Mereka sama-sama terdiam dan pikiran yang mengarah ke masa lalu.


Perjalanan dari kantor polisi ke rumah Rinjani membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Mereka tiba di rumah hampir tengah malam.


Rinjani merasa heran, kenapa Bagaskara tahu tempat tinggalnya saat ini. Padahal dia tadi lupa bilang alamat rumahnya berada di mana. Kecanggungan di antara mereka terjadi mungkin karena sudah tidak bertemu lebih dari 10 tahun. Jadi, membuat keduanya tidak banyak bicara.


"Bagaimana kamu bisa tahu rumah aku di sini?" tanya Rinjani dengan terheran-heran.


"Apa yang tidak aku tahu tentang dirimu?" balas Bagaskara dengan pertanyaan lagi.


Rinjani memutar bola matanya, dia sangat tidak suka dengan sifat Bagaskara yang seperti ini. Laki-laki yang super jahil dan suka membuat dia sering kesusahan.


"Hari sudah malam dan juga tidak ada penginapan atau hotel di daerah sini. Sebaiknya kamu sekarang pulang saja!" balas Rinjani dengan tidak kalah menyebalkan sambil membuka pintu. Dia juga selalu saja ingin membalas dan membuat laki-laki itu merasa jengkel juga.

__ADS_1


"Ternyata kamu masih saja Rinjani si gadis manja yang menyebalkan seperti dahulu," ujar Bagaskara dengan menahan senyumnya dan ikut ke luar dari mobilnya.. Sementara itu, di dalam hatinya dia merasa sangat bahagia, karena Rinjani masih seperti dahulu. 


"Apaan, sih! Ternyata kamu masih tetap saja jadi orang yang sangat menyebalkan. Tidak berubah sejak dulu," balas Rinjani.


"Iya, kamu benar. Aku tidak pernah berubah sejak dulu. Dan aku juga adalah laki-laki yang selalu setia menunggu sang calon istri yang kabur bersama dengan kekasihnya," ujar Bagaskara dengan tatapan sendu ke arah sang pujaan hati.


Deg!


Lagi-lagi Rinjani merasakan sakit di dada. Dulu dia kabur dari rumah saat tahu akan dijodohkan dengan Bagaskara oleh kakeknya. Sementara itu, dia sudah jatuh cinta kepada Dewa dan sedang menjalin hubungan asmara dengannya. Kakek Atmaja tidak menyetujui hubungan itu, karena Dewa hanyalah seorang pegawai biasa. Dia menginginkan laki-laki yang mapan untuk menjadi suami cucu kesayangannya ini.


"Kamu tidak perlu bilang kalau aku ini adalah calon istri kamu, karena kita tidak pernah mengikat hubungan apa pun sebelumnya," tukas Rinjani dengan berdesis. Dia paling tidak suka jika ada yang menyinggung masalah itu. 


"Kenapa kamu selalu saja seperti ini? Apa kamu tidak tahu betapa menderitanya kakek Atmaja setelah kepergian kamu dulu?" Bagaskara mencoba meluluhkan hati Rinjani.


"Bukannya kakek sudah mengusir aku dan sudah tidak mau lagi mengakui aku sebagai cucunya lagi!" Cairan bening meluncur dari mata indah milik Rinjani.


Melihat itu, Bagaskara rasanya ingin sekali menghapus air mata di pipi dan menarik tubuh Rinjani ke dalam pelukannya. Namun, dia tahu kalau wanita itu pasti akan bertambah marah kepadanya.


Kedua orang itu berbicara sambil berdiri di depan mobil. Tidak ada keinginan bagi keduanya untuk berbicara di rumah atau berbicara saja keesokan harinya lagi.

__ADS_1


"Kakek Atmaja itu sangat mengkhawatirkan dirimu. Saat itu dia hanya sedang marah saja dan tidak sadar dengan apa yang sudah dia ucapkan. Apa kamu tahu kalau dia menyuruh orang-orang untuk mencari keberadaan dirimu dan Dewa? Bahkan sehari setelah kepergian dirimu, kakek mendatangi keluargaku dan meminta maaf untuk membatalkan perjodohan kita," lanjut laki-laki berbadan tinggi tegap.


Ada terselip rasa rindu yang besar dalam hati Rinjani kepada kakeknya. Orang yang sudah membesarkan dan memanjakan dirinya sejak masih kecil. Dia yang kehilangan kedua orang tua saat masih anak-anak, membuat dia berada dalam asuhan nenek dan kakeknya. Namun, neneknya meninggal setelah dua tahun dari kematian ibunya, yang sama-sama mengidap penyakit leukemia. 


Saat Rinjani kabur bersama Dewa dahulu, dia mendatangi pamannya yang baru saja kembali dari luar negeri dan minta dirinya untuk menikahkan mereka berdua. Dengan restu dari sang Paman, Rinjani pun sah menjadi istri dari Dewa. Mereka memilih hidup membina rumah tangga di kampung yang jauh dari ibu kota.


"Apa kau tahu bagaimana kabar kakek saat ini?" tanya Rinjani. Jujur semenjak dia kabur dulu, tidak pernah mendengar kabar apapun dari kakeknya. 


"Dia sudah sangat tua sekali dan selalu bertanya tentang dirimu saat bertemu dengan orang-orang yang mengenali kamu. Jika aku bertemu dengannya dia selalu berkata, "Rinjani pergi gara-gara keegoisan aku. Seandainya aku dulu langsung saja memberikan restu dia bersama Dewa. Pasti saat ini cucuku itu masih ada di rumah."


Untuk kesekian kalinya air mata Rinjani jatuh membasahi pipi dan tidak ada keinginannya untuk menghapus cairan bening itu. Dia merasa saat ini ingin bertemu dengan kakeknya. Ingin memeluk tubuh laki-laki yang sudah renta saat ini.


"Apakah kakek masih mau bertemu dengan aku?" tanya Rinjani dengan suaranya yang bergetar.


Hembusan angin malam menerpa tubuh kedua orang itu. Membuat tubuh mereka menjadi merasakan dingin yang menusuk sampai ke dalam hutang. Ingatan akan kisah masa lalu dalam hidupnya. Terasa ingin mengulangnya kembali.


"Bagaimanapun juga kamu adalah orang yang sangat dicintai dan disayangi oleh kakek Atmaja. Pasti dia sangat senang bisa bertemu kembali dengan dirimu," balas Bagaskara.


"Kakek sekarang benar-benar tidak membenciku lagi, 'kan?" tanya Rinjani.

__ADS_1


***


Apakah Rinjani akan menemui kakeknya yang tinggal di ibukota? Bagaimana hubungan dia dengan Bagaskara ke depannya di saat Dewa sudah tidak ada lagi? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2