Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)

Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)
Bab 40. Ketakutan Ketiga Anak Rinjani


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 40


Saat mereka berjalan ke parkiran untuk menuju mobil mereka. Tiba-tiba saja ada sebuah motor yang melaju kencang ke arah mereka. Bagaskara yang terlambat menyadari hal itu pun langsung mendorong Rinjani dan anak-anaknya.


"Awas!" Bagaskara menerjang mereka semua.


Entah bagaimana ceritanya kini tubuh laki-laki itu berada di atas tubuh Rinjani. Sementara ketiga anaknya jatuh terduduk di samping mereka.


Rinjani merasa melihat ada Dewa yang melompat ke arahnya, lalu memeluk dirinya dengan erat. Sampai dia tidak bisa berbuat apa-apa, hanya ada perasaan terkejut dan tidak percaya akan penglihatannya.


Wangi parfum milik Bagaskara membuat Rinjani lupa sejenak kalau saat ini mereka sedang dalam posisi tidak pantas dilihat oleh orang lain, terutama anak-anak. Sampai dia mendorong tubuh laki-laki itu.


Bagaskara pun dengan cepat bangun takut terjadi sesuatu kepada ketiga anak kecil itu. Ketiganya terlihat memegangi tangan dan terlihat ada lecet.


"Kalian tidak apa-apa? Apa ada luka yang lainnya?" tanya Bagaskara sambil melihat tangan Aqilah dan Azzam, sedangkan Attar kini berada dalam dekapan Rinjani karena menangis.


"Kita ke rumah sakit, ya!" ajak Bagaskara sambil membantu Aqilah dan Azzam berdiri.


"Tidak mau!" teriak Attar sambil menangis.


"Kita pulang saja ke rumah langsung. Ada kotak P3K di mobil, biar aku obati luka-luka mereka," ucap Rinjani.


Rinjani pun mengobati luka-luka lecet yang ada di tangan ketiga anaknya. Bagaskara niatnya ingin membantu, tetapi anak-anak maunya diobati oleh ibu mereka.


"Ke sinikan tangan kamu, biar aku obati sekalian," kata Rinjani sambil melihat ke arah Bagaskara.


"Maaf merepotkan kamu," balas Bagaskara.


"Tidak apa. Justru aku ingin mengucapkan terima kasih karena sudah menolong kami tadi," ucap ibu beranak tiga ini sambil membersihkan luka Bagaskara.

__ADS_1


Rinjani meniup-niup luka Bagaskara, ketika laki-laki itu meringis karena merasakan perih. Melihat pemandangan ini membuat pikiran dia melanglang buana. Bibir ranum milik sang janda begitu menggoda di matanya, sehingga dia membayangkan menciumnya.


'Astaghfirullahal'adzim. Apa yang aku pikirkan? Dekat-dekat dengan Rinjani membuat pikiran aku semakin liar. Tapi, jika tidak bertemu dengannya, rasa rindu sangat menyiksa.' (Bagaskara)


'Kenapa tadi aku merasa Mas Dewa yang mendorong tubuh aku. Apa karena aku masih selalu merindukan dirinya. Atau sosok aku melihat Mas Dewa ada pada diri Bagaskara?' (Rinjani)


'Sebenarnya ada apa dengan diriku ini. Kenapa aku selalu tidak bisa memalingkan hati ini darimu, Rinjani. Apa karena kamu merupakan cinta pertama aku? Atau kamu adalah memang takdir masa depan aku?' (Bagaskara menatap lekat wajah Rinjani)


Ketiga anak Rinjani yang menunggu di dalam mobil pun memperhatikan kedua orang dewasa itu. Mereka bisa melihat kalau Bagaskara terus menatap ke arah ibu mereka.


"Bang, sepertinya Om Bagas sangat mencintai ibu," kata Aqilah dengan tatapan matanya masih mengarah kepada Bagaskara dan Rinjani yang duduk di tembok semen sambil mengobati luka di tangan laki-laki itu.


"Abang sudah tahu dari dulu," ucap Azzam yang juga melihat ke arah dua orang dewasa.


Aqilah pun kini mengarahkan pandangannya ke arah sang adik. Dia juga sudah menduga hal itu dari dulu, saat mereka bertemu pertama kali. Gadis kecil ini sering memergoki Bagaskara menatap penuh damba ke arah ibu mereka.


"Adik mau Om Bagas jadi papa," lirih Attar.


Alasan sederhananya Attar itu suka sama Bagaskara. Mana mengerti dia apa itu cinta. Hanya tahu karena sering mendengar saja. Dahulu juga ayah dan ibunya sering mengatakan cinta, satu sama lain. Jadi, menurut dia cinta itu seperti ayah dan ibunya.


"Kalau Om Bagas menjadi ayah tiri kita dan berubah sifatnya pada kita bagaimana?" tanya Azzam pada kedua saudaranya.


"Om Bagas itu baik, tapi keluarganya baik apa enggak? Bagaimana kalau sudah menikah nanti ibu dijahati oleh ayah, ibu, atau saudara Om Bagas. Kakak tidak mau kalau nanti ibu disakiti," ucap Aqilah.


Mendengar hal itu Attar menjadi ketakutan. Dia terbayang-bayang saat ibunya dijahati oleh Ibu Delima dahulu. Dia takut orang-orang akan kembali membawa pergi jauh ibunya dari sisi mereka.


"Tidak. Adik tidak mau," kata Attar sambil menangis.


Rinjani buru-buru membereskan perlengkapan P3K miliknya saat mendengar tangisan Attar. Dia pun berlari bersama Bagaskara yang terlebih dahulu sampai ke mobilnya.


"Ada apa?" tanya Bagaskara sambil mengusap kepala Attar yang kini berada dalam dekapannya.


"Om tidak akan menjahati ibu, 'kan?" tanya Bagaskara.

__ADS_1


"Tentu saja tidak. Mana mungkin Om akan menjahati ibu kalian," balas Bagaskara dengan tatapan sendu.


"Kak, adik kenapa menangis?" tanya Rinjani pada putri sulungnya.


"Sepertinya ada kesalahpahaman, Bu," jawab Aqilah sambil menyeringai malu-malu.


"Memangnya apa yang sudah terjadi?" tanya Rinjani dan menuntut kedua anaknya bercerita.


Mau tidak mau Aqilah dan Azzam menceritakan apa yang terjadi tadi. Rinjani terdiam dan Bagaskara menanggapi ucapan Azzam.


"Mana mungkin Om akan menyakiti orang-orang yang Om cintai dan sayangi. Kedua orang tua pun sayang sama ibu kalian. Kalau tidak percaya sekarang kita ke rumah orang tua Om," ucap Bagaskara membantah perkataan Azzam yang menduga dirinya dan keluarganya akan berbuat jahat pada Rinjani.


Dikarenakan hari sudah sangat larut malam, Rinjani pun memutuskan untuk pulang ke rumah dan kapan-kapan mereka bertamu ke rumah Bagaskara. 


"Biar aku yang menyetir mobil ," ucap Bagaskara saat Attar tidak mau melepaskan diri dari Rinjani. 


"Lalu, mobil kamu?" tanya Rinjani.


"Biar nanti dibawakan oleh sopir kantor," jawab Bagaskara.


Akhirnya keluarga Rinjani pun pulang dengan Bagaskara yang menjadi sopir. Mereka semua tertidur pulas, mungkin karena kelelahan. Bahkan Rinjani yang duduk di kursi samping pun ikut tertidur.


"Pemandangan yang menggoda iman," gumam Bagaskara saat melihat ke arah Rinjani.


"Ini sudah sampai rumah, tapi aku merasa enggan berpisah dengan mereka," lanjut kakak dari Dirga itu.


***


Akankah hati Rinjani dan anak-anaknya akan luluh oleh perasaan tulus Bagaskara? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus meluncur ke novelnya.


__ADS_1


__ADS_2