
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 63
Dirga berdiri di menghadap jendela di kamarnya. Langit malam tanpa bintang dan bulan, menggambarkan suasana hatinya saat ini. Hampa, kosong, dan tiada ada sesuatu yang menarik untuk dilihat oleh mata.
"Kenapa kamu belum tidur?" tanya Mama Adira yang masuk ke dalam kamar putra bungsunya.
Dirga tidak mendengar suara pintu terbuka. Dia hanya diam menatap ke arah wanita yang sudah melahirkan dan membesarkan dirinya.
Mama Adira berjalan ke arah Dirga. Dipeluk tubuh anak yang selalu membuat dirinya bangga akan semua prestasi diraih olehnya.
"Kenapa kamu berbuat jahat kepada calon kakak iparmu?' tanya Mama Adira dengan suaranya yang lembut.
"Kenapa Kak Bagas selalu mendapatkan apa yang dia mau?" Dirga balik bertanya dengan nada suara yang bergetar.
"Kakak kamu itu selalu berjuang dan pantang menyerah. Apa kamu tahu berapa lama penantian Bagaskara terhadap Rinjani?" Mama Adira mengusap punggung putranya dengan pelan.
"Sepuluh tahun," balas adiknya Bagaskara.
"Salah. Tujuh belas tahun lebih dia menanti Rinjani untuk bisa menerima dirinya. Setelah dari usia dia selalu menunggu dengan sabar wanita itu," ucap Mama Adira yang kini menatap wajah putranya.
__ADS_1
Betapa terkejutnya Dirga kalau kakaknya sudah selama itu menunggu Rinjani. Dia mengira kalau Bagaskara menyukai Rinjani karena dia kaya dan cantik. Sementara itu, dia merasa cintanya untuk sang janda kembang itu murni akan perasaan suka. Tanpa ada sebab lainnya, seperti dijodohkan agar harta mereka tetap aman atau karena sama-sama dari keluarga kaya.
Entah sejak kapan air mata Dirga membasahi pipinya. Dia menangis dalam diam di peluk oleh ibunya. Wanita yang selalu memberikan kenyamanan bagi dirinya. Perempuan yang selalu memanjakan dirinya dikala suka maupun duka.
"Waktu yang sudah terjadi tidak akan bisa diulang lagi. Akan tetapi, kamu bisa memperbaikinya dan tidak berbuat seperti itu lagi," ucap Mama Adira.
***
Keesokan harinya terlihat dua orang laki-laki sedang adu jotos di sebuah ruang kosong dan ada beberapa alat olahraga. Mereka adalah Bagaskara dengan Dirga.
Keduanya sedang melampiaskan rasa amarah dalam diri masing-masing kepada lawannya. Bagaskara serasa diberikan sempatkan untuk membalas perbuatan adiknya kemarin. Dia benar-benar menghajar Dirga tanpa ampun.
Dirga sendiri melawan kakaknya untuk melampiaskan rasa kekecewaan dia terhadap cinta yang bertepuk sebelah tangan. Di mana wanita yang dia cintai tetap memilih Bagaskara dibandingkan dengan dirinya.
"Kamu pikir, dirimu lebih hebat dari aku!" teriak Dirga saat Bagaskara membanting tubuhnya.
Keduanya kembali baku hantam sampai Dirga benar-benar dipiting oleh Bagaskara sampai tidak bisa bergerak. Meski adiknya berusaha melepaskan diri, tetapi tenaga sang kakak masih kuat.
"Kamu sudah mendapatkan semua yang kamu mau. Pergilah sejauh yang kamu bisa, karena anak-anak Rinjani sangat membenci dirimu. Mama dan Papa sedih karena mereka tidak mau di ajak ke rumah ini, karena ada kamu di sini," kata Bagaskara dengan penuh penekanan.
"Itu hanya akal-akalan kamu saja," ucap Dirga tidak terima dengan tuduhan seperti itu.
"Kamu tanya saja kepada mama dan papa. Mereka pasti akan diam saja atau mama akan menangis," kata si sulung.
__ADS_1
Keduanya tahu betul bagaimana sifat ibu mereka. Hatinya kadang rapuh mudah tersentuh, tetapi sifatnya tegas kadang memanjakan anak-anaknya.
***
Rinjani sedang memeluk ketiga anaknya. Mereka tidak mau diajak bermain dan jalan-jalan oleh kedua orang tua Dirga. Mereka tidak suka kepada Dirga dan tidak mau lagi mendatangi rumahnya.
"Ibu, kenapa Om Bagas punya saudara yang jahat? Padahal Om Bagas sendiri orangnya baik," ucap Aqilah.
"Iya. Adik tidak suka," lanjut Attar.
"Apa ibu yakin akan menikah dengan Om Bagas nantinya?" tanya Azzam.
"Kenapa Abang bertanya seperti itu?" Rinjani mengusap pipi putranya yang kini sudah semakin tinggi tubuhnya.
"Abang tidak mau kalau nanti ibu tidak bahagia. Abang lebih suka kalau ibu hidup senang meski kita hidup seperti dulu, di kampung," tukas anak laki-laki.
Hati Rinjani mulai gamang kembali. Jika, ketiga anaknya ingin hidup di desa, maka dia pun akan menuruti keinginan mereka. Namun, yang jadi masalah adalah Bagaskara.
'Apa dia mau diajak hidup di kampung yang serba pas-pasan?' (Rinjani)
***
Apakah Rinjani dan Bagaskara akan bisa bersatu? Apa Bagaskara mau diajak hidup di desa? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1
Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Apalagi sudah tamat, bisa baca secara maraton.