
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 29
Attar melirik ke arah Rinjani, dia mau minta pendapat kepada ibunya itu. Sebab, di satu sisi dia ingin pergi jalan-jalan bersama saudaranya, tetapi di sisi lain dia tidak mau pergi dengan Dirga.
"Di taman hiburan kamu bebas mau menaiki apa saja. Ada komedi putar, bianglala, atau bermain di kolam renang juga bisa. Attar mau pergi bermain bersama dengan Om, 'kan?" tanya Dirga.
Bocah kecil itu masih terlihat bingung. Hatinya mulai gamang ingin pergi ke sana, tetapi melihat ekspresi wajah sang ibu seakan tidak menyetujui keinginannya itu.
"Adik tidak mau pergi bersama dengan Om," jawab Attar akhirnya dan membuat hati Rinjani merasa lega.
"Yah, sayang sekali kamu tidak ingin pergi bermain ke sana. Padahal kamu bisa bermain mobil-mobilan dan balapan juga, loh, di sana nanti!" ucap Dirga.
Tentu saja ini membuat Attar untuk kesekian kalinya merasa bimbang. Dia pun kembali melirik ke arah ibunya, dalam hati dia ingin sekali pergi ke tempat seperti itu.
"Bu," bisik Attar dan itu membuat Dirga merasa senang, karena sudah berhasil membuat Attar ingin ikut bermain bersama dengannya.
"Rinjani, berikanlah izin Attar dan kedua saudara yang lainnya untuk pergi berjalan-jalan bersama dengan aku. Kalau bisa kamu juga ikut bermain bersama kami," lanjut Dirga.
Tentu saja Rinjani menolak keinginan Dirga itu. Dia tidak mau ada fitnah lagi yang menerpa dirinya.
Tidak lama kemudian terlihat Azzam dan Aqilah pulang dari sungai. Mereka membawa ember kecil yang berisi ikan dan satu ikat besar kangkung yang dibawa oleh Azzam.
__ADS_1
Terlihat sekali ekspresi wajah tidak suka dari kedua anak itu, saat melihat Dirga sedang berada di teras rumah. Meski laki-laki itu sering tersenyum dan mengajak berbicara terlebih dahulu, mereka berdua kurang suka kepadanya. Hal ini karena ingatan mereka akan kejadian beberapa bulan yang lalu masih membekas kuat dalam memori otaknya.
"Assalamualaikum," salam kedua anak itu begitu menginjak teras rumah.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh," balas Rinjani dan Dirga hampir bersamaan.
Dirga pun memberi tahu niatnya kepada Aqilah Dan Azzam untuk pergi liburan ke taman hiburan bersama. Namun, dengan lembut keduanya menolak untuk pergi. Alasannya karena mereka sudah punya janji dengan seseorang mau pergi ke suatu tempat.
Terlihat sangat jelas raut wajah Dirga yang merasa kecewa. Dia berniat ingin mendekati ketiga anak Rinjani agar nanti mudah meluluhkan hati sang janda. Namun, dia mendapat penolakan juga.
***
Rinjani dan anak-anaknya pergi ke ibu kota pagi-pagi sekali. Jemputan dari Kakek Atmaja datang setelah subuh. Saat dalam perjalanan Attar merasa sangat bahagia. Bocah kecil itu terus berceloteh setiap melihat ada kendaraan yang lewat. Hal yang mengiris hati Rinjani adalah setiap ada bus besar yang berpapasan dengan mereka, si bungsu akan memanggil ayahnya.
"Ibu, itu bus ayah!" Tunjuk Attar pada bus yang yang melaju berlawanan arah dengan mereka.
Mata Rinjani berkaca-kaca menahan rasa sakit di hati. Dulu, setiap kali Attar ikut mengantar Dewa selalu melambaikan tangan pada bus yang akan dikemudikan oleh sang ayah. Jadi, setiap melihat bus dia akan melambaikan tangan mengira bus itu yang dikendarai oleh bapaknya.
"Adik, itu bukan bus ayah," kata Azzam yang duduk di depan.
"Oh, bukan, ya." Attar terlihat kecewa.
Rinjani yang duduk di samping Attar hanya mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang. Lalu, diciumi pucuk kepala itu dengan penuh kasih sayang.
Saat mereka memasuki kota besar dan banyak gedung-gedung pencakar langit, membuat ketiga anak kecil itu takjub. Suatu pemandangan yang tidak ada di desa tempat tinggal mereka.
__ADS_1
"Bu, di sana ada apa?" tanya Attar sambil menunjuk gedung-gedung tinggi.
"Ada ruangan tempat bekerja," jawab Rinjani.
"Mereka tidak bekerja naik bus seperti ayah?" tanya Attar lagi.
"Tidak. Karena mereka bukan supir. Nanti kalau Attar sudah besar bisa bekerja di tempat yang seperti itu," jawab Rinjani.
"Tidak mau, takut jatuh," balas anak kecil berusia 3 tahun. Membuat semua orang yang berada di dalam mobil tertawa.
Pak Sopir yang di kirim oleh Kakek Atmaja adalah supir pribadi yang sudah dikenal oleh Rinjani. Laki-laki paruh baya yang sudah mengabdi sejak Rinjani masih kecil. Dia sering dipanggil Pak Kus, sebenarnya nama dia Kusnandar.
"Non, apa mau makan dulu di restoran atau mau makan di mana?" tanya Pak Kus.
"Makan di tempat yang terjamin kebersihannya saja, Pak. Karena Attar juga harus makan makanan tertentu," jawab Rinjani.
Pak Kus membawa Rinjani dan keluarganya ke sebuah warung makan langganannya, jika dia sedang bepergian keluar kota dan lewat jalan ini. Warung makanan khas daerah kampungnya yang terkenal sangat lezat. Semua bahan yang digunakan berasal dari sayuran organik dan daging yang masih segar. Bahkan ikannya pun sengaja mendadak menangkap di kolam yang terdapat di belakang warung makan itu.
Saat mereka sedang asyik menikmati acara makan siang bersama di sana, Rinjani tanpa sengaja beradu pandang dengan orang yang dia kenal dari masa lalunya. Baik Rinjani maupun orang itu sama-sama terkejut.
***
Siapakah orang yang bertemu dengan Rinjani di warung makan itu? Bagaimana reaksi Kakek Atmaja saat melihat Azzam dan Attar? Tunggu kelanjutannya, ya!
Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Apalagi sudah tamat, bisa baca secara maraton. Cus meluncur ke novelnya, jika kalian yang belum pernah baca.
__ADS_1