Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)

Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)
Bab 7. Dituduh Pelakor


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 7


Rinjani menatap tajam ke arah Mpok Atun, dia tidak suka dengan ucapan yang keluar dari mulut wanita itu. Tangan ibu dari tiga orang anak itu merem_at bakul yang sedang dia pegang.


"Mpok Atun, jangan bicara sembarangan. Saya dan Pak Djoko tidak ada hubungan apa pun. Dia datang ke sini mau meminta maaf atas kejadian tempo hari yang dilakukan oleh Bu Siti kepada saya," ucap Rinjani dengan nada suara yang tegas.


Mpok Atun hanya tersenyum miring, meremehkan ucapan Rinjani. Wanita paruh baya itu senang sekali mencampuri kehidupan para tetangganya.


"Heh, Rinjani! Di mana-mana yang namanya pelakor itu tidak akan mengaku. Karena tidak mau perbuatannya tercium sama orang lain, apalagi sama istri sahnya," tukas Mpok Atun dengan sinis.


Pak Djoko jadi merasa bersalah karena Rinjani sudah dituduh menjadi pelakor. Walau benar dirinya ingin menjadikan perempuan itu sebagai istri keduanya. Dia sendiri bingung apa yang harus dia lakukan saat ini. Membantah ucapan Mpok Atun, siapa tahu takdir mereka memang berjodoh. Kalau dia mengiyakan, itu sama saja menyebut Rinjani sebagai pelakor.


"Terserah Mpok Atun saja. Allah tahu apa yang aku perbuat dan apa yang di perbuat oleh Mpok. Bukannya apa yang kita lakukan atau yang kita ucapkan nantinya akan dimintai pertanggungjawaban saat di akhirat," ucap Rinjani dan terlihat Mpok Atun memutarkan bola matanya.


"Jangan sok ajarin aku, deh! Kelakuan kamu lebih bobrok dari aku. Setidaknya aku tidak pernah mengganggu hubungan rumah tangga orang lain," balas wanita yang memakai daster bermotif bunga-bunga.


Rasanya Rinjani ini memasukan daun singkong yang ada di bakul ke mulut wanita yang menatap sinis padanya. Namun, dia tahu nama perbuatan baik dan mana perbuatan yang buruk. Hidup dia dan keluarganya sudah susah, jangan sampai berbuat buruk pada tetangganya yang akan berakibat mereka di benci oleh orang-orang di sekitar.

__ADS_1


"Demi Allah, aku dan Pak Djoko tidak punya hubungan apa pun. Mpok Atun tanya sendiri pada orangnya," bantah Rinjani.


Namanya disebut oleh sang janda, maka Pak Djoko pun membenarkan apa yang dikatakan oleh Rinjani. Kalau mereka tidak ada hubungan apa-apa dan ke sana datang untuk meminta maaf.


Keributan yang diperbuat oleh Mpok Atun, membuat para tetangga yang rumahnya dekat dengan Rinjani pada keluar dan menyaksikan mereka bertiga. Beberapa pasang mata itu menyimak apa yang diucapkan oleh ketiganya. Sungguh orang-orang itu sangat penasaran dan menduga kalau Rinjani dan Kepala Desa Sukacita itu memang memiliki hubungan.


"Ingat Rinjani, hukum karma itu pasti terjadi!" pekik Mpok Atun sambil menunjuk muka perempuan berjilbab instan.


"Dalam Islam tidak ada hukum karma," balas Rinjani membantah ucapan tetangganya itu.


Mpok Atun tidak bisa menilai dirinya sendiri. Dia suka membicarakan aib orang lain. Selain itu suka menyebarkan berita yang belum tentu kebenarannya. Bahwasannya perbuatannya itu merupakan salah satu dosa besar.


***


"Assalamu'alaikum. Bang, mau beli keripik singkong?" tawar Aqilah sambil menunjukan barang dagangan miliknya.


"Berapa duit?" tanya laki-laki dewasa sambil mengunyah makanan yang baru saja dimasukan ke mulutnya.


"Satu bungkusnya 500 rupiah, Bang," balas Aqilah.


"Aku beli dua," ujar laki-laki itu sambil menyerahkan uang selembar dengan nominal 1000.

__ADS_1


"Alhamdulillah. Terima kasih, Bang. Semoga Allah mempermudah urusan Abang," ucap Aqilah sambil menyerahkan dua bungkus keripiknya seraya berkata, "saya terima uangnya, semoga keripik ini benar-benar terasa nikmat di lidah Abang."


Aqilah pun menawarkan keripiknya pada pengunjung lain dan semua langsung habis di tempat itu juga. Beberapa kali gadis kecil itu mengucapkan syukur karena hari ini semua dagangan laku. Gadis itu pun harus bergegas pulang karena banyak tugas rumah yang harus dia kerjakan. Sebab, selepas Ashar dia harus pergi sekolah agama di madrasah.


Keseharian Aqilah adalah selepas subuh dia akan membantu ibunya membuat bekal untuk dia dan Azzam karena mereka tidak punya uang untuk jajan di sekolah. Selanjutnya, menyapu rumah dan mengepel. Baru sarapan terus mandi dan berangkat ke sekolah bersama Azzam jalan kaki. Pulang sekolah dia akan mengerjakan tugas sekolah setelah makan siang. Pergi ke madrasah selelah Ashar. Lalu, dia akan bermain dengan anak-anak tetangga sampai menjelang Magrib. Setelah itu dia dan Azzam akan pergi ke masjid untuk mengaji bersama anak-anak lainnya. Selain mengaji mereka juga belajar tilawatil atau murotal bagi yang ingin menjadi seorang qori dan menghafal Al-Qur'an bagi yang ingin menjadi seorang hafidz.


Sementara itu, Azzam mengerjakan tugas menyapu dan menyiram halaman agar pohon sayur-sayuran dan tumbuhan holtikultura bisa tumbuh dengan baik. Dia juga memisahkan sampah dedaunan untuk dijadikan pupuk kompos. Selanjutnya, dia melakukan hal yang sama seperti kakaknya.


Jika tidak ada tugas rumah, kedua kakak beradik itu sering mencari ikan di sungai agar bisa merasakan menu makanan yang lain. Setiap hari mereka makan sayuran yang tumbuh di halaman rumah dan kangkung yang tumbuh liar di sungai. Lalu, tempe dan tahu, kalau telor itu akan dibagi-bagi agar bisa di makan oleh semua orang. Kalau mie instan akan mereka dapatkan jika ada undangan hajatan. Biasanya ada mie instan. Semua itu dulunya merupakan hal yang biasa saja dan bebas mereka makan kapanpun. Namun, saat ini itu semua terasa seperti spesial.


Anak-anak Rinjani ikhlas dan ridho menjalani hidup mereka saat ini. Mereka tahu dan mengerti kalau ibunya juga sering mengalami kesusahan. Tidak ada seorang pun dari ketiga anak itu yang selalu menuntut kepada ibu mereka.


Keluarga kecil Rinjani memang selalu kompak dan solid dalam mengerjakan semua hal. Kalau hal seperti ini sejak zaman Dewa masih hidup pun sudah sering mereka lakukan.


Aqilah berjalan dengan riang sambil mengulang hafalan ayat-ayat Al-Qur'an yang semalam dia hafal, karena hari ini dia akan menyetorkan hafalannya kepada Ustadz Hasan nanti ba'da Magrib.


Tiba-tiba saja ada sebuah motor berhenti di dekat gadis kecil itu. Tentu saja hal ini membuat dia terkejut dan sedikit takut.


***


Siapakah orang yang mengendarai motor itu? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


__ADS_2