
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 30
Rinjani menatap ke arah seorang wanita paruh baya yang dulu sering bertemu dengannya. Meski sudah 10 tahun tidak bertemu tetapi wajahnya masih tetap terlihat sama.
"Rinjani?" Terlihat kalau wanita itu menggumamkan namanya.
"Tante Adira?" gumam Rinjani.
Aqilah melihat ekspresi ibunya yang berubah dan menggumamkan nama seseorang. Lalu, dia mengikuti ke mana arah penglihatan sang ibu. Ternyata dari meja seberang juga ada seorang wanita cantik yang melihat ke arah mejanya.
"Bu,"panggil Aqilah.
Rinjani terkejut mendengar panggilan si sulung pun kini mengalihkan perhatian kepadanya. Biarpun tersenyum tipis sama bertanya, "Ada apa, Kak?"
"Apa ibu mengenal wanita itu?" tanya Aqilah sambil lirik ke arah Mama Adira yang masih melihat ke arah masjid mereka.
"Ya. Ibu dulu mengenalnya," jawab Rinjani jujur.
__ADS_1
"Lalu, kenapa Ibu tidak menyapanya?" tanya gadis kecil itu lagi.
Hati Rinjani merasa tersentil saat mendengar ucapan putrinya. Selama ini dia selalu mengajarkan kepada anak-anaknya agar selalu berbuat baik dan ramah kepada orang lain.
"Itu karena ibu takut kalau dia merasa tidak suka atau tidak nyaman saat ibu memanggil dan menghampiri dirinya," balas Rinjani dengan tatapan sendu.
Sebenarnya Aqilah ingin bertanya apa dahulu mereka punya masalah, sehingga saling diam dan tidak memanggil satu sama lain. Namun, dia takut melukai perasaan ibunya.
Di sisi lain Mama Adira merasa terkejut melihat Rinjani bersama tiga orang anak kecil. Selain itu di meja seberang terlihat sopir pribadi keluarga Atmaja. Tentu saja ini membuat dirinya bertanya-tanya.
'Apa Rinjani kini sudah kembali ke keluarga Atmaja, ya?' (Mama Adira)
'Tapi, tidak terlihat Dewa bersama dengannya. Dia ke mana?'
Mama Adira sesekali melirik ke arah meja Rinjani. Meski dulu dia sempat marah dan kecewa kepada perempuan itu, tetapi dia tidak pernah membenci dirinya. Baginya dia adalah perempuan baik-baik dan pantas untuk menjadi menantu keluarga Wijaya. Apalagi Bagaskara sudah menaruh hati dari dulu sampai sekarang.
Sebenarnya Rinjani ingin mendatangi meja Mama Adira, tetapi dia takut akan penolakan wanita itu. Jadinya dia memilih diam terlebih dahulu.
Setelah Rinjani dan anak-anaknya selesai makan, dia pun datang menghampiri Mama Adira. Selain dia yang lebih muda, sudah selayaknya mendatangi kepada yang lebih tua. Ini juga bisa menjadi pembelajaran bagi ketiga anaknya.
"Assalamualaikum, Tante," sapa Rinjani sambil melakukan cipika-cipiki pada wanita itu.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam. Rinjani, 'kan?" tanya Mama Adira basa-basi.
Rinjani tersenyum ramah dan membenarkan ucapan Mama Adira. Kedua perempuan itu pun terlibat bincang-bincang hal yang ringan dan umum. Seperti menanyakan kabar dan datang bersama siapa.
"Rupanya sekarang kamu sudah memiliki tiga orang anak. Paling besar berusia berapa tahun?" tanya Mama Adira.
"Sebentar lagi masuk sepuluh tahun," jawab Rinjani.
Mama Adira bisa menghitung kalau Rinjani begitu pergi langsung menikah dengan Dewa, langsung hamil. Tidak lama kemudian mereka sudah mempunyai anak.
"Lalu, di mana suamimu sekarang?" tanya Mama Adira.
"Mas Dewa meninggal hampir 1 tahun yang lalu," jawab Rinjani.
Betapa terkejutnya Mama Adira mengetahui berita ini. Selama ini tidak ada satupun berita yang dia dengar tentang Rinjani dan keluarga.
'Apa Bagaskara tahu akan hal ini? Bisa-bisa dia mengejar kembali cinta Rinjani kalau tahu Dewa sudah meninggal dunia.' (Mama Adira)
***
Apakah Mama Adira akan memberikan dukungan akan hubungan Bagaskara sekarang dan Rinjani? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1
Teman-teman aku minta maaf karena isi babnya sedikit dikarenakan kondisi tubuh aku sedang tidak dalam keadaan sehat. Seluruh badan teremuk dan lemas.