Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)

Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)
Bab 43. Membayar Hutang Pada Dirga


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 43


Hari ini Dirga datang ke rumah Rinjani, betapa dia senang saat mendapat pesan dari wanita itu beberapa hari yang lalu. Sebenarnya dia ingin datang hari itu juga. Namun, apa daya dia harus menyelesaikan sebuah proyek besar. Dia tidak mau kalah dengan kakaknya. Dia juga akan membuktikan pada papanya kalau dia juga mampu.


"Assalamualaikum," salam Dirga.


"Rinjani!" panggil Dirga lagi. Dia pun memutuskan untuk duduk menunggu wanita itu.


Rinjani baru kembali dari rumah Pak RT dan Ketua DKM masjid untuk menyerahkan uang tambahan untuk gaji tukang dan uang makan karena akan banyak warga yang membantu. Ketika sudah dekat di rumah dia melihat ada mobil Dirga di sana. Dia pun bergegas berlari ke rumah tidak mau membuat tamunya kesal karena lama menunggu.


Begitu dia membuka pintu pagar dilihatnya laki-laki itu sedang duduk sambil memainkan handphone miliknya. Namun, saat menyadari kedatangan Rinjani, dia pun langsung berdiri sambil tersenyum lebar.


"Maaf sudah membuat kamu menunggu," kata Rinjani begitu menginjak teras rumah.


"Tidak apa-apa, kok. Kamu sudah dari mana? Mana Attar?" tanya Dirga dengan sopan.


"Saya baru kembali dari rumah Bu RT. Attar sedang tidur siang," jawab Rinjani.


"Oh, tapi dia baik-baik saja, 'kan? Tidak kambuh lagi penyakitnya," tanya laki-laki yang kini terlihat semakin ceria jika bertemu dengan Rinjani.


"Alhamdulillah, dia sudah sehat dan insha Allah akan baik-baik saja jika bisa mengatur pola hidupnya," jawab Rinjani.


"Silakan duduk dulu. Saya ambilkan minum ke dalam," lanjut Rinjani.


Semilir angin sepoi-sepoi yang gemerisik suara daun yang saling beradu dengan lembut, membuat Dirga merasa nyaman dan betah duduk lama-lama di sana. Udara yang segar dan bersih membuat rasa lelah dia hilang dan gantinya dia pun mengantuk. 


"Kenapa dia malah tidur?" gumam Rinjani. 

__ADS_1


Setelah meletakan gelas dan toples berisi cemilan di meja. Rinjani pun bergegas masuk ke dalam rumah dan mengambil koper kecil berisi uang.


"Tuan! Tuan Dirga!" panggil Rinjani sambil menggoyangkan lengan laki-laki itu dengan menggunakan kedua jarinya. Laki-laki itu pun membuka matanya dan terkejut kalau dia sudah tertidur.


"Maaf, sepertinya aku ketiduran," kata Dirga dengan senyum malu-malu.


"Tidak apa-apa. Hal yang ingin aku bicarakan kepada Anda adalah mengenai hutang pembayaran mobil. Sisa hutang aku 700 juta lagi, 'kan?" tanya Rinjani sambil menyerahkan selembar kertas rincian pembayaran dia selama satu tahun itu.


"Iya, benar. Lalu?" tanya Dirga.


"Saya mau melunasi hutang ini, agar aku dan keluargaku tidak punya beban lagi," jawab Rinjani.


"Apa? Dari mana kamu bisa punya uang sebanyak itu?" tanya Dirga dengan menatap sengit ke arah sang janda.


Rinjani bisa melihat ekspresi keterkejutan dan tidak percaya dari pancaran sinar mata Dirga. Laki-laki itu seperti sedang mendengar sebuah lelucon dari dirinya yang bilang akan melunasi hutang miliknya.


"Ini uang tabungan aku saat bekerja di ibu kota dahulu. Baru bisa aku ambil beberapa hari yang lalu. Oleh karena itu, aku bisa langsung membayar semua sisanya," jelas wanita beranak tiga ini.


Sebagai orang yang jatuh cinta pada seseorang, pastinya dia ingin melihat sang pujaan hati, meski cintanya bertepuk sebelah tangan. Walau dia hanya bisa memandangnya dalam diam.


Pak RT dan Kepala Desa juga beberapa orang yang dulu menjadi saksi atas hutang Rinjani kepada Dirga, datang ke rumah. Tadi Rinjani menghubungi mereka semua ketika Dirga sedang tertidur.


"Ini surat keterangan lunas, aku harap kita mendatangi ini, seperti dulu aku memulai menanggung kerugian mobilmu itu. Meski aku tahu kalau mobil mahal seperti itu seharusnya punya asuransi. Kenapa kamu tidak mengasuransikan mobil mewah kamu?" Rinjani sebenarnya tidak mau mengatakan hal itu. Namun, ini juga bisa menjadi pelajaran bagi Dirga agar mengasuransikan kendaraan mewahnya. 


Walau sebenarnya dia sendiri tidak punya asuransi apa pun itu. Namun, jika hal itu terjadi kepadanya, dia tidak akan menuntut balas kepada orang yang sudah merusak mobilnya dengan tidak sengaja. Apalagi mereka sama-sama terkena musibah.


Uang tunai sebanyak 700 juta kini Rinjani letakan di depan Dirga. Dia pun menyuruh untuk menghitung uangnya. Namun, Dirga bilang tidak perlu karena dia percaya kepada Rinjani.


"Apa kedepannya aku boleh mengunjungi rumah ini dan bertemu kamu bersama anak-anak?" tanya Dirga dengan wajah melas.


Rinjani sangat terkejut mendengar hal ini dan membuat dia terdiam beberapa saat. Lalu, wanita ini pun menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Aku takut nanti akan menjadi fitnah baru. Aku dan anak-anakku ingin hidup tenang," jawab Rinjani dengan tangan dikatupkan di dadanya.


Mendengar penolakan Rinjani untuk yang kesekian kalinya, membuat hati Dirga terasa hancur kembali. Setidaknya dia masih bisa mengunjungi wanita itu dan melihatnya meski sesekali.


Dirga pun diminta pulang oleh Pak Kepala Desa yang merasa cemburu. Alasannya karena orang-orang mau pulang. Jika, laki-laki itu tetap tinggal di sana maka akan timbul fitnah.


***


Hati Rinjani merasa plong sekarang. Sudah tidak ada beban lagi dalam dirinya. Semua urusan dia dengan orang-orang sudah selesai. 


"Alhamdulillah, Ya Allah semua urusan aku dan Mas Dewa, Engkau permudahkan. Ampuni kami, Ya Allah. Atas semua dosa-dosa yang telah kami lakukan selama ini. Baik itu yang disengaja atau pun tidak disengaja. Semoga Engkau selalu membimbing aku dan keluargaku berada di jalan yang lurus dan Engkau ridhoi."


Kakek Atmaja yang diam-diam melihat Rinjani berdoa di sepertiga malam, hatinya merasa tercubit. Dulu dia tidak pernah memberikan pendidikan ilmu agama kepada cucunya. Dia lebih mengutamakan pendidikan ilmu pengetahuan agar menjadi orang yang sukses. Paling Rinjani belajar mengaji sama pembantu rumah tangga. Bahkan sholat pun mereka yang mengajarkan. Dia juga diajarkan sholat oleh Rinjani saat cucunya sudah beranjak remaja.


'Seharusnya aku bersyukur Dewa dulu menjadi suaminya Rinjani. Pantas saja Rinjani begitu mencintai Dewa dan rela meninggalkan diriku, karena dari laki-laki itu dia menemukan kebahagian yang tidak bisa aku berikan kepadanya.' (Kakek Atmaja)


'Apa aku harus meminta maaf lagi kepada Bagaskara kalau Rinjani tidak mau menikah lagi?' (Kakek Atmaja)


***


Apakah Bagaskara kali ini bisa menaklukan hati Rinjani dan menjadikan dia Ratu dalam hidupnya? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Apalagi sudah tamat, bisa baca secara maraton.


Jelita, gadis kelas 2 SMA yang dipaksa menikah oleh kakeknya karena sudah menyerah akan kelakuan nakalnya. Dia dinikahkan dengan Erlangga—guru magang sekaligus anak sopirnya. Mereka menyembunyikan pernikahan itu dan akan dipublikasikan setelah Jelita lulus SMA.


Namun, 3 hari menjelang pesta pernikahan, Erlangga mengalami kecelakaan dan hilang sebagian memorinya. Ingatan yang tersisa adalah perasaan benci pada Jelita dan Kakek Darmawangsa. Hari yang seharusnya membahagiakan itu berubah jadi petaka karena Erlangga menjatuhkan cerai pada Jelita. Akibatnya, Kakek Darmawangsa meninggal dunia. Tanpa Erlangga dan Jelita tahu, kalau saat itu sudah hadir buah cinta mereka.


Apa yang akan dilakukan oleh Erlangga saat memori ingatannya kembali?


Akankah Jelita memaafkan orang yang sudah membuat hidupnya menderita?

__ADS_1



__ADS_2