Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)

Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)
Bab 45. Perjalanan Ke Ibu Kota


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 45


Hari ini adalah pembagian raport dan kenaikan kelas. Aqilah yang saat ini kelas 5 dan akan naik ke kelas 6. Azzam kelas 2 yang naik ke kelas 3. Seperti tahun kemarin, kedua anak Rinjani menempati posisi juara rangking pertama. Kali ini Rinjani tidak datang bersama Attar saja, tetapi bersama Kakek Atmaja dan Bagaskara. Laki-laki itu sengaja datang ke acara kenaikan kelas anak-anak Rinjani sambil membuat rekaman video untuk kenang-kenangan dia bersama teman-temannya, karena ajaran tahun depan gadis remaja itu sudah pindah ke kota.


Aqilah dan teman-temannya saling berjabat tangan dan berpelukan jika teman perempuan, air mata itu membasahi wajah imut mereka. 


Anak-anak itu saling mendoakan satu sama lain. Sebuah perpisahan yang membuat haru orang-orang yang melihatnya. Tadi juga Aqilah sempat membacakan puisi untuk guru-guru yang ada di sekolah itu dan juga untuk teman-temannya. Banyak orang yang terisak menangis saat mendengar untaian kata dari gadis kecil ini.


Anak-anak yang kini beranjak remaja itu sudah mulai tumbuh menyusul ibu mereka. Seperti Aqilah yang kini tingginya sudah sedagu Rinjani, padahal ibunya termasuk wanita berbadan tinggi.


"Aqilah, kamu harus main bersama kita jika sedang datang ke sini nanti," kata salah seorang teman anaknya Rinjani.


"Iya. Nanti aku akan mendatangi rumah kamu jika datang ke desa ini," balas Aqilah.


Tidak beda jauh dengan Azzam yang berpamitan kepada guru dan teman-teman sekolah yang juga merupakan teman bermainnya juga. Laki-laki muda itu memberikan pensil kepada teman-temannya sebagai kenang-kenangan. 


"Azzam nanti kamu jangan berhenti menghafal Al-Qur'an saat di sana. Kalau kamu datang ke sini akan kami minta Ustadz Hasan untuk mengetes hafalan kamu," kata salah seorang teman baik Azzam.


"Iya, Insha Allah. Ibu juga sudah mencarikan tempat hafidz di sana. Katanya ada rumah tahfidz yang cocok untuk aku," balas Azzam.


"Kalau kamu kembali ke sini, kita cari ikan lagi di sungai," ujarnya lagi.


"Iya," sahut Azzam.


***


Rinjani dan keluarganya pergi ke ibu kota setelah mengadakan syukuran atas ucapan terima kasih sudah pernah menjadi warga di sana. Sehari sebelumnya mereka satu kampung makan bersama. Kakek Atmaja sampai menyembelih satu ekor sapi untuk di makan bersama-sama. Tentu saja warga kampung Suka Jaya merasa senang. Mereka seakan sedang berpesta bersama.


Mereka pun mengantar Rinjani dan keluarganya dengan lambaian tangan. Tangis haru terlihat dari orang-orang itu.


Hati Rinjani merasa tidak rela pergi meninggalkan desa itu. Dia sudah merasa sangat nyaman tinggal di sana. Rasanya ada yang sesuatu yang sangat penting dan berharga tertinggal di sana. 

__ADS_1


Bagaskara melihat Rinjani menangis lewat kaca spion tengah. Hati kecil dia ingin menenangkan wanita itu dengan menghapus bulir bening yang masih saja keluar dari netranya.


'Kenapa kamu selalu saja menangis?' (Bagaskara)


Mungkin karena sehari sebelumnya mereka sibuk mengadakan pesta perpisahan bersama warga kampung, membuat semua orang langsung jatuh tertidur, padahal baru beberapa menit mereka naik mobil. Kini hanya Bagaskara yang masih bangun karena sedang menyetir.


"Jika kamu lelah atau mengantuk, kita gantian," kata Rinjani tiba-tiba menyapa pendengaran Bagaskara.


"Tidak. Aku merasa tidak lelah atau mengantuk. Sebaiknya kamu yang beristirahat. Wajah kamu terlihat agak pucat, pasti karena kurang tidur," ujar Bagaskara.


"Aku tidak mengantuk hanya lelah saja," balas Rinjani.


Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Hanya keheningan yang terjadi di sana. Sebenarnya Bagaskara ingin mengajak ngobrol ibu beranak tiga ini, tetapi bingung harus memulainya dari mana.


Cuaca hari ini berhujan sudah seminggu yang lalu sering turun hujan di siang hari. Biasanya hujan turun ketika malam. Jika keadaan seperti ini harus berhati-hati dalam mengendarai kendaraan. Meski hujan biasa saja tidak lebat atau bukan hujan badai, tetap saja harus berhati-hati. 


"Bagaskara, apa sebaiknya kita menepi terlebih dahulu sampai menunggu hujan reda?" tanya Rinjani sambil melihat ke arah luar jendela kaca mobil.


"Hujan seperti ini akan lama. Lagian sebentar lagi kita akan sampai," jawab Bagaskara masih fokus mengemudi.


"Bu," panggil Attar sambil mengulurkan kedua tangannya. Bocah kecil itu ingin digendong dan duduk di pangkuannya.


"Kenapa Adik?" tanya Rinjani sambil memangku putra bungsunya.


"Takut," jawabnya.


Sebenarnya ketiga anak Rinjani jika turun hujan selalu merasa sedih. Hal ini mengingatkan akan kematian ayah mereka. Sebab, yang mereka tahu kecelakaan itu terjadi karena hujan dan jalanan menjadi licin.


Rinjani pun memeluk Attar dan menciumi pucuk kepalanya. Sementara itu, Aqilah dan Azzam saling memegang tangan.


Entah kenapa Bagaskara merasa kalau anak-anak Rinjani terlihat ketakutan. Maka, dia pun memutuskan menepikan mobilnya.


"Apa kalian ingin makan sesuatu yang hangat?" tanya Bagaskara.


"Makanan apa itu, Om?" tanya Azzam dan Aqilah bersamaan.

__ADS_1


"Ya, misal bakso, soto, mie ayam, atau apa gitu yang enak dimakan panas-panas," jawab Bagaskara.


"Kalau begitu kita makan soto saja," lanjut Rinjani sambil menunjuk kedai soto yang ada di sampingnya.


Mereka semua makan soto di sana sampai hujan reda. Untungnya hujan cepat reda dan tinggal gerimis kecil saja. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan lagi yang tinggal beberapa kilometer. Tidak sampai 30 menit mereka sudah sampai ke rumah Kakek Atmaja.


"Alhamdulillah, kita bisa sampai dengan selamat," kata Rinjani dan diikuti oleh yang lainnya.


"Bagaskara terima kasih sudah menjadi sopir kita," lanjut sang janda.


"Sama-sama. Justru aku merasa senang bisa melakukan perjalanan ini bersama kalian," balas Bagaskara.


"Menginaplah di sini, sepertinya hujan mulai turun lagi," kata Rinjani sambil melihat ke arah taman.


Hujan tiba-tiba kembali turun dan kini langsung deras bahkan diikuti dengan petir dan guntur. Bagaskara pun menerima undangan itu. Sebenarnya dia juga masih ingin bersama Rinjani.


"Sepertinya Allah mentakdirkan Om Bagas untuk tinggal dulu di sini, ya?" Aqilah mengedipkan sebelah matanya memberi kode pada sang adik.


"Iya, benar. Abang juga senang kalau Om Bagas bisa lama tinggal di sini," lanjut Azzam sambil tersenyum lebar.


"Adik, senang bersama Om Bagas," ujar Attar sambil menggandeng tangan laki-laki itu agar masuk ke dalam rumah.


'Anak-anak begitu dekat dengan Bagaskara.' (Rinjani)


"Om, nanti dekati Ibu. Rayu dia agar hatinya luluh," bisik Aqilah sambil melewati Bagaskara.


"Eh!" Bagaskara terkejut mendengar bisikan anak gadis itu.


***


Apa yang akan dilakukan oleh Bagaskara untuk meluluhkan hati Rinjani? Akankah dia berhasil? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus kepoin novelnya, yuk!


__ADS_1


__ADS_2