Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)

Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)
Bab 58. Rinjani Hilang


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 58


Rinjani pergi ke kantor seorang diri seperti biasa, karena kedua anaknya selalu pergi bersama Bagaskara. Suasana hari ini cukup cerah meski berawan. Sekarang sudah masuk ke musim penghujan. Banyak orang yang sudah mempersiapkan diri dengan membersihkan aliran air selokan, empang, atau sungai agar tidak banjir. 


Banyaknya warga yang melakukan bersih-bersih bersama, Rinjani melambatkan kendaraannya saat lewat mereka. Saat itu tiba-tiba saja ada seorang nenek-nenek yang menyebrang dan jatuh tergeletak di jalanan aspal. Tentu saja orang-orang yang sedang bersih-bersih di sana langsung meneriaki Rinjani. Meski dia langsung menghentikan mobil dan turun dari kendaraannya.


"Nenek! Nenek! Anda tidak apa-apa, 'kan?" tanya Rinjani sambil mencoba membangunkan nenek-nenek itu.


"Makanya kalau bawa kendaraan jangan ngebut! Kalau sudah begini baru nyesel," bentak seorang bapak-bapak yang berdiri paling depan.


"Saya tidak ngebut, Pak. Sebaiknya kita bawa nenek ini ke rumah sakit, sekarang," ucap Rinjani.


Saat di dalam perjalanan ke rumah sakit, nenek itu minta diantarkan ke rumahnya saja. Takut kalau pergi ke sana tanpa keluarga sendiri.


"Jadi, nenek punya trauma dengan rumah sakit?" Rinjani merasa iba.


"Iya, Non. Dulu, orang yang pertama kali meninggal di sana adalah suami, lalu kedua orang tua secara dua bulan berturut-turut. Jelang setahun mending ibu mertua dan setelahnya ayah mertua. Anak pertama juga meninggal di rumah sakit, hanya saja penyebabnya adalah kecelakaan. Baru-baru ini juga cucu laki-laki, yang masih bujang meninggal karena begal. Jadi, kalau pergi ke sana seakan ada yang akan meninggal di keluarga nenek," jelas Nenek Odah, nama wanita tua itu.


"Baiklah, kalau begitu di mana rumah nenek? Nanti aku akan telepon dokter buat memeriksa keadaan nenek. Aku takut terjadi sesuatu kepada nenek, nantinya," ucap ibu beranak tiga.


Wanita tua itu pun menunjukan jalan menuju rumahnya. Awalnya Rinjani biasa saja, tetapi jalan yang ditunjukan oleh Nenek Odah terasa sangat jauh dari tempat kejadian tadi. 


"Nek, apa masih jauh rumahnya?" tanya Rinjani.


"Sebentar lagi. Pelankan saja mobilnya," balas Nenek Odah dan Rinjani pun menurutinya.


"Itu rumahnya!" tunjuk nenek-nenek itu ke arah kanan.


"Mana, Nek?" Rinjani mengarahkan kepalanya menghadap ke kanan dan menghentikan laju mobilnya.


Di saat seperti itu, wanita tua ini menutup hidung dan mulut Rinjani oleh saputangan yang sudah diberi obat bius. Rinjani sempat melawan, tetapi tetap saja jatuh pingsan.

__ADS_1


Kaca pintu mobil diketuk dari luar. Lalu, Nenek Odah pun membuka kaca jendela pintu itu.


"Sip. Semua sudah sesuai rencana," kata Wanita tua itu sambil mengacungkan jempol.


Seorang laki-laki yang berdiri di samping mobil Rinjani tersenyum kecut ke arah wanita itu. Dia membuka sabuk pengaman dan menggotongnya, kemudian memindahkan ke dalam mobilnya.


"Lalu, mobil ini, kemanakan?" tanya laki-laki yang baru saja memberikan amplop berwarna copi kepada Nenek Odah.


"Tinggalkan saja," jawab Dirga dan pergi melesat meninggalkan tempat itu.


***


"Kakek, ibu belum menelpon adik?" tanya Attar pada Kakek Atmaja. Biasanya Rinjani akan menelepon putra bungsunya jika sudah sampai di kantor.


"Mungkin lupa karena sibuk. Adik sini temani kakek jalan-jalan di taman, yuk!" ajak Kakek Atmaja sambil menggandeng bocah berumur 4 tahun itu.


Saat keduanya asik berjalan di bawah sinar matahari pagi, tiba-tiba saja Attar berteriak memanggil seseorang. Bocah kecil itu berlari meninggalkan Kakek Atmaja.


"Adik, tunggu!" teriak Kakek tua itu sambil berlari kecil.


"Ada ayah, Kek!" balas Attar sambil berlari ke arah gazebo.


"Ayah tunggu!" Attar tidak menghiraukan panggilan kakek buyutnya, dia terus saja berlari ke arah gazebo.


Setelah sampai di sana sosok ayahnya itu tidak ada. Di sana tidak ada siapapun, hanya ada buku catatan milik ibunya yang tertinggal.


"Adik, kakek lelah. Jangan lari lagi," ucap Kakek Atmaja.


"Kek, tadi ayah seperti menyuruh adik menelepon," kata Attar sambil meletakan tangannya di telinga membentuk isyarat menelepon.


"Menelepon siapa?" tanya Kakek Atmaja dengan napas memburu.


"Tidak tahu," jawab Attar polos.


Laki-laki tua itu melihat Attar sedang memegang buku milik Rinjani. Tiba-tiba saja terbersit dalam benaknya untuk menelepon Rinjani.

__ADS_1


'Apa sedang terjadi sesuatu kepada Rinjani?' (Kakek Atmaja)


***


Bagaskara baru saja akan pergi menuju ruang rapat. Namun, suara dering handphone miliknya membuat dia merogoh saku celana. Dia melihat nama calon kakek mertua tertera di layar, dengan cepat di menggeser tombol hijau.


Wajah laki-laki itu langsung pucat saat mendengar kalau Rinjani tidak bisa dihubungi dan belum juga sampai ke kantor. Kakek Atmaja juga sudah menyuruh beberapa orang untuk mencari Rinjani. 


^^^"Kakek takut terjadi sesuatu kepada Rinjani. Barusan kakek menerima laporan mobilnya di temukan di bahu jalan yang jelas-jelas bukan ke arah kantor."^^^


"A-pa? Kakek yakin kalau itu mobil yang tadi dipakai oleh Rinjani? Tapi mobilnya dalam keadaan baik-baik saja?"


^^^"Iya, mereka mengirimkan video keadaan mobil itu. Bahkan kunci saja masih terpasang. Tas dan semua berkas masih tersimpan di sama dengan baik. Jelas-jelas ini perbuatan seseorang yang menginginkan Rinjani."^^^


"Kakek tenang saja, jangan panik. Apa sudah lapor polisi?"


^^^"Pengacara kami baru saja akan melaporkan kasus ini."^^^


"Aku akan ke tempat itu. Kirimkan di mana alamatnya, Kek!" 


Bagaskara meminta asistennya untuk menggantikan dia memimpin rapat hari ini. Dia tidak akan bisa fokus bekerja jika pikirannya terus pada Rinjani.


Tidak sampai 30 menit Bagaskara sampai ke tempat ditemukannya mobil Rinjani. Dia juga memeriksa mobil dan tempat di sana. Namun, tidak ada satu pun yang bisa menjadi petunjuk tentang Rinjani yang tiba-tiba saja menghilang.


'Rinjani, kamu di mana?' (Bagaskara)


"Pak, apa ini cincin milik Nona Rinjani?" tanya salah seorang yang dipekerjakan oleh Kakek Atmaja.


Cincin bermata biru itu adalah cincin yang dipakaikan oleh mamanya kepada Rinjani saat hari lamaran beberapa hari yang lalu. Bagaskara menggenggam cincin itu dengan erat.


'Ya Allah, bantu aku untuk menemukan calon istriku.' (Bagaskara)


***


Di mana Rinjani saat ini? Apakah Bagaskara akan bisa menemukan belahan hatinya? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus kepoin novelnya. Karena ini sudah tamat bisa baca maraton. Jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian. Yuk, merapat yang suka cerita Komedi Romantis.



__ADS_2