
..."Aku cemburu, aku marah, aku khawatir, itu semua karna aku mencintaimu dan tidak ingin kehilanganmu"...
...Alden Reynoard Schiaparelli...
...--------------------...
Klek
Rara sedikit terkejut saat pintu tiba-tiba ditutup oleh seseorang yang ternyata adalah suaminya.
"Eh... mas bikin Rara terkejut aja," ucap Rara sambil mengelus dadanya.
Alden tak menanggapi ucapan istrinya, ia mulai memeluk Rara, kemudian segera mencium bibir Rara dengan sedikit kasar. Rara yang dicium Alden tiba-tiba tentu langsung berontak.
"Bapak apa-apaan sih, main cium-cium aja, mana kasar lagi," bentak Rara yang benar-benar marah dengan suaminya itu, bahkan Rara tidak menyebut Alden dengan mas lagi.
Alden yang dibentak Rara langsung memundurkan badannya, lalu menatap tajam ke arah Rara. Rara yang mendapat tatapan tajam dari suaminya itupun mulai takut. Ia tidak pernah melihat tatapan tajam suaminya sebelumnya.
Tapi bukan Rara namanya jika ia menunjukkan rasa takutnya, ia justru ikut menatap tajam suaminya, seoalah-olah ia berani, padahal sebenarnya tangan mulai dingin karna sedikit ketakutan.
"Mas kenapa sih ngeliat Rara kayak gitu?" tanya Rara memberanikan diri untuk melihat manik mata suaminya.
"Kamu kenapa dekat dengan laki-laki lain," ucap Alden dengan suara pelan.
Rara tentu sedikit merinding mendengar suaminya yang bebicara dengan nada mengerikan.
"Lalu apa kabar dengan mas, mas tadi juga dekat sama tuh dosen baru," ucap Rara jengkel.
"Kamu cemburu?" ejek Alden sambil menyunggingkan sudut bibirnya.
"Lah situ? Kenapa marah-marah juga, mas cemburu?" Rara justru balik bertanya dengan suara sedikit ejekan.
Alden yang mendengarnya hanya tersenyum tipis, istrinya ini benar-benar bisa membalikkan situasi.
Alden lalu mulai mendekat dan kembali memeluk tubuh Rara, tapi dengan penuh kasih sayang.
"Iya, mas cemburu Ra, mas cemburu melihat kamu tersenyum manis dengan laki-laki lain, mas cemburu ngeliat kamu dekat dengan laki-laki lain, mas cemburu Ra," lirih Alden tepat disamping telinga istrinya.
Rara yang mendengarnya tentu tersentuh, apalagi mendengar suara lirihan suaminya. Rara lalu melepas pelukan suaminya, lalu menatap manik mata suaminya itu.
" Mas tahu apa alasan Rara melakukannya?" tanya Rara menatap mata suaminya.
"Melakukan apa?" tanya Alden yang memang tak mengerti maksud istrinya.
"Kenapa Rara tiba-tiba tersenyum manis pada Reza tadi," tutur Rara.
"Kenapa?" tanya Alden penasaran.
"Karna tadi mas juga dekat sama tuh dosen," ketus Rara, lalu sedikit menjauh dari suaminya.
"Kamu cemburu?" Alden justru senang mendengar suara Rara yang ketus, istrinya memang sangat menggemaskan jika sedang cemburu.
"Kalau iya kenapa?" ketus Rara sambil menatap kesembarang arah.
Alden yang mendengarnya seketika mengembangkan senyumnya, akhirnya istrinya mengaku juga jika ia sedang cemburu.
__ADS_1
Alden lalu berjalan menghampiri istrinya yang sedang duduk disofa. Alden merasa sikap istrinya sangat manis jika sedang cemburu.
Alden lalu berjongkok didepan istrinya, lalu menggenggam lembut tangan istrinya.
Rara awalnya tidak ingin menatap mata suaminya, ia masih merasa sedikit malu karna sudah mengaku jika ia sedang cemburu.
"Sayang... tatap mata mas," ucap Alden lembut sambil mengelus tangan putih istrinya.
Dengan terpaksa Rara akhirnya menatap mata suaminya walaupun sedikit ragu. Alden yang melihatnya langsung tersenyum lembut.
"Sayang dengarin mas, mas gak akan berdekatan dengan perempuan manapun kecuali kamu, mas sudah sangat cinta dan sayang sama kamu sayang, kamu salah sangka sayang," tutur Alden lembut.
"Salah sangka?" beo Rara yang masih belum mengerti maksud suaminya.
"Buk Rosalina itu kekasihnya pak Bima, mas hanya tidak enak menolak permintaan mereka untuk makan bersama dikantin, mas sudah sempat menolak, tetapi mereka sedikit memaksa, jadi mas turuti saja," ucap Alden memberi pengertian pada Rara.
"Kamu tenang saja, mas akan menjaga perasaan kamu kok," lanjut Alden.
Rara menatap mata Alden untuk mencari kebohongan, tetapi Rara tidak menemukan apa-apa, yang ada hanya ketulusan dimata Alden, Rara seketika merasa bersalah karna sudah menuduh suaminya.
Rara lalu menangkup kedua pipi suaminya sambil tersenyum lembut.
"Maafin Rara ya mas karna sudah menuduh mas, Rara cuman cemburu mas dekat perempuan lain, apalagi buk Rosalina lebih cantik," ucap Rara dengan sedikit lirihan diakhir kalimat.
Alden yang mendengarnya hanya terkekeh.
"Kamu tenang aja sayang, dimata mas yang paling cantik itu kamu kok," ucap Alden sedikit terkekeh.
"Mas minta kamu jangan dekat dengan laki-laki lain ya, mas cemburu sayang," lanjut Alden sambil menatap mata Rara dengan penuh cinta.
Alden lalu mengangkat tubuh mungil istrinya itu, lalu mendudukannya diatas pangkuannya, wajah Alden mulai mendekat, Rara yang mengira suaminya akan menciumnya langsung menutup matanya, hal itu tentu membuat Alden terkekeh.
"Cie... kenapa tutup mata? Berharap dicium ya," kekeh Alden.
Rara yang menyadari jika ia sedang dikerjai suaminya langsung membuka mata dan menatap suaminya dengan kesal sekaligus malu.
"Ckk... udah lepasin Rara," ucap Rara sedikit berontak, tetapi sayangnya ia tidak mampu menandingi kekuatan suaminya itu.
"Jangan ngambek dong sayang," kekeh Alden.
Alden secara tiba-tiba langsung mencium bibir Rara dengan lembut, Rara tentu ingin berontak, tapi Alden lebih dulu menahan tengkuk Rara sehingga Rara tidak bisa melepaskan ciuman itu, akhirnya Rara pasrah saja, ia menikmati ciuman suaminya.
Alden kembali memasukkan lidahnya kedalam mulut Rara dan mulai bermain lidah, untungnya istrinya sudah cukup mahir bermain lidah, hal itu tentu membuat Alden tersenyum senang disela-sela ciumannya.
Sedang asik-asik mereka berciuman, tiba-tiba...
Tok...tok...
Alden menulikan pendengarannya, ia tetap menikmati bibir manis Rara tanpa memperdulikan ketukan pinta yang berulang kali, tetapi Rara sedikit risih mendengar ketukan yang berulang kali, dengan sekuat tenaga Rara mendorong dada suaminya agar melepas ciumannya.
"Itu ada orang yang ngetuk mas," ucap Rara setelah ciuman mereka terlepas.
"Ckk.. siapa sih ganggu aja orang lagi ciuman," ucap Alden marah.
Alden lalu membuka pintu dan ternyata yang datang adalah food delivery, kebetulan Alden memang memesan makanan karna ia hanya makan sedikit saja dikantin tadi.
__ADS_1
"Maaf pak, ini pesanannya," ucap laki-laki itu sambil tersenyum ramah.
Alden justru menatap tajam laki-laki tersebut, Alden menatap seperti ingin membunuhnya. Laki-laki tersebut tentu sedikit bingung, apakah ia ada salah, padahal ia sudah mengantar pesanan pelanggannya tepat waktu.
"Maaf pak, apakah ini tidak sesuai pesanan bapak?" tanyanya ramah.
Alden tak menjawabnya, ia terus menatap tajam laki-laki itu, lalu Alden mulai mengambil selembar uang berwarna biru.
"Nih duitnya, kembaliannya ambil aja," ketus Alden.
"Maaf pak, tapi uangnya pas," ucapnya sopan.
"Ya sudah kalo pas, berharap banget sih lebih," ketus Alden, lalu membanting pintu dengan sedkit kasar.
"Astaga, baru kali ini aku dapat pelanggan kayak gitu" batinnya sambil mengelus dada.
.
.
"Siapa mas?" tanya Rara yang heran melihat kekesalan diwajah suaminya.
"Nih, orang yang ngantar makanan ini," ucap Alden kesal.
"Terus kenapa mas kesal?" tanya Rara heran.
"Ya iyalah, dia kan udah ganggu kita."
"Ya udah, mas makan aja dulu, habis itu kita jalan-jalan," ucap Rara.
"Kemana?" tanya Alden bingung.
"Ya ke mall mungkin, sekalian belanja, gak papakan?" tanya Rara meminta persetujuan suaminya, Rara takutnya suaminya tidak mengijikan.
"Ya boleh dong. Ya udah, mas makan dulu ya, kamu gak mau makan?"
"Gak deh mas, Rara masih kenyang."
Alden lalu menyantap makanannya, sedangkan Rara ia hanya menopang dagu menatap suaminya yang sedang makan.
"Oh iya mas, tadi Rara ketemu sahabat Rara semasa SMA, dia bilang sekali-kali ajak mas kecafe di seberang kampus, soalnya dia penasaran sama suami Rara," tutur Rara sambil terkekeh.
"Sahabat? Siapa? Cowok apa cewek?" cerca Alden.
"Ckk.. cewek mas, namanya Yaya."
"Hah?"
.
.
.
Author
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya.