
..."Jangan pernah tinggalkan aku, karna sekarang aku sudah sangat mencintaimu"...
...Diandra Latasha Jonshon...
...-------------------...
Rara sedang duduk di atas sofa, sambil menonton TV. Setelah pulang dari kebun binatang semalam, Rara segera tidur tepat jam 00.00 akibat sedikit kelelahan. Tetapi ia justru terbangun jam 4 pagi, dan tidak bisa tidur kembali, karna tidak bisa tidur, akhirnya Rara bangun dan berjalan keruang tamu untuk menonton TV, entahlah ia rasanya hanya ingin menonton TV saja.
Rara menatap TV yang sedang menayangkan sebuah drama dengan judul "Berbahagialah, Aku pergi"
"Kalian?"
"Ja - jadi kalian selingkuh?"
"M - maafkan aku, Melati. Tapi aku sudah tidak mencintai kamu lagi. Sejujurnya aku hanya mencintai Arini. Aku minta maaf karna aku tidak bisa meneruskan hubungan ini, aku benar-benar sangat menyayangi Arini, dia yang sudah mengajariku arti cinta untuk pertama kalinya. Aku minta maaf."
"Ja - jadi aku hanya kamu jadikan sebagai pelampiasan, begitu?"
"Maaf, tapi aku memang tidak bisa berbohong jika aku masih belum bisa mencintaimu."
"Setelah hampir 3 tahun pernikahan kita dan kamu masih belum ada sedikitpun perasaan padaku?"
"Maaf."
"Tidak perlu meminta maaf, kamu tidak salah, disini yang salah aku karna sudah berharap terlalu banyak kepada kamu, tapi kenapa harus dengan Arini? Kamu tahukan dia siapa?"
"Maaf, tapi sebenarnya Arini adalah orang yang paling special dihidupku, dia yang sudah mengajarkan aku tentang cinta."
"Jadi, dia adalah orang yang pertama, begitu?"
"Iya, aku minta maaf. Aku bakal menceraikan kamu secepatnya, aku harap kamu dapat laki-laki yang lebih baik dari aku, dan yang pastinya bisa mencintai kamu dengan tulus, tidak seperti aku."
"Makasih untuk doanya. Arini, bukankah kamu tahu siapa dia dihidupku?"
"Maaf Melati, tapi sejujurnya aku juga sangat menyayangi Rio, aku tidak sanggup hidup tanpa dia."
"Ta - tapi kamu sahabatku hiks .... "
"Tapi bukankah cinta tidak bisa dipaksakan? Kamu jangan egois Melati! Meskipun kita sahabat, tapi aku benar-benar mencintai Rio."
"Jadi sudah berapa lama kalian bermain dibelakangku?"
"Satu tahun."
"Dan selama satu tahun itu aku dibodohi oleh kalian hiks .... "
"Hiks ... kamu tahu? Kamu sudah aku anggap sebagai sebagai sahabatku bahkan keluargaku, tapi kenapa .... ?"
"Tolong jangan egois Melati! Mas Rio berhak bahagia, dan kamu tahu? Dia tidak pernah bahagia selama hidup dengan kamu! Aku akan menjaga Mas Rio dengan baik. Kita memang sahabat, tapi cinta tidak bisa dipaksakan. Lepaskanlah Mas Rio! Biarkan aku menggantikanmu."
__ADS_1
"Kamu benar Arini, cinta memang tidak bisa dipaksakan, dan Mas Rio berhak bahagia. Maaf karna aku sudah menjadi parasit dihubungan kalian. Aku akan melepaskan Mas Rio dan kamu bisa menggantikan posisiku sebagai istri dari Rio. Berbahagialah, Aku pergi .... "
Tin ... tin ...
"MELATI AWAS!"
Brukkk
"M - Mas Rio, a - aku ha - hamil. Ma - makasih."
Tak terasa air mata Rara merembes keluar saat menyaksikan adegan itu. Di mana si perempuan terpental sangat jauh karna tertabrak mobil dan akhirnya meninggal dalam keadaan mengandung anak dari laki-laki yang justru mencampakkannya.
"Dasar pria bre*gsek," umpat Rara yang sangat kesal pada pria yang bernama Rio tersebut.
"Kayaknya Rissa gak bakalan deh ngambil suami gue, orang dia juga udah ada pacar, bang Sat. Lagian Rissa juga bukan mantan Mas Alden," ucap Rara pelan.
"Uh ... huwaaa!" Tangis Rara pecah, membayangi jika dirinya berada diposisi Melati, ditinggalkan suaminya dan pergi bersama perempuan lain, lebih tepatnya sahabatnya sendiri!
"Sayang kamu kenapa?"
**********
"Eughh .... "
"Sayang kamu dimana?" tanya Alden sambil meraba-raba tempat tidur Rara.
"Sayang!" panggil Alden dengan sedikit nyaring, mengira istrinya sedang berada dikamar mandi.
Karna tidak mendapat sahutan, Alden langsung bangun dan menge'cek ke kamar mandi, tapi ia tidak menemukan apa-apa. Tiba-tiba perasaan khawatir datang, Alden langsung segera turun kebawah, berharap istrinya berada disana.
"Uh ... huwaaa!" Tiba-tiba terdengar tangisan nyaring dari ruang tamu.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Alden khawatir sekaligus panik, ia segera berlari menghampari istrinya yang sedang duduk di sofa sambil menangis.
"Kamu kenapa?" tanya Alden sambil berjongkok didepan istrinya.
"Mas!" Rara langsung memeluk suaminya dengan sangat erat. Wanita itu bahkan menangis sampai tubuhnya bergetar, sementara Alden masih kebingungan apa yang membuat istrinya itu menangis.
"Kamu kenapa?" tanya Alden lagi sambil mengelus lembut rambut istrinya.
"Jangan tinggalin aku Mas!" ucap Rara yang masih terus menangis.
"Maksud kamu apa sih sayang? Mas gak bakal ninggalin kamu kok," ucap Alden lembut.
"Mas gak bakal ninggalin Rara, kan? Lalu kembali sama mantan Mas," ucap Rara asal sambil terus sesenggukan.
Deggg
"Ma - maksud kamu sayang?" tanya Alden yang sedikit terkejut.
__ADS_1
"Ta - tadi Rara nonton drama, si ceweknya meninggal di tabrak mobil." Tangis Rara semakin kencang setelah mengucapkannya.
Alden langsung tersenyum, ia benar-banar merasa gemes pada tingkah istrinya ini. Bagaimana mungkin Rara bisa berpikir sejauh itu? Ya meskipun Alden memang mempunyai mantan, tapi ia sudah berjanji untuk tidak pernah meninggalkan Rara, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri jika ia hanya menikah satu kali seumur hidup, jadi itu sedikit tidak mungkin jika ia meninggalkan Rara, apalagi ia sudah sangat menyayangi istrinya itu.
"Astaga sayang ... Mas gak mungkin ninggalin kamu. Kamu tahu? Mas udah berjanji untuk tidak pernah meninggalkan kamu, Mas sudah berjanji pada diri Mas sendiri jika Mas hanya menikah satu kali seumur hidup," jelas Alden lembut sambil terus menatap manik mata istrinya.
"Lagian Mas udah sayang banget sama kamu, jadi gak mungkinlah Mas ninggalin kamu," lanjut Alden sambil terkekeh.
Rara diam sejenak, mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh suaminya. Ia sontak menatap dalam mata suaminya mencari celah kebohongan, tapi tak ada kebohongan apapun dari sorot mata suaminya, tapi ada sesuatu dari sorot mata suaminya yang Rara sendiri tidak tahu artinya.
"Janji ya Mas untuk gak ninggalin Rara," ucap Rara sambil mengangkat jari kelingkingnya.
Alden sontak terkekeh dengan tinggah gemes istrinya itu.
"Mas janji kok sayang," ucap Alden lembut sambil mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking istrinya.
"Jangan pernah tinggalin Rara ya Mas," ucap Rara yang langsung mengeratkan pelukannya.
"Iya sayang, Mas janji gak bakal ninggalin kamu. Dan kamu juga harus berjanji untuk gak ninggalin Mas, gimana?"
"Rara gak bisa janji Mas," ucap Rara jujur.
"Kenapa begitu?" tanya Alden dengan sedikit tidak suka, Alden sedikit menjadi takut, takut kejadian yang sama terulang kembali.
"Kalo Rara udah gak sanggup, maka Rara pergi," ucap Rara.
"Maksud kamu? Gak sanggup apa?" tanya Alden heran.
"Entahlah Mas .... " Rara sendiri tidak tahu apa yang baru saja ia ucapkan, kata-kata itu tiba-tiba saja keluar dari mulutnya.
"Jangan pernah tinggalin Mas Ra, luka ini baru saja sembuh berkat kamu. Jangan menambah luka yang lebih dalam lagi, ya?" ucap Alden sambil menatap sendu istrinya.
"Luka? Maksud Mas?" tanya Rara yang benar - benar tidak paham.
Alden tidak menjawab ucapan istrinya, ia hanya mempererat pelukan mereka. Tanpa sadar setetes air mata Alden jatuh mengenai pundak mulus Rara, Alden segera menghapusnya. Rara tentu merasakan tetesan air itu, tapi ia memilih untuk berpura-pura tidak tahu dan tidak merasakannya, tetapi jauh didalam lubuk hati Rara, ia merasa sakit, sakit yang ia sendiri tidak tahu, sakit yang ia sendiri tidak bisa menjelaskannya.
"Jangan pernah tinggalin Mas Ra," lirih Alden dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Mas harap kamu tidak seperti dia Ra, Mas harap kamu gak bakal kayak dia yang meninggalkan tanpa alasan apapun," batin Alden.
"Tuhan, Rara mohon jaga keluarga Rara," batin Rara.
.
.
.
.
__ADS_1