
Sesuai janji Alden semalam. Hari ini mereka akan pergi ke pantai untuk bersenang-senang. Alden ingin memiliki moment-moment bahagia bersama istrinya.
Untuk masalah foto semalam, Alden sudah ikhlas, ia merasa itu memang wajar jika istrinya merobek foto wanita lain. Ia akan berusaha untuk melupakan Ella. Ia harap ia tidak akan bertemu kembali dengan Ella.
"Pagi kesayangan pak suami," sapa Alden saat Rara membuka mata.
"He'em ...." Rara hanya bergumam saja, lalu menarik kembali selimut menutupi wajahnya.
Alden terkekeh dengan tingkah istrinya, ia lalu menarik kembali selimut yang menutupi wajah cantik istrinya.
"Bangun dong sayang, katanya kita mau ke pantai hari ini. Kamu nggak mau masak gitu?" Alden sengaja mengatakan seperti itu agar istrinya mau bangun.
"Astagfhirullah, Rara lupa Mas." Sesuai dugaan Alden, Rara sontak membuka matanya mendengar ucapan Alden.
Alden terkekeh dengan sikap lucu istrinya. "Udah nggak papa, nanti Mas bantuin masak deh."
Rara lalu bangkit dan berjalan menuju kamar mandi, lalu mencuci wajahnya sebentar, kemudian turun menuju dapur untuk membuat makanan untuk dibawa ke pantai nanti.
Alden tersenyum melihat istrinya. Alden akui istrinya sudah pandai memasak sekarang, bahkan rasa masakan Rara benar-benar enak. Menurut Alden, Rara adalah orang yang cukup cepat tanggap sehingga saat Alden pertama mengajar istrinya itu memasak, Rara dengan cepat mengingat bahan-bahan dan cara mengolah masakannya.
Rara segera turun ke dapur dan mulai berkutat dengan bumbu-bumbu yang ia sudah sangat familiar.
"Perlu bantuan, hmm ...?" Alden memeluk istrinya sambil mengelus perutnya.
"Nggak perlu Mas, ini udah mah jadi kok," jawab Rara lembut, ia sudah biasa di peluk oleh suaminya ketika ia sedang memasak.
Tiba-tiba tangan Alden merasa gerakan di dalam perut Rara. Alden tersenyum, anaknya ini memang suka menendang perut Rara.
"Aduh, anak-anak Daddy udah bangun? Udah nggak sabar ya ke pantai?" tanya Alden sambil berjongkok di depan perut Rara.
Melihat Rara yang sedang memasukkan bekal mereka ke dalam tempat makan, Alden lalu mengambil alih tugas istrinya.
"Udah, biar aku aja yang masukkinnya, kamu mending mandi gih." Alden mengambil alih pekerjaan istrinya.
Rara menurut saja, lalu masuk ke dalam kamar mandi karena jujur saja badannya terasa sangat lengket.
Alden yang sudah selesai menata makanan di dalam kotak makan, berinisiatif mencuci piring dulu sambil menunggu Rara yang sedang mandi.
Setelah selesai mencuci piring, Alden lalu santai memainkan handphonenya sambil menunggu istrinya selesai mandi.
*****
"Udah nggak ada yang ketinggalan, kan?" tanya Alden memastikan saat mereka sudah siap berangkat ke pantai.
Rara mengecek barang bawaannya. Kemudian mengangguk, merasa sudah tidak ada yang ketinggalan.
Mobil menuju sebuah pantai yang ada di Jakarta. Selama dalam perjalanan menuju pantai, Rara terus bersenandung. Ia sudah tidak sabar ingin melihat deburan ombak, hembusan angin yang akan menerbangkan rambut panjangnya, lalu melihat matahari tenggelam sambil bersandar di bahu suaminya, lalu mengambil gambar romantis bersama suaminya. Ah! Rara sudah tidak sabar! Jujur saja, ia tidak memiliki gambar bersama suaminya, hanya foto pernikahan mereka saja yang Rara miliki.
__ADS_1
Setelah hampir empat jam, akhirnya mobil sudah tiba di pantai. Dengan cepat Rara membuka pintu mobil, lalu sedikit berlari. Karena terlalu bersemangat, Rara hampir saja terjatuh. Untungnya dengan cepat Alden menahan tubuh istrinya.
"Hati-hati dong sayang! Kamu itu lagi hamil! Jalannya pelan-pelan aja, pantainya nggak akan lari kok." Tanpa sadar Alden sedikit membentak istrinya.
Sementara Rara hanya diam, ia hanya menunduk. Hampir saja ia bertemu malaikat pencabut nyawa, jika suaminya tidak sigap menahan tubuhnya.
"Maaf ...." Rara hanya menunduk mendengar bentakkan suaminya.
"Lain kali hati-hati dong sayang! Jangan diulangi lagi! Aku nggak suka!" Alden benar-benar kesal.
Rara meneteskan air matanya. Meski dirinya menunduk, tetapi Alden tau jika istrinya itu sedang menangis.
"Maaf, Mas nggak bermaksud ngebentak kamu sayang. Mas hanya takut sesuatu yang buruk terjadi sama kamu, dan anak kita." Alden membawa istrinya itu ke dalam pelukannya, mengusap lembut pucuk kepala Rara. Alden merasa sedikit bersalah karena sudah membentak istrinya.
Rara hanya terisak di dalam dekapan suaminya. Cukup lama dia menangis, hingga akhirnya Alden sedikit mendorong tubuh Rara.
"Udah, jangan nangis, ya?" Entar jelek lagi," ejek Alden agar istrinya berhenti menangis.
"Ishhh Rara tuh tetap cantik kok biar nangis." Rara tentu kesal dengan ejekan suaminya.
"Yaudah ayok!" Alden lalu mengandengan tangan istrinya.
Mereka berdua lalu berjalan-jalan di tepi pantai sambil bergandengan tangan. Mereka menikmati hembusan angin yang menerbangkan rambut mereka, merasakan dinginnya air yang membasahi kaki mereka.
Setelah puas bermain air, Rara dan Alden kembali ke tepi pantai untuk menikmati bekal yang sudah mereka bawa.
"Ishhh yaudah buruan sana!" Meski kesal, Rara tetap mengiyakan, kan barabe kalau suaminya kencing di celana.
"Jangan marah-marah, entar cantiknya ilang lho," goda Alden sambil terkekeh, lalu segera pergi mencari toilet.
Saat Alden sedang berjalan menuju toilet, tiba-tiba ponselnya berdering. Dilihatnya ternyata Bryan yang menghubungi dirinya.
"Halo? Ada apa, Yan?" jawan Alden ketus.
"......."
"Ckk ... kan sudah gue bilang. Jangan bahas pekerjaan kalau gue sedang libur, lo nggak kasian apa sama gue? Gue lagi liburan sama bini gue." Alden tentu kesal dengan Bryan yang memintanya untuk menghadiri meeting.
Saat dirinya sedang sibuk bertelponan, tiba-tiba sja ia menabrak seseorang karena tidak memperhatikan jalan.
"Kalo jalan liat-liat, dong!" teriak Alden kesal saat melihat handphonenya yang terjatuh sehingga panggilannya dengan Bryan terputus.
"Aduh, maaf pak, saya tidak sengaja," jawab wanita itu.
Alden terdiam sebentar, bukan karena permintaan maaf wanita itu. Tetapi dirinya merasa familiar dengan suara wanita itu.
Dengan cepat, Alden mengangkat kepalanya, penasaran siapa pemilik suara yang sangat ia kenali itu.
__ADS_1
Alden terkejut, tubuhnya membeku ketika melihat wajah seorang wanita yang sangat ia kenali. Ya, wanita yang hampir empat tahun ini selalu ia rindukan, wanita yang selalu ia cari, dan wanita yang selalu ia tunggu kedatangannya untuk menceritkan apa alasan sebenarnya wanita itu meninggalkan dirinya.
Tangan Alden terangkat menyentuh pipi wanita itu, bahkan hasratnya ingin buang air sudah hilang.
"E - Ella?" panggil Alden dengan hati-hati, takut salah orang.
Wanita itu mendongakkan kepalanya saat orang yang ia tabrak memanggil namanya yang hanya satu orang yang memanggilnya dengan nama itu.
"No - Nono?"
"Ini beneran kamu, El?" tanya Alden memastikan.
Ella mengangguk dan tersenyum. "Iya, ini aku No," jawab Ella sambil merentangkan tangannya.
Entah apa yang mendorong Alden, ia memeluk dengan sangat erat. Kini, wanita yang berada di dalam dekapannya itu nyata, tidak seperti dulu, dirinya hanya mampu memandang foto wanita itu saja.
Setelah puas berpelukan, mereka lalu santai di warung yang berada di sekitar. Bahkan hasrat ingin buang air kecil pun sudah hilang. Bahkan yang lebih parahnya, Alden lupa akan istrinya yang sedang menunggu ia di pinggir pantai.
"Oh iya, kamu ke sini sama siapa?" tanya Ella.
"Aku ke sini sama ...." Alden menggantung ucapannya. Ia benar-benar lupa pada istrinya yang sedang menunggunya.
"Siapa?"
"Istri aku," lirih Alden sambil menunduk.
"Gitu ya, aku tau kok! Kamu udah menikah, kan?"
Alden tentu terkejut, bagaimana bisa Ella tau jika dirinya sudah menikah? Padahal, dirinya belum cerita apa-apa.
"Waktu itu aku liat kamu di lampu merah. Kamu lagi nyium tangan istri kamu. Terlihat mesra banget," lirih Ella yang tau jika Alden sedang terkejut.
"Maaf." Hanya itu yang keluar dari mulut Alden. Ia bahkan tidak tahu untuk apa ia meminta maaf.
"Nggak. Kamu nggak salah kok No. Kamu nggak perlu minta maaf karena yang salah di sini aku. Aku yang sudah meninggalkan kamu dan menghilang, jadi wajar aja kalo kamu sekarang udah nikah." Ella berbicara sambil tersenyum lembut.
"Lalu ... apa yang sebenarnya membuat kamu pergi tanpa alasan yang jelas?" tanya Alden dengan suara pelan.
"S - sebenarnya aku pergi karena aku memiliki penyakit leukimia No."
.
.
.
.
__ADS_1