Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen

Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen
Ngidam Nabok Papah Mike


__ADS_3

Pagi harinya...


Rara terbangun saat jam menunjukkan pukul 6 lewat, ketika ia melihat kesamping, ternyata suaminya sudah tidak ada, tetapi terdengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi, jadi dapat dipastikan jika suaminya sedang mandi. Kemaren, setelah puas mengerjai abangnya, Rara langsung segera tidur karna sudah benar-benar mengantuk, dan mereka terpaksa menginap dirumah orang tuanya.


"Kamu udah bangun?" tanya Alden saat keluar dari kamar mandi.


"Enggak, ini Rara masih tidur kok Mas," jawab Rara sambil tersenyum manis.


"Tapi ko kamu bisa ngomong?" tanya Alden polos.


"Yaiyalah Rara udah bangun! Gak liat apa orang udah duduk gini," ketus Rara.


"Ya jangan galak-galak buk istri," kekeh Alden.


"Ckk... itukan panggilan Rara Mas, kok Mas ikut-ikutan sih."


"Yaudah kamu mandi sana! Habis itu kita segera berangkat ke kempus," ucap Alden yang memilih untuk tidak menanggapi ucapan istrinya.


Rara hanya mengangguk saja, kemudian segera beranjak dari tempat tidur, lalu segera masuk ke dalam kamar mandi setelah mengambil beberapa pakaian untuknya.


Selesai membersihkan dirinya, Rara segera turun kebawah bersama suaminya.


"Pagi Bun, Yah ... " sapa Rara dan Alden bersamaan.


"Pagi .... "


"Bang Sat mana Bun?" tanya Rara bingung karna tidak mendapati abangnya.


"Abang kamu udah pergi."


"Yaudah burun makan!" ucap Elmira.


Alden dan Rara lalu duduk. Rara lalu mengambilkan makanan untuk suaminya. Abimanyu dan Elmira yang melihatnya tersenyum tipis, sepertinya putri mereka sudah bisa menjadi istri sekaligus calon ibu yang baik.


"Semoga kalian selalu bahagia ya nak. Semoga ayah gak salah pilih. Ayah mungkin tidak akan sanggup hidup jika ternyata ayah salah pilih. Semoga apa yang selama ini kami takutkan tidak akan terjadi," batin Abimanyu sambil tersenyum, senyum yang sangat susah untuk diartikan.


Selesai sarapan, Rara dan Alden segera berangkat menuju kampus. Alden sebenarnya tidak ingin mengantar Rara hanya sampai persimpangan, tetapi Rara tetap kekeh ingin di turunin hanya sampai persimpangan saja.


"Tapi sayang .... " Alden hanya bisa memelas berharap istrinya mau menurutinya kali ini.


"Enggak Mas! Rara turun disini aja," ucap Rara.


Alden hanya bisa menghembuskan nafas kesal, lalu segera menjalankan mobilnya setelah mengucap salam pada istrinya.


Sedangkan Rara, ia berjalan santai menuju kampus sambil mendengar musik melalui earphone.


"RARA!" teriak seseorang saat Rara memasuki kelas, Rara sudah hafal sekali dengan suaranya, siapa lagi jika bukan sahabatnya, Rissa.


"Apaan?"


"Maksud lo apa-apaan ngerjain ayang beb gue?" ucap Rissa sambil ngegas.


"Cih... pakai ngadu segala bang Sat" batin Rara kesal.


"Ckk ... mau gimana lagi, orang anak gue yang pengen," balas Rara cuek.


"Dasar lo ya! Lo liat aja kalau lo udah lahiran, aunty nya ini bakal tendang dia," ucap Rissa kesal.


"Lo jangan ge'er, gue gak bakal biarin anak gue disentuh meskipun sedikit aja oleh lo."


"Emang gue menjijikkan banget apa sampai gue gak boleh megang ponakan gue sendiri."


"Tuh tau," kekeh Rara.


Rissa yang mendengar respon Rara hanya bisa berdecak kesal, sahabatnya ini benar-benar menjengkelkan.


FLASH BACK


Tringgggg


"Iya halo Yank," ucap Rissa lembut saat mengetahui yang menelpon adalah kekasihnya.


"Sayangg," rengek Satya.


"Kamu kenapa?"


"Hiks ... hiks ... masa semalam Rara datang kerumah terus dia ngerjain aku." Adu Satya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Astaga dia ngerjain kamu gimana?"


"D - dia hiks ... dia ngasih aku makanan yang gak enak sampai aku muntah hiks .... " Terdengar tangisan Satya yang Rissa sendiri tidak tahu apakah itu nyata atau tidak.


"Makanan apa?" tanya Rissa yang masih bingung.


"Masa dia bikin martabak yang gak enak, terus nyuruh aku yang makannya," rengek Satya sambil terus terdengar menangis, yang pastinya alur ceritanya sudah ia ubah.


"Jadi maksud Ayang, Rara bikin martabak yang gak enak, terus dia kasih ke kamu, gitu?" tanya Rissa yang mulai memahami.


"Iya, a - aku sampai mau mati karna rasanya gak enak hiks ... " ucap Satya yang masih terus menangis.


"Ututut jangan nangis ya Ayang, entar Rissa marahin deh Rara nya."


"Janji ya? Hiks .... "


"Iya, yaudah itu ada Raranya, Issa bakal marahin kok."


"Yaudah dadah Ayang Bebeb."


"Dadah Ayang Bebeb yang paling Rissa sayang banyak-banyak."


FLASH BACK OFF


Rara yang melihatnya hanya bodo amat, ia lebih memilih untuk memainkan handphone nya,dan berselancar di media sosil, melihat gambar-gambar sepatu anak bayi yang menggemaskan.

__ADS_1


"Cih ... baru juga 1 bulan lebih, udah sok-sok'an aja nyari sepatu," sinis Rissa.


"Iri bilang babu pal pale pal pale," ucap Rara sambil bernyanyi.


Rissa hanya mendengus kesal, setelah itu tidak ada obrolan lagi diantara meraka, masing-masing fokus dengan handphone mereka.


Tak berselang lama, dosen masuk kedalam ruangan, dan pembelajaran pun dimulai.


.


.


Selesai pembelajaran, Rara segera pergi ke ruangan suaminya karna kebetulan hari ini ia hanya memiliki 1 mata kuliah.


Mereka lalu segera pulang kerumah. Tetapi sebelum pulang kerumah, Alden berencana membawa istrinya ke rumah sakit terlebih dahulu untuk menanyakan perihal hubungan badan yang dilakukan selama istri sedang hamil.


"Lho? Kita mau kemana Mas? Inikan bukan jalan pulang ke rumah?" tanya Rara yang menyadari jika mobil mereka melaju bukan ke arah rumah.


"Kita hari ini ke rumah sakit sayang," ucap Alden lembut sambil terus menggenggam tangan istrinya.


"Ngapain?" tanya Rara heran.


"Eum ... kita mau check up," ucap Alden berbohong.


Rara yang mendengarnya hanya mengangguk paham, kemudian tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Tapi beberapa saat kemudian, Rara menginginkan sesuatu yang sangat aneh! Ia bahkan meragukan suaminya mau menurutinya, tetapi mau bagaimana lagi, ia tidak bisa menahannya.


"Mas," cicit Rara pelan.


"Hmm? Kenapa?" tanya Alden lembut sambil melihat sekilas istrinya kemudian kembali fokus ke depan.


"Kayaknya Rara ngidam lagi deh," cicit Rara lagi.


"Memangnya kamu pengen apa?" tanya Alden lembut. Alden sedikit bersyukur karna istrinya menginginkan sesuatu di siang hari, jadi ia berpikir bukanlah hal yang sulit untuk mendapatkan sesuatu disiang hari.


"Mas seriusan mau nurutin keinginan Rara?" tanya Rara ragu.


"Iya dong sayang, Mas gak mau anak Mas nanti ileran kalo gak diturutin," kekeh Alden.


"Ra - Rara .... "


"Iya, mau apa?"


"Rara tiba-tiba pengen nabok Papah Mike," cicit Rara dengan suara pelan.


Citttttttt


Mendengar permintaan istrinya, Alden tanpa sadar langsung menginjak pedal rem. Untungnya jalanan sedang sepi jadi tak terjadi kecelakan saat Alden dengan cerobohnya men-rem mobil dengan tiba-tiba.


"Mas kenapa ngerem mobil tiba-tiba sih, bahaya tahu gak? Mas mau anak kita kenapa-napa?" omel Rara yang merasakan nyut-nyutan dibagian kepalanya, lebih tepatnya jidatnya.


"Ah m - maafkan Mas, Mas gak sengaja, tadi kamu minta apa?" tanya Alden memastikan kalau pendengarannya tidak salah.


"Ishh Rara tiba-tiba pengen nabok Papah Mike," ucap Rara kesal.


"Astagfhirullah sebenarnya anak gue ini kenapa sih?" teriak Alden dalam hati.


"Ishh kok Mas malah bengong sih, Rara serius ini, Rara tiba-tiba pengen nabok Papah Mike," kesal Rara.


"Dasar menantu gak ada akhlak," batin Alden kesal.


Alden tidak bisa berbuat apa-apa, ia langsung menelpon Mike, papahnya. Untungnya ayahnya sedang berada di rumah bersama ibunya. Alden hanya mengatakan jika mereka ingin berkunjung, Alden tidak berani mengatakan ingin menabok ayahnya.


Akhirnya Alden membelokkan mobilnya, dan langsung tancap gas menuju rumah orang tuanya.


Tak terasa akhirnya mereka sampai di sebuah rumah bernuansa coklat yang tidak kalah besarnya dari rumah mereka. Alden dan Rara segera turun dari mobil, dan rupanya Mike dan Elena sudah menunggu mereka di depan pintu.


"Assalamualaikum," ucap Rara dan Alden bersamaan, lalu menyalami tangan kedua orang tuanya.


"Wa'alaikumsalam,"


"Tumben kalian kesini?" tanya Elena heran.


Baik Alden maupun Rara hanya bisa menggaruk tengkuk mereka yang tidak gatal, mereka bingung bagaimana memulai obrolannya.


"Eum ... kita cuman mau berkunjung aja Mah," ucap Rara berbohong.


Meskipun sedikit tidak percaya, tetapi Mike dan Elena mengangguk percaya saja.


"Yaudah ayok masuk," ucap Elena lembut.


Mereka lalu masuk dan duduk di sofa di ruang tamu. Elena sudah meminta bik Wati selaku asisten rumah tangga dirumah ini untuk membuatkan mereka minuman.


"Jadi kalian ada perlu apa kesini? Tumben sekali? Mamah rasa kalian gak mungkin hanya ingin berkunjung," ucap Elana yang sangat yakin jika ada maksud lain mereka berkunjung ke kediamannya.


Rara dan Alden hanya bisa saling pandang, bingung ingin memulai obrolan dari mana, mereka berdua sama-sama bingung bagaimana mengatakannya.


Melihat bik Wati yang meletakkan jus jeruk di atas meja, Rara dan Alden langsung menenggak habis minuman tersebut secara bersamaan. Elena yang melihatnya tentu semakin dibuat bingung, sedangkan Mike justru terkekeh melihat tingkah putra dan menantunya itu.


"Kalian kayak orang lagi takut aja," ucap Mike yang berniat hanya bercanda.


Rara dan Alden kompak menganggukkan kepala mereka, seolah mengiyakan ucapan Mike.


"Takut kenapa?" tanya Mike heran, padahal niatnya hanya bercanda saja.


Rara tidak menjawab, sedangkan Alden ia menarik nafas dalam, lalu mengeluarkannya secara perlahan, jujur saja, Alden sedikit merasa gugup untuk mengatakannya. Merasa cukup tenang, Alden lalu mengutarakan niat mereka datang ke sini.


"Jadi begini Pah, Mah ... Disini kita punya 2 berita buat kalian, satunya berita baik, dan satunya berita buruk," tutur Alden sambil memandang kedua orang tuanya.


"Berita buruk dan berita baik? Maksudnya?" tanya Elena bingung.


"Kalian mau dengar berita yang mana dulu?" tanya Alden tak memperdulikan ucapan ibunya.


"Berita bahagia aja dulu," ucap Mike.

__ADS_1


"Jadi berita bahagianya adalah Rara sedang hamil anak Alden," ucap Alden sambil tersenyum tipis.


"APA?" Baik Mike maupun Elena dibuat terkejut mendengar penuturan putranya.


"Kamu serisuan?" tanya Elena yang masih belum bisa mempercayainya.


"Iya Mah. Istri Al sekarang lagi hamil," ucap Alden mengembangkan senyumannya.


Mike dan Elena sedikit tertegun melihat senyum manis putra mereka, rasanya sudah lama mereka tidak melihat senyum manis itu sejak kejadian beberapa tahun yang lalu.


"Selamat ya sayang," ucap Elena tulus, lalu beranjak dan langsung memeluk Rara, lalu memeluk putranya, Alden.


"Mamah ngapain peluk-peluk suami Rara!" teriak Rara dengan wajah garang.


"Emang gak boleh?" tanya Elena heran.


"Ya gak boleh lah, orang ini suami Rara, emang Mamah mau kalau tiba-tiba Rara peluk Papah Mike," ucap Rara sambil menatap tajam mertuanya, lalu memeluk erat suaminya.


"Astagfhirullah, orang anak aku juga" batin Elena.


Mike yang melihat kekesalan diwajah menantunya tentu merasa terhibur, menantunya ini benar-benar lucu, bagaimana mungkin ia melarang seorang ibu untuk memeluk putranya sendiri.


"Terus berita buruknya apa?" tanya Mike penasaran.


"Berita buruknya adalah ... Rara sekarang lagi ngidam," ucap Alden pelan.


"Lho? Orang ngidamkan wajar, apanya yang berita buruk," kekeh Mike, lalu mengambil jus jeruk dari atas meja, berniat meminumnya.


"Sekarang Rara lagi ngidam pengen nabok Papah," cicit Alden dengan suara yang lebih pelan, tetapi masih terdengar jelas ditelingga mereka.


Uhuk uhuk


Seketika Mike menyemburkan minuman yang baru saja ia minum, lalu terbatuk-batuk saking terkejut mendengar penuturan putranya.


"Ta - ta - tadi kamu bilang apa?" tanya Mike memastikan apa yang ia dengar.


"Rara tiba-tiba ngidam pengen nabok Papah," ucap Alden lagi.


Mike seketika tercengang, ternyata berita buruk yang di ucapkan putranya jauh lebih buruk dari yang ia pikirkan. Sedangkan Rara, ia hanya menunduk sambil meremas bajunya karna takut mertuanya menolak.


"Gila! Jadi apa cucu aku kalo udah lahir nanti," batin Mike yang pikirannya sudah kemana-mana.


Sedangkan Elena justru menipiskan bibirnya menahan tawa mendengar penuturan putranya yang mengatakan jika istrinya ngidam nabok suaminya, sungguh ngidam menantunya benar-benar ekstrim, padahal selama ia mengandung Alden, ia tidak mengidam yang macem-macem.


"Kamu serius nak?" tanya Mike sambil menatap menantunya.


Rara lalu mengangkat kepalanya, lalu mengangguk dengan mata yang berbinar.


"Ckk... kenapa harus jauh-jauh nabok aku sih, kan ada lakinya," batin Mike kesal.


"Bolehkan Pah?" tanya Rara mengeluarkan puppy eyes.


"Udah Mas, turutin aja, Rara kan lagi ngidam," kekeh Elena.


"Dia pengen nabok aku Na," geram Mike dengan suara pelan sehingga Rara dan Alden tidak mendengar.


"Yakan sekali-kali Mas."


"Bolehkan Pah?" tanya Rara lagi.


Dengan penuh keterpaksaan Mike mengangguk, Rara tentu sontak mengembangkan senyumnya, ia langsung segera berdiri. Mike lalu ikut berdiri, sedangkan Alden dan Elena hanya bisa meringis melihat Rara yang sangat bersemangat.


"Papah Mike udah siap?" tanya Rara yang sudah siap dengan posisinya.


"Bel-"


Bugggh


Belum sempat Mike berbicara, satu pukulan sudah melayang tepat dikepalanya. Mike yang memang belum siap, tentu langsung terjatuh akibat pukulan yang diberikan oleh menantunya, apalagi pukulan Rara tidak main-main.


"Astagfhirullah Mas!" teriak Elena yang benar-benar terkejut melihat suaminya yang terjatuh, sedangkan Alden terbengong saja seperti orang bego.


"Aduh sayang, kayaknya Mas geger otak deh," ucap Mike pelan sambil memegang kepalanya yang terasa nyut-nyutan.


"Yeayy! Makasih Papah Mike, kayaknya anak Rara udah puas deh," teriak Rara dengan senyum yang benar-benar mengembang sambil mengelus perut ratanya, bahkan ia tidak merasa bersalah apalagi kasihan melihat mertuanya yang kepalanya sedikit berwarna biru di daerah jidatnya


"Yaudah yuk ke rumah sakit Mas, katanya mau check up," ucap Rara tersenyum manis pada suaminya.


"Tapi itu .... " Alden tidak mampu meneruskan ucapannya, ia hanya terbengong melihat ayahnya yang sedang kesakitan dilantai tersebut.


"Udah gak papa, Papah Mike kan kuat," ucap Rara bodo amat.


"Yaudah ayok! Atau Mas juga mau kena tabok?" ketus Rara yang kesal melihat suaminya hanya terbengong.


"I - iya-iya kita berangkat sekarang."


"Assalamualaikum," ucap Alden dan Raru bersamaan, lalu segera berlalu tanpa memperdulikan kondisi Mike.


"Wa - wa - wa'alaikumsalam," balas Elena dengan terbata-bata melihat menantunya yang sama sekali tidak merasa bersalah. Sedangkan Mike, ia hanya meringis sambil memegang benjolan yang mulai muncul.


"Astagfhirullah, benar-benar buruk."


.


.


.


.


Rara ....... aku tidak dapat kata yang cocok untuk mu hiks. Pokoknya cuman pengen sentil ginjalmu dehh..


Oh iya masih ada 1 lagi ngidamnya Rara, habis itu yang lainnya deh, moga kalian gak bosan baca ngidamnya Rara ini ya wkwk.

__ADS_1


__ADS_2