Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen

Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen
Keusilan Rara (Senjata Makan Tuan)


__ADS_3

Setelah kejadian beberapa hari yang lalu, di mana Satya dan Rissa sudah mendapat restu dari orang tua Satya, besoknya mereka langsung pergi ke rumah Rissa dengan maksud melamar anak gadis mereka, Rissa. Bahkan Alden dan Rara juga ikut pergi ke rumah Rissa. Setelah berunding bersama, akhirnya pernikahan mereka di sepakati akan di laksanakan minggu depan.


"Mas," panggil Rara sambil menatap suaminya.


"Hmm? Kenapa?" Alden terus mengelus lembut kepala istrinya yang sedang berbaring di atas pahanya. Mereka memang sedang santai sambil menonton TV karna hari ini akhir pekan.


"Kalo nanti Rara udah lahiran, kira-kira nama yang bagus buat anak kita apa ya?"


"Eum ... kalo anak yang sedang kamu kandung perempuan, Mas pengen ngasih nama Kanaya, tapi kalau laki-laki, Mas belum kepikiran. Kamu udah nyiapin nama buat anak kita nanti?" Alden bertanya sambil menatap mata istrinya, lalu mencium singkat bibirnya.


"Rara pengen ngasih nama Ucup aja Mas, gimana?" tanya Rara meminta pendapat.


"Ko Ucup sih Yank? Ngak ada nama lain apa?" Jujur Alden sedikit tidak suka dengan nama itu.


"Ya ngak papa, biar nanti dia jadi sholeh, kayak di film Sopo Jarwo, kata pak Haji, nyuri itu pahalanya gede," kata Rara sambil menirukan suara Ucup yang ada di film Sopo Jarwo.


Satu sentilan dilayangkan Alden ke kening istrinya. "Darimana sejarahnya pak Haji bilang kalau nyuri itu pahalanya gede," ketus Alden.


"Terus yang pahalanya gede apa?" tanya Rara polos.


"Kata pak Haji, kalo mau dapat pahala gede, istri harus melayani suaminya tiap malem," jelas Alden serius.


"Cih ... itumah kata pak suami mesum kayak Mas bukan kata pak Haji," ketus Rara.


"Lho? Itu benar lho Yank, kamunya aja yang ngak pernah dengar ceramahan pak Ustad. Apa kamu pernah dengar pak Haji ngomong kalo pengen dapat banyak pahala, kita harus ngasih jatah buat tetangga, gak pernahkan?" Alden memandang istrinya dengan tatapan serius.


"Lho? Bukannya semakin banyak kita nolongin orang, maka semakin banyak kita dapat pahala ya Mas?" tanya Rara polos.


"Itu beda konsepnya Maemunah," geram Alden dengan kopolosan dan kebegoan istri kecilnya itu.


"Dulu Rara pikir kalo Rara bantu para tetangga yang duda, Rara bakal dapat pahala yang gede banget," ujar Rara polos.


"Ckk ... emang kamu sanggup ngelayanin mereka," ketus Alden yang benar-benar kesal dengan pemikiran istrinya, bagaimana mungkin ia berpikir jika membantu memuaskan para tetangga, maka akan dapat pahala yang besar, sungguh Alden rasanya ingin melempar istrinya itu ke laut.


"Ya ngak sanggup lah! Nafsu Mas aja udah luar biasa, mana minta terus lagi."


"Nah itu kamu tau, makanya kamu cukup ngelayanin Mas aja, oke?"


"Hmm." Dengan malas Rara membalasnya, lalu memilih menonton TV kembali.


"Tolong jangan pergi."


"Dasar bre*gsek! Lo tuh punya otak ngak sih? Setelah lo pake gue dan berjanji untuk selalu bersama gue dan ngak akan menduakan gue. Tapi sekarang apa? Sekarang apa? Lo bahkan laki-laki yang paling bajingan yang pernah gue temui. Gue ngak nyangka dengan gampangnya lo selingkuh dan memilih kembali dengan mantan lo yang jelas-jelas udah nyakitin lo. Otak lo masih ada, kan?"


"Gu - gue minta maaf, tapi gue emang sayang banget sama dia, dan untuk perasaan gue ke lo, gue juga bingung, perasaan gue ke lo masih abu-abu."


Plakk


"Dasar br**gsek!"


Rara yang menontonnya ikut mengepalkan tangannya karena ikut kesal dengan sikap sang laki-laki yang sangat br**gsek.


"Mas?"


"Hmm ... kenapa sayang?" tanya Alden lembut.


"Mas punya mantan?" tanya Rara tiba-tiba.


Deg ...! Jantung Alden seolah berhenti berdetak, saat mendengar pertanyaan istrinya yang seketika langsung membuatnya terdiam membisu.


"Mas!" Rara menepuk pelan tangan istrinya.


"Ah iya, kenapa?"


"Ishh Rara tadi nanya, Mas punya mantan?" tanya Rara lagi.


"Ah i - itu ... Mas ngak punya kok," jawab Alden tersenyum paksa.


"Kok Mas kayak gugup gitu jawabnya." Rara memicingkan matanya menatap suaminya.


"Ngak ada kok sayang. Oh iya ... kamu ngidam atau pengen sesuatu lagi ngak?" tanya Alden mengubah topik pembicaraan.


'Maafin Mas ya Ra, Mas belum siap untuk cerita ke kamu'


"Eum ... sebenarnya Rara lagi pengen kumpul-kumpul sama bunda, ayah, papah, sama mamah aja sih Mas."


"Yaudah, kamu siap-siap gih, hari ini kita bakal pergi ke rumah Ayah, nanti Mas yang hubungi Papah sama Mamah supaya datang," ujar Alden sambil mengelus rambut hitam Rara.


"Seriusan?" Mata Rara langsung berbinar mendengar ucapan suaminya.


"Apa sih yang ngak buat istri tersayang Mas ini," kekeh Alden.


Rara lalu mengembangkan senyumnya mendengar perkataan suaminya, tanpa basa-basi ia langsung bangun dan berjalan menuju kamar untuk bersiap-siap pergi ke rumah bundanya.


Sementara Alden, melihat Rara yang sangat bersemangat, senyumnya ikut mengembang, ia lalu mengambil handphonenya dan mengatakan permintaan istrinya kepada orang tuanya.


Mike dan Elena tentu dengan senang hati menuruti permintaan menantu mereka, lagian mereka juga merasa rindu dengan mereka berdua.


"Entah kenapa Mas belum berani cerita ke kamu tentang masa lalu Mas Ra, Mas benar-benar belum siap," lirih Alden.


Tak berselang lama Rara keluar dari kamar dengan menggunakan pakaian santainya. "Yaudah yuk Mas, Rara ngak sabar ketemu Papah Mike." Dengan penuh semangat Rara mengatakannya.


"Lho? Kok Papah Mike? Kamu cuman kangen sama Papah doang," kesal Alden.

__ADS_1


"Eum ... hehe Rara kangen sama mertua kesayangan Rara," ujar Rara sambil cengengesan.


"Ckk ... yaudah buruan!"


Mereka lalu segera berangkat menuju rumah Abimanyu. Perjalanan mereka ditemani oleh lagu 'Goyang Nasi Padang', Rara terus melenggok-lenggokkan tubuhnya mengikuti irama lagu. Semenjak hamil, Rara lebih suka mendengar lagu-lagu dangdut, bahkan setiap mereka bepergian, lagu yang diputar selalu saja lagu dangdut.


Alden yang melihat kelakuan istrinya hanya terkekeh, semenjak istrinya menyukai lagu dangdut, Alden juga ikut-ikutan menyukai lagu dangdut, bahkan ia sering ikut menggerakkan kaki, tangan, bahkan badannya mengikuti istrinya.


Rara terus melenggok-lenggokkan tubuhnya. Tiba-tiba mata Rara tidak sengaja melihat gerobak bakso di pinggir jalan, melihat para pelanggan yang sepertinya sangat menikmati bakso itu, tanpa sadar air liur Rara menetes.


"Stop Mas!" teriak Rara secara tiba-tiba.


Cittttt


Mendengar teriakkan istrinya, Alden sontak men-rem mobilnya, untungnya jalanan cukup sepi sehingga tidak terjadi kecelakaan.


"Kenapa?" tanya Alden sambil menatap istrinya dengan khawatir.


"Pengen bakso," rengek Rara sambil menunjuk gerobak bakso yang sedang banyak pembelinya.


Alden hanya melongo mendengarnya, hanya karna bakso istrinya sampai berteriak, apakah Rara tidak berpikir apa yang baru saja ia lakukan bisa membahayakan keselamatan mereka?


"Astaga sayang, kalo kamu pengen sesuatu, ya ngak perlu pakai teriak segala, kamu tau ngak sih kalau itu bahaya, gimana kalo jalan raya lagi rame? Yang ada nyawa kita bisa melayang," omel Alden.


"Maaf." Rara hanya menunduk tidak berani menatap suaminya.


"Mas ngak bermaksud apa-apa kok sayang, tapi lain kali kalo pengen sesuatu, bilangnya pelan-pelan ya." Melihat istrinya yang seperti itu, Alden tentu tidak tega, ia merasa bersalah karena sudah tanpa sadar membentak istrinya.


Rara hanya mengangguk pelan, lalu memberanikan diri mengangkat kepalanya, menatap suaminya.


"Mas udah maafin Rara, kan?" tanya Rara pelan.


"Iya Mas maafin kok. Yaudah ayok, kita beli baksonya sekalian beli buat mereka," ucap Alden lembut.


Alden dan Rara lalu turun dan menghampiri penjual bakso tersebut.


"Abang tukang bakso mari-mari sini, Rara mau beli. Tidak pakai saos, tidak pakai sambel, tidak pakai kuah, dan tidak pakai mangkok. Bakso bulat seperti bola pingpong, kalo lewat membikin perut koncong. Jadi anak haruslah suka bohong, kalo ngak bohong digigit Mas Alden ompong," nyanyi Rara dengan riang, mereka langsung menjadi pusat perhatian.


"Maksud kamu apa bilang Mas ompong sayang, orang gigi Mas masih lengkap juga," kesal Alden.


"Lho? Rara kan cuman nyanyi Mas," balas Rara polos.


"Ckk ... tapi lagunya bukan kayak gitu sayang," ketus Alden.


Rara hanya cengengesan mendengar ucapan suaminya yang sangat ketus, lalu memesan delapan porsi bakso tetapi minta dibungkus.


"Kok delapan sih Yank? Kan kita cuman bertujuh orang?" Alden sedikit heran.


"Kan satunya untuk dedek bayi," jawab Rara tersenyum manis sambil mengelus perutnya yang sedikit membesar.


Tiba-tiba handphone Alden berbunyi, ia lalu pamit sebentar pada istrinya untuk mengangkat panggilan tersebut.


"Akang bakso," panggil Rara dengan suara pelan.


'Buset, baru kali ini ada yang manggil akang bakso, dikira akang gendang apa'


"Iya neng?"


"Rara pesan baksonya kan delapan, nah yang duanya kasih lombok dua puluh sendok nyak,"


"Buset neng, emang sanggup? Lagian entar akang rugi, cabe lagi mahal neng."


"Ckk ... ingat kang! Di atas langit masih ada langit, meskipun cabe lagi mahal, tetap mahal minyak goreng juga. Kalo mau yang murah itu cabe-cabean," ketus Rara.


"Udah buruan masukin dua puluh sendok, entar saya bayar lebih kok."


Penjual bakso itu yang mendengar jika Rara akan membayar lebih langsung mengacungkan jari jempolnya. Rara yang melihatnya hanya berdecih kesal.


Selesai membeli delapan bungkus bakso, Rara dan Alden lalu kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah ayah Abimanyu.


.


.


"Assalamualaikum!" teriak Rara menggelegar.


"Wa'alaikumsalam, ngak usah teriak Ra!" tegur mereka semua bersamaan.


Rara hanya cengengesan karena di tegur, ia lalu mengatakan jika ia membawa bakso. Elmira berniat membantu, tetapi Rara justru mengatakan jika ia ingin menyiapkannya sendiri, lagi ngidam, begitulah katanya.


Rara mulai menuangkan satu persatu bakso ke dalam mangkok, tetapi ia sedikit bingung yang mana bakso yang sudah dibuat dua puluh sendok sambal oleh penjual tadi, tidak ada yang beda, semuanya sama berwarna merah akibat saos.


'Ini yang mana yang udah dikasih sambal?'


'Kayaknya dua ini deh'


Rara lalu membawa bakso-bakso yang sudah ia siapkan, lalu meletakkannya di depan orang tua, mertua, abang dan suaminya, lalu meletakkan dua mangkok bakso miliknya.


'Hehe selamat menikmati bakso nuklir abang sama suami Rara yang tercinta' batin Rara sambil tersenyum miring tanpa sepengetahuan mereka.


Mereka lalu memakan bakso yang sudah disiapkan oleh Rara tanpa curiga sedikit pun.


"Kamu ngak makan Ra?" tanya Mike yang heran karna menantunya tak kunjung memakan bakso miliknya.

__ADS_1


"Hehe nanti aja Pah, kalian makan aja dulu, Rara pengen ngeliat kalian makan duluan, siapa tau akang baksonya masukin racun tikus ke dalam baksonya, jadi kalo kalian yang makan duluan, Rara ngak ikutan mati," jawab Rara asal.


"Kalo Mas meninggal, emang kamu mau jadi janda?" ketus Alden.


"Wah Mas ngak tau aja, duda sekarang berhamburan, Mas sendiri taukan kalau duda lebih menggoda." Rara berbicara sambil mengedipkan matanya.


Alden yang mendengarnya hanya berdecak kesal, lalu memakan bakso miliknya.


Rara merasa heran melihat reaksi abang dan suaminya yang biasa saja, ia bertanya-tanya di dalam hati, apakah sambalnya tidak pedas? Atau memang akang bakso tadi tidak memasukan sambal sesuai permintaan Rara.


'Sial! Udah capek-capek bayar lebih, tapi ternyata sambalnya ngak dimasukkan'


Karna merasa sangat kesal, Rara langsung memakan baksonya satu sendok penuh tanpa mencicipinya terlebih dahulu, tapi baru saja bakso beserta kuah itu masuk ke mulutnya, Rara langsung melotot dan segera memuntahkannya.


"HUA ... INI BAKSO ATAU NERAKA SIH!" teriak Rara mengelegar, lalu mengambil minuman siapa saja yang ia lihat.


"Kamu kenapa Yank?" tanya Alden khawatir.


"Baksonya pedes banget hiks .... " Rara bahkan mengeluarkan air mata karena merasa pedas yang luar biasa.


"Lho? Kamu kenapa pesan yang pedas kalo kamu sendiri ngak kuat?" celetuk Elmira heran, ia tau betul jika putrinya tidak terlalu suka dengan makanan yang terlalu pedas.


"Hiks ... tadi Rara pengen ngasihnya ke Bang Sat sama Mas Alden, tapi Rara ngak tau yang mana yang udah dikasih sambal hiks ... " jawab Rara polos sambil menangis karena rasa pedas yang teramat luarbiasa.


Semua orang terdiam mendengar jawaban Rara, tiba-tiba ... "Hahaha." Satya tertawa dengan sangat kencang saat mengetahui jika adiknya ternyata ingin mengerjainya.


"Senjata Makan Tuan!" teriak mereka semua secara bersama, lalu kembali memakan bakso milik mereka tanpa perduli dengan Rara.


***********


"Dia," gumam seorang perempuan saat melihat gambar seseorang perempuan di layar handphone adiknya.


"Lo liat aja, gue bakal hancurin hubungan lo dengan suami ba**sat lo itu," gerutu seorang laki-laki dengan menggebu-gebu.


"Cewek itu siapa kamu?" tanya perempuan itu sambil duduk di sebelah adiknya.


"Eh kak, lo ngagetin aja."


"Hehe ya maaf deh, by the way cewek yang tadi kamu liat itu siapa kamu?" tanyanya penasaran.


"Dia cewek yang gue maksud." Laki-laki itu hanya menjawab singkat saja.


"Ja - jadi cewek yang kamu maksud itu dia." Sang kakak tentu tidak bisa menutupi keterkejutannya.


"Iya."


"Terus rencana kamu selanjutnya apa?"


"Kayaknya gue bakal nyulik nih cewek, lalu gue bawa ke hutan, dan kalo perlu gue perkosa," jawabnya mengebu-gebu.


"Sadis banget kamu." Sang kakak justru terkekeh mendengarnya.


"Tapi kamu tau ngak kalau ada cara yang lebih sadis daripada pemerkosaan?" Rupanya kakaknya juga mendukung sang adik.


"Apa?" tanya laki-laki itu penasaran.


"Ki-"


"La." Tiba-tiba seseorang memanggil sebelum perempuan itu menyelesaikan perkataannya. Perempuan itu sontak menoleh dari asal suara.


"Eh Papi, kok cepat banget pulangnya?" tanya perempuan itu sambil mengerutkan alisnya.


"Ya mau bagaimana lagi, soalnya Papi kangen sama kamu," jawab laki-laki paruh baya itu sambil menggerlingkan matanya.


"Ckk ... kangen sama aku atau kangen main sama aku?"


"Dua-duanya dong sayang," kekeh laki-laki paruh baya itu.


"Kamu mau bermain bersama?" tanya perempuan itu sambil menatap sang adik.


"Tidak! Papi ingin hanya kita berdua!" Laki-laki paruh baya itu sontak menolak tawaran putrinya.


"Kalian saja, aku sedang malas," jawab sang adik.


"Baiklah, Papi tunggu kamu di kamar." Laki-laki paruh baya itu langsung segera beranjak setelah mengatakan itu.


"Kakak tau perempuan yang ada di foto itu, kamu tenang aja, kakak akan membantu kamu," ucap perempuan itu setelah melihat ayahnya pergi.


"Lo tau gadis ini?"


"Tentu ... tunggu kakak! Kakak akan membantu kamu, sekarang kakak harus melayani Papi dulu, babay." Perempuan itu segera pergi setelah mendaratkan satu kecupan di bibir sang adik.


'Jadi dia kenal dengan Diandra'


.


.


.


.


Author

__ADS_1


Aku ngak tau nih alur nyambung apa kagak, tapi kayaknya nyambung-nyambung aja deh wkwk ><


Aduhh tuh pak Alden kenapa masih kagak mau cerita juga sih sama bini sendiri, jadi pingin sentil ginjalnya deh :(


__ADS_2