Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen

Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen
Sakit Yang Tak Terlihat


__ADS_3

Setelah menginap semalam di rumah Mike dan Elena, Rara dan Alden berniat untuk pulang.


"Yaudah, Rara sama Mas Alden pulang dulu, ya." Rara lalu mendekati mertuanya dan menyalimi mereka.


"Papah tau kalau kamu bisa mengatasinya," bisik Mike pada menantunya.


Rara tersenyum mendengar bisikkan papah mertuanya. Mike memang mertua yang paling the best menurut Rara, pria paruh baya itu sangat peka dengan perasaan menantunya.


"Rara akan bertahan sampai kesabaran itu habis," ucap Rara yang justru membuat Alden bingung, kenapa istrinya tiba-tiba berbicara? Padahal tidak ada yang mengajaknya berbicara, karena Alden tidak menyadari jika ayahnya baru saja membisikkan sesuatu pada istrinya.


Elena yang mendengarnya tersenyum, ia sangat tau sekali maksud kata-kata Rara. Elena hanya bisa berdoa dan memohon pada Allah agar hubungan anaknya akan terus langgeng.


'Mamah berharap kamu tidak akan menjadi laki-laki br***sek Al'


"Assalamualaikum," ucap Rara dan Alden bersamaan.


"Wa'alaikumsalam."


Alden dan Rara lalu segera masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobil tersebut menuju rumah mereka.


Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan apa pun, Rara yang hanya menatap ke luar jendela, menguatkan dirinya untuk mendengar cerita yang akan disampaikan suaminya nanti. Semetara Alden, larut dengan pikirannya, memikirkan apa saja yang akan ia ceritakan pada istrinya, apakah ia harus cerita perihal dirinya berciuman dengan Ella? Sepertinya tidak mungkin! Alden takutnya istrinya pergi setelah mendengarnya.


Hingga akhirnya mobil tiba di pekarangan rumah mereka. Rara dan Alden lalu keluar dan berjalan menuju ruang tamu, lalu duduk di sana.


Tidak ada yang memulai pembicaraan, mereka berdua kompak terdiam, bingung ingin mengatakan apa.


"Yaudah, ada yang mau Mas sampaikan pada Rara?" tanya Rara pada akhirnya memecah keheningan.


"Eum ... baiklah Mas akan menceritakannya, tapi sebelumnya Mas minta maaf karena sudah meninggalkan kamu sendirian di pantai sayang." Alden menatap istrinya dengan penuh rasa sesal.


"Mas benar-benar nggak bermaksud meninggalkan kamu," lanjut Alden.


"He'em, Rara maafin Mas kok," balas Rara sedikit menyunggingkan senyumnya. "Terus Mas di mana tidurnya waktu itu sampai nggak pulang?" tanya Rara pura-pura tidak tahu, padahal ia sudah tau semuanya secara detail.


"Se-sebanarnya Mas ketemu sama Ella, mantan Mas. Mas menemani dia karena dia takut sendirian di rumah. Mas melakukannya karena kasihan sama dia," jelas Alden.


"Dan Mas nggak kasihan sama Rara yang nungguin Mas di pinggir pantai, gitu?" kekeh Rara.


"Nggak gitu Yank, Mas benar-benar lupa dengan kamu." Alden keceplosan mengatakannya.


"Lupa?" kekeh Rara. "Dengan semudah itu Mas mengatakan lupa?" Rara memandang sendu suaminya.


"Nggak gitu Ra, Mas nggak bermaksud ngomong gitu. Mas minta maaf sama kamu. Percaya sama Mas, kalau cinta Mas cuman untuk kamu." Alden benar-benar kehabisan kata-kata bagaimana menjelaskan kepada istrinya.


Bagaimana Rara bisa percaya, sedangkan mata Mas berkata lain


"Apa aja yang udah kalian lakukin malam itu?" tanya Rara santai. Tetapi dalam hati, Rara terus merapalkan doa, ia benar-benar takut mendengarnya.


"Ng-nggak ada kok Yank. Kita cuman tidur doang," jawab Alden berbohong. Ia benar-benar belum siap menceritakan apa saja yang sudah dilakukannya dengan Ella.


Apakah tidur bersama hanya cuman? Bagaimana mungkin kamu dengan mudah mengatakan cuman?


"Jujurlah Mas! Jika Rara sampai mencari tau sendiri, maka Rara akan pergi jauh dari kehidupan Mas setelah mendapat informasi," ucap Rara datar.


"Kamu apa-apaan sih Yank! Kok dengan mudahnya bilang pergi gitu aja!" Alden tentu kesal dengan istrinya yang dengan mudah mengatakan akan pergi.


"Ya nggak apa-apa, Rara kan cuman pergi doang," balas Rara dengan menekankan kata cuman dan doang.


"Sayang, tolong jangan ngomong gitu." Alden memelas. Tidak bisa dibayangkan jika Rara pergi dari hidupnya, ia lebih memilih untuk mati saja!

__ADS_1


"Yaudah, jujur!" perintah Rara dengan tegas.


"M-Mas sempat nyium dia," lirih Alden dengan suara yang sangat pelan, tatapi masih terdengar cukup jelas di telingga Rara.


Sakit? Sesak? Tentu! Meskipun Rara sudah mengetahuinya, tapi tetap saja itu terasa sakit. Apakah dirinya terlalu bodoh untuk masih bertahan dengan suaminya? Sementara suaminya sudah mengotori pernikahan ini dengan melakukan hal menjijikkan!


"Nyium? Nyium apa? Apa hanya berciuman?" tanya Rara sambil terkekeh. Ia masih mampu untuk menahan air mata yang siap untuk mengalir.


"Sayang ...." Alden merasa tidak sanggup untuk menceritakannya, bibirnya terasa sangat kelu.


"Lanjutkan!" perintah Rara tegas.


Alden tak bisa berbuat apa-apa ketika istrinya sudah mengatakan lanjutkan. "Mas sempat mencium bi-bi-bibirnya," lirih Alden dengan suara yang semakin pelan.


"Apa? Bibir? Terus gimana rasanya? Enak, kah? Bikin candu, kah?" tanya Rara yang terus terkekeh, tapi kali ini bersama dengan air mata yang tidak bisa ia bendung lagi. Wanita itu menangis tanpa suara, hanya air mata sialan yang terus mengalir tanpa seijinnya.


"Sayang ...." Alden berniat mendekati istrinya, berniat menyaka air matanya.


"Tidak perlu! Rara tidak butuh tangan Mas untuk membantu Rara menghapus air mata ini, karena tubuh Mas yang justru sudah membuat Rara menangis," ucap Rara datar, lalu menyeka air matanya dengan kasar.


"Lanjutkan!" Rara tetap memaksa suaminya untuk melanjutkan, meskipun rasanya sangat sesak, bahkan ini jauh lebih sesak dari pada saat ia pertama kali mengetahuinya.


"Tapi Mas nggak sanggup." Alden benar-benar tidak sanggup meneruskan saat melihat air mata istrinya yang terus mengalir.


"Lanjutkan!" bentak Rara akhirnya. Habis sudah kesabaran wanita itu.


"Cuman itu doang kok," ucap Alden, tidak mungkin ia mengatakan jika ia hampir saja kebablasan menye**buhi Ella, jika saja wanita itu tidak menyadarkan dirinya.


"Seriusan? Apa Mas berani bersumpah atas bayi-bayi yang ada di kandungan Rara?" tanya Rara sambil menatap tajam suaminya.


"Sayang ... Mas benar-benar tidak melakukan lebih dari itu. Mas hanya mencium dia, itu pun karena Mas khilaf," jawab Alden berdalih.


"Lalu, apa yang akan Mas lakukan selanjutnya?" Rara memilih untuk tidak gegabah, padahal tangannya sudah sangat gatal ingin memberikan bogeman pada wajah tampan suaminya.


"Mas minta maaf, tapi Mas sudah janji akan membantu dia," jawab Alden pelan.


"Membantu?" beo Rara dengan kerutan di keningnya.


"Sebenarnya Ella memiliki penyakit mematikan, dia harus segara diobati, tetapi dia nggak punya biaya untuk melakukan pengobatan. Dia meninggalkan Mas karena dia nggak mau bikin Mas sedih dan kecewa," jelas Alden.


"Jadi ... dia pergi bukan karena selingkuh?" tanya Rara asal, karena ia sering membaca di novel-novel jika biasanya wanita meninggalkan kekasihnya karena memiliki gandengan baru.


"Sayang!" Tanpa sadar Alden justru membentak istrinya. "Ma-maaf, Mas nggak sengaja," ucap Alden saat melihat istrinya yang sedikit terkejut.


"Ella adalah gadis yang baik, dia nggak mungkin selingkuh! Bahkan dia meninggalkan Mas karena dia sakit. Tapi dengan bodohnya Mas malah menikah dengan wanita lain dan meninggalkan dia yang sebenarnya sedang berjuang di tengah penyakit mematikan. Di sini justru Mas yang merasa bersalah." Tanpa sadar Alden justru mengucapkan kalimat yang seharusnya tidak ia ucapkan di depan istrinya.


'Tuhan ... sangat sa-sakit!' batin Rara yang mendengar suaminya mengatakan bodoh.


"Dan Mas menyesal karena sudah menikah dengan Rara?" sinis Rara.


"Enggak sayang, Mas nggak menyesal! Sekarang Mas sudah sangat jatuh cinta dengan kamu. Tapi Mas nggak mungkin ngebiarin Ella begitu saja, Mas kasihan dengan dia." Alden memperjelas ucapannya, sepertinya memang salah mengucapkan tadi.


"Jadi?" Rara masih sedikit bingung dengan maksud suaminya.


"Mas minta ijin sama kamu untuk membiarkan Mas membantu dia ke rumah sakit, Mas minta ijin buat membantu biaya pengobatannya," ucap Alden memohon.


"Kalo Rara bilang nggak mau, gimana?" tanya Rara tersenyum sinis.


"Sayang, kamu nggak boleh egois, Ella sekarang lagi memerlukan Mas. Kamu nggak kasihan sama dia yang sedang berjuang dengan penyakit dia?" Alden memelas menatap istrinya.

__ADS_1


"Egois, ya?" kekeh Rara.


'Bunda, Ayah ... Rara pengen nyerah' batin Rara berteriak.


"Rara bisa apa kalau Mas sudah mengatakan seperti itu. Rara nggak punya hak untuk melarang Mas, lagian itukan uang milik Mas," lirih Rara dengan air mata yang justru semakin mengalir deras.


Bahkan hak Rara sebagai istri pun nggak ada gunanya


Rara akan bertahan sampai kesabaran itu habis. Tapi, Rara pastikan hukuman itu akan sangat mengerikan


"Lakukanlah!" ucap Rara, lalu segera bangkit dan berjalan menuju kamar mandi, memilih untuk menenangkan pikirannya.


Hingga akhirnya, sakit yang tak terlihat itu aku rasakan


********


Rumah Sakit'


Seorang wanita sedang menggenggam lembut tangan putri kecilnya, terlihat raut bahagia di wajahnya saat melihat sang putri yang semakin hari semakin membaik, untungnya operasi segera dilakukan, jika tidak ia tidak tau apa yang akan terjadi dengan putrinya. Tapi satu yang pasti, ia tidak akan rela kehilangan satu-satunya harta yang paling berharga yang ia miliki.


Mata indah gadis kecil itu perlahan terbuka, menatap ibunya yang terus menghujani tanggannya banyak kecupan.


"Bunda," lirihnya dengan suara lemah.


"Iya sayang, kenapa he'em?" tanya wanita itu sambil menatap mata indah putrinya.


"Ina pengen ketemu saya ayah," lirihnya sambil menatap mata teduh milik ibunya.


"Sayang ...." Wanita itu bingung bagaimana menjelaskan pada putri kecilnya, putrinya masih terlalu kecil untuk memahami semuanya.


"Kenapa? Hiks ...." Rina menangis melihat penolakkan ibunya.


"Sayang jangan nangis, ya? Oke, kita akan ketemu sama ayah nanti." Akhirnya wanita itu mengalah, memilih untuk menuruti keinginan putrinya.


"Seliusan?" tanyanya dengan mata berbinar.


"Iya, bunda janji. Tapi kamu harus sembuh dulu, oke?" Wanita itu lalu mengangkat jari kelingkingnya ke arah putrinya.


"Ina janji! Tapi habis itu kita ketemu sama ayah, kan?" tanyanya lagi untuk mematikan.


"Iya, bunda janji! Yaudah kamu tidur gih, bunda harus pergi dulu." Wanita itu lalu memeluk erat putrinya.


Bagaimana mungkin bunda mengatakan tidak saat melihat tatapan kamu Nak?


.


.


.


.


Author


Sebenarnya part ini udah aku bikin dari kemaren, tapi aku nggak srek, jadi aku bikin ulang wkwk


Aku udah nggak pernah double up, ya? ><


Sebenarnya alasan aku nggak pengen double up itu karena biasanya bab pertama yang aku kirim itu bakal dapat dikit banget like nya dibandingkan bab ke dua wkwk >< (Tapi karena nggak ada bahan yang di up juga sih, soalnya lagi mager hihi >< )

__ADS_1


__ADS_2