Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen

Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen
Marah


__ADS_3

..."Saya bukan pencemburu, tapi milik saya yaa milik saya, saya tidak mau berbagi apalagi terbagi"...


...Alden Reynoard Schiaparelli...


...---------------------...


Setelah pembelajaran selesai, Rara dan Rissa berencana untuk pergi kekantin untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan tadi.


"Hai... gue boleh gabung sama kalian, gue kurang tau sama nih kampus," ucap Kenzo saat mereka hendak keluar ruangan.


"Boleh kok, jalan aja," ucap Rissa cuek, sedangkan Rara hanya diam saja, ia terlalu malas meladeni orang didepannya ini, entahlah mood-nya seketika rusak tanpa alasan yang jelas.


Kenzo yang melihat sikap Rara seperti itu justru semakin bersemangat untuk mendapatkan gadis itu, pasalnya selama Kenzo hidup, tak pernah ada satupun wanita yang besikap cuek terhadapnya, semuanya selalu mengaguminya, bahkan untuk mendapatkan wanita, Kenzo hanya perlu menjentikkan jari.


"Makasih ya," ucap Kenzo sambil tersenyum manis.


Baik Rissa dan Rara hanya berdehem saja tanpa membalas ucapan Kenzo. Setelah itu mereka berjalan ke kantin bersama dengan Kenzo yang mengikuti dan berjalan disamping Rara, sedangkan Rara, ia hanya bersikap bodo amat.


Saat pertama kali memasuki kantin, semua mahasiswa maupun mahasiswi bersorak, pasalnya Kenzo sudah menjadi sangat populer di kampus hanya dalam beberap jam, semua siswa selalu menongok kearah pintu kantin untuk melihat jikalau ada Kenzo yang datang, dan akhirnya keinginan mereka terkabul.


"Gila... tuh mahasiswa ganteng banget," pekik salah satu mereka tertahan.


"Iya sumpah, gantengnya bikin hati gue dag dig dug tau gak."


"Tapi dia kok jalan sama Diandra?"


"Ya wajar aja sih, orang Diandra kan yang paling cantik di kampus ini," ucap salah dari mereka lagi.


"Iya sih, mereka cocok banget sumpah, mereka bagaikan Ratu dan Raja," celetuk yang lain.


"Potek hati dedek bang," ucap yang lain dengan gaya lebay.


"Cih... sadar diri."


Bisikan-bisikan itu tentu sampai ditelinga seorang pria yang sedang duduk makan dikantin itu juga, ia tentu sangat panas dan sangat marah saat melihat gadis lebih tepatnya perempuan yang ia cintai berjalan beriringan dengan laki-laki lain, dan ia semakin panas saat mendengar bisikkan-bisikkan para mahasiswa yang mengatakan jika mereka sangat cocok, ia rasanya ingin sekali merobek mulut mereka menggunakan tangannya sendiri.


"Sial! Beraninya dia bejalan beriringan dengan laki-laki lain," batin laki-laki itu yang ternyata Alden.


Alden terus menatap tajam istrinya.


Buk Rosalina dan pak Bimo hanya bisa diam saja melihat rekan dosen mereka yang nafasnya memburu, mereka tau jika Alden sedang sangat marah, tapi mereka tidak bisa membantu apa-apa karna Alden sudah menjelaskan pada mereka jika pernikahannya dengan Rara tidak diumumkan terlebih dahulu.


Tanpa basa basi, Alden segera pergi dari kantin tersebut, ia bahkan belum makan apa-apa.

__ADS_1


Rara yang tak sengaja melihat suaminya berjalan keluar dari kantin seketika terkejut, ia bahkan tanpa sadar melotot, apalagi melihat suaminya yang terlihat sangat marah, sepertinya ia salah paham dengannya.


"Aduh mati gue, kayaknya Mas Alden salah paham deh," batin Rara gelisah.


Tidak lama kemudian pesanan mereka datang, ketika Rara hendak memasukkan bakso kedalam mulutnya, tiba-tiba....


"Dindra, lo di panggil ke ruangan pak Alden sekarang," ucap seorang gadis yang tiba-tiba datang, ia bahkan menekankan kata 'sekarang' sesuai perintah sang dosen.


Rara yang mendengarnya hanya meneguk salivanya kasar.


"Aduh kayaknya Mas Al bakal marah banget sama gue," batin Rara.


"Makasih ya infonya, ini gue mau kesana kok," ucap Rara tersenyum paksa.


"Sorry ya Sa, Ken, gue harus pergi, kayaknya gue gak ikut kalian makan," ucap Rara.


"Gak papa kok Di, santai aja," kekeh Kenzo, sedangkan Rissa hanya menatap kesal sahabatnya itu, bisa-bisanya dia meninggalkan sahabatnya bersama Kenzo, jujur Rissa sedikit merasa tidak nyaman bersama Kenzo.


Rara yang melihatnya hanya terkekeh kecil, lalu ia mendekatkan dirinya ketelingga Rissa.


"Baek-baek lo sama nih curut," kekeh Rara dengan suara pelan sehingga Kenzo tidak tau apa yang mereka bisik.


"Bang*at lo Ra," umpat Rissa kesal.


Rissa yang mendengarnya tentu semakin kesal, bisa-bisanya calon adik iparnya itu memanggil ayang bebnya dengan sebutan sialan itu.


Rara lalu berjalan menuju ruangan suaminya, sesampainya ia didepan ruangannya, Rara lalu masuk tanpa mengetuk pintu.


Saat Rara masuk kedalam, hal pertama yang ia lihat adalah wajah garang suaminya. Alden terus menatap tajam Rara, tatapan seperti ingin menghabisi Rara.


"Duduk!" perintah Alden.


"Kenapa sayang?" cicit Rara dengan menyebut Alden dengan sebutan sayang.


Rara lebih memilih aman terlebih dahulu, ia tahu suaminya sedang sangat marah saat ini, oleh sebab itu ia mengeluarkan jurus mautnya, yaitu dengan memanggil suaminya dengan sebutan sayang, kata yang sangat jarang ia ucapkan.


Alden sedikit terkejut mendengar panggilan yang diberikan istrinya, tapi sedetik kemudian, ia kembali menormalkan mimik wajahnya.


"Apa seperti itu cara kamu jika memiliki salah, dengan menggoda Mas," ucap Alden sambil menautkan alisnya yang justru terlihat sedikit terlihat garang dimata Rara.


"Hehehe." Rara hanya cengengesan sambil menampilkan gigi putihnya.


"Mas salah paham sumpah," lanjut Rara sambil mengangkat dua jarinya.

__ADS_1


"Maksud kamu?" tanya Alden dengan menautkan kedua alisnya.


Rara lalu menarik napas panjang, lalu mengeluarkannya secara perlahan sebelum menceritakan semuanya.


"Jadi gini Mas ... jadi yang tadi itu namanya Kenzo, dia mahasiswa baru di kelas Rara, dia gak tau dimana letak kantin, jadi ikut Rara sama Rissa ke kantinnya. Lagiankan Mas bisa liat kalau Rara tadi juga biasa aja, bahkan Rara jutek sama dia, untuk omongan para tetangga tadi, Mas gak usah dengerin, maklumin aja, Rara kan cantik, jadi wajar aja mereka ngegosip. Meskipun Kenzo ganteng, tapi Mas tenang aja, Rara tetap sayang kok sama Mas," jelas Rara panjang lebar.


Alden yang mendengarnya justru kembali menampilkan wajahnya yang lebih dingin saat mendengar satu kata yang Rara ucapkan 'ganteng'.


"Jadi menurut kamu dia ganteng?" tanya Alden dengan dingin.


"E-eh ... enggak gitu maksud Rara Mas, Mas lebih ganteng kok," ucap Rara yang baru menyadari ucapannya.


Alden yang mendengarnya sontak menipiskan bibirnya menahan senyum saat Rara mengatakan jika ia lebih ganteng.


"Mas cemburu?" tanya Rara sambil menatap manik mata suaminya.


"Ya iyalah! Siapa yang gak cemburu kalau istrinya dekat-dekat dengan laki-laki lain," ketus Alden yang mendengar pertanyaan istrinya.


"Iya deh ... Rara minta maaf, Rara bakal berusaha menjahui dia," ucap Rara tulus.


"Oke ... Mas bakal maafin kamu, tapi dengan satu syarat," ucap Alden membuat Rara bingung.


"Cih... pakai syarat-syarat segala nih orang," batin Rara.


"Yaudah deh, Rara gak jadi aja minta maafnya," ucap Rara asal.


Mendengar penuturan istrinya, Alden tentu semakin mengubah raut wajahnya menjadi lebih dingin. Rara yang melihatnya hanya terkekeh kecil.


"Apa syaratnya?" tanya Rara lembut.


"Cium Mas!"


"Hah?"


.


.


.


.


Author.

__ADS_1


Berhubung aku pengen cepat-cepat nge-tamatin nih novel, jadi aku usahakan up 2 kali sehari, kalo aku sanggup sih wkwk.....


__ADS_2