
Setelah selesai check up, Rara dan Alden lalu segera pulang, sepanjang perjalanan menuju rumah, Alden tak henti-hentinya tersenyum sambil terus menggenggem tangan Rara dengan sesekali mengecup lembut tangannya.
Rara yang melihat tingkah suaminya hanya terkekeh dan tersenyum bahagia. Rara berharap tidak ada yang akan menghancurkan rumah tangganya kelak, karna jika boleh jujur, Rara sudah sangat jatuh hati pada suaminya, Alden.
"Kamu pengen apa Yang?" tanya Alden sambil menyetir.
"Pengen apa?" Rara justru bertanya balik karna tidak paham maksud suaminya.
"Kamu gak ngidam gitu?" tanya Alden, karna jujur saja Alden sangat ingin merasakan dikerjai saat istrinya sedang hamil, karna dari apa yang ia dengar, orang yang sedang hamil biasanya akan meminta yang aneh-aneh, dan yang pastinya bisa membuat geleng-geleng kepala. Alden tentu ingin merasakan seperti apa rasanya juga.
"Enggak dulu deh Mas, Rara lagi gak pengen apa-apa," ucap Rara jujur.
Alden yang mendengarnya sedikit kecewa, tetapi ia tetap mempertahankan senyum manisnya, mungkin memang benar istrinya memang belum ingin sesuatu.
"Yaudah, kalo kamu pengen sesuatu, tinggal bilang sama Mas aja ya," ucap Alden lembut.
Rara yang mendengarnya hanya mengangguk saja, lalu kembali melihat keluar kaca mobil.
Tiba-tiba mata Rara membulat saat melihat sesuatu yang sangat membuatnya tergiur, bahkan tanpa sadar, air liur Rara sedikit keluar saat membayangi memakannya.
Tapi anehnya, Rara merasa tidak berani mengatakan keinginannya kepada suaminya, ia takut Alden tidak setuju dan akan memarahinya. Akhirnya Rara hanya bisa diam saja sambil sesekali meneguk liurnya secara kasar.
Sesampainya di rumah, Alden dan Rara segera turun dari mobil. Rara hanya diam saja sambil meremas jari-jarinya. Alden tentu melihat gerak-gerik istrinya yang terlihat aneh.
"Kamu kenapa Ra?" tanya Alden heran.
Rara tak langsung menjawab, ia memberanikan menatap suaminya terlebih dahulu. "Rara pengen sesuatu Mas," cicit Rara pada akhirnya.
Alden yang mendengarnya seketika berbinar, ia benar-benar ingin merasakan dijahili oleh bumil.
"Yaudah kamu mau apa?" tanya Alden bersemangat.
"Mas serius mau mengabulkannya?" tanya Rara ragu.
"Kenapa enggak sayang? Apapun akan Mas lakukan untuk anak Mas," ucap Alden meyakinkan istrinya.
"Rara pengen mangga muda," cicit Rara pada akhirnya.
"Cuman mangga muda doang?" tanya Alden penasaran. Jika hanya mangga muda, kenapa istrinya harus takut seperti itu untuk mengatakannya.
Rara hanya mengangguk mengiyakan dengan mata yang berbinar.
"Gak terlalu buruk. Yaudah ayok kita ke supermarket belinya, sekalian kita borong kalo kamu memang pengen banget," kekeh Alden.
Alden lalu berniat berjalan keluar kembali, tetapi melihat istrinya yang hanya diam saja, tentu membuat Alden heran.
"Kamu gak ikut?" tanya Alden heran.
__ADS_1
"Rara gak pengen mangga yang itu," cicit Rara.
"Terus mangga apa?" tanya Alden heran.
"Rara pengen mangga punya tetangga sebelah," ucap Rara yang langsung memasang wajah imutnya.
Alden yang mendengarnya hanya mengangguk pertanda paham, tapi sedetik kemudian ia langsung melotot saat ingat siapa pemilik pohon mangga tersebut.
"APA!" pekik Alden spontan.
"Kenapa? Mas gak mau ya?" tanya Rara dengan wajah sedih.
"T-tapikan yang punya pohon mangga itu pelit Yang, mana galak lagi," jelas Alden yang berharap istrinya tidak jadi.
"Ja-jadi Mas gak mau? Hiks ... " ucap Rara sambil menangis.
"Ya Allah, kok permintaan pertama anak hamba udah ekstrim aja," batin Alden sedikit frustasi.
"Tapikan mangga punya tetangga itu sama aja kayak disupermarket, lebih enak disupermarket lho, Mas bakal beli banyak-banyak kok," tawar Alden berharap istrinya mau diajak negosiasi.
Alden sangat tahu betul seperti apa sifat buk Diyah, pemilik pohon mangga tersebut. Dia adalah janda tua yang ada dikomplek tersebut, dia terkenal dengan kesombongan dan kepelitannya, bahkan ia juga terkenal dengan kegarangannya, itulah mengapa banyak warga yang mengatakan 'pantes gak laku orang kayak gitu'.
"Ta-Tapikan anak Mas pengennya mangga yang itu hiks ... dia gak pengen yang ada disupermarket hiks ... " ucap Rara yang terus menangis.
Etahlah, Rara bahkan tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya, semenjak tau ia sedang hamil, Rara menjadi lebih baper, bahkan tanpa sadar Rara malah menangis jika keinginannya tidak terkabulkan, padahal dulu jika permintaannya tidak dikabulkan, maka ia akan beraksi.
"Tapi Mas gak berani mintanya Yang," ucap Alden jujur pada akhirnya. Bagaimana tidak, buk Diyah adalah janda tua yang paling galak di komplek tersebut.
"Yaudah kita nyuri aja," ucap Rara memberi usulan.
"Gila kamu Yang!" pekik Alden saat mendengar usulan gila istrinya.
"Ja-jadi Mas gak mau? Hiks .... " Tangis Rara kembali pecah.
"I-iya kita nyuri," putus Alden. Sungguh ini adalah kali pertama kalinya Alden melakukan sesuatu yang bisa dibilang ekstrim!!
Rara langsung berhenti menangis, lalu tersenyum bahagia. Alden hanya bisa menghela napas, bagaimana mungkin istrinya itu dengan mudah menangis lalu tersenyum?
Alden dan Rara lalu secara diam-diam masuk kedalam pelataran rumah buk Diyah, untungnya dari yang mereka dengar, buk Diyah sedang pergi.
"Ini ngambilnya gimana?" tanya Alden dengan suara pelan, pasalnya tidak ada kayu untuk memetik buah tersebut.
"Yaa naiklah Mas," kesal Rara yang ikut.
Mata Alden seketika membulat mendengarnya, seumur hidup ia tidak pernah naik pohon, lalu bagaimana mungkin ia bisa menaiki pohon mangga yang tinggi tersebut.
"Oke Al, ini semua demi anak lo," batin Alden menyemangati dirinya.
__ADS_1
Meskipun kesal, Alden tetap berusaha untuk menaiki pohon mangga tersebut. Setelah sampai diatas, Alden lalu mengatur napasnya terlebih dahulu, lalu berniat mengambil beberapa buah mangga untuk istrinya.
"Bukan yang itu Mas! Tapi yang itu!" ucap Rara sedikit berteriak saat suaminya ingin mengambil buah mangga yang tidak sesuai keinginan Rara.
Alden tentu sangat kesal, apa bedanya coba buah yang hendak ia ambil dengan yang ditunjuk Rara?
"APA YANG KALIAN LAKUKAN!" Saat sedang asik memetik buah mangga tersebut dan melemparkannya kearah Rara, tiba-tiba terdengar teriakkan yang begitu mengelegar dan mengerikan.
Baik Rara maupun Alden terlonjak kaget mendengar teriakkan itu, untungnya Alden berpegangan cukup erat di dahan pohon sehingga ia tidak terjatuh. Setelah sadar, mereka langsung melotot
"Mampus!" batin mereka.
Rara lalu memberanikan diri menatap ke belakang asal suara tersebut. Dapat dilihat wajah merah dengan tatapan melotot seorang wanita paruh baya, bahkan jika manusia bisa keluar tanduk, Rara yakin perempuan paruh baya itu akan mengeluarkan tanduknya. Rara tentu meringis dengan tatapan tajam tersebut.
"Apa yang kalian lakukan!" teriaknya lagi.
Baik Alden dan Rara sama-sama mengunci mulut mereka, sungguh mulut mereka tidak bisa mengeluarkan walaupun hanya sepatah kata saja.
Rara lalu secara perlahan mengambil buah mangga yang ada didekatnya, lalu memasukkannya kedalam kantok plastik yang sudah berisi beberapa buah mangga.
Rara lalu menatap sekilas suaminya yang terdiam membisu diatas, lalu lanjut menatap buk Diyah yang sedang menahan amarah, tanpa basa basi Rara segera berlari.
"HUA ... RARA MINTA MAAF KARNA GAK BISA BANTU MAS. MUDAH-MUDAHAN MAS SELAMAT!" teriak Rara mengelegar sambil membawa plastik berisi mangga tersebut.
Alden yang melihat istrinya meninggalkannya sontak melotot, bisa-bisanya istrinya meninggalkannya sendirian dengan seorang yang menurut Alden seperti moster!
Sungguh Alden sangat dibuat kesal dengan istrinya, padahal ia yang sangat ingin buah mangga tersebut, tapi ia sendiri tidak bertanggung jawab.
Alden lalu berniat untuk turun dan kabur menyusul istrinya, tapi sayangnya keberuntungan sepertinya tidak berpihak padanya, tanpa sengaja Alden salah menginjak, tiba-tiba ....
Brukkk
"ADUH!"
.
.
.
.
Author.
Ini nih ciri-ciri istri gak ada akhlak, masa suaminya udah capek-capek manjat, dia malah kaburr
Ternyata dipikiran Rara, mangganya lebih berharga daripada suaminya.
__ADS_1