
Rara sedang berbaring di atas ranjang, matanya menatap monitor yang menampilkan dua anaknya. Ya! Rara ternyata mengandung anak kembar, dan menurut dokter, anak yang Rara kandung berjenis kelamin perempuan, tetapi dokter masih belum bisa memastikan yang satunya. Rara dan Alden tidak mempermasalahkannya, baik itu anak perempuan atau laki-laki, mereka akan tetap menyayanginya.
Ketika dokter mengatakan jika Rara mengandung anak kembar, Alden tentu sangat bahagia sekaligus bangga dengan dirinya karena sp**ma miliknya yang sangat baik sehingga bisa menghasilkan dua anak sekaligus. Mendengar anak yang di kandung Rara kemungkinan besar anak perempuan, Alden benar-benar tidak sabar menunggu kelahiran anak mereka. Ia pernah mendengar jika cinta pertama seorang anak perempuan adalah seorang ayah. Alden benar-benar tidak sabar dengan kehadiran anak-anaknya, ia ingin sekali merasakan dipanggil dengan sebutan 'Ayah', dan yang pastinya ingin sekali merasakan direpotkan dengan malaikat kecilnya itu, ia tidak sabar mendengar suara tangisan, tawaan, bahkan melihat wajah imut anak-anaknya nanti.
"Bayi-bayinya sehat, detak jantungnya pun kuat, bagus. Tetapi saya masih belum bisa memastikan yang satunya, apakah itu berjenis kelamin laki-laki atau perempuan." Dokter menjelaskan, sambil terus menggerak-gerakkan alat USG di atas perut Rara.
"Wah ... jangan-jangan dia bencong," celetuk Rara.
"Sembarangan kamu sayang!" Alden tentu tidak terima dengan celetukkan istrinya.
"Ya habisnya dia malu-malu nunjukkin alat kelaminnya," kekeh Rara.
"Itu karena posisi bayinya yang membuat saya tidak bisa melihat dengan jelas jenis kelaminnya," jelas Dokter sambil tersenyum.
"By the way, itu bayinya emang harus keluar dari itu ya Dok?" tanya Rara sedikit meringis saat melihat bayi yang cukup besar akan keluar dari itu nya yang kecil.
"Kita lihat keadaannya ya buk. Tapi kemungkinan besar ibu Diandra akan melahirkan secara normal."
"Apa ngak bisa lewat yang lain aja Dok?" tanya Rara penuh harap.
"Maksudnya?"
"Ya siapa tahu bisa dimuntahin," ucap Rara sambil cengengesan.
"Astagfhirullah Yank ... ya mana bisa lah, kamu ada-ada aja." Alden tentu kesal mendenarnya.
"Kenapa ngak Mas aja yang ngelahirin," ketus Rara.
"Ckk ... emang kalo Mas yang ngelahirinnya, mereka keluarnya dari mana?"
"Ya dari a**s mungkin," jawab Rara asal.
"Emang kamu mau anak kita penuh t**," ketus Alden yang kesal dengan pemikiran istrinya.
"Ya janganlah," kekeh Rara.
__ADS_1
"Gimana kalo kita bawa ke dukun beranak aja," usul Rara.
"Ngapain bawa ke dukun beranak?" Alden justru bingung dengan usulan istrinya.
"Ya biar keluarnya ngak lewat itu, jadi dia keluar sendiri dari perut Rara," jawab Rara polos.
"Darimana sejarahnya kamu bisa mikir kayak gitu Ra? Ya Allah, ini bini Al kenapa coba?" Alden justru frustasi dengan pemikirian istrinya yang bisa dibilang perpaduan dari polos dan g*bl*k.
Rara hanya cengengesan melihat wajah kesal suaminya. Sementara Dokter yang menyaksikan perangai pasutri itu tentu di buat gemes, apalagi dengan kepolosan Rara.
Setelah selesai, Rara dituntun oleh Alden untuk turun dari ranjang. Seperti biasa, Alden selalu memperhatikan istrinya dengan sungguh-sungguh. Semenjak mengandung, Alden menjadi lebih posesif dengan istrinya.
Mereka lalu menunggu dokter yang sedang menuliskan resep vitamin untuk Rara. Saat sedang menunggu giliran. Tiba-tiba saja mata Rara tidak sengaja melihat ibu-ibu yang badannya sangat berisi karena usia kandungannya yang sudah menginjak delapan atau hampir sembilan bulan. Seketika saja Rara menjadi takut, takut badannya akan melebar seperti itu juga saat usia kandungan mulai delapan bulan, dan suaminya yang akan meninggalkan dia karena badannya yang sudah tidak bagus.
"Kenapa?" tanya Alden yang heran melihat tatapan istrinya yang cukup susah untuk diartikan.
"Nanti aku jadi gendut kayak gitu Mas, gimana dong?" rengek Rara sambil menunjuk ibu-ibu yang perutnya sudah besar.
"Ya ngak papa dong sayang. Mas malah makin suka, soalnya wanita hamil itu lebih seksi," kekeh Alden.
"Maksud Mas tadi, kamu yang makin seksi semenjak hamil sayang." Alden berdalih sambil tersenyum menampilkan gigi putihnya.
Akhir-akhir ini Rara memang cemburuan, entah kenapa ia juga tidak tahu. Mungkin efek karena masa kehamilannya juga, sehingga wanita itu sangat sensitif.
Tanpa Alden pungkiri, semenjak istrinya hamil, napsu makan Rara bertambah berkali-kali lipat. Sehingga tubuhnya pun sudah lumayan berisi, hanya saja, Alden tidak ingin mengatakannya, ia takutnya istrinya akan mengamuk dan justru mencakar-cakarnya. Sementara Rara, ia selalu menyangkal jika ia gendut, ia selalu mengatakan pada dirinya jika masih banyak yang lebih gendut daripada dia.
Sejak kandungan Rara mulai membesar, dadanya semakin sintal, belum lagi pinggangnya yang semakin seksi. Alden bahkan tidak bisa membayangkan, bagaimana Rara jika usianya sudah memasuki bulan-bulan berikutnya. Akh! Sudah dipastikan setiap malam dirinya akan membuat Rara mend*sah di bawah kungkungannya.
Beberapa saat kemudian, nama Rara dipanggil. Mereka lalu menebus obat dan pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan, Alden terus menggenggam erat tangan istrinya.
Saat di lampu merah, seperti biasa, Alden akan menghujani tangan Rara dengan kecupan lembut dan sesekali mengelus perut istrinya, yang terkadang anaknya akan menendang, dan itu semakin membuat Alden senang karena baru pertama kali merasakannya.
Alden lalu membuka kaca jendela mobilnya, setelah itu berniat menghujani tangan istrinya dengan kecupan lagi, tetapi tiba-tiba tak sengaja indra penglihatannya melihat wanita yang sedang duduk di kursi depan sebuah toko, wanita yang selama ini ia rindukan!
'D - dia? A - apakah dia kembali? Bagaimana mungkin dia kembali di saat aku sudah bahagia'
__ADS_1
Seketika mata Alden menajam, jantungnya berpacu dengan sangat cepat. Ia sangat mengenal wanita itu, meskipun penampilannya sedikit berubah, di mana dia yang sekarang sudah memiliki rambut yang cukup panjang, tapi Alden tidak akan mungkin lupa dengan wajah itu.
Seketika wanita itu juga menoleh ke arah Alden, dan dapat Alden lihat jika ia sama terkejutnya. Mereka lalu saling menatap.
Terlalu fokus menatap wanita itu, Alden tak sadar jika kendaraan yang ada di belakang mobilnya sudah menekan klakson dari tadi.
"Mas ..." panggil Rara pada suaminya yang sedari tadi melamun.
"E - eh ...." Alden seketika gelagapan, lalu dengan cepat dia menginjak pedal gas.
Selama perjalanan pulang menuju rumah. Alden hanya diam, tidak seperti biasanya yang akan terus mengoceh tanpa henti dan terkadang bebicara hal konyol dengan anak yang ada di kandungan istrinya.
Rara yang melihat perubahan suaminya tentu sedikit bingung, ia bertanya-tanya kenapa suaminya tiba-tiba menjadi diam. Tetapi Rara hanya diam saja, memilih untuk mengeluarkan suaranya, mungkin suaminya sedang pusing dengan pekerjaan kantor, begitulah pemikiran Rara.
Mobil sudah terparkir di halaman rumah. Alden langsung keluar, ia bahkan melupakan keberadaan istrinya karena masih terkejut dengan apa yang ia lihat tadi.
Rara tentu merasa ada yang tidak beres dengan suaminya. Biasanya suaminya akan membukakan pintu mobil untuknya, kemudian masuk ke dalam rumah bersama-sama. Tetapi sekarang, suaminya seakan lupa dengan keberadaannya.
Rara langsung keluar dari mobil, dan sedikit berlari mengejar suaminya yang sudah masuk ke dalam rumah.
Alden terkejut melihat istrinya yang berlari kecil mengejarnya dan sudah berdiri di sampingnya.
"Maaf," ucap Alden saat dirinya melupakan keberadaan istrinya.
"Ishh kenapa Rara nya pakai ditinggalin sih?" Rara mengerucutkan bibirnya kesal.
Melihat istrinya yang mengerucutkan bibirnya membuat Alden gemes ingin mencium bahkan mel**at habis bibir manis istrinya itu.
Cuupp
.
.
.
__ADS_1
.