
..."CINTAI AKU KARNA ALLAH. Niscaya, cinta kita akan utuh sampai akhir hayat"...
...Diandra Latasha Jonshon...
...-------------------...
Pagi Harinya....
Setelah pergulatan panas kemaren, Rara terbangun lebih dulu, saat ia pertama kali membuka mata, hal yang pertama ia lihat adalah wajah tampan suaminya dengan rambut yang cukup berantakkan.
Rara memandangi wajah suaminya, ia memperhatikan setiap inci wajah suaminya, Rara merasa bahagia sudah melakukan tugas dan kewajibannya sebagai seorang istri, Rara masih ingat bagaimana permainan mereka semalam, betapa gagahnya suaminya, dan Rara sedikit merinding saat mengingat suara-suara aneh yang ia keluarkan tanpa sadar.
Rara mengelus wajah tampan suaminya sambil merapikan anak rambutnya yang jatuh mengenai wajahnya.
"Ya Allah, Rara udah menjalani tugas Rara sebagai seorang istri, Rara harap rumah tangga hamba baik-baik saja kedepannya," batin Rara.
"Rara harap apa yang Rara lakuin ini benar."
Rara lalu mendekatkan wajahnya ke wajah suaminya, lalu...
Cupp
Rara mencium singkat bibir suaminya.
"Apa kamu masih ingin bermain lagi sayang?" tanya Alden yang tiba-tiba membuka mata.
Sebenarnya Alden sudah bangun sejak tadi, ia sempat memandang wajah istrinya, tetapi pas istrinya membuka mata, Alden lalu berpura-pura tertidur lagi, ia merasa bahagia ketika Rara mengelus wajahnya dengan lembut, dan Alden semakin dibuat senang saat Rara mencium singkat bibirnya, kecupan yang menurut Alden sangat lembut.
Rara tentu terkejut melihat suaminya yang tiba-tiba membuka mata, apalagi ia baru saja mencium bibir Alden.
Rara yang malu hanya bisa menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya, hal itu justru membuat Alden terkekeh melihat perilaku lucu istrinya.
"Kamu kenapa malu sayang, lagian gak papa kok kalo kamu mau cium mas terus, kamu mau apa-apain juga gak papa," kekeh Alden menggoda istrinya.
Rara yang mendengarnya justru semakin malu, ia yakin jika suaminya pasti mengira ia nafsu.
Alden lalu menyibak selimut yang menutupi tubuh istrinya. Rara tentu dibuat terkejut, ia langsung segera menarik kembali selimutnya dan menatap tajam suaminya.
"Kenapa?" tanya Alden heran.
"Malu," cicit Rara, lalu segera menyembunyikan wajahnya didada bidang suaminya.
Alden yang mendengarnya tentu terkekeh.
"Kenapa malu? Lagian Mas juga udah ngeliat semuanya, bahkan gak ada satupun bagian tubuh kamu yang Mas gak jamah," kekeh Alden.
"Makasih ya sayang karna kamu udah percaya sama Mas, dan kamu sudah mau menyerahkan barang berharga kamu kepada Mas," ucap Alden memeluk tubuh istrinya sambil mengecup lembut rambut istrinya. Alden benar-benar tidak menyangka istrinya berniat memberikan haknya kepadanya, dan ia semakin senang saat Rara menggunakan lingerie yang menurut Alden sangat sexy, ternyata itu alasan istrinya ingin pergi ke mall.
"Itu udah menjadi tugas Rara Mas, maaf ya karna Rara baru ngasihnya," ucap Rara sedikit bersalah.
"Kamu gak salah kok sayang, hanya saja hubungan kita saat itu memang belum didasari oleh cinta," ucap Alden tersenyum.
"Mas janji akan selalu mencintai kamu, Mas gak akan ninggalin kamu," lanjut Alden.
__ADS_1
"Yaudah Rara mau mandi dulu, habis itu makan, Rara lapar banget," ucap Rara.
"Yaudah ayok mandi bersama," ucap Alden bersemangat.
Rara tak menghiraukan ucapan suaminya, Rara segera menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya, lalu berjalan menuju kamar mandi dengan tangan yang menutupi area atas dan bawah miliknya.
Tapi baru saja Rara ingin berjalan, ia merasakan sakit dan perih diarea bawah.
"Shhh." Rara meringis kesakitan ketika berusaha berdiri.
Alden yang mendengarnya langsung berdiri dan menghampiri istrinya tanpa sehelai benangpun. Rara tentu sedikit malu melihat tubuh polos suaminya.
"Kenapa?" tanya Alden khawatir.
"Sakit," cicit Rara dengan suara pelan sambil tetap menutup ar*a kew*itaannya.
"Yaudah biar Mas liat," ucap Alden yang menyingkirkan tangan istrinya, Rara tentu malu melihat suaminya yang melihat miliknya, meskipun semalam Alden sudah melihat bahkan menyentuhnya, tapi tetap saja Rara merasa malu.
Alden sedikit meringis melihat ar*a kewa*itaan milik istrinya yang sedikit membengkak akibat ulahnya semalam yang menggagahi istrinya.
"Maafin Mas ya sayang," ucap Alden merasa bersalah.
"Gak papa kok Mas, itu udah jadi tugas Rara," ucap Rara yang tidak ingin membuat suaminya merasa bersalah.
"Yaudah biar Mas gendong aja," ucap Alden
Alden lalu menggendong Rara dan masuk kedalam kamar mandi. Alden lalu meletakkan Rara dalan bathtub yang berisi air hangat, lalu Alden berjalan menuju pintu dan menutup pintunya lalu ikut masuk kedalam bathtub tersebut.
"Eum ... Mas boleh minta lagi Ra, Mas benar-benar tidak tahan melihatmu tanpa sehelai benangpun seperti ini," ucap Alden dengan suara berat.
"Iya." Rara hanya pasrah saja, ia tidak mungkin menolak keinginan suaminya.
Mendapat persetujuan istrinya, senyum Alden mengembang, ia lalu kembali melakukan persatuan lagi. Tak terasa mereka menghabiskan waktu 3 jam hanya untuk mandi bersama.
Sehabis mandi, Alden kembali mengendong istrinya keatas kasur, lalu mengambil pakaian untuknya.
"Masih sakit?" tanya Alden lembut sehabis memoles salep di ar*a kew*nitaan istrinya.
"Dikit, tapi Rara sanggup kok jalan," cicit Rara.
"Yaudah ayok kita sarapan, kamu gak usah kuliah hari ini, Mas udah kasih tahu ke Rissa kalo kamu sakit," ucap Alden.
Rara yang mendengarnya hanya mengangguk saja karna tidak mungkin ia pergi kekampus dengan keadaan seperti ini, yang ada semua mahasiswa akan memandangnya aneh.
Mereka lalu berjalan turun kebawah untuk sarapan. Melihat nyonya nya yang berjalan aneh seperti itu, bik Asih hanya tersenyum geli dan bahagia melihat keharmonisan mereka.
"Kenapa bibik senyum kayak gitu, kesurupan?" ketus Rara kesal sekaligus malu.
"Hehe gak papa non," ucap bik Asih sambil cengengesan.
Rara hanya mendengus kesal, sedangkan Alden hanya terkekeh kecil. Mereka lalu berjalan dan duduk dimeja makan. Mata Rara berbinar melihat berbagai jenis makanan yang tersaji, tanpa basa basi Rara segera memakan miliknya yang sudah Alden siapkan, Alden yang melihat istrinya sangat lahap hanya terkekeh kecil saja.
Setelah mereka selesai makan, Alden dan Rara lalu pergi ke ruang tamu untuk menonton tv, sedangkan Alden, ia menemani istrinya sambil mengoreksi lembaran-lembaran jawaban siswa adik tingkat Rara.
__ADS_1
Rara lalu membuka handphonenya yang ada diatas meja, ia lalu membuka pesan yang dikirim Rissa.
[Cih... baru tahu gue kalo seorang Diandra bisa sakit, baek-baek lo, takutnya entar koit lagi.]
Rara hanya berdecak kesal membaca pesan yang dikirim sahabatnya itu, Rara lalu meletakkan kembali handphonenya tanpa berniat membalasnya, lalu ia kembali menonton tv.
Saat menonton tv, fokus Rara ternyata tidak ke acara tv yang sedang menayangkan dua bocah kembar botak, ia justru fokus melihat foto besar yang melekat di dinding, tanpa sadar Rara tersenyum geli melihat foto tersebut, bagaimana tidak, baik dia maupun suaminya sama-sama tersenyum palsu, terlihat sangat jelas tidak ada wajah bahagia disana.
Tapi ada sesuatu yang menarik perhatian Rara, Rara melihat ada benda kecil yang melekat disudut figura tersebut, Rara seperti mengenalnya, karna penasaran, Rara akhirnya bangkit berdiri dan mulai berjalan mendekati foto besar pernikahan mereka. Alden yang melihat istrinya bangkit langsung mengalihkan pandangannya pada istrinya.
"Kamu mau kemana sayang?" tanya Alden heran.
"Kalau kamu pengen sesuatu, bilang sama Mas aja," lanjutnya.
"Enggak kok Mas, Rara cuman pengen liat foto itu," ucap Rara sambil menunjuk foto pernikahan mereka.
Alden sedikit heran, tapi ia hanya mengangguk saja, kemudian kembali menyelesaikan tugasnya.
Rara kembali berjalan dengan sedikit kesusahan, saat sudah tiba didepan foto tersebut, Rara lalu mendongakkan kepalanya dan memicingkan matanya melihat benda kecil tersebut.
"Kok kayak pernah liat ya," ucap Rara dengan suara pelan.
"Mas," panggil Rara, ia hanya ingin memastikan saja apakah benda itu memang sesuai dengan apa yang ia pikirkan.
"Iya, ada apa sayang?" tanya Alden menatap istrinya.
"Coba sini deh Mas," ucap Rara sambil menggerakkan tangannya.
Meski sedikit bingung, Alden tetap berdiri dan berjalan menghampiri istrinya.
"Coba Mas liat benda kecil itu deh," ucap Rara sambil menunjuk sudut foto tersebut.
Alden lalu mengikuti arahan istrinya, ia lalu memicingkan matanya menatap benda kecil itu.
"CCTV?" gumam Alden, Rara yang masih bisa mendengar gumaman suaminya ikut mengangguk mengiyakan, ia juga berpikiran yang sama.
.
.
Sedangkan ditempat yang berbeda, beberapa orang terkejut bahkan melotot ketika monitor kecil itu menayangkan wajah dua orang yang sedang menatap mereka, lebih tepatnya benda kecil itu.
"Mampus kita," ucap mereka bersamaan.
"Kayaknya sebentar lagi bencana besar datang," lanjut mereka.
.
.
"Oh... cuman CCTV doang kok sayang," ucap Alden santai.
Rara yang mendengarnya mengangguk santai saja, tapi seperkian detik kemudian, mereka berdua melotot dan saling pandang.
__ADS_1
"APA CCTV!"