Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen

Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen
Kemarahan Mike!


__ADS_3

"Assalamualaikum," sapa Rara saat memasuki rumah mertuanya.


"Wa'alaikumsalam," balas Elena dan Mike yang saat memang sedang duduk santai di ruang tamu.


Lalu Rara diajak duduk, dan seorang pelayan pun datang ke ruang tamu sambil membawa minuman dan cemilan.


"Gimana kabar kamu, sayang?" tanya Elana sambil membelai rambut menantunya, yang kini sedang mengandung cucunya.


"Baik kok Ma," jawab Rara tersenyum tipis.


Lalu mata Elena perut Rara yang sudah kelihatan bulat, dan mengelusnya dengan lembut.


"Hai, girls! Apa kabar?" tanya Elena sambil mengusap-usap perut menantunya.


Seolah-olah mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Elena, bayi-bayi kecil yang ada di dalam perut Rara menendang perut Mommy-nya.


"Wah, ternyata tendangan kalian kuat juga, girls! Apa kalian ingin menjadi pemain sepak bola?" Elana menjadi gemes sendiri.


"Enggak! Buat nendang Mas Alden," jawab Rara asal.


Mike dan Elena sedikit mengerutkan keningnya, bingung dengan perubahan sikap menantunya.


"Alden mana, Ra? Dia nggak ikut?" tanya Mike sambil menyesap kopi miliknya.


"Nggak Pah. Alden kebetulan lagi sibuk." Rara sebisa mungkin menjawab dengan tenang.


Mike hanya mengangguk-angguk. Kemudian mereka memakan kue buatan Elana. Rara akui rasa kue itu sangat nikmat. Tak lama setelah itu jam makan siang pun tiba. Mereka makan siang bersama sambil mengobrol ringan.


Setelah makan, mereka kembali duduk di ruang tamu. Mengobrol sebentar. Melihat Rara yang menguap sedari tadi, membuat Elena tidak tega. Ia lalu menyuruh Rara untuk tidur siang saja.


"Yaudah, Rara pamit ke kamar ya Mah, Pah. Maaf karena nggak bisa nemanin kalian ngobrol," pamit Rara yang sudah tidak tahan menahan rasa kantuknya. Mengingat hampir semalaman dirinya tak bisa tidur karena menunggu suaminya yang justru tidak menunjukkan batang hidungnya.


"Yaudah, kamu tidur gih." Elena berkata sambil tersenyum.


Rara lalu masuk ke dalam kamar yang dulunya di tempati oleh suaminya. Sementara Elena dan Mike kembali mengobrol di ruang tamu.


"Papah ngerasa nggak sih?" tanya Elena pada suaminya.


"Ngerasa apa?"


"Kok aku liat mata Rara kayak sembab gitu, ya? Kayak habis nangis, lho." Elena dapat melihat mata menantunya yang terlihat seperti habis nangis, meski Rara menutupinya dengan make up.

__ADS_1


"Ternyata Mamah menyadarinya juga. Sepertinya wanita itu habis menangis." Mike mengiyakan ucapan istrinya.


Akhirnya Elena menelpon putranya, untuk mencari tahu apa yang terjadi.


"Assalamualaikum, Al?"


"Wa'alaikumsalam, kenapa?" tanya Alden dengan suara datar.


"Ckk ... kamu tuh dingin mulu tau nggak? Sekali-kali jangan dingin-dingin mulu dengan orang tua!" Elena justru menyemprot putranya yang selalu bersikap datar.


"Ada apa, Ma?" Alden mengalah, memilih untuk mengubah suaranya sehingga tidak terdengar datar. Alden benar-benar cukup setres. Mengingat dirinya sudah menelpon istrinya berkali-kali, tapi handphone Rara tidak aktif.


"Rara di mana?" tanya Elena, ia hanya ingin mengetes Alden, apakah Alden memang tahu keberadaan istrinya atau tidak? Elena takutnya Rara justru berbohong. Nalurinya sebagai wanita dan orang tua mengatakan seperti ada yang tidak beres.


"Ya di rumahlah Mah," jawab Alden santai.


Elena yang mendengarnya tentu terkejut setengah mati. Jadi, putranya tidak tahu jika istrinya berada di sini? Apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga anaknya? Apakah mereka bertengkar.


"Dan sayangnya, Rara justru berada di rumah Mamah," balas Elena datar.


"Hah? Kok aku nggak tahu?"


"Kalian bertengkar?" tanya Elena.


"Apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Elena, dengan emosi yang masih bisa ia tahan.


Alden tetap bungkam, ia tak kunjung menjawab pertanyaan Elena. Elena yang tidak mendapat balasan dari putranya tentu sangat marah, apa yang sebenarnya sudah putranya lakukan?


"Apa yang sudah kamu lakukan, Al? Jawab, Alden Reynoard Schiaparelli!" bentak Elena. Sudah habis kesabaran Elena menghadapi putranya.


"Alden ninggalin Rara sendirian di pantai," cicit Alden.


Elena yang mendengarnya sontak melotot, apakah putranya masih waras? Bagaimana mungkin ia meninggalkan istrinya sendiri di pantai dalam kondisi hamil? Tapi ... apa mungkin Rara sampai sangat marah hanya karena masalah itu? Bukankah hal itu masih bisa dimaafkan? Meskipun itu cukup sulit!


"Terus, apa lagi?"


"Cuman itu doang," jawab Alden berbohong. Ia tidak mungkin mengatakan pada ibunya jika semalam ia menghabiskan malam bersama Ella, mantan kekasihnya. Tidak mungkin ia mengatakan menemani wanita itu. Jika sampai orang tuanya tau, ia mungkin akan dihabisi oleh Mike.


"Kamu yakin cuman itu doang? Apa kamu tidak berbohong? Tapi naluri mamah bilang masih ada yang kamu sembunyikan? Jawab!" Elena tidak membentak lagi, tapi ia mengubah suaranya jadi dingin.


Alden menghela napas, ia tak bisa berbohong pada ibunya. Naluri seorang wanita memang benar-benar kuat.

__ADS_1


"Kemaren Alden nggak pulang ke rumah," lirih Alden dengan suara yang sangat pelan, tetapi masih terdengar jelas di telingga Elena.


Elena terkejut bukan main mendengar jawaban putranya.


"Lalu kamu tidur di mana?" tanya Elena.


"D - di rumah Bryan Mah," jawab Alden sedikit terbata-bata.


Meskipun Elena tau jika putranya sedang berbohong, tetapi Elena memilih untuk diam saja, lebih baik jika semuanya di urus saat Alden berada di rumah saja.


"Sore nanti kamu datang ke sini! Pokoknya mamah nggak mau tau, kamu harus minta maaf sama Rara!" Setelah mengatakan itu, Elena lalu mematikan sambungan telpon tanpa menunggu respon putranya.


"Bagaimana?" tanya Mike pada istrinya.


Elena lalu menceritakan semuanya tanpa ada yang di tutup-tutupi, dari Alden yang mengatakan jika ia meninggalkan Rara sendirian di pantai, sampai Alden yang tidak pulang ke rumah, dan mengatakan jika ia menginap di rumah Bryan.


Mata Mike menajam mendengarnya, berani-beraninya putranya melakukan hal se br***sek itu pada istrinya sendiri. Mike lalu mengotak-atik handphone nya, menghubungi orang-orang kepercayaannya yang memang ia tugaskan untuk mengawasi rumah tangga anaknya tanpa sepengetahuan mereka berdua.


Sebenarnya rumah tangga Rara dan Alden sudah diawasi sejak mereka menikah. Sedari awal, Mike merasakan akan ada sesuatu yang tidak beres, tetapi ia tidak bisa asal menebak begitu saja. Oleh sebab itu ia menugaskan beberapa orang kepercayaannya untuk mengawasi mereka berdua, dan mengawasi lingkungan sekitar. Bahkan Mike sudah satu langkah lebih dulu dari Bryan.


Siapa sangka, bebera minggu setelah pernikahan anaknya, Mike mendapatkan informasi jika wanita itu kembali, tetapi anehnya wanita itu hanya bekerja biasa, dan sepertinya tidak ada niat untuk mencari Alden. Hingga Mike kembali mendapat informasi yang membuatnya benar-benar bingung, di mana wanita itu bertemu dengan anak-anak Fernandez dan wanita itu terlihat seperti sangat frustasi setelah bertemu dengan mereka.


Brukk


"Baj**gan!" teriak Mike menggelegar saat membaca laporan yang baru saja ia terima dari orang kepercayaannya.


"Kenapa Pah?" tanya Elena yang benar-benar terkejut mendengar teriakkan suaminya yang menggelegar.


"Mereka bertemu," lirih Mike.


Elena menatap sendu wajah suaminya. Padahal, baru saja mereka mendapat kebahagiaan, dengan kehadiran bayi-bayi yang ada di dalam perut menantunya. Tetapi, sepertinya Allah belum mengijinkan mereka merasakan kebahagiaan itu.


Mike memejamkan matanya, emosi laki-laki itu sudah tidak bisa di bendung lagi. Mike benar-benar kecewa pada Alden. Ia pikir, Alden sudah melupakan Ella, tapi ternyata ia salah!


Elena hanya diam saja, dia hanya bisa merapalkan doa, berharap tidak akan terjadi pertumpahan darah di rumah mereka. Mengingat suaminya sudah benar-benar marah.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2