Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen

Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen
Mual (Drama Pagi)


__ADS_3

..."Cinta itu tak butuh banyak bicara, hanya ingin memilikimu hingga akhir usia"...


...Author...


...------------------------...


Satu bulan sudah berlalu, hubungan Alden dan Rara semakin hari semakin dekat dan romantis, bahkan Alden sekarang lebih banyak berbicara.


Selama satu bulan itu juga Kenzo tidak pernah lagi datang kekampus, para dosen tentu sedikit bingung, tetapi beberapa hari kemudian datang surat yang berisi permintaan Kenzo yang tidak bisa masuk kekampus karna adanya liburan keluarga, dengan terpaksa para dosen akhirnya memberikan materi secara during kepada Kenzo.


Tidak ada yang curiga dengan Kenzo, bahkan Rara dan Rissa pun senang karna sudah tidak ada kehadiran orang yang sedikit mereka tidak suka.


Tapi tidak ada yang tau pasti kemana Kenzo sesungguhnya, semua orang memang berpikir jika Kenzo sedang berlibur, tetapi sayangnya itu tidak benar.


Pagi hari...


Rara terbangun karna merasa sangat mual, ia segera berlari menuju wastafel dan memuntahkan isi perutnya.


"Hoek ... hoek .... " Rara terus memuntahkan isi perutnya, tetapi yang keluar hanya cairan bening saja, karna memang semalam Rara tidak makan apa-apa karna merasa tidak berselera.


Alden yang mendengarnya tentu segera bangun dan berlari kedalam kamar mandi untuk melihat istrinya.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Alden khawatir.


"Ra- hoek .... " ucapan Rara terpotong saat ia kembali merasakan mual yang luar biasa.


Alden lalu berjalan mendekati istrinya, lalu memijat pelan tengguk Rara untuk membantunya mengurangi rasa mual tersebut.


Merasa sudah tidak mual lagi, Rara lalu mencuci mulut serta wajahnya.


"Udah enakan?" tanya Alden lembut.


Rara tak menjawabnya, ia hanya mengangguk lemah saja, karna ia memang tidak mampu membuka mulutnya.


Alden lalu membantu Rara berjalan menuju kasur, lalu mendudukkan Rara disana.


"Kamu kenapa hmm?" tanya Alden lembut.


"Rara gak tau Mas," jawab Rara lesu.


"Mungkin karna Rara gak makan semalam," lanjut Rara yang mengira ia sedang masuk angin akibat tidak makan semalam.


"Makanya lain kali kamu makan dong sayang," ucap Alden lembut tapi sedikit kesal.


"Mas nyalahin Rara?" tanya Rara sambil menyeka air matanya yang jatuh.

__ADS_1


Alden tentu terkejut melihat istrinya yang menangis, apakah ucapannya tadi salah? Padahal ia berbicara dengan sangat lembut.


"Eh ... Mas gak marah kok sayang," ucap Alden menenangkan.


"Terus kenapa Mas ngomongnya kayak kesal tadi?" tanya Rara yang terus menyeka air matanya yang jatuh, ia bahkan tidak tahu mengapa ia menjadi cengeng seperti ini.


"Mas gak kesal kok sayang, eum ... suara Mas emang kayak gitu kok," kilah Alden.


"Nih istri gue kenapa jadi kayak gini?" batin Alden kesal.


"Benarankan?" tanya Rara dengan mata yang masih berkaca-kaca.


"Iya dong sayang, masa Mas kesal sama istri Mas yang cantik ini," goda Alden berniat menghibur istrinya.


Tapi yang Rara lihat justru senyum palsu yang suaminya tunjukkan, hal itu tentu membuat Rara semakin sedih, tanpa terasa air matanya justru semakin deras mengalir.


"E-eh kamu kenapa makin nangis sayang?" tanya Alden kelabakan saat melihat air mata istrinya yang semakin mengalir.


"Karna Mas udah bohong sama Rara hiks ... hiks ... hurgh .... " Rara terus menangis sambil sesekali menarik ing*snya yang keluar.


"Emangnya Mas bohong apa sama kamu?" Alden tentu bingung maksud istrinya itu, ia bahkan tidak berbohong.


"Mas tadi bilang kalo Rara cantik, tapi muka Mas kayak lagi bohong hiks ... " tutur Rara yang masih terus menangis.


"Sayang ... muka Mas kan emang kayak gini," ucap Alden lembut.


"Yaudah Rara tanya, Rara cantik atau enggak?" tanya Rara yang mulai berhenti menangis.


"Cantik, cantik banget malahan," ucap Alden sambil tersenyum manis untuk meyakinkan istrinya.


"Tuhkan Mas bohong, HUA .... " Tangis Rara justru semakin pecah.


Alden yang melihatnya justru semakin dibuat frustasi.


"Emang muka gue kenapa sih? Muncul tanduk apa!" batin Alden yang merasa frustrasi dengan sikap istrinya yang tiba-tiba aneh saat ini.


"Astagfhirullah sayang, Mas gak bohong, Mas serius kok, kamu emang cantik banget," ucap Alden.


"Lagian kamu bisa bilang Mas bohong, kamu tahu darimana?" lanjut Alden bingung.


"Tuhkan ... Mas emang bohong sama Rara, apa coba kurangnya Rara, Rara tau Rara emang gak bohay kayak orang-orang dikantor Mas, tapikan Rara tetap aja cantik hiks ... Mas kenapa jahat banget sama Rara hiks ... " ucap Rara dengan sesekali sesenggukan.


"Ya Allah, ini istri hamba kenapa?" batin Alden frustasi.


"Sayang kamu waras?" celetuk Alden tanpa sadar.

__ADS_1


"Maksud Mas apa? Emang Rara kayak gak waras?" ketus Rara sambil menatap jengkel suaminya.


"E-eh e-enggak gitu maksud Mas sayang, tadi Mas keceplosan," ucap Alden memperbaiki ucapannya.


"Berarti Mas tadi barusan jujur ya, soalnya kata orang-orang kalo keceplosan itu tandanya jujur," ucap Rara sambil memandang suaminya dengan pandangan sendu, tapi tidak ada air mata lagi yang mengalir.


"Gak gitu maksud Mas sayang. Oke Mas minta maaf sama kamu karna udah buat kamu tersinggung, tapi Mas benar-benar gak ada maksud bilang kamu gak waras, Mas cuman bercanda. Percaya deh sama Mas! Cuman kamu yang ada dihati Mas sekarang ini, dikantor Mas itu gak ada yang bisa nandingin kecantikkan istri Mas ini," jelas Alden tersenyum lembut sambil menggenggam tangan istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Cuman aku yang ada dihati Mas sekarang ini? Berarti masa yang akan datang, kemungkinan bukan aku dong," celetuk Rara tanpa sadar.


"E-enggak gitu maksudnya sayang, cuman kamu yang ada dihati Mas saat ini dan sampai kapanpun," tutur Alden memperjelas ucapannya.


Rara dapat melihat ketulusan dimata suaminya, tetapi semakin ia menatap lekat manik mata suaminya, ia menemukan sedikit keraguan dimata suaminya.


"Mas janjikan gak akan berkhianat?" tanya Rara tiba-tiba, entahlah pertanyaan itu tiba-tiba muncul dipikirannya.


"Mas janji sayang, Mas janji gak akan pernah ninggalin kamu," ucap Alden mantap.


"Baiklah Rara percaya, tapi kalau sampai Mas mengingkari janji Mas, Rara akan hukum Mas," ucap Rara sambil tersenyum tipis.


Alden terkekeh kecil karna mengira ucapan istrinya hanya sekedar candaan saja. Tapi berbeda dengan Alden, Rara justru hanya tersenyum, senyum yang susah untuk diartikan.


"Rara boleh minta sesuatu?" tanya Rara sedikit ragu.


"Minta apa memangnya?" tanya Alden balik.


"Rara pengen pak suami baru," ucap Rara mengembangkan senyumnya.


"APA?"


.


.


.


.


Author.


Rara mintanya macem-macem aja.


Ngakak aja baca komen kalian yang gak setuju kalo nih novel sad ending.


Awalnya aku pengen bikin konfliknya berat banget, 10 kg mungkin, tapi kalo konfliknya seberat itu, aku sebagai penulisnya pun gak rela kalo sampai endingnya mereka bahagia, karna fatal banget untuk bisa bersatu kembali. Jadi aku putuskan bikin konflik berat tapi masih bisa dimaafkan, tapi tergantung Rara nya juga sih wkwk.

__ADS_1


__ADS_2