Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen

Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen
Menemukan Selembar Foto


__ADS_3

..."Aku tau jika yang kulakukan ini salah! Tapi bagaimana jika kamu yang berada di posisiku? Akankah kamu terus menjadi orang baik? Aku ingin menjadi orang baik, tapi keadaan yang memaksaku menjadi orang jahat. Aku harap kalian tidak akan membanciku"...


...Unknown...


...~~~...


Rara terbangun karena tarnyata hari sudah pagi. Rara lalu bangkit, lalu mencuci wajahnya, setelah itu turun menuju dapur untuk membuat sarapan untuk suaminya. Semenjak Rara hamil, ia sangat suka memasak, ia bahkan selalu ingat cara mengolah sesuatu saat suaminya mengajarinya memasak, sehingga meskipun bik Asih cuti, Rata tidak ingin mencari asisten rumah tangga baru, karena ia yang akan memasak, mengambil alih pekerjaan bik Asih.


Saat asik memasak, tiba-tiba sebuah tangan kokoh melingkar di perut Rara. Wanita itu sudah tau siapa pemilik tangan kokoh itu, siapa lagi jika bukan suaminya, Alden?


"Pagi, kesayangan pak suami," sapa Alden sambil menjatuhkan wajahnya pada ceruk leher Rara.


"Pagi juga, kesayangan buk istri." Rara membalasnya sambil terkekeh.


"Kamu masak apa?" tanya Alden sambil menggesek-gesekkan kepalanya di ceruk leher Rara.


"Masak daging manusia," jawab Rara asal.


"Ish ... Mas nanya serius malah dikira becanda." Alden mengerucutkan bibirnya kesal.


"Ckk ... ya Mas kan udah liat Rara masak apa? Masa iya masakan warna hitam kayak gini dibilang sop, ya pasti masak ayam kecap!"


"Jangan galak-galak buk istri." Alden hanya terkekeh melihat wajah kesal istrinya.


Rara hanya berdecak kesal dengan ejekan suaminya, lalu lanjut memasak tanpa memperdulikan suaminya, ia bahkan tidak terganggu dengan tangan kokoh itu. Sementara Alden, ia tidak mau melepas pelukannya, ia merasa nyaman memeluk dan mengirup aroma tubuh istrinya.


Saat mengelus perut Rara, tiba-tiba tangannya merasa gerakan di dalam perut Rara. Alden tersenyum, akhir-akhir ini anak yang ada di dalam perut Rara memang sering menandang perut Rara.


"Aduh, anak daddy udah bangun? Pengen jadi pemain sepak bola, ya?" tanya Alden sambil berjongkok di depan perut Rara.


Kemudian Alden kembali merasakan tendangan anaknya. Alden tersenyum, kemudian mencium perut Rara.


"Kok Mas ngiranya mereka pengen jadi pemain bola?" tanya Rara polos.


"Ya karena mereka nendang-nendang terus," jawab Alden singkat.


"Ckk ... kata siapa? Bisa aja mereka ternyata nampar, lagian juga ngak mungkinkan kalo mereka salto di dalam perut," ketus Rara.


Alden hanya terkekeh, apa yang diucapkan istrinya ada benarnya juga! Tiba-tiba handphone Alden berbunyi, ia lalu menjauh dari Rara untuk mengangkat panggilan tersebut. Tidak berapa lama kemudian, Alden kembali dan mendapati istrinya sedang menyusun makanan di atas meja.


"Sayang, Mas kayaknya harus ke kantor deh habis ini. Soalnya ada meeting penting yang ngak bisa digantiin oleh Bryan." Alden sedikit tidak rela meninggalkan Rara sendiri di rumah.


"Kamu mau ngak nganter makan siang buat Mas nanti." Sebenarnya itu hanya alasannya saja agar istrinya ikut ia ke kantor, karena jujur saja, Alden sedikit tidak tega meninggalkan istrinya sendiri di rumah.


"Iya, nanti Rara ke kantor Mas deh." Rara menjawab sambil tersenyum.


********


Di lain tempat, tampak seorang wanita yang menatap sendu melihat seorang anak kecil yang terbaring dengan banyaknya alat-alat medis yang menempel di tubuhnya. Wanita itu lalu menggenggam tangan anak kecil itu.


Anak kecil itu yang merasakan ada yang menggenggam tangannya perlahan membuka matanya.


"Bunda kenapa nangis?" tanya dengan suara lemah.


"Eh ... kamu udah bangun sayang. Bunda ngak papa kok, bunda ngak nangis, mata bunda kelilipan doang." Wanita itu sontak menghapus air mata yang menetes, lalu menampilkan senyum terbaiknya kepada anak kecil yang sebenarnya adalah putrinya.


"Gimana keadaan kamu? Kamu ngerasa sakit?" tanya wanita itu dengan lembut.


"Enggak ada kok bun, Lina kan kuat," jawab anak kecil itu dengan suara cadel, ia masih tidak bisa menyebut R, sehingga ia memanggil namanya dengan panggilan Lina, padahal namanya adalah Rina.


"Iya, bunda tau kalau putri keci bunda ini memang kuat, kamu semangat ya sayang!" Wanita itu lau mengelus rambut putrinya dengan lembut.


"Oh iya, sebentar lagi kamu akan sembuh kok, kamu sebentar lagi bakal di operasi. Kalo kamu udah sembuh, kita bakal main sama-sama, kita bakal beli banyak-banyak boneka. Bunda janji deh, kalo Ina udah sehat, bunda bakal beli banyak-banyak berbie sama boneka."

__ADS_1


"Seliusan?" Mata Rina seketika berbinar. "Tapi bunda dapat uang dali mana?"


"Kamu ngak usah mikirin tentang biayanya, bunda kan kerja, jadi bunda punya uang banyak karena kerja." Wanita itu tersenyum untuk meyakinkan putrinya.


'Maafin bunda sayang. Mungkin jika kamu sudah dewasa nanti, kamu akan membenci bundamu ini yang sudah membuat kesalahan besar. Tapi bunda akan lakukan apa saja untuk kamu, putri kecil bunda. Sekalipun bunda harus melakukan pekerjaan kotor ini, yaitu menghancurkan rumah tangga orang'


"Ina cayang cama bunda." Anak kecil itu langsung memeluk bundanya.


"Bunda juga sayang sama kamu. Jangan pernah tinggalin bunda ya." Wanita itu membalas pelukan putrinya tak kalah erat seolah tak ingin kehilangan satu-satunya harta paling berharga yang ia miliki.


Tak terasa air mata menetes membasahi pipinya, membayangkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Ia sangat tau sekali jika apa yang ia lakukan benar-benar salah, bagaimana mungkin ia berniat menghancurkan keluarga kecil orang lain yang sebentar lagi akan memiliki anak? Itu sama saja ia menghancurkan putrinya sendiri, ia bahkan tidak mampu membayangkan nasib perempuan itu nanti, ia pasti akan sangat hancur.


Tapi mau bagaimana lagi, keadaan yang memaksa ia melakukan semua itu. Ia ingin menjadi orang baik, tapi keadaan yang menuntut ia harus melakukan semua itu, melakukan perbuatan yang benar-benar salah, dan ia tau itu! Jika boleh jujur, ia juga tidak mau. Tapi ... apakah ia sanggup kehilangan putri kecilnya? Satu-satunya harta paling berharga yang ia miliki? Jawabannya TIDAK! Ia tidak akan pernah sanggup! Hidupnya akan benar-benar terasa hampa jika putrinya pergi meninggalkan ia.


Bunda minta maaf Na


*******


"Selesa!" seru Rara yang sudah selesai memasak untuk makan siang suaminya. Rara lalu memasukkan makanan itu ke dalam bekal. Senyum indah terbit di wajah cantik Rara.


Rara lalu segera bersiap-siap, ia lalu masuk ke dalam kamar dan mengganti pakaiannya.


Setelah selesai mengganti pakaian, Rara lalu memesan taxi online. Sambil menunggu taxi pesenannya, Rara membuka media sosial yang ada di handphonenya, lalu tak sengaja menemukan postingan Rissa.



Kesayangan Papi sama Mami nih😘


Rara dapat melihat banyak sekali komen-komen positif yang diberikan anak kampus pada Rissa, salah satunya ucapan 'selamat'. Rara merasa sedikit iri, ia juga ingin memposting fotonya dengan suaminya, tetapi itu tidak mungkin karena tidak ada anak kampus yang tau akan pernikahannya.


Tak berselang lama, taxi pesenan Rara datang, ia lalu segera berangkat menuju perusahaan suaminya.


.


.


Ketika melewati meja receptionist, mata Rara memicing menatap tajam wanita itu. Sementara Anita yang ditatap seperti itu hanya tersenyum kaku, sepertinya istri bosnya itu masih memiliki dendam padanya.


Rara melewati begitu saja Anita, ia lalu berjalan menuju ruangan suaminya tanpa perlu bantuan karena ia tentu sudah mengingat ruangannya.


Tok ... tok


"Masuk!" ucap Alden dari dalam.


Rara lalu masuk dan mendapati suaminya yang sedang sibuk dan tidak bergeming dari hadapan komputer miliknya. Seketika ide jahil muncul di benak Rara.


"Permisi Pak Rey, ini opor ayam yang saya buat, kira-kira diletakkan di mana ya?" tanya Rara dengan suara tegas seperti para karyawan yang ada di kantor suaminya itu.


"Oh iya, letakkan di atas meja saja opor ay - eh? Kok opor ayam?" Alden Menjadi bingung sendiri, ia lalu mendongakkan kepalanya, dan mendapati istrinya yang sedang cengengesan.


"Cie ... yang lagi serius kerjanya," goda Rara sambil terkekeh.


"Astaga sayang, Mas kira siapa karyawan yang kurang ajar beraninya bercanda dengan bos mereka, tapi ternyata dia adalah istri Mas sendiri." Alden tidak marah, ia justru terkekeh.


Rara yang mendengarnya ikut terkekeh. Ia lalu bejalan menuju sofa yang ada di ruangan tersebut. Alden langsung bangkit dan berjalan menuju sofa tersebut dan duduk di samping istrinya.


"Gimana kabar kamu sayang?" tanya Rara mengerjai suaminya dengan memanggil Alden dengan sebutan sayang.


Alden tersenyum lebar mendengar panggilan istrinya, tanpa aba-aba ia langsung mendaratkan kecupan di bibir manis Rara, lalu mulai mel**atnya. Rara sempat terkejut, tetapi setelah itu ia membalas ciuman itu sambil mengalungkan lengannya di leher suaminya.


"Samleko - Astagfhirullah!" Bryan yang berniat memberitahu bosnya bahwa meeting akan segera dimulai, lalu masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Alden dan Rara yang terkejut sontak melepas ciuman itu.

__ADS_1


Alden menatap tajam Bryan yang sudah lancang masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Sementara Rara hanya melakukan hal konyol karena saking malunya, ia berpura-pura mencari sesuatu di sekitar sofa yang ia sendiri tidak tahu apa yang ia sedang cari.


"Ckk ... apakah Anda tidak mempunyai sopan santun sekretaris Bryan?" geram Alden sekaligus malu.


"Hehe tadi sopan santunnya ketinggalan," jawab Bryan asal, lalu berjalan santai dan duduk di dekat mereka berdua.


"Hai istri Alden," sapa Bryan pada Rara.


"Hai juga babunya pak suami Rara." Rara membalas sambil terkekeh, sepertinya sekretaris suaminya ini orang yang lucu dan tidak mudah tersinggung.


"Ckk ... kagak suami, kagak istri sama aja," ketus Bryan yang kesal.


"By the way, gima-"


"Cepat katakan apa keinginanmu datang kemari!" tekan Alden memotong ucapan Bryan.


"Ckk ... lo lupa atau gimana? Kan sebentar lagi ada meeting penting," jawab Bryan kesal.


"Hmm ... baiklah."


"Kalau begitu Mas pergi sebentar ya sayang, kamu bisa santai-santai aja di ruangan Mas, terserah kamu mau ngapain." Alden berkata lembut sambil mengusap lembut rambut istrinya. Lalu mendaratkan kecupan lembut di kening istrinya.


Rara hanya tersenyum dan mengangguk. Bryan yang melihatnya ikut tersenyum dengan keromantisan hubungan rumah tangga sahabatnya itu. Ia berharap hubungan mereka berdua akan terus langgeng sampir akhir hayat.


Tapi apakah itu mungkin? Bryan baru saja tidak sengaja melihat seorang wanita tadi pagi saat menuju kantor, wanita yang ia benci karena sudah membuat sahabatnya berubah 180 derajat, yang awalnya sosok seorang yang hangat, tiba-tiba berubah menjadi sosok yang dingin. Tapi sekarang dia kembali, Bryan pastikan tidak akan membiarkan wanita itu bisa menghancurkan rumah tangga sahabatnya, kecuali Alden sendiri yang menginginkannya. Jika sudah seperti itu, maka langkah yang akan dilakukan oleh Bryan adalah menyelamatkan Rara.


Alden dan Bryan lalu keluar dari ruangan itu, meninggalkan Rara sendirian di ruangan tersebut.


Rara lalu berjalan menuju kursi kebesaran suaminya lalu duduk di sana sambil menggerak-gerakkan kursi tersebut.


"Hehe berasa kayak bos gue kalau kayak gini." Rara terkekeh sendiri dengan ulahnya.


"Baiklah, meeting akan kita mulai. Silahkan kepada sekretaris Bryan untuk menjelaskan poin-poin pentingnya." Rara berbicara serius, seolah-olah ia sedang memimpin sebuah meeting besar.


"Gila! Kayaknya gue emang cocok banget jadi bos." Rara bertepuk tangan merasa bangga dengan dirinya. Padahal, ia sama sekali tidak tahu-menahu tentang perusahaan suaminya itu.


Rara lalu mengobrak-abrik meja suaminya, melihat bahkan membuka berkas-berkas yang ada meskipun ia sendiri tidak tahu maksudnya.


Rara lalu membuka laci, mengambil berkas yang ada di dalam laci tersebut, tidak ada rasa takut sedikit pun, karena Rara yakin suaminya tidak akan mungkin memarahinya hanya karena ia lancang.


Ketika Rara mengambil berkas yang ada di dalam laci tersebut. Tanpa sengaja satu lembar foto jatuh dari dalam berkas yang sedang Rara pegang. Rara mengeryitkan alisnya, lalu mengambil foto tersebut yang posisi jatuhnya terbalik.


"Foto apa sih ini?" Rara berbicara dengan dirinya sendiri, lalu membalikkan foto tersebut sehingga menampilkan gambar yang sesungguhnya.


Degg ...


.


.


.


.


Author


Entah akunya yang terlalu baper atau gimana, part ini sedikit membuat aku menangis. Menangis karena orang baik bakal menjadi orang jahat, tapi bukan karena keinginannya, melainkan karena keadaan... Ini yang membuat aku merasa gimana gitu.


Pada dasarnya, tidak ada satu pun manusia yang terlahir jahat dari lahir. Mereka menjadi jahat karena keadaan, keadaan yang memaksa mereka melakukannya. Apakah mereka sadar jika itu perbuatan yang tidak baik? Jawabannya TENTU! Mereka sebenarnya tau jika itu salah, tapi mau bagaimana lagi, mereka ngak punya pilihan :)


Ada juga manusia yang menjadi jahat karena orang baik yang tersakiti


Lope Lope sekebon untuk kak Agustina😘

__ADS_1


__ADS_2