Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen

Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen
Melahirkan Tanpa Suami


__ADS_3

Setelah melihat Diandra yang pergi, Austin sempat melihat Alden yang membopong tubuh Raya. Austin hanya tersenyum sinis, sepertinya wanita itu sedang bermain drama kembali. Ah, ingin sekali rasanya dia melayangkan tamparan keras pada wajah laki-laki br***sek seperti Alden, setelah itu berteriak untuk menyadarkan dia. Bagaimana mungkin laki-laki itu dengan mudah dibodohi oleh Raya? Hanya karena kasihan, dan mempercayai jika wanita itu masih seperti dulu? Andai bukan Abimanyu yang memintanya untuk mengendalikan emosi, maka sudah dapat dipastikan ia akan menghajar habis-habisan laki-laki itu. Lalu Raya? Apakah wanita itu tidak memiliki perasaan? Bagaimana mungkin dia berniat menghancurkan rumah tangga orang lain hanya karena uang satu miliyar? Oke, dia tau alasan wanita itu melakukannya demi anaknya yang sedang sakit. Tapi ... bagaimana mungkin dia malu untuk meminta bantuan pada keluarga Jonshon, sedangkan menghancurkan rumah tangga orang lain dia bersedia? Bukankah itu sedikit aneh?


"Akan ku pastikan kalian menyesal pada akhirnya! Akan ku pastikan lo menyesal Alden, karena sudah menyia-yiakan istri yang sudah menyayangi, bahkan mengandung darah daging lo sendiri!" gumam Austin mengepal tanggannya.


"Dan akan ku pastikan lo akan sangat terpukul Raya! Bahkan mungkin menjadi gila setelah tau rumah tangga siapa yang lo hancurkan!"


"Tunggu saja sebentar lagi!" sinis Austin, lalu segera pergi menuju parkiran. Entah kenapa ia merasa khawatir pada Diandra, takut terjadi sesuatu pada wanita itu.


Ketika berada di parkiran, Austin lalu menjalankan mobilnya mencari keberadaan Diandra. Saat sudah melihat keberadaan Rara, Austin lalu menjalankan mobilnya dengan pelan.


Melihat Rara yang terjatuh sontak membuat Austin membelalak. Apa ia tidak salah liat? Rara terjatuh dalam kondisi hamil besar? Seketika Austin panik, takut terjadi sesuatu yang buruk pada kandungan Rara. Tapi sedetik kemudian Austin tertegun mendengar teriakkan Rara yang terdengar sangat frustasi. Sepertinya wanita itu benar-benar sangat sakit.


Austin memilih untuk diam saja di dalam mobil, meski sebenarnya ia khawatir pada wanita itu sekaligus pada kandungannya. Tapi melihat Rara yang terus memukul batu, sehingga membuat tangan mulusnya berdarah, Austin tidak tinggal diam, apalagi saat melihat wanita itu yang merintih kesakitan. Dia lalu menjalankan mobilnya mendekati Rara, kemudian menyalakan klakson dua kali.


Austin lalu keluar dari dalam mobil, dan menghampiri wanita yang sedang merintih kesakitan itu.


"Di-Diandra, apa kau baik-baik saja?" tanya Austin dengan panik.


"Sa-sakit, Dok! Perut saya sakit!" rintih Rara lagi.


Austin menjadi sangat panik, sepertinya usia kandungan wanita itu memang sudah mencapai sembilan bulan, hanya saja dokter yang salah memprediksi. Tanpa banyak bicara, Austin membantu Rara untuk berdiri, kemudian membantunya masuk ke dalam mobil.


"Bertahanlah Diandra! Kau akan segera melahirkan!" ucap Austin yang langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan maksimal. Austin semakin dibuat panik saat melihat wanita itu yang terus meringis.


"Sa-sangat sakit Dok!" Rara terus meringis sambil terus mencengkram bahu Austin dengan sangat kuat. Austin hanya bisa mencengkram setir mobil ketika merasakan cengkraman Rara yang bukan main, ditambah kuku wanita itu yang cukup panjang.


"Iya, aku tau. Bertahanlah! Sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit," sahut Austin yang semakin panik mendengar ringisan Rara.


"Ra-Rara nggak kuat! Sa-sangat sakit!" Wajah Rara sudah benar-benar pucat.


"Jangan bodoh Diandra! Kau harus kuat, demi anak-anakmu! Jangan jadi wanita lemah! Sudah tiba saatnya kau akan melahirkan!" Austin menambah kecepatan mobilnya agar segera sampai di rumah sakit. Usia kandungan Rara diprediksi baru delapan bulan, tapi melihat air ketuban yang keluar dari bawah sana, Austin dapat menyimpulkan jika dokter salah memprediksi. Itu wajar.


Rara tidak bersuara lagi. Menggigit bibirnya dengan sangat kuat, sehingga tanpa sadar bibirnya berdarah. Mendengar ucapan Austin yang mengatakan jika ia akan segera melahirkan membuat Rara merasa sedih sekaligus bahagia. Merasa bahagia karena akhirnya buah hati yang ia nanti-nantikan akan segera hadir di dunia. Tapi, ia merasa sedih karena harus melahirkan dengan situasi yang seperti ini. Dirinya bingung, apakah harus memberitahukan suaminya atau justru tidak perlu?


"Hiks ... hiks ...." Rara tidak mampu menahan tangisnya. Apakah suaminya tidak akan di sampingnya nanti?


Akhirnya mobil yang dibawa Austin sampai di sebuah rumah sakit tempat dirinya bekerja sebagai dokter kandungan. Austin lalu keluar dari mobil, dan membukakan pintu mobil untuk Rara.


Melihat Rara yang kesusahan, Austin lalu berinisiatif untuk menggendong wanita itu. Tanpa menunggu persetujuan wanita itu, Austin lebih dulu menggendongnya ala bridal style. Rara hanya mampu mengalungkan lengannya di leher Austin.


'Gila, Diandra berat banget sumpah!'


'Kenapa harus orang lain yang membantu aku? Kenapa bukan suamiku?' batin Rara, memandang sendu wajah Austin.


"Suster, siapkan ruangan persalinan sekarang juga!" perintah Austin, lalu berlari ke ruangannya untuk berganti pakaian.


Tak berselang lama, Austin kembali dengan sedikit tergesa-gesa, sehingga membuat ia hampir saja menabrak seorang anak kecil yang menggunakan baju pasien rumah sakit. Austin sedikit tertegun saat melihat wajah cantik anak kecil itu.


'Dia?'

__ADS_1


Austin mengenali anak kecil tersebut. Dia adalah anak Raya. Jadi, anak wanita itu dirawat di rumah sakit ini? Bagaimana mungkin ia tidak pernah bertemu dengan Raya?


"Maaf Om Doktel. Maafin Ina yang nggak liat Om tadi," ucap gadis mungil itu sambil menatap wajah Austin.


Austin tidak membalas, ia hanya mengangguk, kemudian segera berlari menuju ruangan di mana Rara akan melahirkan.


"Bagaimana? Sudah pembukaan ke berapa?" tanya Austin pada seorang perawat saat masuk ke dalam ruangan.


"Sudah masuk ke pembukaan ke delapan, Dok," jawab perawat tersebut.


"Baiklah, terima kasih. Panggil beberapa perawat untuk membantuku!" perintah Austin yang langsung diangguki oleh perawat tersebut, setelah itu perawat tersebut pergi.


"Dok!" panggil Rara dengan suara pelan.


"Iya, kenapa?" tanya Austin saat mendengar suara Rara.


"Bisa hubungi suami saya?" Austin sedikit tertegun mendengar permintaan Rara. Terbuat dari apa hati wanita itu, sehingga masih mengharapkan suaminya yang sudah berkhianat dan berbohong pada dirinya?


"Saya memerlukan dia. Saya memerlukan dukungan dari dia. Bagaimana pun ini adalah anaknya, darah daging dia sendiri," ucap Rara lagi, saat tau jika Austin sedikit tidak suka mendengar permintaannya tadi.


"Baiklah!" Austin lalu memberikan handphonenya pada Rara, karena handphone wanita itu rusak saat terjatuh di jalan tadi.


Rara menerimanya, lalu menekan beberapa angka. Untunglah ia ingat nomor suaminya.


Tut ... tut ..


"Mas ... Rara perlu Mas di sini hiks ... hiks ...." Pecah sudah tangis Rara saat sudah menghubungi suaminya hampir seratus kali, tapi tetap tidak diangkat juga.


Austin yang melihat Rara menangis hanya memalingkan wajahnya, merasa sesak melihat wanita itu menangis pilu. Entah kenapa ia merasa ingin sekali memeluk dan mengatakan 'Biar aku yang menggantikan suamimu', tapi itu tidak mungkin, ia sadar akan posisinya di sini.


Akhirnya Rara menyerah menghubungi suaminya ketika merasakan sakit kembali, karena sudah memasuki pembukaan ke sembilan. Dengan sekuat tenaga Rara menulis pesan terakhirnya pada suaminya.


[ Mas, ini Rara. Rara memerlukan Mas sekarang. Rara akan melahirkan hari ini. Apa Mas tidak mau menemani Rara berjuang? Memperjuangkan anak kita bersama? Rara takut Mas. Rara ingin menggenggam tangan Mas. Rara ingin Mas memberi semangat untuk Rara. Mencium kening Rara selama Rara berjuang. Tapi, kenapa tangan kokoh milik Mas sangat jauh? Apa Rara memang ditakdirkan untuk berjuang sendiri saat ini? Rara memang sangat sakit mengetahui fakta kalau Raya adalah mantan kekasih Mas. Tapi, akan terasa sangat sesak jika Rara justru berjuang sendiri di sini tanpa sosok suami. Kemarilah! Rara sangat memerlukan Mas! ]


"Hiks ... hiks ...." Rara menangis saat tau jika suaminya tidak akan menemaninya untuk berjuang.


"Arggg!" Tiba-tiba Rara mengerang kesakitan, sehingga handphone yang ada di tanggannya terjatuh.


Austin terkejut, sepertinya sudah saatnya wanita itu untuk melahirkan. Austin lalu berlari dengan cepat memanggil dokter kandungan lainnya. Dirinya yang akan menguatkan dan memberi semangat untuk Diandra, karena Alden yang tidak ada kabar.


Tak berselang lama, dokter dan beberapa perawat berlarian dan masuk ke dalam ruangan di mana Rara yang sudah siap melahirkan. Dokter Sopia lalu melakukan pengecekan, untuk melihat apakah sudah waktunya atau belum. Ternyata Rara sudah siap untuk melahirkan.


Sebenarnya Sopia sedikit bingung saat melihat dokter Austin yang berada di samping wanita itu. Di mana suami wanita ini? Begitulah isi kepala Sopia.


"Baik Bu Diandra! Ikuti perintah saya. Tarik napas, setelah itu buang secara perlahan. Ingat, Ibu harus mengejan dengan kuat!" ucap dokter Sopia memberi intruksi.


Rara mengangguk paham.


"Kamu bisa pegang tangan atau rambutku Diandra!" ucap Austin sambil tangannya berada di pucuk kepala Rara.

__ADS_1


"Baik Bu. Satu ..., dua ..., tiga ...."


"Akhhhh! Hiks ...." Rara berteriak dengan sesekali menangis.


"Terus Bu!"


"Akhhh!"


Oek Oek


"Huh ... huh ..." Napas Rara tersenggal-senggal saat berhasil melahirkan anak pertamanya.


"Selamat Bu Diandra! Anak pertama Ibu berjenis kelamin laki-laki," ucap dokter Sopia, lalu menyerahkan bayi mungil itu pada salah satu perawat.


"Selamat Diandra! Makasih karena kamu mau berjuang!" Tanpa sadar Austin menghujani kecupan di kening wanita itu dengan penuh kasih sayang. Sementara Rara hanya tersenyum kecut, bagaimana mungkin pria lain yang menggantikan posisi suaminya? Jika boleh jujur, dirinya ingin menyarah, tapi melihat buah hatinya membuat Rara kembali semangat.


"Argg!" Rara kembali mengerang saat merasakan sakit.


"Baik Bu, ini adalah anak kedua Ibu. Lakulan seperti yang sudah saya perintahkan sebelumnya, ya!" ucap dokter Sopia kembali memerintahkan Rara.


Rara mengangguk patuh, kemudian mulai mengatur napasnya kembali.


"Satu ..., dua ..., tiga ...."


"Arghhh!" Rara terus mengerang.


"Terus Bu ... sedikit lagi!"


"Arghhh!"


Oek Oek


"Wah ... selamat Bu, anak kedua Ibu berjenis kelamin perempuan." Dokter Sopia mengembangkan senyumnya saat melihat bayi mungil yang sangat cantik dan menggemaskan itu.


Rara tersenyum mendengarnya. Tapi entah kenapa ia merasa tidak sanggup lagi.


"Ra-Rara me-menyerah Mas!" Setelah mengatakan kalimat itu, perlahan mata indah wanita itu tertutup rapat.


.


.


.


.


Episode nya sekitar 3-4 lagi sisanya ><


Aku cuman mau bilang kalau cerita ini bakal aku buat cerita baru lagi. Jadi, dilanjutin dengan judul baru ❤😄

__ADS_1


__ADS_2