Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen

Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen
Gaun Pernikahan


__ADS_3

..."Rutinitas perawatan kulit terbaik adalah memiliki uang, yang lain mah bohong"...


...Diandra Latasha Jonshon...


...----------------...


Setelah di tetapkannya tanggal pernikahan Rara dan Alden yang akan di laksanakan minggu depan, hari ini Alden dan Rara rencananya ingin pergi ke butik atas perintah orang tua mereka.


"Hi Ra," sapa Rissa begitu memasuki ruangan kelas.


"Hmm" Rara hanya berdehem menanggapinya.


"Ckk.. napa lo kusut amat?" tanya Rissa yang heran dengan sahabatnya itu.


"Gak ada, gue cuman ngantuk doang," ucap Rara lemas.


"Lah? Lo begadang malam tadi?"


Rara hanya menggeleng menanggapinya.


"Terus kenapa?" tanya Rissa penasaran.


"Ckk.. gara-gara tuh dosen," ucap Rara yang seketika kesal.


"Lah? emang kenapa sama calon suami lo?" tanya Rissa dengan suara sedikit mengejek.


"Ckk.. Gue disuruh emak gue bangun lebih awal, katanya harus belajar bangun pagi lebih awal, terus menyiapkan sarapan, bersih-bersih dan banyak lagi," tutur Rara.


"Lah? itukan emang benar, yang namanya seorang istri harus terbiasa bangun pagi, terus masak, bersih-bersih dan lain-lain. Salahnya dimana?" tanya Rissa yang justru bingung.


"Ya salahlah, gue di bangunin jam 5 pagi tau gak," sewot Rara.


"Ya elah jangan marah-marah mulu napa, lo kan emang harus terbiasa bangun pagi, nyiapin keperluan suami lo nanti, terus masak. Gimana kalo suami lo kerjanya pagi-pagi, kan kasian kalo dia gak sempat sarapan," tutur Rissa memberi pengertian.


Rara yang mendengarnya hanya berdecak kesal, meskipun apa yang di ucapkan Rissa memang ada benarnya.


Tringg...


Handphone Rara berbunyi menandakan ada yang mengirim pesan.


Rara melihat nomor yang tidak dikenal.


[Sehabis pembelajaran nanti datang ke ruangan saya]


Begitulah isi pesannya. Hari ini Rara memang hanya punya 1 mata kuliah.


[Maaf anda salah kirim] balas Rara.


Sebenarnya Rara tau jika itu adalah Alden, tetapi karna ia sedang kesal, maka ia berpura-pura tidak mengenal.


[Saya dosen kamu]


[Ckk.. dosen saya banyak. Siapa sih? jangan sok kenal]


[Saya calon suami kamu]


[Dih, ngaku-ngaku calon suami saya, emang situ siapa?]


[Diandra Latasha Jonshon, saya dosen sekaligus calon suami kamu!!!]


[Hehe canda pak, iya-iya saya bakal kesana nanti, jangan galak-galak pak nanti cepat tua]


Rara terkekeh membaca isi pesannya dan Alden, sedangkan Rissa yang melihat temannya terkekeh justru bingung.


"Napa lo, Kesurupan?" tanya Rissa heran.


Rara yang meyadari jika ia baru saja terkekeh langsung bersikap biasa saja.


"Ehem.. enggak kok, gak kenapa-kenapa," ucap Rara tersenyum pada Rissa.


Rissa yang melihat ada yang aneh dengan sikap sahabatnya hanya mengangkat bahu acuh, kemudian kembali fokus dengan handphone nya.


Skip....


Selesai pembelajaran, semua siswa beres-beres untuk segera pulang ke rumah, begitupun Rara dan Rissa.


"Ra, jalan-jalam yuk, gue bosen nih," ucap Rissa.


"Gue gak bisa Sa," ucap Rara.


"Kenapa?" rengek Rissa.


"Gue disuruh pak Alden ke ruangannya, rencananya kita mau ke butik hari ini," jelas Rara pada sahabatnya itu.


Rara yang mendengarnya langsung tersenyum mengejek.


"Cieee, iya deh yang udah mau jadi istri orang," goda Rissa.


"Apaan sih Sa, lo mau gue bunuh hah?" ucap Rara kesal sekaligus malu.


"Uhh atut deh, ya udah deh semoga bersenang-senang dengan pak suami," ejek Rissa segera pergi sebelum mendapat amukan dari macan.


"Masih calon Sa," pekik Rara kesal, untungnya teman-temannya sudah pulang semua.


Rissa yang mendengarnya hanya tertawa tanpa menghentikan langkahnya.


Sedangkan Rara akhirnya berjalan menuju ruangan Alden.


.


.


Tok-tok


"Masuk!" ucap Alden dari dalam.

__ADS_1


Rara kemudian masuk kedalam.


"Ada apa pak?" tanya Rara begitu masuk ke dalam ruangan.


Alden yang sedang mengetik sesuatu di komputernya seketika berhenti, lalu menatap Rara dengan alis yang berkerut.


"Apakah saya perlu menjawabnya?" tanya Alden datar.


"Ya elah pak, kan saya cuman basi-basi doang, jangan datar-datar mulu napa sama calon istri," goda Rara.


"Calon Istri? bukannya kamu sangat menolak perjodohan ini awalnya, sampai-sampai kamu nangis sambil guling-guling dilantai seperti anak kecil yang tidak dibelikan ice cream," ejek Alden.


Rara yang mengingatnya seketika malu, ia juga tidak tahu mengapa ia melakukan hal tersebut, ide itu tiba-tiba muncul dikepalanya, tetapi dua hari setelah itu ia mulai menerima perjodohan ini, 'toh pak Alden juga ganteng, jadi gak akan menghancurkan keturunannya nanti' begitulah pemikiran Rara.


"Ya elah pak, masa lalu biarlah masa lalu, jangan kau ungkit jangan ingatkan aku masa lalu biarlah masa lalu," ucap Rara sambil menyanyikan lagu dangdut.


"Hmm, tunggu sebentar, saya harus menyelesaikan ini dulu," ucap Alden yang tidak menghiraukan nyanyian Rara.


Rara hanya mengangguk saja, kemudian dia mengeluarkan benda pipih miliknya dari tas, dan mulai berselancar di media sosial.


"Ayo berangkat," ucap Alden pada Rara yang masih sibuk dengan handphone nya.


Rara yang mendengarnya hanya mengangguk, lalu menyimpan handphone nya didalam tas, kemudian berjalan mengikuti calon suaminya itu, tetapi ia berjalan menjaga jarak, agar tidak di curigai oleh mahasiswa lain, dan Alden tidak mempermasalahkan itu.


Sesampainya di parkiran, Alden dan Rara segera naik mobil dan berangkat menuju salah satu butik terkenal di daerah itu.


"Kita mau ke butik mana pak?" tanya Rara.


"Butik yang menjual baju pengantin," jawab Alden datar sambil fokus mengendarai mobilnya.


Rara yang mendengarnya tentu kesal, ia juga tau jika mereka akan pergi ke butik yang menjual baju pengantin, tidak mungkin kan mereka pergi ke tempat yang menjual kain kafan.


Sedangkan Alden yang melihat Rara cemburut justru merasa gemes.


"Akhh rasanya gw pengen makan deh ni bocah" batin Alden.


"STOP!" pekik Rara tiba-tiba.


Alden yang mendengarnya langsung menghentikan mobilnya mendadak, untungnya jalan sedang sepi sehingga tidak terjadi kecelakaan.


"Ada apa?" tanya Alden khawatir.


Rara lalu menunjuk keluar jendela, Alden yang melihatnya tentu bingung.


"Mau bakso," rengek Rara.


Alden yang mendengarnya hanya melongo, hanya karna bakso Rara sampai menghentikan mobil mendadak di tengah jalan, apakah ia tidak tahu jika hal itu berbahaya.


"Ckk.. belum juga di apa-apain udah kayak orang ngidam aja" batin Alden kesal.


"Iya nanti," ucap Alden singkat.


"Maunya sekarang," rengek Rara lagi sambil menggoyangkan lengan Alden.


"Tapi nanti kamu pas mencoba gaun di sana malah gak muat, udah nanti aja sehabis pulang," tutur Alden.


"Huh iya deh, habis pulang nanti," ucap Rara lesu.


Alden hanya tersenyum tipis, kemudian melanjutkan perjalanan menuju butik yang sudah ia tentukan.


Akhirnya mereka sampai ke sebuah butik yang besar, Alden dan Rara segera turun dari mobil dan masuk ke dalam butik tersebut.


Rara benar-benar terpukau dengan bangunan butik tersebut, baju yang tersedia juga benar-benar sangat bagus dan pastinya terlihat sangat mahal.


"Selamat datang Pak Rey dan Bu Diandra," sapa semua pelayan menunduk hormat.


Rara tentu terkejut melihat mereka yang berjejer rapi, 'apakah mereka sepenting itu' pikirnya.


"Pak Rey?" tanya Rara yang tak mengerti, pasalnya ia tidak pernah mendengar calon suaminya itu dipanggil dengan nama tersebut.


Alden yang melihat kebingungan di wajah Rara hanya tersenyum.


"Siapkan 10 gaun pengantin yang paling terbaik!" perintah Alden datar.


"Baik Pak," ucap mereka serempak, lalu membubarkan diri untuk menyiapkan 10 gaun yang diminta.


"Ya udah ayok duduk disana," ucap Alden kepada Rara.


Rara hanya mengangguk, kemudian mereka berjalan menuju tempat duduk yang disediakan sambil menunggu para pelayan itu menyiapkan pesenan mereka.


"Pak" panggil Rara.


"Hmm"


"Gimana kalo kita nikahnya agak beda dari yang lain," ucap Rara bersemangat.


"Maksud kamu?" tanya Alden yang memang tidak mengerti maksud Rara.


Rara lalu mengeluarkan handpone nya dari dalam tas, lalu membuka galery dan menunjukkan sebuah foto kepada Alden.


"Nih, gimana kalo kita nikahnya gini?" tanya Rara bersemangat sambil menunjukkan sebuah foto.




Alden lalu mengalihkan pandangannya ke handphone Rara, seketika ia melotot melihatnya.


"Kamu gila?" pekik Alden spontan.


Para pelayan yang sedang menyiapkan gaun yang diminta seketika terkejut mendengar pekikkan dari Alden, tak terkecuali Rara, ia sangat terkejut mendengarnya, terlebih lagi jaraknya dengan Alden sangat dekat, sehingga telingganya sakit mendengarnya.


"Ya kalo enggak, gak usah pake teriak segala pak," ucap Rara memegang telinganya.


Alden yang menyadari sikapnya langsung diam, ia lalu mengubah mimik wajahnya menjadi dingin dan datar.

__ADS_1


Rara tak berani lagi bertanya saat melihat wajah calon suaminya itu, ia hanya diam memainkan handphone nya.


"Maaf Pak, gaun yang diminta sudah disiapkan," ucap seorang pelayan dengan ramah.


"Hmm, ya udah sana coba!" perintah Alden pada Rara.


Rara lalu mengikuti sang pelayan ke ruang ganti, ia lalu memilih gaun pertama yang akan ia coba.


Akhirnya pilihan Rara jatuh pada gaun yang memiliki pola cukup mengembang dan terdapat beberapa mutiara di bagian dadanya.


Rara lalu memakainya dan kemudian keluar dari ruang ganti untuk meminta pendapat Alden.


"Gimana pak?" tanya Rara meminta pendapat, Alden seketika mengalihkan pandangannya ke Rara.


Alden terkagum melihat Rara yang sangat cantik dengan gaun itu, ia bahkan tak berkedip sedikitpun.


"Astaga kenapa dia cantik sekali?" batin Alden.


"Pak" ucap Rara menyadarkan Alden dari lamunannya.


"Ehem ganti," ucap Alden datar.


"Yahhh padahalkan saya suka sama gaun yang ini," ucap Rara mengembungkan pipinya.


"Ganti!" ucap Alden lagi.


Rara sangat kesal dengan Alden, ia kembali keruang ganti untuk mencoba gaun lainnya.


"Gimana kalo yang ini?" tanya Rara pada Alden.


"Ganti!"


Begitu seterusnya, Alden selalu mengatakan ganti, sehingga Rara harus kembali keruang ganti terus menerus.


"Gimana?" tanya Rara tak berminat, ini adalah gaun yang ke 9 yang Rara sudah coba.


"Ganti!"


"Akhh Alden sialan" batin Rara sambil menatap jengkel calon suaminya itu, Alden yang ditatap hanya bersikap acuh.


Akhirnya Rara kembali ke ruang ganti untuk mencoba gaun yang terakhir, jika masih tidak cocok, maka akan dipastikan Rara akan manghabisi Alden.


"Gimana?" ketus Rara.


"Ganti!"


"Ganti, ganti, ini udah gaun yang terakhir," ketus Rara sambil menatap jengkel calon suaminya.


Alden yang mendengarnya sontak berpikir sebentar.


"Baiklah kita ambil gaun yang pertama," ucap Alden santai


Rara yang mendengarnya sontak melotot, bagaimana mungkin calon suaminya itu dengan mudah mengatakan ganti pada semua gaun yang ia coba, apakah ia tidak berpikir seberapa ribetnya memakai dan melepas kembali gaun-gaun tersebut, kenapa ia tak katakan dari tadi jika pilihannya jatuh pada gaun yang pertama.


"MAKSUD BAPAK APAAN?" teriak Rara menggelegar.


Lagi dan lagi para pelayan yang ada disana dibuat terkejut, sedangkan Alden ia sempat terkejut sebentar, tetapi setelah itu ia kembali bersikap biasa.


"Kenapa?" tanya Alden pura-pura tidak mengerti


"KALO BAPAK MEMILIH YANG PERTAMA, KENAPA SAYA HARUS MENCOBA SEMUANYA?" teriak Rara kesal, ia tak peduli ia berada di mana sekarang.


"Saya hanya melihat perbandingannya saja, yang mana lebih cocok, dan saya pikir gaun yang pertama lebih bagus," jawab Alden santai


"Haha bapak masih punya dendam dengan saya?" tanya Rara sambil tertawa garing.


"Tidak mungkin saya punya dendam dengan istri saya yang imut-imut ini," ucap Alden tersenyum manis.


Rara yang mendengarnya tentu kesal, apalagi saat mendengar kata imut-imut yang Alden ucapkan, kata yang pernah Rara ucapkan dulu. Rara merasa jika Alden sedang mengejeknya.


Rara yang tidak mau kalah, tentu membalas omongan calon suaminya itu.


"Ya iyalah, bapak baru sadar kalo saya emang imut, emang kaya situ yang udah tua opss gak sengaja," ucap Rara meledek.


Alden yang mendengarnya tentu kesal, niat hati ingin mengerjai Rara, justru ia yang dibuat malu olehnya.


"Oh btw gimana asam urat sama kolestrol nya pak? apakah bermasalah?" tanya Rara menirukan seperti seorang dokter.


Alden yang mendengarnya sontak melotot, Rara benar-benar mempermalukannya di depan orang-orang, bagaimana mungkin ia memiliki asam urat dan kolestrol sedangkan ia masih muda.


"Akhh nih bocah, jago banget bikin orang malu, mana gak setengah-setengah lagi" batin Alden


Alden bersumpah akan berpikir dua kali jika hendak mengerjai Rara lagi, karna jika salah langkah maka dapat dipastikan senjata makan tuan.


"Ekhem, saya pilih gaun yang pertama," ucap Alden kepada para pelayan itu.


"Baik pak," ucap salah satu pelayan itu sambil tersenyum.


"Rara cepat ganti bajumu, kita akan pulang segera, karna ini sudah jam 5 sore," ucap Alden


Rara hanya menganguk, tetapi di dalam hatinya ia justru merasa puas sudah berhasil mengerjai Alden, lalu ia pergi ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya.


"Ya udah ayok," ucap Rara pada Alden saat ia sudah mengganti pakaiannya.


.


.


.


♡♡♡♡♡


Author


Sesuai janji ku kalau aku double up hari ini yeayy.

__ADS_1


Jangan lupa like,love, hadiah and commant guys biar aku makin semangat.


babay semua nya


__ADS_2