
..."Jika kata maaf bisa mengobati luka hati, maka dapat dipastikan akan ada banyak jiwa yang tersakiti"...
...Diandra...
...••••••••••••••...
"Makasih banyak Za," ucap Rara saat mobil milik Reza sudah berada di dekat rumah Alden. Rara memang sengaja meminta Reza untuk tidak mengantarkannya sampai depan rumah.
"Sama-sama. Yaudah gue pergi ya. Bye."
Melihat Reza yang sudah pergi, Rara menghembuskan napasnya. Jika boleh jujur, ia sangat malas untuk kembali ke rumah terkutuk milik suaminya, apalagi jika harus melihat wajah Alden yang sangat memuakkan di matanya. Tapi mau bagaimana lagi, tidak mungkinkan ia menghindar begitu saja? Bagaimana pun ia harus menyelesaikan semuanya.
Rara lalu masuk ke dalam rumah dengan wajah yang sangat dingin, tidak ada senyuman yang menghiasi wajahnya, yang ada hanya sorot mata tajam. Tidak ada lagi Rara yang manja, tidak ada lagi Rara yang polos, semuanya sudah tergantikan dengan Rara yang dingin.
*********
Alden sedang duduk di ruang tamu, kembali menantikan kedatangan istrinya yang Bryan katakan akan kembali hari ini.
Saat Alden mendengar jika istrinya akan kembali hari ini, Alden sontak saja memasak banyak makanan untuk menyambut kedatangan Rara. Ia memasak semua makanan kesukaan Rara, bahkan laki-laki itu sampai membeli sebuket bunga besar untuk istrinya. Senyum terus ditampilkan Alden. Ia berharap Rara akan memaafkannya kali ini.
Ceklek
"Assalamualaikum." Meski malas untuk berbicara, tapi bukankah dalam agama Islam tetap harus mengucap salam? Meski kamu sedang marah, tapi tetaplah mengucap salam, karena itu kewajiban seorang muslim.
"Wa'alaikumsalam. Kamu udah pulang sayang? Kamu dari mana aja?" Alden lalu berjalan mendekati istrinya, berniat untuk memeluk dan mencium aroma tubuh Rara yang menjadi candu untuknya.
"Stop!" perintah Rara dengan suara dingin. Rara bukannya tersentuh melihat makanan dan buket bunga yang besar, tapi justru muak. Apakah seperti ini perlakuan seorang laki-laki jika ada kesalahan? Dengan memberikan bunga? Berharap dengan itu akan dimaafkan? Apakah laki-laki itu menganggap kesalahan yang kembali dia buat hanya kesalahan kecil? Ah, Rara sontak ingin tertawa kencang, lalu memaki dan menampar wajah tampan suaminya.
"Sayang, Mas minta maaf karena mengingkari janji Mas lagi." Alden memohon kepada istrinya, berharap Rara mau memaafkan dan memberikan kesempatan lagi kepadanya.
"Jika kata maaf bisa mengobati luka hati, maka dapat dipastikan akan ada banyak jiwa yang tersakiti," balas Rara dengan datar.
__ADS_1
"Alasan apa lagi yang pengen lo kasih. 'Mas terpaksa Ra, Ella sangat membutuhkan Mas saat itu' gitu, ya?" tanya Rara sambil terkekeh, ia bahkan sudah mengubah gaya bahasanya menjadi lo gue. Tidak ada lagi sopan santun terhadap suaminya.
"R-Ra, Mas minta maaf. Mas minta maaf karena udah ngingkarin janji lagi ke kamu." Alden bahkan menjatuhkan dirinya, berlutut memohon agar Rara mau memaafkannya.
"Maaf?" kekeh Rara. "Lo pikir dengan semudah itu minta maaf? Lo dengar baik-baik Alden. Di mana ada perempuan yang sanggup bertahan saat tau suaminya mengotori pernikahan dengan melakukan hal menjijikkan? Di mana perempuan yang sanggup bertahan saat suaminya selalu berbohong dengan alasan yang sama? Di mana perempuan yang sanggup bertahan saat suaminya masih terikat dengan masa lalu? Bahkan lebih memilih mantan kekasihnya dari pada istrinya sendiri? DI MANA?!" teriak Rara dengan bentakkan di akhir kalimat. Sepertinya wanita itu sudah tidak mampu menahan emosinya.
"L-lo mikir nggak sih perasaan gue?" Akhirnya air mata yang sudah Rara tahan mati-matian mengalir dengan deras. "L-lo mikir nggak gimana sakitnya gue saat lo lebih mentingin mantan lo? Gue sakit Al! Gue perempuan! Hati gue nggak sekuat baja! Gue bukan Tuhan yang akan terus memaafkan kesalahan umatnya. G-gue cuman perempuan biasa," ucap Rara dengan lirihan di akhir kalimat.
Alden hanya diam mendengar semua perkataan istrinya. Air matanya menetes mendengarnya. Apakah istrinya memang sesakit ini?
"Apa lo pikir gue setuju lo ngebantuin mantan lo? Gue tau niat lo baik, lo cuman kasihan, lo cuman bantuin dia. Gue nggak bermaksud untuk jahat sampai melarang lo buat bantuin dia. Tapi coba lo tanya, lo cari, di mana perempuan yang akan rela ketika suaminya ingin membantu wanita lain secara berlebihan? Tolong lo bawa wanita kayak gitu ke depan gue. Gue penasaran apakah perempuan kayak gitu emang ada?" Rara terus mengeluarkan semua uneg-unegnya dengan sesekali sesenggukkan akibat menangis.
"Lo seorang Dosen, tapi lo benar-benar bodoh! Gue emang nggak tau apa lo masih punya perasaan sama mantan lo atau lo benar-benar hanya kasihan. Tapi kalau itu kasihan, bukankah terlalu berlebihan?"
"Kalau cewek itu benar-benar baik, dia nggak mungkin minta tolong sama lo yang nyatanya udah punya istri. Lo pikir pakai otak Alden! Apa mungkin itu wajar? Apa lo nggak mikir kalau cewek itu berniat menghancurkan rumah tangga kita?" teriak Rara sambil menakan dadanya yang terasa sesak.
"Ella nggak mungkin kayak gitu sayang," lirih Alden. Alden percaya 100% jika Ella tidak mungkin berniat menghancurkan rumah tangganya. Alden sangat kenal dengan wanita itu. Ella adalah perempuan yang sangat baik, jadi itu tidak mungkin!
"Mas sangat sayang sama kamu Ra. Mas bahkan hampir gila saat kamu meninggalkan Mas selama tiga hari ini." Alden ikut meneteskan air matanya. Ia benar-benar hampir gila saat Rara meninggalkan dirinya.
"Lalu kenapa lo nggak percaya sama gue? Kenapa lo justru lebih percaya sama dia?" tanya Rara dengan suara bergetar.
"Karena Mas sudah mengenal Ella sangat lama. Ella wanita baik, dia nggak mungkin berniat menghancurkan rumah tangga kita. Bahkan alasan Mas nggak jemput kamu karena saat itu dia tiba-tiba ngedrop." Alden tetap kekeh jika Ella adalah wanita baik.
"Dan lo tau di mana gue selama ini?" tanya Rara dengan napas memburu. Alden tentu menggeleng, ia tidak tau di mana istrinya selama ini.
"Ha-ha, gue di rumah sakit! Gue hampir mati karena terlalu lama terkena air hujan. Gue bodoh, ya? Iya, karena gue percaya lo nggak akan ngingkarin janji lo lagi. Tapi apa? Gue udah nunggu di sana selama hampir dua jam, dengan tubuh yang menggigil! Gue bodoh karena udah percaya sama laki-laki kayak lo tau nggak! Hiks ..." teriak Rara dengan air mata yang terus mengalir.
"Gue emang wanita lemah! Tapi gue nggak sebodoh itu untuk terus bertahan! Gue bukan wanita bodoh yang ingin terus bertahan sementara harga diri gue diinjak-injak! Bagaimana mungkin lo meminta maaf, tapi setelah itu melakukan kesalahan yang sama? Hello, lo nggak amnesia, kan Alden?" Rara lalu menyeka air matanya dengan kasar. Merasa tidak pantas untuk menangis.
"Lo tau? Manusia berhak mendapatkan kesempatan kedua, tapi kesempatan kedua udah lo sia-siakan. Gue udah kecewa banget sama lo Alden! Apa seseorang berhak mendapat kesempatan ketiga? ITU TIDAK BERLAKU UNTUK DIANDRA! Jangan pernah lo berharap gue akan ngasih kesempatan lagi!" Setelah mengatakan itu, Rara lalu berjalan menaiki tangga, masuk ke dalam kamar untuk mengambil sesuatu.
__ADS_1
Sementara Alden, tubuhnya membeku, berusaha mencerna baik-baik ucapan Rara. Tidak mendapat kesempatan ke tiga? M-maksudnya? Apakah Rara tidak akan pernah memaafkan dirinya? Apakah Rara akan meninggalkannya?
Tak berselang lama, Rara keluar dengan membawa tas kecil miliknya. Wanita itu lalu berjalan mendekati suaminya. Mengeluarkan kartu black card yang pernah suaminya berikan. Melepas kalung dan gelang yang Alden belikan. Tapi Rara tidak melepas cincin yang ada di jari manisnya.
"R-R-Ra, maksud kamu apa?" tanya Alden terbata-bata.
"Rara akan pergi!" jawab Rara dingin.
Alden yang mendengarnya sontak menjatuhkan dirinya, laki-laki itu berlutut, bahkan memeluk kaki Rara, memohan agar Rara memaafkannya untuk kali ini. Alden bahkan menangis dengan histeris.
"Enggak Ra! Kamu nggak boleh pergi! Tolong kamu maafin Mas untuk kali ini! Mas berjanji tidak akan berurusan lagi dengan Ella! Mas janji Ra! Tolong jangan pergi hiks ... hiks ...." teriak Alden sambil terus menangis. Laki-laki itu menggeleng kuat, tidak ingin istrinya pergi.
"Rara masih pertahankan cincin pernikahan ini. Jika kesalahan yang sama terulang kembali, maka dengan terpaksa cincin pernikahan ini akan Rara lepas! Rara hanya pergi ke rumah Ayah dan Bunda. Jangan khawatirkan tentang anak-anak, Rara masih mampu jika harus mengurus mereka sendiri tanpa seorang ayah!" ucap Rara dingin, lalu melepaskan tangan Alden yang melingkar di kakinya, berjalan keluar dan masuk ke dalam taksi yang sudah ia pesan.
Tubuh Alden ambruk melihat kepergian istrinya. Laki-laki itu menangis histeris di ruang tamu tersebut, membanting semua makanan yang baru saja ia buat.
"R-Ra jangan tinggalin Mas hiks ... hiks ...."
.
.
.
.
Kalau aku berhenti nulis selama seminggu aja boleh nggak sih🤧? SAYUTI LELAH BWANG ....
Sedang berada di fase bingung. Ada yang minta pokoknya pisah, cerai. Tapi ada juga yang minta jangan sampai cerai Thor. Nggak kompak banget sih jawaban kalian ><
Kalau aku sih, ibaratnya kalau manusia bisa nangis darah, aku pengen banget liat Alden nangis darah! Wanita mana yang sanggup suaminya hampir kebablasan sama wanita lain. Iya kalau cuman pelukan, inikan udah ciuman, mana jamah menjamah. GAK RELA SIH AKU!! JIJAY BWANG!!....
__ADS_1