
..."Sungguh kalian pacaran dengan gaya yang sangat menjijikkan"...
...Rara & Alden To Rissa & Satya...
...------------------...
"Hah?"
"Siapa namanya?" tanya Alden memastikan.
"Namanya Yaya," balas Rara.
"Namanya aneh banget sih," kekeh Alden.
Rara yang mendengarnya ikut terkekeh, Rara juga sependapat dengan suaminya, menurutnya sebutan Yaya sedikit aneh, tapi mau bagaimana lagi, itu merupakan nama kesayangan yang Rara berikan khusus buat sahabatnya, karna jika orang lain yang memanggil, Raya biasa dipanggil dengan sebutan Ray atau Ay.
"Ya udah kapan-kapan kita kesana. Kamu pokoknya harus pamer keteman kamu itu kalo suami kamu ini gantengnya luar biasa," ucap Alden percaya diri.
"Cih.. mas jangan kege'eran, dia orangnya gak kayak gitu, dia tuh orangnya gak mudah terpesona dengan laki-laki," ucap Rara dengan sinis.
"Kalo misalnya pas liat mas dia terpesona gimana?" tanya Alden sambil menaik turunkan alisnya.
"Ya kalo mas ngerespon, Rara bakal bikin mas jadi sate," ketus Rara kesal.
Alden yang mendengarnya hanya terkekeh saja, ia sangat suka melihat istrinya kesal.
"Kamu tenang aja Ra, mas gak bakalan tergoda sama perempuan lain selain kamu kok," ucap Alden sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Dih... mas makin hari kok makin mesum sih," sinis Rara.
Alden yang mendegarnya hanya tertawa saja, kemudian melanjutkan aktivitas makannya.
Selesai makan, mereka lalu berjalan menuju parkiran, untungnya para mahasiswa sudah pulang, mungkin hanya ada beberapa dosen yang masih sibuk.
Saat berjalan menuju parkiran, mereka tak sengaja bertemu dengan buk Rosalina.
"Eh pak Alden," ucapnya tersenyum ramah.
Alden hanya tersenyum sekilas tanpa berniat menyapa balik.
"Diandra kan?" tanya Rosalina sambil menatap Rara.
"Iya buk," jawab Rara sopan.
"Pada mau kemana?" tanyanya lagi.
"Saya mau mengajak istri saya jalan-jalan," ucap Alden santai.
"Istri? Ja-jadi Diandra ini istri pak Alden," ucap buk Rosalina sedikit terkejut.
"Iya dia istri saya," ucap Alden tegas.
"Pantes bapak dikantin tadi kesal sambil melihat Rara," kekehnya.
"Ya udah kalo gitu saya permisi ya," lanjutnya sopan.
Alden dan Rara mengangguk saja, kemudian saat buk Rosalina sudah pergi, mereka lalu lanjut berjalan menuju parkiran.
.
.
"Kita mau kemana?" tanya Alden saat mereka sudah masuk kedalam mobil.
"Ke mall aja, Rara mau beli sesuatu," ucap Rara tersenyum misterius.
Alden lalu menjalankan mobil sesuai perintah istrinya, ia menjalankan mobilnya menuju mall terbesar dikota itu.
.
.
Saat sampai, mereka lalu turun dan masuk kedalam mall tersebut.
Alden yang tidak tahu Rara ingin membeli apa hanya mengekori kemana istrinya pergi.
Rara lalu masuk kedalam toko yang menjual pakaian dalam wanita, Alden tentu melotot melihatnya, bagaimana mungkin istrinya itu membawanya keteko itu, sungguh Alden sangat malu sekali, tetapi mau bagaimana lagi, ia tidak mungkin meninggalkan istrinya itu sendirian.
"Sayang kamu masih lama?" tanya Alden.
Sungguh Alden sangat malu saat beberapa ibu-ibu melihatnya dengan tatapan menjijikan.
"Masih! Emang kenapa?" tanya Rara polos.
"Jangan lama-lama ya sayang, mas juga mau beli pakaian buat mas," ucap Alden dengan maksud agar istrinya segera keluar dari bagian dalam wanita.
"Ya udah tinggal beli aja, apa susahnya kan, Rara gak papa kok ditinggalin," ucap Rara santai.
__ADS_1
"Ya mana mungkin mas ninggalin kamu sendiri sayang."
"Ya udah mas tunggu diluar tokonya aja, entar kalo Rara udah selesai Rara keluar kok," ucap Rara tersenyum manis.
Alden yang mendengarnya sejenak berpikir, ada benarnya juga apa yang diucapkan istrinya, lebih baik ia menunggu diluar saja, daripada ia harus malu ditatap jijik oleh para ibu-ibu.
"Ya udah mas tunggu kamu diluar ya, jangan lama-lama lho," ucap Alden yang lalu mengacak singkat rambut istrinya.
Rara tidak menjawab, ia hanya tersenyum pada suaminya.
Saat melihat suaminya sudah keluar, Rara lalu berjalan kebagian pojok, dimana disana berjejer banyak sekali baju tipis yang sering disebut sebagi lingerie, Rara lalu memilihnya, dan pilihannya jatuh pada lingerie yang berwarna merah dan hitam. Rara lalu membawanya kemeja kasir.
"Buat nyenangin suaminya ya mbak," ucap mbak kasir tersebut sambil tersenyum yang menurut Rara menjengkelkan.
"Ckk.. nih orang kepo banget sih," batin Rara sambil menatap jengkel
"Enggak mbak, buat main sama tetangga," ucap Rara asal.
"Eh?" Mbak kasir tersebut sangat terkejut mendengar penuturan pelanggan didepannya.
"Ckk.. mbak kok kepo banget sih," ucap Rara jengkel sekaligus malu.
"Maaf ya mbak," ucap mbak kasir tersebut yang merasa sedikit tidak enak karna sudah membuat pelanggannya kesal.
"Ya udah buruan itu," ketus Rara lagi.
Mbak kasir tersebut langsung segera menghitung jumlah belanjaan pelanggan yang menurutnya sedikit mengesalkan.
"Ini pesanannya mbak. Makasih karna sudah berbelanja disini," ucapnya sambil menyerahkan dua paper bag dan kartu black cardnya.
Rara tidak menanggapinya, ia hanya berdehem saja, lalu mengambil paper bag dan black card miliknya lebih tepatnya milik suaminya.
Setelah itu Rara keluar dan mendapati suaminya yang pura-pura sedang fokus dengan handphonenya, padahal yang Rara lihat tidak ada yang penting, hal itu tentu membuat Rara terkekeh.
"Maaf ya mas karna udah buat mas nunggu lama," ucap Rara sedikit merasa bersalah.
"Gak papa kok, kamu udah belanjanya?" ucap Alden tersenyum paksa.
"Nih udah kok," ucap Rara sambil mengangkat 2 paper bag yang berisi lingerie dan ****** ***** yang cukup saxy.
"Ya udah sini biar mas yang bawanya," ucap Alden berniat membantu istrinya membawakan belanjaanya.
"Eh gak perlu deh mas, biar Rara aja yang bawa, lagian gak berat kok," ucap Rara yang sedikit menyembunyikan paper bagnya kebelakang.
"Ya udah, kamu mau kemana lagi?" tanya Alden lembut.
"Ya udah deh, mas mau beli pakaian dalam juga," ucap Alden yang berniat mengerjai istrinya.
Sedangkan respon Rara, ia hanya biasa saja, ia mengangguk santai mendengar penuturan suaminya.
Mereka lalu masuk kedalam toko daleman laki-laki. Rara, dia hanya diam saja, menunggu suaminya selesai memilih daleman. Rara sama sekali tidak merasa malu, ia bersikap biasa saja, tidak seperti suaminya yang malu-malu.
Alden tentu sedikit bingung melihat daleman dengan berbagai warna dan merk, ia tidak terlalu pandai memilih daleman.
Akhirnya Alden memilih daleman dengan sembarangan.
Rara yang melihatnya tersenyum tipis, lalu berjalan manghampiri suaminya berniat menolongnya.
"Sini Rara bantuin mas," ucap Rara sambil tersenyum tipis.
"Ini kurang bagus mas, kualitasnya kurang, terus karetnya juga jelek, nanti cepat kendor," jelas Rara sambil meletakkan kembali daleman yang ada digenggaman suaminya.
Alden tentu sedikit terkejut, bahkan ia terngaga mendengar penjelasan istrinya.
"Kamu tau darimana?" tanya Alden penasaran.
"Rara tuh tau merk-merk yang bagus mas," ucap Rara, lalu mengambil beberapa daleman dengan kualitas baik.
"Nih," ucap Rara menyerahkan beberapa daleman untuk Alden.
Alden lalu menerimanya dan lalu pergi untuk membayarnya.
"Kita mau kemana lagi?" tanya Alden pada istrinya.
"Rara mau beli boneka, boleh ya ya," rengek Rara sambil mengeluarkan puppy eyesnya.
Alden sangat gemes melihat wajah imut istrinya itu, apalagi dengan bibir Rara yang sengaja ia majukan untuk menambah kesan imut, rasanya Alden ingin sekali melahap habis bibir cery Rara itu.
"Apasih yang enggak buat buk istri," kekeh Alden.
Lalu mereka berjalan menuju toko yang menjual berbagai jenis boneka.
Saat sedang memilih boneka, samar-samar Rara mendengar suara yang ia kenal.
"Aku mau yang ini yang."
"Udah ambil aja, apasih yang enggak buat pacarku yang paling cantik ini."
__ADS_1
"Jadi makin sayang deh sama kamu."
"Aku juga sayang banget sama kamu."
Sungguh Rara sangat jijik mendengarnya. Perlahan Rara berjalan mendekati suara menjijikkan itu, dan benar saja, ia melihat orang yang ia kenal sedang bermesraan, tetapi dimata Rara itu justru menjijikkan.
"JADI KALIAN PACARAN!" pekik Rara.
Alden yang awalnya sedang fokus dengan telepon genggamnya seketika berlari menyusul istrinya saat mendengar suara istrinya nyaring.
Saat Alden mendekat, ia sedikit terkejut melihat kakak iparnya berduaan dengan sahabat istrinya.
"Ada apa sayang?" tanya Alden pada istrinya.
"Mereka pacaran mas," ucap Rara yang masih dengan suara cukup nyaring.
Alden yang mendengarnya sedikit terkejut, tapi beberapa saat kemudian, dia tersenyum sinis sambil menatap sepasang kekasih tersebut.
Berbeda dengan mereka, Satya dan Rissa justru malu tertangkap basah sedang berbelanja bersama.
"Jawab gue Sa, lo pacaran sama abang gue?" tanya Rara sambil menatap tajam sahabatnya itu.
Rissa yang masih sedikit malu hanya mengangguk lemah, kemudian bersembunyi didada bidang Satya, hal itu justru semakin membuat Rara jijik dan geli dengan kelakuan sahabatnya.
"Tinggu dulu... selama ini yang lo maksud sebagai doi lo itu siapa? bang Sat?" tanya Rara.
"Bang Satya dek!" tegur Satya yang kesal dengan panggilan adiknya itu, apalagi sekarang ada pacarnya yang mendengar.
"Iya, ayang Satya," cicit Rissa.
Rara yang mendengarnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, sungguh ia tidak menyangka dan bahkan tidak pernah melihat tanda-tanda sahabatnya menyukai abangnya.
"Dan abang, siapa maksud abang gadis yang sedang abang kejar?" tanya Rara yang masih ingat jika abangnya pernah mengatakan ada seorang gadis yang ia sedang kejar.
"Ya Rissa lah dek," ucap Satya santai.
"Sumpah gue gak nyangka kalian pacaran. Kok lo bisa-bisanya sih suka sama bang Sat Sa?" tanya Rara sambil menatap heran sahabatnya.
Satya yang mendengarnya sontak menatap tajam adiknya itu.
"Maksud lo apa dek? Emang apa yang salah sama gue," ketus Satya yang merasa sedikit ejekan pada kalimat adiknya.
"Banyak bang Sat," celetuk Alden.
"Nah benar tuh kata laki Rara," ucap Rara yang membenarkan ucapan suaminya.
"Ckk.. kagak adek kagak adek ipar, sama aja gak ada akhlak, mana kagak sopan lagi manggilnya," ucap Satya kesal.
"Lagian kok bang Sat mau sih sama Rissa."
"Emang yang salah dari gue apa Ra," ucap Rissa sedikit ngegas mendengar ucapan sahabatnya itu.
"Banyak Sa, lo kan agak-agak mereng," ucap Rara asal.
"Sembarangan lo Ra, ingat kalo gue itu calon kakak ipar lo," ucap Rissa sambil terkekeh pelan.
"Idih... ya udah deh mas, kita pergi aja," ucap Rara yang langsung menggandeng tangan suaminya.
"Gak jadi beli boneka?" tanya Alden heran.
"Gak jadi, ogah banget Rara beli boneka yang udah dijamah sama mereka, naji* mas," ucap Rara.
"Sembarangan lo Ra, emang kita haram apa," ketus Rissa yang kesal mendengar ucapan pedas Rara.
"Emang," ucap Rara acuh, lalu pergi dengan menggandeng tangan suaminya.
"Sialan! Kok gue gak tau ya kalau mereka dekat," batin Rara kesal.
Alden yang sejak tadi hanya menjadi pendengar hanya terkekeh mendengar ucapan pedas istrinya itu.
Alden dan Rara akhirnya pulang kerumah, kebetulan jam juga sudah menunjukkan pukul 5 sore.
.
.
.
Author
Ada yang emang udah nebak dari dulu gak sih kalo cowok yang dimaksud Rissa adalah Satya, dan cewek yang dimaksud Satya adalah Rissa.
Iya jadi mereka itu emang udah saling cinta, jadi yang jomblo cuman aku doang disini.
Ya udah itu aja, moga kalian suka hehe.
Jangan lupa tinggalin jejak ya.
__ADS_1