
..."Kalau kamu terlalu berpikiran terbuka, otakmu akan melompat keluar"...
...Diandra Latasha Jonshon...
...---------------------...
"APA CCTV!" pekik mereka bersamaan.
"Mas ya yang pasang CCTV ini?" tanya Rara kesal.
"Astagfhirullah Ra, Mas memang berencana memasang CCTV, tapi Mas masih belum beli," bantah Alden.
Mereka lalu berpikir sejenak siapa yang sudah lancang memasang CCTV tersebut, seketika mucul satu nama dipikiran mereka, bik Asih! Mungkin beliau yang tau.
"Bibik!" teriak Rara.
"Eh iya non, ada apa?" tanya bik Asih yang langsung berlari saat mendengar teriakan majikannya.
"Siapa aja yang pernah masuk rumah ini selama bibik bekerja?" tanya Rara langsung.
"Gak ada non, cuman non sama tuan aja," ucap bik Asih sambil mengingat.
"Eh... waktu bibik pertama kerja disini, orang tua non sama orang tua tuan datang kemari non, katanya pengen liat-liat sekeliling aja," lanjut bik Asih yang seketika ingat.
Rara yang mendengar penuturan bik Asih seketika melotot, berarti CCTV tersebut sudah dipasang sejak lama, berarti orang tua beserta mertuanya sudah melihat apa saja yang sudah mereka lakukan. Rara seketika marah sekaligus malu saat mengingat apa saja yang pernah mereka lakukan di ruang tamu maupun didapur.
"Ambil CCTV itu Mas," perintah Rara dengan suara dingin.
Alden yang mendengar suara mengerikan dari istrinya sedikit merinding, tanpa basa basi Alden segera berlari mengambil kursi, lalu meletakkannya didepan foto pernikahan mereka, ia lalu menurunkan foto tersebut, dan mengambil benda kecil itu, kemudian memberikannya kepada istrinya.
Rara menerimanya, lalu mendekatkan benda kecil itu kedepan wajahnya yang sedang sangat marah.
.
.
"E-eh kita pulang duluan ya," ucap seorang perempuan saat monitor di komputer tersebut menayangkan wajah mengerikan seorang gadis lebih tepatnya perempuan.
"Eh... sembarangan aja, gak bisa gitu dong, kita harus sama-sama menghadapi ini," sewot perempuan satunya.
"Aku kayaknya ada tugas penting dikantor yang harus segera diselesaikan, sepertinya aku harus pergi," ucap seorang laki-laki.
"Iya, suamiku ada tugas penting, dan aku harus menemaninya, kita harus segera pergi," ucap perempuan itu menambahi.
"Tidak ada yang boleh pergi!" ucap laki-laki satunya sambil menekankan suaranya.
"Kita hadapi sama-sama musibah ini," lanjutnya yang mengatakan jika ini adalah sebuah musibah.
"Tapi nanti dia mengamuk," ucap perempuan itu lagi.
"Lalu apa kabar denganku, dia pasti lebih marah padaku," ketus perempuan satunya.
"Baiklah, kita hadapi musibah ini sama-sama," ucap laki-laki itu.
Mereka hanya perlu menunggu beberapa saat lagi, setelah itu dapat dipastikan akan datang bencana besar yang akan menerpa mereka.
.
.
Rara lalu berjalan menuju ruang tamu untuk mengambil handphonenya, bahkan Rara tidak sadar jika area bawah miliknya sedang sakit, sedangkan Alden ia bingung apa yang harus ia lakukan, ia hanya mengikuti kemana istrinya berjalan.
Rara lalu mengambil handphonenya dan mulai menelepon seseorang.
[Halo bang Sat] ucap Rara saat panggilannya sudah masuk.
[Ckk... bang Satya dek, lo asal ngomong aja, mana kagak ngucap salam lagi]
[Assalamualaikum bang Sat]
[Ckk... bang Satya dek. Wa'alaikumsalam, kenapa lo nelpon gue? Kangen?]
[Bunda sama ayah dimana?]
[Lah... kenapa lo gak telpon ayah aja.]
[Bunda sama Ayah dimana?] teriak Rara kesal.
[B-Bunda sama Ayah lagi dikantor, kebetulan ada papah Mike sama mamah Elena]
Tut...tut...
Setelah mendapat jawaban dari abangnya, Rara segera mematikan sambungan telepon tanpa mengucap salam.
Sedangkan Satya yang sedang berada diruangannya sangat kesal dengan adiknya, bisa-bisanya adiknya tidak memiliki sopan santun seperti itu.
"Ambil kunci mobil Mas, kita jalan sekarang," ucap Rara yang seperti perintah.
Alden hanya seperti orang bodoh, ia menuruti apa yang istrinya ucapkan, ia lalu berjalan naik keatas untuk mengambil kunci mobilnya.
__ADS_1
Setelah itu mereka segera pergi.
"Jalan!" perintah Rara dingin.
"Kemana?" tanya Alden memasang wajah polos.
"Ckk... Mas kok gak bisa ngeliat situasi sih, kita bakal ke kantor Ayah," ketus Rara kesal.
"Ngapain?" tanya Alden lagi.
"Ya Allah, ini suami Rara atau bukan sih, kok lemot banget," batin Rara berteriak.
"Jalan sesuai perintah Rara," ucap Rara dingin.
Alden yang mendengar suara mengerikan istrinya langsung tancap gas tanpa berani bertanya lebih banyak, ia takutnya istrinya akan mengamuk, bahkan istrinya sampai lupa jika ia sedang merasa sakit diarea bawah, sungguh Alden hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Perasaan dulu yang dingin gue deh, kok sekarang malah bini gue," batin Alden.
Sepanjang perjalan, Rara terus menatap benda kecil itu dengan tatapan tajam sambil tangannya bergerak dileher.
Mereka yang melihat itu dari komputer hanya bisa menelan saliva dengan kasar.
.
.
Tak terasa akhirnya mereka sampai dikantor milik Ayah Rara. Tanpa basa basi Rara segera keluar dari mobil dan berjalan cepat masuk kedalam kantor tersebut, lalu berjalan menuju ruangan ayahnya. Tidak ada yang menegur Rara, karna mereka tau siapa Rara.
Alden yang melihat istrinya berjalan dengan normal hanya bisa menganga, bukankah beberapa jam lalu Rara merasakan sangat sakit? Tapi sekarang ia berjalan layaknya orang normal.
"Sumpah istri gue emang ajaib, tadi pagi aja dia merintih kesakitan, tapi sekarang... dia bahkan mampu berlari," ucap Alden dengan suara pelan, lalu berlari menyusul istrinya.
Brakk
Rara mendobrak pintu dengan sangat kasar sehingga mereka yang ada didalam ruangan terkejut.
Rara dapat melihat orang tua beserta mertuanya sedang duduk didepan komputer, tanpa basa basi Rara segera berjalan melihat apa yang sedang mereka tonton, dan sesuai perkiraan Rara, di dalam komputer itu sedang menayangkan wajahnya dan sesekali lantai.
Mereka yang ada diruangan tersebut tentu sangat terkejut dengan kehadiran Rara yang tiba-tiba, sebenarnya mereka tidak fokus melihat komputer itu sejak Rara dan Alden berada di mobil, mereka larut dengan pikiran mereka masing-masing, dan mereka tidak menyangka secepat itu Rara menemukan mereka.
"Wah... Hahaha." Tawa Rara pecah didalam ruangan tersebut.
Alden yang baru sampai tentu sedikit terkejut mendengar tawa istrinya yang lebih terdengar tawa paksa.
"Maksud kalian apa masang SISITI dirumah kami!" teriak Rara menggelegar, bahkan ia tidak peduli meskipun yang ada dihadapannya adalah orang tua dan mertuanya.
"CCTV Ra," ucap Alden memperbaiki ucapan istrinya.
"Emosi," ucap Alden lagi.
"Ckk... Mas bisa diam enggak sih," ketus Rara yang jengkel dengan suaminya.
Alden yang melihat kekesalan yang luar biasa diwajah istrinya seketika langsung diam. Sedangkan Rara kembali melayangkan tatapan tajam pada empat orang didepannya.
"Maksud kalian apa masang CCTV dirumah kami, JAWAB!" ucap Rara dengan sedikit bentakan diakhir kalimat.
"Kita cuman penasaran Ra," cicit Elmira memberanikan diri menjawabnya, sedangkan yang lain hanya menunduk saja.
"Cih... penasaran, tau gitu Rara pasang juga CCTV dikamar bunda sama ayah, biar Rara bisa nonton tiap hari sekaligus belajar," ucap Rara asal sambil berdecih.
"Eh... sembarangan kamu Ra, dosa tau gak ngintip kegiatan orang," celetuk Elena, tapi setelah sadar, ia segera membekap mulutnya.
"Ckk... gak usah sok ngomongin dosa Mah, sadar diri, lalu apa kabar dengan kalian yang asal pasang CCTV dirumah Rara," ucap Rara yang menyebutkan rumah miliknya.
"Bukannya itu rumah Alden ya Ra," celetuk Abimanyu.
"Loh... Mas Alden kan suami Rara, jadi milik Mas Alden milik Rara juga, lagian kata Mas Alden kalo kita cerai, semua harta miliknya akan menjadi milik Rara," ketus Rara sambil menatap tajam ayahnya.
"Astagfhirullah sayang, Mas cuman bilang kalo harta Mas harta kamu juga, Mas gak ada bilang kalo Mas akan menceraikan kamu," ucap Alden yang tidak suka dengan ucapan istrinya.
"Mas... diam!" ucap Rara sambil mengarahkan dua jarinya kematanya lalu kemata Alden.
Alden yang melihat gerakan tangan istrinya langsung kicep.
"Rara tanya, sejak kapan benda ini dipasang dirumah Alden?" tanya Rara menyebut nama suaminya tanpa embel-embel Mas ataupun Pak.
"Buset dah... istri gue manggil gue kagak ada sopan-sopannya," batin Alden.
"Sejak kamu masih dirumah sakit," cicit Elena.
"Terus kenapa kalian kepikiran memasang benda sialan ini?" tanya Rara lagi dengan suara rendah tapi justru terkesan mengerikan bagi mereka semua.
"Soalnya Satya bilang kamu pernah ciuman di rumah sakit sama Alden," cicit Elmira.
Rara yang mendengarnya sontak melotot, jadi biang keroknya sebenarnya abangnya.
"Sial! Ini semua gara-gara bang Sat, kagak Rissa kagak bang Sat sama-sama ember, gimana kalo mereka udah punya anak nanti, yang ada anak mereka jadi baskom," gerutu Rara dalam hati.
"Ckk... satu keluarga ternyata kagak ada yang beres, kagak abang, kagak orang tua, kagak mertua, semuanya pada gila, gak ada yang warasnya," cerocos Rara tanpa memperdulikan siapa saja mereka. Saat ini yang Rara tahu ia hanya ingin marah dan ingin melampiaskan semuanya, bagaimana ia tidak marah, ia dan suaminya sering berciuman baik didapur maupun diruang tamu, hal itu tentu membuat Rara sangat malu.
__ADS_1
"Astaga Ra, kamu kok gak sopan banget," tegur Abimanyu dengan sedikit kesal saat mendengar penuturan putrinya yang blak-blakan.
"Ckk.. gak usah sok ngomong gak sopan Yah, orang yang kepo sampai masang beginian lebih gak sopan," ucap Rara sambil menekankan kata lebih.
Abimanyu yang mendengarnya langsung diam, apa yang diucapkan putrinya tentu sangat benar sekali. Sedangkan Mike, tanpa sadar ia justru terkekeh saat melihat sahabat sekaligus besannya yang langsung diam.
"Papah Mike kenapa ketawa, ada yang lucu?" ketus Rara sambil menatap jengkel mertuanya.
Mike yang ketahuan sempat tertawa langsung terdiam juga, hal itu tentu membuat Abimanyu tersenyum tipis, lebih tepatnya tersenyum mengejek, karna ia tahu Mike tertawa karna melihatnya yang langsung terdiam. Sedangkan Alden hanya terdiam menyaksikan pertunjukkan yang ada tanpa berani mengeluarkan sepatah katapun.
Sungguh Rara sangat marah sekarang, tak ada satupun dari mereka yang tidak dapat semprotan dari Rara, semua Rara sikat, tak pandang siapa yang ada didepannya, sekalipun mereka adalah orang tuanya terlebih lagi mertuanya, Rara sama sekali tidak takut.
"Rara tanya, siapa yang mengusul untuk memasang benda sialan ini?" tanya Rara dengan suara rendah.
"Elena," ucap Elmira spontan.
"Loh kok aku, inikan idenya Mike," protes Elena.
"Loh kok malah aku, ini semua idenya Abimanyu," protes Mike juga.
"Loh kok aku sih Mike, inikan idenya Elmira," ucap Abimanyu yang ikutan protes.
"Loh kok kamu malah nyalahin aku sih Mas, inikan id-"
"CUKUP!" teriak Rara kesal.
"Sebenarnya siapa sih yang gak waras disini," ucap Rara pelan sambil memijit pelipisnya.
"KAMU," ucap mereka bersamaan, setelah itu mereka saling pandang, lalu segera membekap mulut mereka masing.
"Maksud kalian apaan? Jadi yang gak waras disini Rara," ketus Rara kesal.
"Enggak kok Ra," ucap meraka bersamaan, tetapi sayangnya kepala mereka justru mengangguk.
Rara yang melihatnya tentu semakin kesal.
"ARGG" teriak Rara kesal.
"Cih... kagak orang tua, kagak mertua sama-sama gila," ketus Rara sambil berdecih.
Mereka yang mendengar ucapan Rara tidak marah, mereka justru menipiskan bibir mereka menahan tawa, hal itu justru semakin membuat Rara kesal.
Rara lalu melempar dan menginjak-injak benda kecil itu sambil terus bergerutu. Mereka yang menyaksikannya hanya terdiam membisu tanpa berani mengucapkan sepatah kata, sungguh Rara sangat mengerikan saat ini.
Setelah selesai menghancurkan benda sialan itu, Rara lalu menatap satu persatu mereka dengan tajam, mereka yang ditatap Rara hanya menunduk, tak terkecuali Mike dan Abimanyu, mereka juga ikut menunduk.
Karna merasa sudah mengeluarkan uneg-unegnya, Rara lalu keluar dari ruangan itu dengan menghentakkan kaki.
Melihat Rara yang sudah keluar, Alden lalu tersenyum pada orang tua beserta mertuanya dengan senyum mengejek.
"Gak nyangka orang tua sama mertua Al bakal kicep ngadepin istri Al," kekeh Alden, kemudian segera menyusul istrinya.
Dipertengahan jalan, Rara ternyata bertemu dengan abangnya yang sedang membawa dokumen, sepertinya ingin membawanya keruangan ayah.
Satya tersenyum melihat adiknya, tetapi Rara justru membalasnya dengan tatapan tajam.
"Dasar bang Sat, ini semua gara-gara lo bang Sat," ketus Rara, lalu segera pergi.
Satya yang mendengarnya tentu jengkel sekaligus bingung maksud adiknya.
"Dasar bang Sat, ini semua gara-gara lo bang Sat," ketus Alden mengikuti ucapan istrinya, lalu segera menyusulnya.
"Astagfhirullah, datang-datang langsung marah, mana kagak sopan lagi manggilnya," gerutu Satya sambil mengelus dada.
Satya lalu berjalan menuju ruangan ayahnya untuk menyerahkan beberapa dokumen yang memang harus ditanda tangani olehnya.
Satya lalu masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Mereka yang ada didalam ruangan tersebut seketika mengalihkan pandangan mereka saat merasakan ada seseorang yang masuk.
Saat melihat yang masuk ternyata adalah Satya, mereka semua langsung memberikan tatapan tajam padanya. Satya tentu sedikit bingung melihat mereka yang melihatnya dengan tatapan seperti itu, Satya hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kenapa?" tanya Satya memberanikan diri bertanya dengan suara pelan.
"Dasar bang Sat, ini semua gara-gara kamu bang Sat," ucap mereka secara bersamaan.
"ASTAGFHIRULLAH YA ALLAH, APA SEBENARNYA SALAH HAMBA?" teriak Satya yang langsung menjatuhkan dirinya kelantai, lalu bersandar pada dinding layaknya seperti orang yang paling menyedihkan.
.
.
.
Author
Astaga gak kebayang punya menantu kayak Rara, pedes coyy, semuanya aja kicep
Gak kebayang juga kalo punya mertua kayak mereka yang keponya astagaa.
__ADS_1
Kasihan amat sama bang Sat yang dijadikan pelampisan oleh mereka semua, mana kagak sopan lagi manggilnya.