
"APA?" Rara benar-benar dibuat terkejut mendengar ucapan sahabatnya. Untungnya kelas masih cukup sepi, hanya beberapa saja.
"L - lo gak bercanda, kan?"
"I - iya Ra, gue bakal di jodohkan sama bokap gue kalau gue gak menikah secepatnya," ungkap Rissa.
"Tunggu - tunggu, maksud lo?" Rara masih belum mengerti maksud Rissa secara kesaluruhan.
"Bokap gue bilang kalo gue belum bisa bawa calon menantu selama seminggu ini, maka dengan terpaksa dia bakal ngejodohin gue dengan orang pilihannya." Rissa sudah tidak menangis lagi saat melihat para mahasiswa yang sudah berdatangan.
"Jadi maksud lo, lo gak bakal dijodohin kalo lo berhasil bawa calon menantu dalam minggu ini, gitu?" tanya Rara yang mulai paham maksud Rissa.
"Iya."
"Yaudah, kenapa lo gak bawa bang Sat aja?" Rara masih bingung, bukannya Rissa mempunyai kekasih, tetapi kenapa ia justru menangis seperti ini.
"G - gue gak bisa Ra .... "
"Maksud lo? Lo ngak suka sama abang gue?" tanya Rara yang mengira jika Rissa sudah tidak mencintai abangnya.
"Bukan gitu, tapi ... gue takut abang lo justru ngira gue cewe murahan, gue takutnya abang lo justru ngira gue yang enggak-enggak dan gue takutnya abang lo belum siap. Lo sendiri taukan kalau kita baru beberapa bulan doang," jelas Rissa dengan suara pelan.
Akhirnya Rara paham secara keseluruhannya, jadi Rissa hanya berpikir jika mungkin abangnya belum siap, padahal abangnya juga sebenarnya ngebet pengen cepat-cepat nikah dengan Rissa.
"Udah lo tenang aja, serahin semuanya sama sahabat lo yang cantik membahana ini." Rara berbicara sambil menepuk dadanya.
"Maksud lo?"
"Udah, lo jangan banyak omong, gue punya solusi yang paling top markotop," ucap Rara sambil tersenyum misterius. Mendengar curhatan Rissa, entah mengapa ia tiba-tiba memiliki ide licik untuk mengerjai abangnya.
"Dan lo juga jangan nangis mulu, lo tuh udah jelek, jadi makin jelek kalo nangis."
"Ishh kok lo jahat banget sih sama gue," ucap Rissa kesal.
Rara tidak peduli, dia lalu duduk di kursinya. Tak berselang lama, dosen masuk dan pembelajaran dimulai.
.
.
[Mas, Rara pulang sama Rissa, tapi Rara gak langsung pulang ke rumah. Rara bakal ke rumah bunda dulu, ada hal penting yang perlu diselesaikan, jadi Mas langsung ke rumah bunda aja ya.]
Satu pesan terkirim. Rara memang memilih untuk pulang bersama Rissa, tetapi tidak dengan supirnya. Rara sudah meminta Rissa untuk menyuruh supirnya pulang saja, lalu mengajak Reza ikut bersama mereka tanpa memberitahukan ke mana mereka akan pergi. Awalnya Reza tidak mau, tetapi akibat godaan 200 ribu yang ditawarkan Rara, akhirnya Reza mau ikut dengan mereka meskipun ia tidak tahu kemana mereka akan membawanya.
"Ra, lo ngapain bawa nih curut?" tanya Rissa heran sambil menunjuk Reza yang sedang mengemudi.
"Ada deh. Rahasia. Oh iya, sekarang lo kirim sms ke Ayang Bebek lo itu, lalu suruh dia pulang karna lo bakal ke rumahnya hari ini." Rara memilih untuk menyuruh Rissa saja yang meng-sms abangnya, karena jika dia yang meng-sms abangnya, Rara yakin abangnya tidak akan mau pulang.
"Ckk ... Ayang Bebep Ra, bukan Ayang Bebek," ketus Rissa, lalu mengirim pesan pada Satya sesuai seperti yang diperintah oleh Rara.
"Udah," ucap Rissa.
Rara yang mendengarnya hanya mengangguk paham saja, setelah itu tidak ada lagi obrolan di antara mereka, mereka semua larut dengan pikiran mereka masing-masing, Rara yang tidak sabar membayangkan reaksi abangnya nanti, Rissa yang gelisah karena takut Satya justru menolaknya, dan Reza yang terus membayangkan bakso milik buk Siti, tetapi tetap fokus menyetir.
Hingga akhirnya mobil tiba di rumah Abimanyu. Mereka bertiga lalu segera turun dari dalam mobil, dan berjalan masuk kedalam rumah. Ternyata, Alden dan Satya sudah sampai lebih dulu, karena memang mereka menyempat makan bakso lebih dulu atas permintaan Reza yang mengatakan jika ia sudah sangat lapar.
"Lo gak ada niat mau pingsan Ra?" bisik Reza saat melihat ada sang dosen juga.
"Maksud lo?" Rara justru menatap bingung Reza.
"Ya kalo lo mau pingsankan gue bisa bantu angkat, lumayan dapat 500 ribu."
"Ba*gsat lo Za," ketus Rara.
Alden yang melihat kedekatan istrinya dengan mahasiswanya yang bernama Reza itu sontak menatap tajam laki-laki itu, berani-beraninya dia dekat-dekat dengan istri kesayangannya itu.
Alden lalu bangkit dan berjalan mendekati istrinya, lalu merangkul pingang istrinya dan menatap tajam Reza.
"Buset, tatapannya itu lho, setajam silet," ucap Reza sambil menirukan berita yang ada di TV.
"Sopanlah sedikit dengan dosenmu!"
'Ckk ... mentang-mentang dosen'
__ADS_1
Reza hanya mengangguk saja tanpa berani melawan, karena ia masih memikirkan nasib nilainya jika ia berani melawan sang dosen.
"Ayang kenapa tiba-tiba datang ke sini? Kangen sama Aa ya?" tanya Satya sambil terkekeh.
"Ckk ... Aa Aa, lo pikir orang bisu," ketus Rara yang jengkel mendengar ucapan abangnya yang menurutnya sangat menggelikan.
"Cih ... bilang aja lo iri karena cowok lo biasa aja," sinis Satya.
Rara hanya menatap abangnya jengah, ia tidak tahu saja seperti apa sikap suaminya jika di rumah.
"Oke kita mulai pembicaraannya." Rara langsung menarik tangan Rissa dan Reza menuju sofa, sedangkan Alden ia tinggal, hal itu tentu membuat Alden melotot, bisa-bisanya Rara justru menarik tangan laki-laki lain dan mengabaikannya.
Sebelum memulai pembicaraan, Rara menarik nafas terlebih dahulu. "Lo sayang sama Rissa, kan?" Sambil menatap lekat mata abangnya.
"Ckk ... yaiyalah dek, pertanyaan macam apa itu. Gue emang benar-benar suka dan sayang sama Ayang Rissa."
"Dan gue punya berita buruk buat lo .... " Rara menggantungkan ucapannya dan melihat reaksi abangnya.
"Berita buruk?" beo Satya.
"Iya, Rara punya berita yang sangat buruk buat abang, berita buruknya adalah .... " Rara sengaja mengantung ucapannya untuk melihat reaksi abangnya. "Rissa akan dijodohkan," lanjut Rara.
"Oh, cuman di jodohkan." Satya hanya mangut-mangut mendengar penuturan adiknya, tapi beberapa saat kemudian ia melotot.
"Apa? Dijodohkan? Maksud kamu apa Yank?" Satya sontak menatap kekasihnya untuk meminta penjelasan.
"Ngak git-"
"Dan yang lebih parahnya, Rissa akan dijodohkan dengan laki-laki yang ada di sebelah Rara ini," ucap Rara memotong ucapan Rissa, ia ingin bermain-main terlebih dahulu dengan abangnya.
Semua orang yang ada di ruangan tersebut sontak melotot, tak terkecuali Rissa dan Reza. Rissa langsung menatap Rara, sedangkan Rara tidak memperdulikannya, ia terus menatap abangnya.
"Ka - kamu serius Yank?" tanya Satya sambil menatap kecewa kekasihnya.
"Ngak git-"
"Iya, dan pernikahannya akan di adakan bulan depan." Lagi dan lagi Rara memotong perkataan Rissa, ia tidak memberikan kesempatan Rissa untuk berbicara.
"Ja - jadi .... "
"Maksud lo?" tanya Satya heran.
"Kalo lo ngak segera menghalalkan Rissa, maka Rissa akan dijodohkan dengan laki-laki di samping Rara, yaitu Reza, seseorang yang sangat mencintai Rissa," tutur Rara yang pastinya sedikit berbohong.
Satya yang mendengar ucapan Rara yang mengatakan jika laki-laki yang duduk di sebelahnya juga mencintai Rissa sontak melotot, ia segera beranjak dan berjalan mendekati Reza, lalu ....
Bughh
Satu bogeman mentah mendarat di pipi Reza sehingga membuat Reza terjatuh.
"Aduh!" pekik Reza saat merasakan sakit yang luar biasa.
Rara yang melihatnya hanya mampu meringis membayangkan sakit yang Reza rasakan.
"Gue tambahin jadi 500 deh Za," cicit Rara.
"Jadi maksud lo gue harus segera menghalalkan Rissa, gitu?" tanya Satya memastikan.
"Iya, lo harus segera menghalalkan Rissa, kalo enggak, dia bakal dijodohin sama orang lain."
"Assalamualaikum."
Tiba-tiba Abimanyu dan Elmira masuk dan sedikit heran melihat banyak orang di dalam rumah mereka, ada apa? Begitulah pemikiran mereka.
"Ada apa rame-rame?" tanya Elmira heran.
Satya langsung menatap bundanya. "HUA ... SATYA PENGEN NGAWININ RISSA BUNDA." Satya segera berlari mendekati orang tuanya.
"Maksudnya?" Abimanyu dan Elmira masih belum paham maksud putra mereka.
Satya lalu menceritakan semuanya dari awal sampai akhir tanpa ada yang terlewatkan. Abimanyu dan Elmira yang mendengarnya mengangguk paham.
"Yaudah, secepatnya kita akan melamar nak Rissa." Elmira semangat mengatakannya, ia senang jika putranya bersanding dengan Rissa, karena ia tahu seperti apa kepribadian gadis itu.
__ADS_1
Baik Satya maupun Rissa sama-sama bahagia, mata mereka langsung berbinar saat mendapat restu dari Abimanyu dan Elmira.
"Yeay! Rissa, I'm coming! Siap-siap 10 ronde!" teriak Satya heboh.
*******
"Ckk ... kamu masih mikirin tuh cewek?" tanya sang Kakak yang melihat adiknya terbengong.
"Gue masih mikirin cara buat ngehancurin mereka Kak," jawab sang adik sambil menghembuskan napas kesal.
"Ckk ... kenapa kamu ngebet banget pengen ngehancurin mereka?" Sang kakak justru bingung dengan pemikiran adiknya.
"Lo sendiri taukan kalau gue udah pengen sesuatu, maka gue harus dapetin itu. Lagian mereka udah buat kesalahan yang besar menurut gue." Mata sang adik seketika menatap tajam ke arah depan saat membayangkan kejadian memalukan saat itu, ia benar-benar tidak terima wajah tampannya ditampar oleh orang lain, dan ia juga tidak rela karna sudah dibohongi oleh perempuan yang sempat ia incar.
"Yaudah, daripada kamu mikirin dia, mending kamu main sama kakak aja," ucapnya sambil menggerlingkan matanya.
"Gue lagi malas kak."
Sang kakak tentu tidak terima dengan penolakkan adiknya, ia langsung mendudukkan dirinya di atas pangkuan sang adik.
"Come on, baby." Ia langsung mengalungkan tangannya di leher milik sang adik, lalu mencium bibirnya dengan cukup kasar.
Laki-laki itu yang memang sedang tidak mood langsung mendorong kakaknya dengan sedikit kasar.
"Gue lagi ngak nafsu kak," tolaknya halus.
"Ayolah sayang ... kamu tau kan kalau papah lagi kerja, sedangkan Kakak lagi pengen banget," rengeknya.
Sang adik tetap menolak karna ia memang sedang tidak ingin bermain, tetapi perempuan itu tentu tidak peduli dengan respon sang adik, dengan sengaja tangannya turun ke bawah dan memegang bahkan mengusap lembut pusaka milik sang adik.
"A-ah Kak, kau benar-benar ganas!" des*hnya yang benar-benar merasa enak saat miliknya dielus dengan lembut bahkan sesekali diremas.
"Ayolah sayang, Kakakmu ini sudah tidak tahan," bisik perempuan itu dengan se*sual tepat di telingga sang adik.
Sang adik tentu langsung ter**gsang dengan ulah dan suara sang kakak, tanpa basa-basi ia langsung mencium bahkan mel*mat kasar bibir milik sang kakak. Perempuan itu tidak mau kalah, ia justru membalas ciuman sang adik dengan ganas juga.
Puas bermain dengan bibir manis kakaknya, sang adik lalu melepaskan ciuman mereka, lalu lanjut mencium leher sang kakak, membuat banyak kiss mark di sana. Tanganya tentu tidak tinggal diam, tangannya mulai bergerilya di bukit kembar milik kakaknya.
"Akh ... te-terus sayang." Tangan perempuan itu menjambak rambut adiknya, menikmati setiap ciuman bahkan remasan yang diberikan.
"Ja-jangan permainkan aku!" teriak sang kakak saat jari adiknya sudah masuk ke dalam goa miliknya.
Karna sudah tidak tahan, sang kakak lalu mendorong sang adik dan langsung membuka seluruh pakaian milik adiknya. Mereka bahkan tidak peduli meskipun sekarang mereka sedang berada di halaman belakang. Ia langsung memasukkan milik sang adik kedalam mulutnya, lalu mulai bermain.
"Akh te-terus sa-hyang," racau laki-laki itu saat merasakan kenikmatan yang luar biasa ketika miliknya diisap oleh sang kakak.
Merasa sudah ingin mencapai kl**aks, laki-laki itu langsung menarik keluar miliknya, lalu membaringkan sang kakak, ia lalu membuka seluruh pakaian yang masih melekat di tubuh indah kakaknya itu. Setelah itu menyatukan miliknya dan milik sang kakak dengan sedikit kasar.
Laki-laki itu langsung memompa sang kakak dengan cukup kasar, sang kakak justru merasa nikmat, bahkan terus men**sah dan mengeluarkan suara-suara aneh.
"Akh-ah-ah le-lebih ce-cepat sah-yanghhh." Perempuan itu terus mendesah di bawah kungkungan sang adik.
"Sah-yanghhh a-aku pe-pengen ke-keluar."
"Bersama Kak." Sang adik semakin mempercepat pompaannya.
"Akhhh." Mereka berdua kompak berteriak saat sudah mencapai kli**ks.
Laki-laki itu langsung menjatuhkan tubuhnya disamping kakaknya.
"L-lo udah minum obat, kan?" tanyanya sambil menatap sang kakak yang kelihatan sangat puas dengan permainan mereka.
"Kamu tenang aja, Kakak udah minum kok. Kalau pun kakak hamil, Kakak pasti bakalan menggugurkannya," jawab sang kakak sambil mengelap keringat adiknya.
Sang adik hanya mengangguk saja. Benar juga! Jika kakaknya hamil, maka mereka hanya perlu menggugurkannya dan bermain kembali seperti biasanya.
Mereka kambil berbaring di pulau rerumputan yang ada di halaman belakang rumah, mereka bahkan tidak peduli jika tiba-tiba para pelayan melihat adegan panas yang baru saja mereka lakukan. Para pelayan yang ada di rumah itu pun biasa saja, mereka sudah terbiasa melihat pergulatan panas keluarga itu, baik di dapur, di ruang tamu, bahkan di halaman belakang.
.
.
.
__ADS_1
.
Moga alurnya masih aman dan nyambung aja ya wkwk ><