
"ADUH!" pekik Alden yang merasakan sakit dibokongnya, setelah itu mata Alden terpejam.
Rara yang masih bisa mendengar teriakkan suaminya langsung menengok kebelakang, alangkah terkejutnya ia melihat suaminya yang tergeletak diatas tanah dengan mata yang terpejam.
Rara segera berlari menghampiri suaminya yang terlihat tidak berdaya itu.
"Mas! Bangun Mas!" ucap Rara sambil menepuk pelan pipi Alden.
"Hua ... Rara belum siap jadi janda kayak buk Diyah. Bangun Mas!" ucap Rara dengan sedikit tangisan lebay.
"Mas jangan mati duluan! Warisannya masih belum atas nama Rara Mas," ucap Rara lagi.
"Lagiankan Rara belum nyari pak suami baru, entar deh nyambung matinya kalau Rara udah dapat pak suami baru," lanjut Rara.
"Sayang? Kamu itu khawatir sama Mas atau sama harta Mas," ucap Alden lemah, ternyata ia tidak pingsan, hanya saja rasa sakit yang ia rasakan membuatnya memejamkan mata.
"Lagian kalau misalnya Mas mati, kamu mau nyari suami baru?" lanjut Alden bertanya. Jujur Alden sangat kesal dengan istrinya, bagaimana mungkin istrinya malah mengkhawatirkannya hanya karna takut janda dan hartanya yang belum atas nama Rara.
"Saya tanya, apa yang kalian lakukan!" teriak buk Diyah lagi memotong pembicaraan Rara.
Rara lalu memberanikan diri menatap buk Diyah.
"Lagi nyuri," tutur Rara dengan polos.
Alden yang mendengarnya hanya bisa menepuk jidat mendengar pengakuan istrinya, apakah istrinya tidak bisa sedikit bohong.
"Berani-beraninya kalian mencuri mangga muda ku!" teriak buk Diyah lagi dengan kesal, lalu mulai mendekat kearah Rara dan Alden.
Entah datang keberanian darimana, Rara lalu menatap tajam buk Diyah yang juga sedang menatap tajam dia. Sedangkan Alden, ia berusaha untuk bangun.
"Emang ibu sanggup makan nih mangga?" ketus Rara sambil menunjuk mangga-mangga yang sudah jatuh.
"Lho... itu terserah saya, saya mau apakan mangga itu terserah saya!" balas buk Diyah sewot.
"Ckk... ibu kok pelit banget sih, orang cuman minta dikit doang," ketus Rara lagi.
Sedangkan Alden memilih untuk diam saja, ia malas ikut campur dalam perdebatan sengit mereka.
"Minta? Apakah kalian ada mengatakannya kepada saya sebelumnya jika kalian minta? Kalian itu sedang nyuri," ketus buk Diyah sambil terus menatap tajam Rara.
Rara tentu tidak mau kalah, ia justru ikut menatap tajam buk Diyah.
"Ibunya aja yang gak dengar, orang kita tadi udah permisi kok," sewot Rara.
"Kapan? Kok saya gak denger tuh," ucap buk Diyah yang tau jika Rara sedang berbohong.
"Lho tadi ... pas kita masuk kedalam halaman rumah ibu, kita udah bilang buk Diyah yang cantik membahana, kita minta mangga mudanya ya, terus ibu bilang iya ambil aja, gak papa kok, ambil aja sepuas-puasnya, jadi yaudah kita ambil aja banyak-banyak atas seijin ibu," tutur Rara polos sambil menirukan suara buk Diyah.
Sedangkan Alden mati-matian menahan tawa mendengar ucapan istrinya, sebelum masuk tadi, Rara memang sempat berbicara seperti itu, tetapi anehnya ia yang memintanya, ia juga yang menjawabnya, astaga apakah memang ada sistem meminta seperti itu.
"Kamu ini bisa aja ngelesnya, saya tidak ada mengatakan jika kalian boleh mengambil mangga-mangga ini," ucap buk Diyah dengan wajah garang.
Rara bukannya takut, ia justru ikut membalas tatapan tajam itu.
"Ckk... lagian ibu kok pelit banget sih, orang cuman minta mangga doang," sewot Rara.
"Lho... kamu masih mengatakan minta? Jelas-jelas kamu mencuri," ketus buk Diyah.
__ADS_1
"Lho ... itu wajar buk, orang ibunya juga pelit! Kalau saya minta emang ibu mau ngasih?" ketus Rara juga.
"Ya tentu tidak! Tidak ada yang boleh mengambil buah mangga saya!" bentak buk Diyah.
Rara yang dibentak bukannya takut ataupun menangis, ia justru berdiri lalu mulai menggulung lengan tangannya seolah hendak adu jotos. Alden yang melihatnya langsung menatap waspada istrinya, ia berpikir apakah mereka akan saling tinju dihalaman ini.
"Sayang kamu mau ngapain?" tanya Alden was-was.
"Cuman gulung lengan baju doang, soalnya panas," tutur Rara yang membuat Alden bernafas lega.
"Kalian ini dasar pencuri tidak tahu malu!" maki buk Diyah.
"Kata siapa? Kita malu kok karna udah ketahuan," ucap Rara polos.
"Kembalikan mangga-mangga itu!" bentak buk Diyah lagi.
"Ehh enak aja, orang saya sudah capek-capek naik keatas," ucap Rara tak terima dengan permintaan buk Diyah. Rara lalu segera mengambil plastik mangga tersebut, lalu memeluknya erat seolah itu adalah emas yang sangat berharga.
Sedangkan Alden yang mendengarnya tentu kesal, jelas-jelas ia yang sudah susah payah naiknya, tapi istrinya secara gamblang menyebut jika dialah yang naik keatas, sungguh Alden rasanya ingin mencekik istrinya itu.
"Kamu berani ya! Jelas-jelas itu mangga saya!" bentak buk Diyah lagi.
"Ihh ibu galak amat sih, pantas gak laku," ketus Rara.
"Sembarangan kamu ya! Mulut itu dijaga!" bentak buk Diyah lagi.
"Lah ... kenapa harus dijaga? Emang mulut bisa lari?" tanya Rara polos.
"Istri kamu itu dijaga Alden!" maki buk Diyah yang sudah habis kesabaran menghadapi Rara.
"Saya selalu jaga kok bu," balas Alden dengan polos, karna ia memang tidak mengerti maksud buk Diyah yang sesungguhnya.
"Wah MAKSUD IBU NGOMONG GITU APAAN? Ibu baru tau ya?" teriak Rara.
"Eh .... ?" Alden tentu terkejut mendengar kalimat terakhir istrinya itu.
"Maksud kamu ngomong gitu apa Yang? Emang kita gak waras apa?" ketus Alden yang tak terima dikatakan tidak waras.
"Emang kita waras Mas?" tanya Rara polos.
"Akhh terserah kamu Ra, terserah kalian mau gulat kek atau apalah, Mas gak peduli," ucap Alden kesal.
"Ibu mau ngajak saya gulat?" tanya Rara polos sambil menatap buk Diyah.
"Emang kamu berani sama saya?" ketus buk Diyah.
"Oh sudah tentu ... enggak," ucap Rara nyengir kuda.
"Maaf buk Diyah, istri saya sedang hamil dan dia lagi ngidam buah mangga milik ibu, tapi kata orang-orang ibu lagi keluar, jadi kita mau ambil dahulu, lalu bilang sama ibu kalo ibu sudah pulang," jelas Alden berbohong, ia berharap buk Diyah mau memaklumi perbuatan mereka.
"Ckk... jadi apa anak kalian nanti, kalo dikasih makan hasil curian!" ketus buk Diyah kesal.
"Jadi Spidermen atau power ranger mungkin," celetu Rara asal. Tapi hal itu tentu membuat buk Diyah kembali marah.
"Kamu tuh udah mau jadi calon ibu masih aja gak ada sopan santunnya sama orang tua!"
"Ciee yang udah ngaku tua nih yee," goda Rara sambil mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
"Kamu berani sama saya hah?" Sungguh kesabaran buk Diyah sudah sampai ubun-ubun.
"Yakali gue berani sama mak lampir," gumam Rara, tetapi sayangnya buk Diyah masih bisa mendengarnya.
"Maksud kamu apa bilang saya mak lampir!" pekik buk Diyah.
"Hehe kagak buk, tadi Rara bilangnya gini 'yakali Rara berani sama buk Diyah yang mirip bidadari'," ucap Rara sambil cengengesan.
Blushh
Pipi buk Diyah seketika merona mendengar pujian Rara. Rara yang melihatnya sungguh merasa geli, padahal dapat dipastikan jika ia berbicara tidak tulus tadi.
"Jadi ... Rara boleh minta inikan buk? Soalnya Rara lagi hamil, kata orang kalau kemauan dedek bayinya gak di turutin, entar jadi janda," ucap Rara asal.
"Eh?"
Alden yang mendengar kalimat terakhir istrinya sontak melotot, darimana sejarahnya bayinya akan menjadi janda jika tidak dituruti kemauannya.
"Kamu mengejek saya?" tanya buk Diyah sambil mengangkat alisnya yang mana terlihat lebih mengerikan.
"Enggak, ibu ngerasa?"
Damn!
Benar juga! Rara tidak ada menyebut namanya secara langsung, ahh perempuan di depannnya ini benar-benar menyebalkan, ia bahkan bisa membuat pemiliknya mati kutu! Alih-alih meminta maaf, ia justru asal cerocos.
"Yasudah kalian boleh pergi! Kalian hanya boleh mengambil 5 buah mangga!" ketus buk Diyah.
"Buset dah, pelit amat! Pantas kagak laku," gumam Rara, untungnya buk Diyah tidak mendengarnya, yang mendengar hanya Alden saja.
Rara lalu mengeluarkan beberapa buah mangga dari dalam plastiknya, tanpa sepengetahuan buk Diyah, Rara justru menyisakan 7 buah mangga didalam plastik tersebut.
"Masama Diyah," ucap Rara berjalan pergi, sedangkan Alden sedikit susah berjalan, tetapi sayangnya Rara tidak memperdulikannya, yang Rara pikirkan sekarang hanya buah mangga yang ada ditanggannya.
"Hey! Makasih bukan sama-sama! Lagian kamu tidak sopan sekali memanggil saya!" teriak buk Diyah kesal.
"Hehe Makasih Diyah," ucap Rara lagi, lalu segera pergi dengan senyum yang mengembang.
Buk Diyah hanya bisa mengelus dada melihat sikap tidak sopan santun perempuan itu, jika perempuan itu tidak sedang hamil, buk Diyah pastikan akan membuat dia menjadi penyet!
Sedangkan Alden hanya bisa membungkuk hormat dan meminta maaf pada buk Diyah. Setelah itu segera menyusul istrinya.
"Gila sih istri gue! Kalo gue ngutang sama depkolektor, pasti istri gue yang menang."
.
.
.
.
Author.
Akhirnya perdebatannya dimenangkan oleh Rara yeayy....
Sumpah aku pengen sentil ginjal Rara. Udah minta mana sewot lagiiii, mana suami ditelantarkan astagaa.
__ADS_1
Siapa yang pernah minta buah orang, terus dia juga yang nyahutnya? Sayaš
Rara udah minta, kagak sopan lagi manggil orang huhu.