
..."Aku khawatir padamu, karna aku sudah sangat jatuh hati padamu"...
...Alden Reynoard Schiaparelli...
...---------------------...
"APA?"
Alden tentu sangat terkejut mendengar penuturan gamblang istrinya itu, bagaimana mungkin ia meminta suami baru dihadapannya, sepertinya istrinya memang sudah tidak waras!.
"Ihh Mas bikin kaget aja!" ucap Rara kesal karna terkejut mendengar teriakkan suaminya.
"T-tadi kamu minta apa?" tanya Alden lagi untuk memastikan.
"Rara pengen pak suami baru," ucap Rara santai.
"Astagfhirullah sayang, emang Mas kurang apa?" tanya Alden yang masih menunjukkan wajah terkejutnya.
"Dimata Rara Mas gak ada yang kurang sih. Eum ... Rara cuman pengen ngoleksi banyak-banyak pak suami," tutur Rara yang justru membuat Alden ternganga, bagaimana mungkin istrinya secara gamblang mengatakan ingin mengkoleksi suami, apakah ia berpikir jika suami adalah barang antik yang bisa dikoleksi.
"Yaudah kalo kamu mau ngoleksi suami, gimana kalo Mas juga ikutan," ucap Alden tak mau kalah.
"Lah ... Mas juga mau ngoleksi banyak-banyak pak suami?" tanya Rara polos.
"Gila kamu sayang, Mas bukan gay! Kamu ngoleksi suami, dan Mas ngoleksi istri, gimana?" ucap Alden memberi penawaran sambil menaik-turunkan alisnya.
"Boleh, tapi nanti Rara potong buyung Mas," ucap Rara tersenyum manis.
"Ckk... kok gitu sih sayang, gak adil namanya, masa kamu boleh ngoleksi banyak suami, tapi Mas gak boleh," ketus Alden.
"Ckk... yaudah gak jadi. Awas aja kalo Mas sampai dekat-dekat dengan perempuan lain, Rara bakal kasih kopi sianida untuk Mas," ketus Rara.
"Tenang aja kok sayang, Mas gak bakalan dekat-dekat dengan perempuan lain kok," ucap Alden tersenyum tipis.
"Yaudah awas! Rara mau siap-siap ke kampus," ucap Rara.
"Gak libur aja sayang? Kan kamu sakit," ucap Alden yang masih sedikit khawatir.
"Gak usah deh Mas, hari ini mata kuliahnya penting! Jadi Rara harus tetap turun," ucap Rara yang langsung segera masuk kedalam kamar mandi setelah mengambil pakaian yang akan digunakannya.
Alden yang mendengarnya tentu sedikit kesal, istrinya benar-benar keras kepala, padahal ia hanya khawatir, takutnya terjadi apa-apa dikampus nanti jika ia memaksakan diri.
Alden lalu berjalan keluar dan masuk kekamar mandi satunya.
Tak berselang lama, Rara selesai membersihkan diri, ia lalu bergegas turun kebawah yang ternyata sudah ada suaminya disana.
"Yaudah makan dulu sayang!" ucap Alden yang melihat istrinya sudah turun.
Makanan yang tersaji dimeja makan adalah nasi goreng, makanan yang sangat disukai oleh Rara, tapi anehnya Rara justru merasa sedikit mual saat membayangi memakan nasi goreng tersebut, Rara sama sekali tidak tertarik apalagi berselera melihat nasi goreng yang mungkin bagi orang lain sangat menggiurkan.
Rara lalu berjalan kemeja makan, lalu mengambil dua lembar roti dan mulai memoleskan selai kacang.
"Gak makan nasi?" tanya Alden heran.
"Gak deh Mas, Rara lagi pengen makan roti aja," kilah Rara.
Alden hanya mengangguk pertanda paham saja, setelah itu mereka lalu melanjutkan aktivitas makan.
__ADS_1
Selesai makan, mereka lalu segera berangkat menuju kampus, karna kebetulan hari ini Alden memiliki tugas penting yang harus segera ia selesaikan.
.
.
"Kamu serius gak papa jalan sampai kampus?" tanya Alden lembut, jujur ia sedikit tidak rela istrinya berjalan apalagi dalam keadaan yang sedikit tidak enak badan.
"Gak papa Mas, udah sana buruan Mas pergi!" ucap Rara meyakinkan.
"Yaudah deh. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Melihat suaminya yang sudah pergi, Rara lalu berjalan santai menuju kampus sambil sesekali bersenandung kecil, entahlah ... moodnya tiba-tiba menjadi sangat baik.
"Hai Ra!" sapa Rissa saat melihat Rara.
"Tumben lo baru sampe," celetuk Rara, karna biasanya Rissa sudah berada dikelas ketika Rara datang.
"Gak ada sih," ucap Rissa cengengesan, lalu berniat berjalan mendekati Rara.
Tapi baru saja Rissa berniat merangkul sahabatnya itu, Rara terlebih dahulu berlari sambil menutup mulutnya. Rissa tentu dibuat bingung, ia lalu ikut berlari menyusul Rara.
"Hoek ... hoek .... " Rara kembali memuntahkan isi perutnya dikamar mandi.
"Lo kenapa Ra?" tanya Rissa yang berniat membantu sahabatnya itu.
"Lo jangan dekat-dekat Sa!" pekik Rara saat Rissa berjalan kearahnya.
"Lo bau sumpah," ucap Rara yang kembali lemas.
"Sembarangan lo Ra, orang gue udah pakai parfum juga," ketus Rissa kesal karna dikatai bau.
"Parfum lo bau bego," ucap Rara lemah.
"Ck... ini parfum gue yang biasanya gue pakai Ra," ketus Rissa yang tidak terima.
"Lo keluar!" perintah Rara dengan suara lemah.
Meski sedikit kesal, Rissa tetap menuruti permintaan Rara, ia lalu keluar dari kamar mandi tersebut, lalu menunggu Rara keluar.
Ceklek ...
Tak berselang lama, pintu terbuka menampilkan wajah pucat Rara.
"Ra ... lo gak papa?" tanya Rissa khawatir, tetapi Rara hanya memberi kode agar Rissa tidak mendekat.
Karna merasa sangat mual, Rara akhirnya jatuh lalu tidak sadarkan diri.
"Astagfhirullah!" seru Rissa tanpa sadar karna terkejut melihat sahabatnya yang jatuh pingsan.
Karna merasa panik, Rissa lalu melihat sekeliling, dan untungnya, Reza sedang berjalan menuju kelas.
"Za!" teriak Rissa memanggil Reza.
Reza lalu mengalihkan pandangannya pada suara tersebut, dan alangkah terkejutnya ia melihat seorang perempuan yang tergeletak tidak berdaya dilantai depan kamar mandi.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Reza panik.
"Tolongin ini Rara pingsan!" ucap Rissa yang ikutan panik.
"Terus harus diapain?" tanya Reza polos sekaligus bingung.
"Dibuang ... yaiyalah dibawa ke UKS," ketus Rissa kesal.
"Bawanya pakai apaan?" tanya Reza lagi sambil cengengesan.
"Ya diangkat lah Za." Rissa benar-benar sangat kesal dengan teman sekelasnya ini, bisa-bisanya ia masih bertanya, sedangkan kondisinya sedang rumit seperti ini.
"WHAT? Lo nyuruh gue angkat Rara? Dia berat bego," ucap Reza kesal.
"Buruan Za! Lo mau kalau nanti dia mati," ketus Rissa lagi.
Meskipun kesal, Reza akhirnya mengangkat kedua tangan Rara, hal itu tentu membuat Rissa sedikit bingung, ia bertanya-tanya dalam hati, gaya seperti apa yang akan Reza lakukan. Tapi seperdetik kemudian, dia dibuat melotot dengan ulah Reza.
"Lo ngapain!" pekik Rissa.
"Gue seret lah hehe ... " ucap Reza sambil cengengesan menampilkan gigi putihnya.
"Lo mau gue bunuh hah? Buruan angkat Rara!" bentak Rissa.
Reza lalu mengangkat Rara dengan gaya bridal style.
"Buset Ra, berapa banyak sih dosa lo?" pekik Reza yang merasa tulangnya seperti patah saat mengangkat Rara.
Dengan susah payah akhirnya Reza berhasil menggendong Rara sampai UKS, ia lalu meletakkan Rara diatas kasur dengan pelan-pelan.
"Untung gak gue lempar lo Ra," gerutu Reza, sedangkan Rissa pergi entah kemana.
Brukkk
"Eh kodok kodok," ucap Reza yang terkejut saat pintu tiba-tiba didobrak.
Ternyata yang masuk adalah Alden dan Rissa. Alden lalu menatap tajam Reza seolah ingin memakannya hidup-hidup.
"Bapak ngapain disini?" tanya Reza heran.
Alden tidak menjawabnya, ia segera mendekati Rara dan menatap khawatir Rara, ia lalu duduk disamping Rara dan mulai menggenggam tangannya.
"Sayang bangun, Mas minta maaf karna gak bisa ngejaga kamu," ucap Alden sambil menatap sendu wajah pucat istrinya.
"Hah? Sayang? Mas? Maksudnya apaan coba" batin Reza yang merasa bingung.
"Bapak selingkuh sama Rara?"
.
.
.
.
Beuh kalo ada teman kayak Reza pantesnya diapaan yak?
__ADS_1