Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen

Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen
Pengen Badak?


__ADS_3

Alden hanya meringis melihat istrinya yang begitu lahap memakan mangga muda yang sudah dikupas oleh bik Asih.


Setelah pulang kerumah, bik Asih sedikit bingung melihat tuannya yang berjalan pincang, lalu ia memberanikan diri untuk bertanya, Rara tentu menceritakan semuanya dari awal hingga akhirnya. Bik Asih yang mendengarnya tentu tidak mampu menahan tawa mendengar cerita yang diceritakan Rara, padahal sebenarnya bik Asih bisa membantu, karna kebetulan ia cukup dekat dengan buk Diyah. Tapi karna kecerobahan Alden yang terlalu bersemangat, akhirnya ia mendapat karmanya.


Kini Rara sedang menikmati rujak mangga yang dibuat oleh bik Asih. Mangga yang masih berwarna putih, sudah dipastikan rasanya seperti apa! Rasanya seperti melihat pasangan kita lagi gandengan tangan dengan orang lain! Apalagi dengan orang yang kita kenal.


"Mau?" tawar Rara pada Alden dan bik Asih.


Keduanya langsung menggeleng cepat, melihat Rara yang begitu lahap sudah cukup untuk mereka.


"Bik, mangganya masih ada, kan?" tanya Rara saat potongan mangga yang ada di piring tinggal sedikit lagi.


"Ada, mau nambah lagi?" tanya bik Asih.


"Iya."


"Jangan banyak-banyak Yank! Gak bagus buat kesehatan kamu!" cegah Alden karna Rara sudah memakan 5 buah mangga muda.


"Satu mangga lagi, kok. Abis itu udah," ucap Rara dengan wajah memelas.


Karna melihat wajah memelas istrinya, akhirnya Alden menuruti keinginan istrinya. Alden berharap itu tidak mempengaruhi pada kandungan Rara.


Karna penasaran, Alden lalu mengambil sepotong buah mangga tersebut, lalu mencicipinya. Tapi baru saja potongan buah itu masuk kedalam mulutnya, Alden seketika membelalak matanya.


"Gila!" teriak Alden sambil memuntahkan mangga yang tadi sempat ia kunyah.


"Kenapa?" tanya Rara santai sambil memasukkan kembali potongan buah mangga tersebut, dan reaksi Rara biasa saja.


"Kamu waras Yank?"


"Iya."


"Gila ini asem banget Yank! Kok bisa-bisanya kamu makan tanpa ekspresi, sih?" tanya Alden penasaran.


"Gak tau." Rara hanya mengangkat bahunya acuh.


Alden hanya bisa mengeleng-gelengkan kepala melihat istrinya yang begitu lahap memakannya, sungguh Alden bertanya-tanya dalam hati apakah bumil memang seperti itu?


//Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku


Berdua kita hadapi dunia


Kau milikku ku milikmu kita satukan tuju


Bersama arungi derasnya waktu//


Terdengar nada dering dari hanphone Alden, ternyata yang menelponnya adalah Bryan. Alden lalu permisi sebentar kepada istrinya, sedangkan Rara hanya mengangguk tanpa memperdulikannya.


Tak berselang lama kemudian, Alden kembali dengan wajah sedikit sedih. Rara yang melihatnya hanya mengerutkan alisnya bingung.


"Kenapa?" tanya Rara pada akhirnya.


"Mas minta maaf Ra," ucap Alden dengan wajah sedih.


"Maaf?" Rara justru tidak mengerti maksud suaminya itu.


"Iya, kayaknya Mas harus pergi kekantor hari ini sayang, soalnya ada meeting penting yang gak bisa diwakili oleh Bryan, jadi Mas harus turun tangan mengurusnya," jelas Alden berharap Rara mengijinkannya.

__ADS_1


"Yaudah pergi aja," ucap Rara santai.


"Kamu gak papa? Mas kemungkinan bakal pulang agak malam sayang, kamu gak papa ditinggal sendiri? Kalo kamu pengen Mas disini aja, Mas bakal membatalkan meetingnya kok," ucap Alden yang tidak rela meninggalkan istrinya sendiri dirumah, meskipun ada bik Asih.


Meeting kali ini cukup penting untuk perkembangan perusahaannya, oleh sebab itu Alden harus menanganinya. Tetapi jika istrinya tidak ingin ditinggal sendiri, Alden tidak masalah membatalkan ataupun kehilangan kerja sama berharga itu. Menurut Alden, istrinya adalah segala-galanya sekarang.


"Big No! Mas boleh pergi, Rara gak mau jadi miskin kalo Mas bankrut," ucap Rara asal.


Alden yang mendengar penuturan istrinya sedikit meringis, disaat ia sedang mengkhawatirkan istrinya, istrinya malah masih memikirkan tentang harta. Alden bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya istrinya itu sedang bercanda atau serius mementingkan harta dibandingkan dia?


"Yaudah aku berangkat ya, jangan lupa makan malam! Kasihan dedek bayinya," ucap Alden sambil mengelus perut rata istrinya.


"Iya-iya bawel amat sih," kesal Rara.


"Dedek jangan nakal, ya? Daddy kerja dulu biar kita gak miskin, buat beli baju, popok, sama mamam dedek," ucap Alden yang seolah-olah sedang berbicara dengan bayi yang ada didalam perut Rara, setelah itu mendaratkan kecupan disana.


"Aku berangkat, ya? Jangan lupa makan!


Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Setelah berpamitan, Alden langsung bergegas menuju kantor. Sedangkan Rara hanya menatap punggung Alden yang sudah menghilang dibalik pintu. Sebenarnya Rara ingin sekali menahan suaminya untuk tidak pergi, tetapi karna mengetahui itu meeting penting, Rara tidak mungkin melarangnya.


Dengan gontai, Rara lalu masuk kedalam kamar mandi, lalu mulai membersihkan tubuhnya. Selesai membersihkan diri, Rara lalu berjalan menuju dapur.


"Bik, boleh buatkan Rara sup ayam?" tanya Rara saat melihat bik Asih sedang membersihkan dapur.


"Boleh non, bentar bibik buatkan! Non duduk aja dulu!"


Menarik kursi, lalu duduk disana. Sambil menunggu, Rara hanya mengetuk jari-jarinya dimeja.


"Makasih ya bik," ucap Rara dengan sedikit berbinar saat melihat sup ayam yang menggugah selera.


"Sama-sama non. Kalo gitu bibik pamit ke belakang dulu nyak!"


Rara hanya mengangguk saja mendengar ucapan bik Asih, ia lalu mulai mencicipi sup ayam tersebut.


"Hem ... lumayan enak," gumam Rara saat mencicipi masakan bik Asih.


Dengan cepat Rara lalu memakan semuanya, sampai habis tak tersisa. Setelah selesai makan, Rara lalu kembali ke kamarnya dan mulai bermain media sosial.


***********


Selama dalam perjalanan menuju kantor. Alden tak henti-hentinya tersenyum. Rasa bahagia menelusup kedalam hatinya. Baru sadar, jika dirinya sudah hampir 4 tahun ini tak pernah sebahagia ini. Semenjak kepergian Ella, laki-laki itu tidak pernah merasakan perasaan itu lagi.


Hingga akhirnya Alden tiba di kantor, dengan cepat bergegas menuju lift khusus untuk para petinggi. Menunggu lift tiba, sambil menghentakkan kakinya ke lantai. Senyuman manis terukhir diwajah tampannya.


"Lagi seneng?"


Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan Alden. Tanpa menoleh pun Alden sudah tahu, siapa pemilik suara itu. Siapa lagi jika bukan sekretaris gilanya, Bryan.


"He'em."


"Cih ... dingin amat. Dinginnya itu bagaikan cintamu padaku," ucap Bryan lebay.


"Lo waras?" tanya Alden sambil mengangkat kedua alisnya.

__ADS_1


"Allhamdulilah waras kok," ucap Bryan santai.


Alden hanya bergumam mendengarnya, setelah itu laki-laki itu pun keluar dari lift dan berjalan menuju ruangannya.


******


"Baik terima kasih untuk kerja samanya." Alden menyalami kliennya.


"Sama-sama, saya minta maaf sekali karna sudah menggangu malam Anda, saya tidak bermaksud apa-apa, kebetulan besok saya pergi."


"Tidak apa-apa pak, saya memaklumi hal itu," ucap Alden sambil tersenyum tipis.


"Kalau begitu saya permisi."


Alden langsung membersihkan meja kerjanya. Melirik sebentar arloji yang melingkar ditangannya, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.


Alden langsung segera berjalan cepat menuju parkiran, lalu masuk kedalam mobilnya. Ia langsung segera menjalankan mobilnya menuju rumah.


Selama perjalanan, Alden teringat orang hamil ngidamnya tidak ingat waktu. Karna takut istrinya ingin sesuatu, Alden lalu mengambil handphone dari saku jas, dan menelpon Rara.


"Halo?"


"Iya, halo," ucap Alden saat mendengar suara istrinya.


"Ada apa?" tanya Rara heran.


"Kamu belum tidur?" tanya Alden lembut.


"Belum."


"Sebentar lagi aku pulang, kamu mau dibelikan apa?" tanya Alden sambil fokus mengemudi.


"Eum ... seriusan?"


"Iya, mau dibawakan apa?"


Rara berpikir sejenak, memikirkan apa yang ia inginkan. Tiba-tiba saja Rara menginginkan sesuatu, tetapi ia ragu suaminya akan menuruti permintaannya.


"A - aku .... "


"Iya, kamu mau apa?" tanya Alden tak sabaran. Alden benar-benar penasaran dengan ngidam istrinya ini, tetapi Alden juga berharap permintaannya tidak macam-macam.


"A - aku ... pengen badak," cicit Rara dengan suara pelan.


Citttttt


"APA!"


.


.


.


.


Author

__ADS_1


Hehe maaf kemaren aku gak up, sengaja sih wkwk (Astagfhirullah jujur amatt)


__ADS_2