Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen

Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen
Kesabaran bang Sat di Uji!


__ADS_3

Mobil pun melaju menuju kediaman orang tua Alden. Selama dalam perjalanan, Alden terus menggenggam tangan Rara.


Rasanya tak baik membawa wanita hamil keluar tengah malam begini, pamali katanya.


Akhirnya mobil sudah tiba dikediaman milik Abimanyu, gerbang langsung dibuka ketika mobil tiba. Ternyata Alden sudah menelpon mertuanya sebelum mereka pergi.


"Assalamualaikum!" teriak Rara begitu sampai.


"Astagfhirullah sayang, ini malem! Jangan teriak!"


"Hehe .... " Rara hanya cengengesan ketika suaminya menegurnya.


"Wa'alaikumsalam," ucap Elmira.


"Kamu tuh kebiasaan Ra, udah punya suami masih aja kelakuan kayak anak kecil," lanjut Elmira dengan kesal.


"Iya dong, Rara kan limited edition," balas Rara dengan sombong.


Elmira yang mendengarnya hanya berdecak kesal, putrinya ini benar-benar menjengkelkan, selalu ada saja balasan yang keluar dari mulutnya.


"Tumben kalian malem-malem kesini? Kayak gak ada hari esok aja," kekeh Elmira.


"Maaf ya bun, soalnya Rara tiba-tiba pengen makan martabak," ucap Alden yang sedikit merasa bersalah.


"Kenapa cari martabak disini? Kita gak jualan martabak," celetuk Abimanyu heran.


"Ihh Rara tuh pengen makan martabak buatan bang Sat! Bukan beli," ucap Rara kesal sambil menghentak-hentakkan kakinya.


Elmira dan Abimanyu sontak saling pandang seolah berbicara lewat mata.


"Kayak orang ngidam aja," celetuk Elmira dan Abimanyu bersamaan.


"Rara emang lagi ngidam, bun," tutur Alden.


"Ohh ... pantes aja, gak mung-" Elmira menghentikan ucapannya. "Apa? Ngidam? Seriusan?" tanya Elmira tak percaya.


"Iya bun, Rara udah hamil 4 minggu lebih, maaf baru ngabarin, kita lupa," ucap Alden berbohong. Sebenarnya ia memang malas memberitahukannya pada orang tua maupun mertuanya.


Elmira dan Abimanyu hanya saling tatap, tak percaya dengan apa yang barusan mereka dengar.


"Ihh udah buruan! Rara pengen makan martabak buatan bang Sat ini," kesal Rara yang melihat orang tuanya hanya bengong saja.


"Tapi abang kamu lagi tidur Ra," ucap Elmira.


Tiba-tiba muncul ide jahat Rara, ia langsung mengeluarkan senyum miringnya. Tentu itu tidak lepas dari pandangan mereka, mereka yang melihatnya sedikit was-was dengan apa yang akan Rara lakukan.


"Yaudah, biar Rara bangunin," ucap Rara sambil tersenyum manis.


Tanpa basa-basi Rara segera berlalu dan naik keatas menuju kamar abangnya, dan benar saja, pintunya tidak terkunci sehingga membuat Rara semakin senang.


"Hehe, boboknya nyenyak banget ternyata," kekeh Rara pelan.


Rara lalu menarik nafas dalam, lalu mengeluarkannya secara perlahan. "KEBAKARAN! KEBAKARAN!" teriak Rara menggelegar.


"KEBAKARAN? HUWA KEBAKARAN! TOLONGIN SATYA BUN! SATYA MASIH BELUM KAWIN! KEBAKARAN! MANA SATYA BELUM NGRAPE - NGRAPE RISSA LAGI!" teriak Satya sambil berlari diatas kasur.


Bukkk


Satu bantal melayang kewajah Satya, sudah tentu pelakunya adalah Rara.


"Lo mimpiin apaan sih? Sampai mikirnya pengen ngrape Rissa," ketus Rara kesal.


"Lo ngapain dikamar gue? Orang gue lagi mimpi main sama Rissa," jengkel Satya saat melihat adiknya didalam kamarnya.


"Astagfhirullah bang, lo kalo emang udah gak sanggup pengen main sama Rissa, makanya cepat-cepat halalin Rissa!" ketus Rara.


"Ckk ... lo gak usah sok tau dek, kalo gue cepat-cepat ngawinin Rissa, yang ada dia mikirnya gue cuman pengen macem-macem."


"Ckk ... yaudah buruan turun!"


"Turun kemana? Ini masih setengah satu dek."


"Mas Alden bang," lirih Rara sambil menatap sendu abangnya.


"Alden kenapa?" tanya Satya khawatir.


"Mas Alden bang hiks ... yaudah cepat turun," ucap Rara dengan sedikit tangisan.

__ADS_1


Satya sudah berpikir yang tidak-tidak, ia berpikir jika Alden sudah sekarat atau meninggal. Tanpa basa basi ia dan Rara segera turun kebawah.


"Lho? Itu Alden nya sehat-sehat aja," ucap Satya yang melihat Alden duduk di atas sofa.


"Maksud lo apa?"


"Gue pikir lo udah meninggal, soalnya tadi Rara bilang kalo lo ud-"


"Rara cuman bilang Mas Alden, Rara gak ada bilang kalo Mas Alden kenapa-napa."


Satya hanya bisa berdecak kesal karna sadar sudah dikerjai oleh adiknya.


"Yaudah buruan sana lo masak!" perintah Rara.


"Masak?" beo Satya.


"Ihh anak gue lagi pengen makan martabak buatan bang Sat."


"Anak? Mana?" tanya Satya polos.


"Ckk ... ya didalam perut lah! Yakali anak gue udah segede gini," ucap Rara sambil merentangkan tangannya.


"Astagfhirullah, lo ngapain makan bayi dek?"


"Ckk... abang kok lemot banget sih, buruan bikinan Rara martabak, SEKARANG!" ucap Rara dengan bentakan diakhir kalimat.


"Lah? Lo ngapain nyuruh gue, orang itu anak laki lo," sewot Satya.


"Hiks ... jadi bang Sat gak mau nih bikinin buat Rara?" Rara sontak menunduk dan justru menangis.


Satya, Elmira dan Abimanyu yang melihatnya hanya bisa melongo, apakah mereka tidak salah lihat, seorang Diandra menangis hanya karna masalah sepele. Berbeda dengan mereka, Alden justru justru kelabakan melihat istrinya yang menangis.


"Udah buruan bang Sat! Lo gak kasihan sama ponakan lo," ketus Alden kesal.


"Lah? Tapi itu anak lo! Ngapain gue yang bikinnya, lo gak ada tanggung jawab sama sekali sama anak lo sendiri."


"Bang Sat jahat banget sama Rara hiks .... " Tangis Rara justru semakin kencang.


"Udah buruan Sat, bikinin buat adik kanu!" paksa Elmira, ia sedikit risih dengan sikap putrinya yang tiba-tiba berubah secara drastis.


"Tapi Bun, Satya mana bisa bikin martabak," ucap Satya kesal.


"GAK ADA YANG BOLEH BANTUAN BANG SAT!" teriak Rara penuh penekanan.


"Ckk... yaudah lo bikin sendiri aja kalo gitu!" ketus Satya, lalu berniat pergi.


"HUA ... BANG SAT JAHAT BANGET SAMA RARA HIKS .... " Seketika Tangis Rara pecah, mereka yang mendengarnya sontak menutup telingga.


"Astaga ya Allah, kalo ini mimpi buruk, tolong bangunin Satya secapatnya," teriak Satya dalam hati.


"ARGG!!!" teriak Satya kesal.


"Lo benar-benar ya Ra, lo liat aja kalo anak lo nanti udah keluar, gue pastiin langsung lempar dia ke kolam beranang," ucap Satya sambil menatap tajam adiknya.


"Ihh abang jangan ge'er, Rara gak bakalan biarin bang Sat sentuh sedikitpun anak Rara, entar anak Rara mirip bang Sat, ihh ogah banget, " ucap Rara sambil merinding.


"Emang apa yang salah dari gue?" ketus Satya kesal.


"Banyak bang Sat, muka bang Sat pas-pas'an, terus badan bang Sat gak bagus, terus suara bang Sat juga cempreng, terus kelakuan bang Sat kayak bencong," celetuk Alden ikut mengejek kakak iparnya itu.


"Ckk ... dasar pasutri gila! Kagak adik kagak adik ipar sama-sama gila, gak kebayang anak lo pada jadi apa nantinya," maki Satya yang benar-benar sudah sangat kesal dengan pasutri di depannya itu.


"Yang pastinya jangan kayak bang Sat," celetuk Rara santai.


Sudah habis kesabaran Satya, tanpa basa-basi ia langsung beranjak tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia bahkan tidak mau menuruti keinginan adiknya.


"Satya!" ucap Abimanyu dingin dan penuh penekanan.


"Ckk ... ayah ko gak adil banget sih, Satya habis di dzolimi lho sama mereka," ucap Satya sambil seolah-olah menghapus jejak air matanya yang nyatanya tidak ada sama sekali.


"Satya kamu itu harus ngalah dong! Adek kamu kan lagi hamil, jadi wajar aja dia pengennya yang macem-macem, kamu gimana sih jadi abang, ko gak becus amat, nanti kalau kamu udah nikah, kamu juga bakal ngerasaiin kok, mas-"


"Cukup bunda! Satya paham kok sekarang, jadi Satya gak perlu di ceramahi apalagi di ruqiah," ucap Satya memotong ucapan bundanya.


"Ini Satya juga mau jalan ke kamar, mau ngambil hp, mau nonton youtube biar tau gimana bikinnya," lanjut Satya saat melihat bundanya yang hendak berbicara.


Dengan terus menggerutu Satya menggambil handphone nya yang berada di kamar, setelah itu ia kembali berjalan menuju dapur untuk membuat martabak seperti permintaan adik Sat nya.

__ADS_1


Sedangkan mereka hanya duduk di meja makan sambil melihat Satya yang sedikit kesusahan. Elmira sebenarnya ingin membantu, tetapi melihat tatapan tajam putrinya, ia mengurungkan niatnya.


"Ini gimana buatnya?" tanya Satya polos, Satya sama sekali tidak tahu cara membuat martabak, yang ia tahu hanya membuat mie dan telor ceplok saja.


"Itu mangkoknya diblender, campur dengan sabun cuci piring, terus aduk rata sampai tangan bang Sat mengeluarkan air kental yang diyakini air yang sangat berkhasiat, terus campur micin, bawang putih sama bawang merah," ucap Rara asal.


Satya yang mendengarnya hanya mangut-mangut saja, lalu mulai mengambil satu mangkok dan hendak memasukkannya kedalam blender, tapi sebelum itu terjadi, Elmira lebih dahulu berteriak.


"Kamu gila Sat?" teriak Elmira. Sedangkan Rara hanya tertawa ngakak melihat abangnya yang mau saja dibodohi olehnya.


Satya yang menyadari jika ia baru saja dibohongi hanya berdecak kesal, adiknya ini benar-benar menjengkelkan. Satya lalu meniru cara pembuatannya seperti yang dijelaskan orang dalam video tersebut.


"Ini kenapa ada 2 toples gulanya?" batin Satya bingung melihat butiran yang sama tetapi berada ditempat yang berbeda.


"Ah bodo lah, sama aja"


Sekitar 30 menit akhirnya satu porsi martabak pun jadi. Dengan ditaburi coklat, penampilannya pun semakin menggoda.


"Nih!" ketus Satya sambil meletakkan sepiring martabak dengan tidak ikhlas.


Mata Rara langsung berbinar saat melihat martabak yang sepertinya sangat menggoda. Tanpa basa basi Rara segera mengambil sepotong, lalu memasukkannya kedalam mulutnya, tetapi baru saja sepotong martabak itu menyentuh lidah Rara, Rara langsung melotot, lalu langsung memuntahkannya.


Uwekk Uwek


"Lo mau bunuh gue bang!" teriak Rara kesal.


"Kenapa?" tanya Satya bingung.


Rara yang kesal lalu mengambil sepotong martabak tersebut, lalu menyumpalnya kedalam mulut abangnya.


Satya tentu terkejut dengan ulah adiknya, dan matanya sontak melotot saat merasakan martabak yang rasanya sangat asin, bahkan coklat itupun tidak ada pengaruhnya. Ternyata yang Satya buat tadi adalah garam bukan gula, dan yang parahnya Satya membuat garamnya dalam jumlah yang banyak.


"Gila! Ini siapa yang bikinnya?" teriak Satya.


Dughh


"Ya lo lah bego," ucap Rara setelah melayangkan satu sentilan dikening abangnya.


"Perasaan tadi abang masukin gula deh."


"Ckk... sekarang anak Rara udah gak pengen makan martabak, sekarang anak Rara pengennya abang yang habisin tuh martabak."


Satya yang mendengarnya sontak melotot, yang benar saja adiknya menyuruhnya memakan martabak yang rasanya bagaikan janji mantan, sangat asin!


"Gila lo dek! Yakali lo nyuruh gue makan martabak yang rasanya bikin gila."


"Abang yang udah buat, jadi abang juga yang harus bertanggung jawab, jadi abang harus makan martabaknya! Kata orang pamali kalau makanan dibuang-buang."


Satya hanya bisa menatap satu persatu keluarganya, berharap mereka mau membantunya, tetapi harapannya harus pupus saat melihat bunda dan ayahnya yang hanya bisa menatap kasihan dia, sedangkan Alden, ia justru mengembangkan senyumnya, entahlah sepertinya adik iparnya itu sangat suka melihatnya sengsara.


"Kayaknya gue disini cuman anak tiri deh."


Dengan penuh keterpaksaan, Satya lalu mengambil sepotong martabak coklat itu lagi, lalu memasukkannya kedalam mulutnya. Air mata terus mengalir dari mata Satya, bukan karna sedih karna orang tua nya tidak membela, tetapi karna rasanya yang membuat Satya ingin terus mengeluarkan air mata.


Elmira dan Abimanyu hanya bisa meringis kasihan melihat putra mereka yang dikerjai oleh bumil. Tetapi apa boleh buat, mereka tidak berani melawan ataupun membantah perintah Rara. Apalagi sejak mengetahui jika Rara sedang hamil, mereka sangat takut dengan sikap Rara yang terkadang seperti macan, tetapi terkadang seperti kucing yang imut.


"Terus bang Sat, makan terus!" perintah Rara santai.


Satya terus memakan martabak buatannya tersebut sambil sesekali menyeka air matanya yang terus mengalir, sungguh adiknya ini sudah seperti psikopat yang suka sekali menyiksa orang! Sedangkan Alden, ia hanya bisa membekap mulutnya menahan tawa melihat kakak iparnya yang dikerjai istrinya habis-habisan, andai tidak ada mertuanya disini, maka dapat dipastikan Alden akan mengeluarkan handphonenya lalu merekam wajah menyedihkan kakak iparnya itu.


"Astaga, sumpah gue seneng banget ngeliat kakak ipar gue menderita."


"Udah cukup bang! Silahkan lo muntahin itu semua," ucap Rara sambil terkekeh.


Mendengar ucapan adiknya, Satya langsung segera berlari menuju wastafel, lalu memuntahkan apa yang sudah masuk kedalam perutnya.


Hoek hoekkkk


"LO BENAR-BENAR PSIKOPAT DEK HIKS ... " teriak Satya sambil sesenggukan akibat menangis.


"Hahahaha." Tawa Rara seketika pecah.


.


.


.

__ADS_1


.


Satu kata untuk Rara, SADIS!!!


__ADS_2