Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen

Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen
Bukan Wanita Biasa!!!


__ADS_3

..."Kalo kamu lelah, menangislah! Terkadang dunia memang mengerikan untuk orang se lemah kamu. Tapi, ingat! Setelah kamu menangis, bangkitlah! Jangan biarkan mereka menang dengan melihat kamu terpuruk!"...


...Diandra Latasha Jonshon...


...•••••••••••••...


"Pah, Alden mohon, jangan kasih tau untuk Rara. Alden yang akan menceritakan semuanya, tapi nggak sekarang Pah." Alden kembali memohon, tetapi ia tetap tidak menceritakan perihal penyakit Ella, Alden tidak mau semuanya semakin runyam.


"Kenapa nggak sekarang?" tanya Mike dingin.


"Alden belum siap Pah," cicit Alden.


"Dan satu yang perlu kamu ketahui, wanita itu akan semakin sakit jika ia mengetahui lebih dahulu secara sendiri. Jadi, saya hanya mengingatkan kamu, jangan menunda-nunda waktu, sebelum semuanya terlambat," ucap Mike sambil tersenyum miring.


Sementara Alden, ia sedikit tidak paham apa yang dimaksud oleh ayahnya. Tapi, Alden tidak ambil pusing akan hal itu.


"Jangan pernah menjadi laki-laki yang pertama kali menorehkan luka di hati wanita itu, sedangkan ayahnya sendiri tidak pernah melakukannya. Jika itu terjadi, sebelum Abimanyu yang manghabisi kamu, saya yang akan duluan melakukannya. Jangan pernah berpikir hanya karena kamu anak saya, saya tidak akan mungkin rela menghabisi kamu. Ingat! Saya tidak mempunyai anak ba***gan!" Mike bahkan mengubah gaya bahasanya menjadi formal, pertanda jika ia sedang sangat marah.


Alden hanya mengangguk tanpa paham sepenuhnya apa yang diucapkan oleh Mike. Mike lalu berjalan mendekati putranya, lalu membisikkan sesuatu yang membuat Alden menegang.


"Rara di mana, Ma?" Alden memilih menatap Elena saja dibandingkan Mike yang masih menatap tajam dirinya.


"Dia di kamar, lagi tidur!" jawab Elena yang sudah berhenti menangis.


Alden lalu bangkit, dan berjalan menuju kamarnya tanpa mengucap sepatah kata pun.


Saat berada di depan pintu, Alden menarik napas, lalu membuka pintu secara pelan, takut membangunkan istrinya.


"Sayang?"


*********


Rara memilih untuk merendamkan dirinya di dalam bathtub, menenangkan pikirannya. Tetapi meskipun demikian, air mata terus merembes keluar dan menetes bercampur dengan air yang ada di dalam bathtub.


"Jangan nangis Ra! Lo kuat!" Rara menyemangati dirinya sendiri.


Tetapi percuma! Air matanya justru semakin merembes, merasa sangat sesak. Bagaimana mungkin suaminya menghabiskan malam bersama wanita lain? Bahkan sampai berciuman? Rara benar-benar merasa terpuruk, ia berharap jika ini hanyalah mimpi buruk saja.


Rara terus menyeka air matanya yang jatuh, tapi percuma, setelah ia hapus, justru ia semakin menangis. Setelah cukup lama Rara menangis, samar-samar Rara mendengar seorang memanggilnya.


"Sayang?"


Rara tersenyum getir mendengarnya, kemudian terkekeh mendengar panggilan suaminya yang memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Bukankah dia tidak memiliki rasa malu? Bagaimana mungkin tanpa rasa bersalah memanggilku dengan panggilan sayang setelah menghabiskan malam bersama wanita lain? Bahkan sampai berciuman? Bukankah itu terdengar sedikit gila?" kekeh Rara berbicara sendiri.


"Sayang?"


"Ya!" Meskipun malas, Rara tetap menjawabnya.


"Kamu di dalam?" tanya Alden lagi.


'Memangnya situ pengennya gue di mana' gerutu Rara dalam hati.


"Sayang?" Alden kembali memanggil karena tidak mendapat jawaban.

__ADS_1


"Kenapa?" teriak Rara.


"Kamu ngapain?"


Lagi belanja


"Lagi mandi!"


"Bukain dong pintunya!"


Rara hanya diam, tidak berniat menyahuti permintaan suaminya, karena dia tahu, jika Alden sebenarnya ingin meminta mandi bersama. Tapi percayalah, saat mandi mereka tak benar-benar mandi, selalu saja ada ulah Alden yang membuat Rara menda**h kenikmatan.


"Enggak!"


"Kenapa?"


"Ckk ... sebentar lagi Rara bakal keluar!" Meski malas, Rara tetap menjawab, ia takutnya suaminya justru mendobrak pintu jika dia tidak menjawab.


Setelah itu, Rara keluar dari dalam bathub, menatap pantulan dirinya di depan cermin. Wanita itu sedikit meringis melihat matanya yang membengkak.


"Buju buset, nih mata udah kayak mata panda aja," kekeh Rara.


Untuk saat ini, Rara akan berpura-pura tidak tahu perkara Alden yang menginap bahkan berciuman dengan wanita lain. Dia ingin melihat, sejauh mana suami dan mertuanya menyembunyikan dari dirinya.


"Bukankah terdengar lucu jika lo menangis hanya karena cinta? Ingat Ra! Lo emang bukan gadis pintar, tapi setidaknya lo masih punya otak untuk berpikir. Jadi untuk apa lo berlarut-larut bersedih hanya karena soarang laki-laki seperti suami lo?" Rara berbicara dengan dirinya sendiri di depan cermin.


"Well ... kalo gue tunjukkin kesedihan gue di depan semua orang, pastinya semua akan mengasihani gue. Yakali, seorang Diandra Latasha Jonshon dikasihani, kan bukan gue banget," kekeh Rara di depan cermin. Sepertinya wanita itu menjadi gila akibat ulah suaminya.


"Gue emang wanita lemah, gue emang bisa menangis. Tapi, untuk menunjukkan kepada orang-orang, gue nggak akan pernah melakukannya! Justru gue bakal tunjukkan senyum manis gue pada manusia, membuat semua orang iri dengan kehidupan gue."


"Meskipun gue nggak berani sih," lanjut Rara sambil terkekeh.


"Oke ... mari bermain Alden Reynoard Schiaparelli. Jika saya menangis, maka Anda juga harus merasakan sesak seperti yang saya rasakan. Jangan panggil aku wanita lemah suami! Namaku Diandra! Bukan Diandra namanya, jika menangis hanya karena ke br***sekan Anda. Big No!"


Tiba-tiba anak-anak yang ada di dalam kandungan Rara menendang perut Rara.


"Wow, kamu dukung Mommy, kan girls?" tanya Rara sambil mengusap perutnya.


Bayi-bayi yang ada di dalam kandungan Rara kembali menendang.


"Oke, setelah kalian lahir, mari kita bac*k daddy kamu rame-rame," kekeh Rara.


Rara lalu memoleskan bedak di wajahnya, untuk menutupi mata bengkaknya. Untungnya Rara selalu menyiapkan berbagai make up di kamar mandi.


Rara lalu keluar dari kamar mandi, dengan hanya menggunakan jubah mandi. Kepalanya ia lilit dengan menggunakan handuk, berjalan santai menuju meja rias.


Alden terpaku dengan penampilan istrinya, tanpa sadar ia meneguk salivanya dengan kasar. Penampilan istrinya benar-benar membuat Alden ingin segera menyerang wanita itu.


Dengan tidak tau malunya Alden justru berjalan mendekati Rara yang sedang mengeringkan rambutnya di depan meja rias. Memegang kedua pundak wanita itu. Sedikit membungkuk, lalu mendaratkan kecupan di tengkuk istrinya. Rara hanya diam, ia tak beraksi sedikit pun, masih belum saatnya.


Alden memberikan gigitan-gigitan kecil di leher putih Rara, meninggalkan jejak di sana, sambil sesekali menjilat telingga Rara. Rara tetap diam, tidak ada pergerakan atau bahkan suara merdu yang biasanya ia keluarkan.


Napas Alden sudah tidak beraturan, bahkan adik kecil sudah bangun, apalagi mencium aroma tubuh Rara yang membuat ia candu.


Rara tersenyum tanpa sepengetahuan suaminya, lalu bangkit setelah selesai mengeringkan rambut. Hal itu tentu membuat Alden terkejut, bagaimana mungkin istrinya meninggalkan ia di saat ia sudah sangat menginginkan itu.

__ADS_1


"Sayang, main yuk?" Dengan tidak tahu malunya Alden mengajak istrinya bermain.


"Main apa?" tanya Rara polos, lebih tepatnya pura-pura polos.


"Ya main di ranjang," jawab Alden tersenyum menggoda.


Rara hanya meremas kuat bajunya, hatinya bergemuruh. Ingin sekali ia berteriak, mengeluarkan semua isi hatinya di depan Alden. Bahkan jika boleh, ia ingin sekali mencakar-cakar wajah Alden.


Laki-laki tak tahu malu, sudah berani meninggalkan dirinya di pantai, lalu berciuman dengan wanita lain, dan sekarang? Dia minta jatah? Oh, tidak! Rara tidak sebodoh itu untuk menyerahkan tubuhnya, memuaskan hasrat Alden.


'Cih ... aku bahkan jijay padamu bang'


Rara tidak menjawab, ia justru mendekati suaminya dengan senyum yang mengembang, sehingga membuat Alden tersenyum senang karena mengira respon Rara adalah iya.


Rara berdiri di depan suaminya dengan terus mempertahankan senyum manisnya.


"Alden Reynoard Schiaparelli, seorang pria tampan, tajir melintir dan mapan si usia muda." Rara menepuk pelan d*d* suaminya, sedangkan Alden hanya diam. "Memiliki sifat dingin yang ternyata bisa dicairkan oleh seorang Diandra Latasha Jonshon, seorang wanita yang cantik, bohay, dan yang pastinya sexy mirip Syahrini. Siapa sangka seorang Alden bisa menjadi hangat oleh seorang wanita seperti Diandra?" Rara lalu menarik dengan pelan kerah baju Alden, sehingga membuat laki-laki itu sedikit membungkuk menyamai tinggi istrinya.


"Tapi sayang, otaknya nggak berfungsi dengan baik," bisik Rara tepat di telingga suaminya.


"Maksud kamu apa, Yank?" Alden sedikit tidak suka mendengar bisikan Rara, terdengar sedikit tidak sopan berbicara seperti itu pada suaminya sendiri.


"Maksud Rara." Tunjuk Rara pada dirinya sendiri.


"Saya, Diandra Latasha Jonshon! Di dalam kehidupan saya, tidak ada yang namanya LEMAH! Diandra memiliki prinsip yaitu, satu tetes air mata dibalas seribu tetes air mata. Rara ingatkan kembali kepada Mas Alden tersayang, hukuman yang Rara katakan masih berlaku sampai kapan pun. Jadi, sudahi sebelum semuanya terlambat," ucap Rara lantang dengan mata yang menatap tajam ke depan. Tidak ada lagi Rara yang polos, lucu, bahkan manja!


Alden terdiam mendengarnya, sedikit bingung dengan hukuman yang istrinya maksud. "Kamu kenapa Yank? Kok tiba-tiba ngomong kayak gitu?" tanya Alden heran.


"Eum ... entahlah, mungkin efek karena terlalu lama di pantai semalam, jadi otak Rara rada geser," kekeh Rara.


Alden membeku mendengarnya, merasa jika istrinya masih marah perihal semalam. Ia akui apa yang sudah ia lakukan memang salah, tapi saat itu ia benar-benar lupa dengan istrinya.


"Maaf." Hanya itu yang keluar dari mulut Alden.


"It's okey. Lagian nanti juga bakal ke ulang kok," balas Rara tersenyum manis.


"Yaudah, Mas mandi sana! Rara dapat mencium aroma-aroma menjijikkan dari tubuh Mas," usir Rara sambil bergaya seperti salah satu peramal yang sering muncul di TV.


"Yaudah Mas mandi, ya? Habis itu kita main, gimana?" Alden berjalan mendekati istrinya, mengabaikan ucapan Rara yang menurutnya ngelantur.


"Stop! Rara capek! Jadi, jangan sentuh Rara! Senggol dikit bac*k!" Rara berbicara sambil mengarahkan tangannya ke leher.


Alden terbengong dengan perubahan istrinya yang secara drastis. Sementara Rara, setelah mengucapkan itu ia berbalik dan berjalan santai ke tempat tidur. Rara hanya tersenyum kecut, membayangi seperti apa kehidupannya yang akan datang. Satu tetes air mata terjun ke pipi chuby Rara, buru-buru ia menyekanya.


Maafin Rara ya Allah, Rara nggak bermaksud buat jadi istri yang nggak berbakti pada suami. Tapi ... Rara benar-benar kecewa dengan suami hamba


Karena sejatinya, nggak ada wanita yang benar-benar kuat. Tapi, berpura-pura menjadi kuat jauh lebih baik, bukan?


Cukup gue sendiri aja yang tau kalau gue lemah, orang lain nggak perlu


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2