
"Benar! D-dia adalah Raya!" lirih Abimanyu.
Elmira menggeleng, masih belum bisa mempercayai informasi yang didapat Austin. Bagaimana mungkin Raya yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri justru seseorang yang berniat menghancurkan rumah tangga Rara? Sahabat yang sudah dianggap Rara seperti saudarinya sendiri?
"Ma-Mas, sebenarnya kesalahan apa yang dibuat putri kita sehingga dia mendapat hukuman yang begitu berat?" lirih Elmira. Butiran kristal terus membasahi pipinya. Bagaimana mungkin Tuhan memberikan hukuman yang begitu berat pada putri mereka?
"Mas juga nggak tau sayang. Tapi, bagaimana jika Rara mengetahui semuanya? Bagaimana perasaan putri kita? Mas bahkan tidak sanggup membayangkan betapa hancur dia jika tau kebenarannya." Abimanyu ikut meneteskan air matanya.
"Lalu langkah apa yang harus kita ambil Mas? Apakah kita beritahukan saja semuanya pada Rara dan Alden? Atau kita bawa dan sembunyikan saja Rara?" tanya Elmira dengan lirih.
"Mas juga nggak tau sayang. Tapi menurut Mas, kita tidak perlu memberitahukan perihal ini pada-"
"Kenapa tidak? Apa Mas sanggup melihat putri kita terluka!" teriak Elimira memotong ucapan suaminya. Apa-apaan suaminya justru memilih untuk membiarkannya begitu saja? Ia sebagai seorang ibu dan perempuan tentu tidak terima putrinya dipermainkan dan disakiti terus menerus oleh laki-laki ba***gan seperti Alden.
"Dengarkan dulu Elmira!" tegas Abimanyu. "Laki-laki ba***gan itu harus mendapatkan hukuman yang setimpal! Kamu tidak bisa hanya menyalahkan Raya! Di sini yang paling salah adalah laki-laki itu! Jika dia laki-laki yang setia, maka dia tidak akan terbuai dengan apa yang dilakukan oleh Raya! Tunggu sebentar lagi! Aku yakin jika anak-anak Fernandez akan segera mengakhiri permainan ini setelah dia mendapatkan informasi jika anak buah mereka sudah dilumpuhkan," jelas Abimanyu.
"Tapi meskipun demikian, Raya tetap sangat salah! Bagaimana mungkin putri kita bisa berpikir seperti itu? Dia merasa tidak enak meminta bantuan pada kita, hanya karena dia takut dan bingung menjelaskan tentang anaknya? Tapi, dia berani mengambil keputusan menghancurkan rumah tangga orang lain?" lanjut Abimanyu.
"D-dan jika permainan ini habis, maka putri kita yang akan sangat terluka. Apa kau sanggup melihat Rara terluka?" lirih Elmira.
"Dan kau tau Elmira? Sekarang aku merasa menjadi sosok Ayah yang gagal. Aku sudah menyakiti putriku sendiri. A-aku merasa seperti laki-laki yang paling jahat di dunia. Memaksa putriku untuk menikah, sedangkan dia sudah jelas menolak. Bagaimana mungkin aku memaksa dia hanya karena balas budi pada keluarga Schiaparelli? Bukankah itu keterlaluan? Apakah aku sebr***sek itu?" tanya Abimanyu pada istrinya sambil menunjuk dirinya sendiri. Air mata terus mengalir membasahi pipinya, ia merasa gagal menjadi seorang ayah untuk putrinya.
"Jangan berbicara seperti itu Mas!" tegur Elmira. Ia tau jika suaminya sangat terpukul mengetahui fakta ini. Tapi, bukankah ini tidak sepenuhnya salah suaminya?
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Elmira menatap mata suaminya yang merah akibat menangis.
"Apalagi jika bukan mempersiapkan masa depan putri kita! Akan ku pastikan mereka mendapat hukuman yang setimpal!" jawab Abimanyu ber smirk.
*********
Setelah membayar taksi, Rara lalu keluar dan berjalan santai menuju ruangan dokter kandungan. Senyum terus menghiasi wajahnya. Dirinya tak sabar melihat anak-anaknya di monitor nanti. Mengingat usia kandungan Rara sudah mencapai hampir delapan bulan, membuat perut wanita itu sangat besar.
Tapi, senyum Rara seketika pudar saat melihat beberapa pasangan suami istri yang sedang menunggu antrian. Rara merasa cemburu pada keluarga bahagia di depannya. Melihat suami yang begitu perhatian pada istrinya membuat butiran kristal membasahi pipinya yang chubby. Menyadari jika air matanya menetes, Rara segera menyekanya dengan kasar. Tidak! Ia tidak boleh menangis! Sudah terlalu banyak air mata yang terbuang sia-sia.
__ADS_1
Karena tidak menyadari jika ada bola kecil di lantai membuat Rara hampir saja terjatuh jika saja seorang laki-laki tidak segera menangkapnya. Rara yang memang menutup mata karena berpikir akan terjatuh sontak membuka matanya karena merasa tidak sakit. Tiba-tiba saja mata Rara dan mata laki-laki tampan itu bertemu. Rara terpana melihat wajah tampan kebarat-baratan laki-laki itu. Sementara laki-laki itu terpana dengan wajah dan tatapan teduh Rara. Ini adalah pertama kalinya ia melihat wajah Rara dari dekat.
'Gila, ini manusia asli atau manusia jadi-jadian sih? Kok ganteng banget!! Ahhh gue pengen dikarungin, terus dibawa sama nih orang aja!' pekik Rara dalam hati.
Tidak bisa Rara pungkiri jika laki-laki itu sangat tampan! Bahkan mungkin melebihi suaminya di mata Rara! Meskipun faktanya Alden jauh lebih tampan di bandingkan laki-laki itu.
'Kenapa ini? Kenapa aku merasa getaran aneh melihat wanita ini? Enggak Ar! Lo nggak boleh jatuh cinta dengan seorang wanita yang sudah bersuami!' batin laki-laki itu yang langsung sadar. Ia menggeleng dengan kuat. Ia harus ingat tugasnya, yaitu menjaga Diandra, bukan jatuh cinta padanya!
"Are you okey ?" tanya laki-laki itu yang ternyata adalah Austin dengan logat orang Amerika.
'Astagfhirullah! Bahasa Inggris woy! Bahasa Inggris! Aduh Diandra, sekian lama lo sekolah, bahkan udah tinggi-tinggi, kenapa tetap aja bego sih? Ini gimana gue komunikasi sama calon jodoh gue kalau bahasa Inggris aja kagak paham?' gerutu Rara dalam hati.
"I'm okey. Thank you for your help," jawab Rara ikut menggunakan bahasa Inggris. (Saya baik. Terima kasih untuk bantuanmu).
'Cih ... gue cuman tau itu doang lagi!' batin Rara kesal.
Laki-laki itu terkekeh, merasa lucu dengan sikap Rara. Dirinya juga tidak menyadari jika baru saja berbahasa Inggris. Sementara Rara terbengong melihat kekehan manis laki-laki tampan itu.
'Ya Allah, boleh nggak sih kalau Rara nambah satu suami lagi?' batin Rara berteriak. Rasanya ingin sekali ia mengelus, meraba, bahkan bermain dengan laki-laki tampan itu.
"Saya bisa berbahasa Indonesia kok. Kebetulan saya juga cukup lama tinggal di sini," ucap Austin tersenyum tipis, tapi mampu melelehkan hati Rara.
'Kenapa nggak bilang dari tadi Bambang! Itu juga, jangan senyum mulu atuh Bang! Eneng bisa meleleh nanti. Terus gimana kalau Eneng diabetes karena senyum Abang yang manis melebihi gula? Kan nggak lucu Bang kalau Eneng mati!' batin Rara. Tanpa sadar wanita itu justru menggigit bibirnya dengan kuat.
"Ibu ingin check up ?" tanya Austin pura-pura tidak tahu.
"E-enggak, eh ... iya!" jawab Rara sedikit linglung.
"Mari ikut saya. Kebetulan saya Dokter Kandungan di sini," ucap Austin ramah. Rara lalu melihat name tag di jas laki-laki itu. Namanya adalah Austin Harold, dan dia memang dokter kandungan.
Rara tersenyum, lalu berjalan mengikuti Austin menuju ruangannya. Sesampainya di sana, Rara lalu berbaring, dan Austin mulai memeriksa kandungan Rara.
"Bagaimana kondisi anak saya, Dok?" tanya Rara.
__ADS_1
"Sehat, beratnya sudah 2.8 kg, lalu panjangnya sudah 45 cm. Detak jantung mereka pun kuat. Ibu dan bayinya juga sehat. Selamat ya Buk Diandra, sebentar lagi Ibu akan menjadi seorang Ibu, dan jenis kelamin anak Ibu, laki-laki dan perempuan," jelas Austin dengan tersenyum.
Rara sedikit terkejut mendengarnya. "Laki-laki dan perempuan? Tapi dokter mengatakan jika anak saya kedua-duanya perempuan?" Rara tentu sedikit bingung.
"Itu karena posisi bayi laki-lakinya Buk, sehingga jika dilihat akan seperti perempuan. Tapi, itu sudah terlihat jelas jika satunya anak laki-laki," jelas Austin.
Rara mengangguk paham. Kemudian pergi setelah mengucap terima kasih pada dokter Austin. Senyum Rara mengembang saat mengetahui jika ia juga mengandung anak laki-laki. Apakah ia harus memberitahukan suaminya perihal ini? Ah, sepertinya tidak perlu. Rara akan menyembunyikan perihal anak-anaknya.
Ketika Rara sudah pergi, buru-buru Austin berberes, lalu menyusul wanita itu yang sudah cukup jauh. Bagaimana pun ia harus menjaga Rara seperti yang disuruh oleh Abimanyu.
'Perasaan macam apa ini? Kenapa aku berdebar berada di dekat Nona Diandra?'
******
"Apa maksud kalian? Apa kalian kalah dengan anak buah Mike?" tanya Kenzo dengan sorot mata tajam. Napas laki-laki itu sudah memburu melihat anak buahnya yang babak belur.
"Ma-maaf Tuan. Tapi bukan anak buah Mike yang membuat kami seperti ini. Ada segerombolan orang yang datang dan langsung menyarang kami, bahkan mereka juga melumpuhkan semua buah Mike," jelas salah satu dari mereka.
Kenzo terdiam, siapa yang sudah ikut campur, dan bisa mengalahkan orang-orang terlatih yang sudah ia bayar dengan sangat mahal? Sepertinya orang itu bukan orang biasa.
Kenzo lalu berlari, dan masuk ke dalam kamarnya. Sepertinya orang itu sudah mendapatkan informasi-informasi penting tentang dirinya maupun Raya.
"Kayaknya gue harus lebih cepat mengakhiri permainan ini sebelum terlambat," gumam Kenzo.
Laki-laki itu lalu mengotak-atik laptopnya, kemudian mengunggah sebuah video dan foto secara bersamaan di media sosial, yang pastinya sebentar lagi akan menjadi trending.
"Selesai!" pekik Kenzo.
"Kita lihat Diandra, bagaimana reaksimu ketika melihatnya," gumam Kenzo tersenyum miring.
.
.
__ADS_1
.
.