Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen

Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen
Nasihat Abimanyu


__ADS_3

Alden menangis di ruang tamu melihat kepergian istrinya. Hatinya bagai ditusuk oleh sebilah belati! Apakah Rara sekejam itu sampai tidak ingin memberikannya kesempatan ke tiga? Untuk memperbaiki semuanya, untuk menebus segala kesalahan-kesalahan yang sudah ia lakukan? Apakah sesakit itu perasaan istrinya? Tidak bisakah Rara memaafkan dirinya seperti sebelumnya?


"R-Ra ... Mas minta maaf. Mas berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Tolong kamu kasih Mas kesempatan," lirih Alden dengan air mata yang terus mengalir. Alden masih ingat dengan perkataan terakhir istrinya sebelum pergi.


"Sangat sakit Mas ketika Mas justru lebih memprioritaskan wanita lain dari pada Rara. Rara selalu dijadikan nomor sekian dalam hidup Mas. Rara nggak bisa terus bertahan jika seperti ini."


Apa maksud istrinya? Apakah pernikahan yang baru saja satu tahun lebih akan hancur? Apakah Rara akan pergi dan meninggalkan dirinya sendiri?


Apa yang mengganjal di hatinya Alden, tak ada satupun yang keluar dari mulutnya. Lidahnya terlalu kelu untuk menjelaskan semuanya, kosa kata dalam otaknya tiba-tiba menghilang. Padahal, Alden sudah menyiapkan penjelasan kepada Rara agar wanita itu memahaminya. Tapi saat mendengar semua uneg-uneg yang Rara ucapkan, Alden benar-benar mati kutu.


"M-Mas harus apa Ra?" lirih Alden. Tiba-tiba Alden teringat jika Rara mengatakan jika cincin pernikahan mereka tidak akan ia lepas. Tapi, jika dirinya melakukan kesalahan yang sama, maka dengan terpaksa Rara akan melepaskan cincin pernikahan itu.


Tunggu dulu!


Bukankah itu artinya Rara masih memberikan ia kesempatan? Kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Meskipun istrinya tadi mengatakan tidak akan memberikan kesempatan ke tiga. Tapi, Rara tidak melepas cincin itu. Akhirnya Alden paham, sepertinya ia harus berjuang mendapatkan Rara kembali.


Alden lalu menghapus air matanya, ia kembali bersemangat untuk mendapatkan maaf dari istrinya. Ia akan berjuang untuk mendapatkan hati istrinya kembali.


"Lo masih punya kesempatan Al! Istri lo udah berbaik hati mau ngasih kesempatan lagi ke lo! Lo nggak boleh sia-siakan ini!" ucap Alden menyemangati dirinya.


Tiba-tiba handphone Alden berbunyi, dan menampilkan nama "Ella" di layar. Meski malas, Alden tetap mengangkatnya, mengatakan apa yang seharusnya ia katakan sejak dulu.


"Halo No. Makasih banyak ya udah bawa aku ke rumah sakit tadi siang. Maaf banget karena udah ngerepotin kamu." Seketika terdengar suara lembut Ella saat baru saja Alden mengangkatnya.


"El," lirih Alden.


"Iya No?"


"Tidak bisakah lo pergi dari kehidupan gue? Rumah tangga gue hancur sejak kehadiran lo. Kenapa lo harus hadir di kehidupan gue lagi setelah lo memporak-porandakkan hidup gue. Gue tau kalau lo sakit. Ta-tapi istri gue juga sakit El! Dia sakit hati ngeliat gue dekat sama lo. Gue capek El! Gue pengen menghindar dari lo, tapi gue ngerasa bersalah karena alasan lo ninggalin gue karena lo sakit. Kenapa El? Kenapa lo harus kembali ketika gue udah bahagia dengan kehidupan baru gue? Tidak bisakah kita tidak perlu dipertemukan lagi? G-gue cuman pengen bahagia dengan kehidupan baru gue. Istri gue sebentar lagi akan melahirkan. Gue nggak bisa kalau terus seperti ini!" Alden berkata dengan air mata yang terus mengalir.


Sementara di seberang sana, Ella terdiam membisu, ini adalah kali pertamanya Alden menangis, bahkan tangisan laki-laki itu seperti sangat frustasi. Apakah perbuatannya tadi menimbulkan masalah pada rumah tangga Alden? Apakah ia sejahat itu? Seketika Ella merasa bersalah pada Alden sekaligus istrinya.


"Ma-maaf No, a-aku nggak bermaksud buat ngehancurin rumah tangga kalian hiks .... Baiklah Ella akan pergi, Ella nggak akan ganggu Nono lagi. Makasih untuk waktunya. Jangan pikirkan Ella lagi. Ella baik-baik aja kok di sini." Setelah mengatakan itu, Ella lalu mematikan panggilan secara sepihak.


Alden terdiam, apakah ia terlalu berlebihan pada Ella? Apakah ia terlalu kasar pada wanita itu? Tapi ... ah, sudahlah. Sekarang yang harus ia lakukan hanya memperjuangkan Rara kembali, ia harus membuat Rara kembali ke rumah ini, dan kembali membangun keluarga harmonis seperti dulu, sebelum kedatangan Ella.


Lalu bagaimana dengan Ella? Untuk saat ini Alden akan melupakan wanita itu. Ia tidak akan mempedulikan Ella lagi sampai ia mendapatkan Rara kembali. Lalu setelah itu, apakah ia akan tetap peduli denga Ella? Entahlah, itu urusan belakangan menurut Alden. Tapi satu yang pasti, Alden akan memprioritaskan Rara.


"Lo bisa Al! Jangan sia-siakan kesampatan yang udah istri lo berikan!"


********


Setelah masuk ke dalam taksi, Rara menangis tersedu-sedu. Apakah keputusan yang ia ambil salah? Apakah seharusnya ia tidak bersikap seperti itu? Bukankah kesalahan Alden sebenarnya masih bisa dimaafkan? Tapi, sebenarnya Rara tak berniat meninggalkan Alden. Ia hanya ingin memberi pelajaran pada laki-laki itu agar tau bagaimana sakit seperti yang ia rasakan.

__ADS_1


"Eneng nangis?" tanya sopir itu.


"Enggak Kang! Saya ketawa," jawab Rara. "Yaiyalah! Nggak liat apa nih air mata ngalir mulu!" lanjut Rara dengan ketus.


Sang Sopir menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, benar juga! Kenapa ia malah menanyakan pertanyaan konyol?


Tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka, Rara yang sibuk dengan pikirannya, dan sang sopir yang fokus mengemudi. Tak berselang lama, mobil sampai di sebuah perumahan yang tak kalah elit dari rumah mertuanya. Senyum Rara seketika mengembang, tak sabar ingin memeluk ayah dan bundanya. Rara lalu keluar dari dalam taksi setelah membayar.


"Mending gue nginap di sini aja dulu selama beberapa hari," gumam Rara. Entah apa alasan yang akan dibuat Rara, yang pasti akan tetap menginap di rumah orang tuanya.


"Assalamualaikum," sapa Rara saat masuk ke dalam rumah.


Abimanyu dan Elmira yang sedang menonton TV dengan sedikit mesra, tentu sedikit terkejut melihat kedatangan putrinya yang tiba-tiba, Rara bahkan tidak mengabari mereka. Sementara Rara tersenyum kecut, bagaimana mungkin hubungan orang tuanya sangat manis, sedangkan hubungannya yang masih seumuran jagung sudah berada di ujung tanduk.


"Wa'alaikumsalam."


"Lho? Kok kamu ke sini Ra?" tanya Elimara heran.


"Emang nggak boleh ya Bun? Rara kangen sama Ayah dan Bunda." Rara lalu memeluk ayah dan ibunya, merasa sangat rindu dengan kedua orang yang sangat berjasa di hidupnya.


"Boleh kok sayang," jawab Abimanyu lembut. Pria paruh baya itu sangat merindukkan putrinya. Putri yang ia anggap masih kecil, meski kenyataanya sebentar lagi anaknya itu akan menjadi seorang ibu.


"Suami kamu mana?" tanya Elmira sedikit heran.


"Yaudah nggak apa-apa. Dia kan sibuk juga buat kamu dan anak-anak kalian nanti," sahut Abimanyu.


"Iya, tapi masa dia ninggalin Rara sendirian di taman gara-gara-" Rara menghentikkan ucapannya saat ingin keceplosan mengatakan yang sebenarnya.


Dia lupa, jika Alden meninggalkan dirinya karena wanita lain. Bukan karena masalah pekerjaan ataupun meeting-meeting seperti yang sering dijadikan alasan suaminya.


"Ninggalin kamu karena kerjaan?" tebak Elmira.


"I-iya. Mas Alden ninggalin Rara sendirian di taman gara-gara pekerjaan. Parah banget ya Bun, Yah?"


"Enggak apa-apa dong sayang. Kan tujuannya juga baik," sahut Abimanyu sambil mengelus lembut rambut putrinya.


Rara mengangguk saja. Memilih untuk tidak melanjutkan pembicaraan seputar itu.


"Rara pengen nginap di sini. Rara pengen peluk Ayah dan Bunda setiap hari," celetuk Rara.


Abimanyu dan Elmira diam, lalu saling pandang. Sepertinya putrinya sedang bermasalah dengan suaminya. Dan mereka menyadari itu, karena mereka mengenal Rara, ditambah mata wanita itu sedikit bengkak. Tapi meskipun demikian, mereka tetap diam, menunggu putri mereka yang akan bercerita lebih dulu.


"Memangnya kamu mau berapa lama nginap di sini?" tanya Elmira lembut.

__ADS_1


"Eum ... Rara juga nggak tau. Sebulan? Dua bulan? Atau tinggal di sini selama-lamanya?"


Elmira dan Abimanyu yang mendengarnya langsung mendelik ke arah Rara, merasa tidak suka dengan jawaban putrinya.


"Kenapa Bun, Yah? Kalian nggak mau nerima Rara di rumah ini?" lirih Rara.


"Bukan gitu Ra! Tapi kamu udah nikah, kamu udah jadi kewajiban Alden. Kalau kamu nginap di sini, terus Alden gimana?" Elmira memberi pengertian pada putrinya.


"Yaudah sih. Alden kan udah bukan anak-anak lagi. Meskipun Rara pergi pun dia nggak akan mati kok," jawab Rara santai.


"Rara!" bentak Elmira.


"Kenapa? Rara salah, ya? Dari awal Rara udah bilang kalau Rara nggak mau nikah! Tapi kalian tetap kekeh pengen ngejodohin Rara! Rara capek Bun! Rara udah cukup tinggal sama kalian berdua aja. Rara udah nggak sanggup Bun," lirih Rara. Wanita itu menangis sesenggukkan di pelukan ayahnya, merasa menyesal telah menerima pernikahan ini. Andai saja perjodohan itu tidak terjadi, mungkin hatinya tidak akan terluka. Bagaimana mungkin Alden lah orang pertama yang menggoreskan luka yang sangat dalam di hatinya? Sementara keluarganya sendiri tidak pernah!


Rara benar-benar menyesal. Menyesal karena sudah menerima perjodohan ini, menikah, lalu jatuh cinta pada suaminya. Ternyata ini yang ia takutkan sebelum jatuh cinta ke Alden.


"Kenapa? Cerita sama Ayah dan Bunda." Abimanyu merasa sakit melihat putrinya menanggis. Ia tau batul jika Rara tidak mungkin menangis jika itu hanya masalah sepele.


Rara hanya menggeleng, masih tidak mau menceritakan masalah rumah tangganya pada Abimanyu dan Elmira.


"Ra, di dunia ini nggak ada yang sempurna. Begitu pun pernikahan, nggak ada yang berjalan mulus. Selalu ada saja lika-liku yang harus kalian hadapi dan lewati. Kamu harus kuat sayang, pertahankan rumah tangga kalian, jangan jadi wanita lemah! Ayah tau kalau kamu bisa mengatasi semuanya. Percayalah semuanya akan berlalu. Setelah badai pasti akan ada pelangi yang akan menyambutnya. Kamu harus kuat! Jangan biarkan rumah tangga yang baru saja kalian bangun hancur! Sekarang ada anak yang harus kalian pikirkan." Abimanyu memberi nasihat pada putrinya.


Rara terdiam, mencerna baik-baik ucapan ayahnya. Apakah ia harus bertahan? Apakah memang benar jika badai ini akan berlalu? Dan setelah itu pelangi akan menyambutnya kelak?


Sepertinya memang benar. Dia harus bertahan. Setidaknya ia harus memikirkan nasih anak-anaknya yang ada di kandungan. Jangan sampai mereka tumbuh tanpa sosok ayah di samping mereka! Rara tidak mau itu terjadi! Bagaimana mungkin anaknya merasakan pahitnya kehidupan di masa kecil, sedangkan ia menikmati masa-masa kecilnya dulu? Setidaknya ia harus kuat dan bertahan dari badai yang sedang menerjang rumah tangganya.


'Baiklah, Rara akan tetap bertahan demi anak-anak Rara!'


.


.


.


.


Maaf banget aku updatenya lama, dan kemungkinan besok bisa nggak update. Harap maklum ya ><


Untuk yang minta cerai dan jangan cerai. Ikut alur aku aja yaaa😁, soalnya udah pikir kok alurnya gimana.


Next Part ada pemain baru lagii yeayyy, entah jahat atau baik, hanya aku yang tau wkwk


Untuk Visual, nyusul yaaa.. Soalnya aku bingung, ini kan latar Indo, masa visualnya orang barat ><

__ADS_1


__ADS_2