
"APA!"
Alden menginjak pedal gas secara mendadak saat mendengar ucapan istrinya, Alden benar-benar dibuat terkejut dengan permintaan istrinya itu, untungnya jalan raya sedang sepi, jika ada mobil dibelakang Alden, maka dapat dipastikan kecelakaan akan terjadi.
"Ta-tadi kamu minta apa sayang?" tanya Alden lagi untuk memastikan.
"A - aku pengen ngeliat badak Mas," cicit Rara pelan.
Alden kembali tercengang mendengarnya.
"Dimana?" Satu pertanyaan konyol keluar begitu saja dari mulut Alden.
"Ishh ya di kebun binatang lah! Masa di rumah kita," ketus Rara.
"Kayaknya gue salah udah nawarin" batin Alden dengan wajah murung.
"K - kamu serius Yank? Tapikan ini udah malam," tutur Alden yang masih sedikit terkejut.
Rara tiba-tiba tertunduk, tak seharusnya ia mengungkapkan keinginnya. Padahal ia sudah tau jika Alden tidak akan mau menurutinya.
"Maaf," ucap Rara sambil menahan tangisnya. Entah kenapa ia menjadi sedih mendengar perkataan Alden barusan. Padahal, ia ingin sekali melihat badak.
"Astaga ... menangis lagi. Ya Allah kuatkan hamba, semoga hamba tidak mati muda," batin Alden berdoa.
"Sayang Mas gak ada maksud apa-apa, tapi ini udah malem, mana ada kebun binatang buka jam segini," tutur Alden memberi penjelasan, berharap istrinya bisa mengerti.
"Te-terus?" tanya Rara sambil sesenggukan.
"Besok ya, Mas janji bakal bawa kamu ke kebun binatang besok," ucap Alden lembut.
"Hiks ... hiks ... tapi Rara pengennya sekarang." Tangis Rara justru semakin kencang, membuat Alden frustasi di dalam mobilnya.
"Tapi sayang .... " Alden hanya bisa memelas pada istrinya.
"Ini itu keinginan anak Mas! Bukan Rara!" teriak Rara nyaring.
Tut ... tut ...
Rara langsung mematikan sambungan telpon secara pihak, lalu menangis dengan sangat kencang.
"Hiks ... kayaknya Mas Alden udah gak sayang sama Rara," gumam Rara semakin memperkencang tangisnya.
"Kayaknya Rara pergi aja, Mas Alden udah lupain Rara hiks ... dedek sama Mommy aja ya," ucap Rara sambil mengelus perut ratanya.
Rara lalu berjalan menuju lemari pakaiannya, lalu mengambil satu koper yang berukuran cukup besar, kemudian memasukkan beberapa lembar pakaiannya kedalam koper tersebut.
"Dedek jangan nangis ya, kita bakal cari papah dedek baru kok," ucap Rara seolah-olah menenangkan anaknya yang ada didalam kandungan agar tidak menangis, padahal jelas-jelas ia yang sedang menangis.
"Rara benci sama Mas Alden! Liat aja, Rara bakal cari pak suami baru, kalo bisa 10," ucap Rara yang benar-benar kesal pada suaminya.
"Padahalkan yang pengen anaknya, bukan Rara hiks .... " Rara terus bergerutu sambil memasukkan pakaiannya kedalam koper.
*********
"Ini itu keinginan anak Mas! Bukan Rara!"
Tut ... tut ...
"Sayang? Halo?"
"Astaga dimatiin lagi," ucap Alden yang langsung frustasi.
"Gila! Gue dapat dimana kebun binatang yang buka jam segini!" teriak Alden frustasi didalam mobil.
"Dedek! Kamu sudah meminta 2 permintaan yang membuat Daddy pengen gila. Kamu liat aja kalau kamu sudah lahir, Daddy bakal kasih perhitungan dengan kamu," ucap Alden dengan nafas memburu.
"Ya Allah, berikanlah kepada hamba kemudahan mencari kebun binatang yang masih buka jam segini," ucap Alden sambil mengangkat tangannya.
Alden lalu mulai menjalankan mobilnya mencari kebun binatang yang masih muka jam 10 malam, meskipun itu terdengar sedikit mustahil.
Alden sudah mendatangi beberapa kebun binatang, tetapi tidak ada satupun yang buka! Alden tentu semakin frustasi, ia hanya bisa menjambak kasar rambutnya.
"Kayaknya gue harus melakukan negosiasi dengan pemilik kebun binatangnya, gue yakin banget gak ada kebun binatang yang buka jam segini," gumam Alden yang benar-benar sakit kepala.
Alden lalu menjalankan mobilnya mencari kebun binatang lagi, hingga akhirnya ia menemukannya, tapi sesuai dengan perkiraannya, kebun binatangnya sudah tutup!
Alden sampai rela menanyakan informasi kepada masyarakat yang ada disekitar situ, setelah mendapatkan informasi tersebut, Alden langsung tancap gas menuju rumah pemilik kebun binatang tersebut.
Bukanlah hal yang mudah untuk membujuk pemiliknya, pasalnya sang pemilik berpikiran jika Alden hendak melakukan sesuatu yang buruk disana, Alden tentu kesal, tetapi ia tetap memberitahukannya dengan tenang.
"Saya tidak ada maksud buruk pak, istri saya sedang hamil, dan dia lagi ngidam ingin melihat badak, tolonglah pak ... kasihan anak saya," ucap Alden dengan sedikit memohon.
"Tapi saya meragukan kamu."
"Saya berani bayar 50 juta," ucap Alden mantap.
"Baiklah, tetapi penjagaan akan saya perketat." Sang pemilik tentu dengan senang hati saat Alden menawarkan jumlah yang tidak sedikit hanya untuk melihat seekor badak.
Alden akhirnya bisa bernafas lega, Alden harap setelah ini, istrinya tidak akan mengidam yang macam-macam lagi, Alden takutnya ia justru tidak sempat melihat kehadiran anaknya karna sudah meninggal akibat ulah istrinya itu.
__ADS_1
Demi memenuhi keinginan istrinya lebih tepatnya anaknya, Alden bahkan rela mengeluarkan uang sebesar 50 juta, bahkan jika istrinya tau, mungkin ia akan sangat marah pada Alden.
Setelah selesai bernegosiasi, Alden lalu menjalankan mobilnya pulang ke rumah untuk memberitahukan berita bahagia itu kepada istrinya. Meskipun sedikit jengkel dengan istrinya, tetapi Alden tetap mengembangkan senyum saat membayangkan senyum manis istrinya karna ia bisa menuruti permintaannya.
*******
Selesai memasukkan pakaiannya kedalam koper, Rara lalu menyeret koper tersebut, ia bahkan tidak tahu akan pergi kemana.
"Non mau kemana bawa koper?" tanya bik Asih heran.
"Mau pergi bik," cicit Rara pelan.
"Astagfhirullah Non mau pergi kemana?" tanya bik Asih terkejut.
"Rara mau pergi aja bik hiks ... Mas Alden udah gak sayang sama Rara hiks .... " Rara terus menangis, sedangkan bik Asih sedikit bingung, apakah tuannya berselingkuh? Begitulah pemikiran bik Asih.
Tiba-tiba terdengar suara mobil diluar, Rara sangat tahu jika itu adalah suaminya. Rara langsung memasang wajah dingin.
"Assalamualaikum," ucap Alden masuk kedalam rumah.
"Wa'alaikumsalam," balas bik Asih. Sedangkan Rara hanya diam saja tanpa mau membalas salam suaminya, ia bahkan tidak mau melihat suaminya.
"Kamu mau kemana Yank pakai bawa koper segala?" tanya Alden heran.
"Rara mau cari pak suami baru! Mas udah gak sayang sama Rara," ketus Rara.
"Sejak kapan Mas gak sayang sama kamu?" tanya Alden bingung.
"Mas udah gak sayang sama Rara! Mas bahkan gak mau nurutin keinginan anak Mas, jadi Rara mau cari pak suami baru aja. Mas liat aja, setelah ini Rara bakal punya 10 pak suami," ketus Rara sambil menatap tajam suaminya.
Alden yang mendengarnya hanya mampu ternganga, hanya karna masalah badak, istrinya bahkan berniat pergi dari rumah, bahkan ia sudah sampai membawa 1 koper yang Alden yakini penuh dengan pakaiannya.
"Ckk ... 10 suami, emang sanggup?" batin Alden dengan senyum tipis.
Alden benar-benar tidak habis pikir dengan pemikiran istrinya itu, dengan seenak jidat ia ingin pergi dari rumah ini hanya karna keinginannya tidak dituruti, apakah istrinya berpikir bagaimana susahnya mencari kebun binatang yang buka jam 10 malam! Mungkin jika siang hari, Alden akan dengan senang hati menuruti keinginan istrinya, tapi ini malam! Bahkan hampir tengah malam!
Alden memang tahu jika ngidamnya ibu hamil memang susah ditebak, tapi..... akhh.
"Mas bahkan gak bilang kalo Mas gak akan nurutin keinginan kamu," ucap Alden.
"Maksud Mas?"
"Kita akan pergi ke kebun binatang malam ini," ucap Alden lembut sambil tersenyum manis pada istrinya.
Bik Asih yang masih berada disitu hanya bisa geleng-geleng kepala saat mengetahui masalah yang sesungguhnya, padahal ia sudah berpikir jika tuannya berselingkuh sehingga itu yang membuat nyonya nya pergi. Bik Asih benar-benar heran dengan nyonya nya itu, ia juga pernah merasakan yang namanya ngidam, tapi ia tidak pernah se'ekstrim keinginan Rara.
"Mas seriusan?" tanya Rara dengan mata berbinar.
"Ckk... gue bersampah gak bakalan lagi mau nawarin istri gue mau apa," batin Alden menahan kesal.
Seketika wajah Rara yang awalnya marah dan sedih langsung berbinar mendengar ucapan istrinya. Alden yang melihatnya tentu sedikit meringis, secepat itukah istrinya berubah.
Brukkk
Rara langsung mendorong kuat kopernya sehingga mengenai dinding.
"Yaudah ayok!" ucap Rara sambil tersenyum manis.
Alden yang melihatnya hanya bisa ternganga. "Itu gak diantar dulu kopernya?" tanya Alden sambil melihat koper tersebut yang sudah sedikit rusak, sehingga pakaian yang ada didalamnya keluar.
"Ihh nanti aja, ayok buruan! Rara pengen liat badak ini," rengek Rara yang langsung bergelanyut manja dilengan suaminya.
"Semoga aja gue masih bisa liat anak gue nanti," batin Alden.
Akhirnya mereka pergi ke kebun binatang yang sudah disepakati oleh Alden sebelumnya.
Alden mulai menjalankan mobilnya. Jarak rumah dengan kebun binatang tersebut cukup jauh sehingga memakan waktu yang cukup lama, tetapi itu tidak membuat Rara kesal, ia justru mempertahankan senyum manisnya kearah suaminya.
Hingga akhirnya mobil tiba di kebun binatang tersebut. Benar saja, banyak sekali orang yang mengelilingi wilayah tersebut, seperti yang diucapkan sebulumnya jika penjagaan akan diperketat.
"Sial! Emang muka gue kayak penipu apa," gerutu Alden dalam hati.
Alden dan Rara pun turun dari mobil.
"Lho? Katanya istrinya hamil?" Pemilik kebun binatang itu sedikit bingung saat melihat perut Rara yang masih rata.
"Istri saya emang hamil pak," jawab Alden sopan.
"Tapi kok perutnya masih kecil?"
"Ckk... kalau kegedean entar meletus, iya kalo meletusnya balon hijau, kalo balon merahkan barabe," celetuk Rara asal.
Pemilik kebun binatang tersebut hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sedangkan Alden hanya bisa tersenyum konyol dengan tingkah istrinya.
Mereka lalu masuk kedalam dengan terus diawasi oleh beberapa orang. Rara tentu sangat senang, sepanjang perjalan ia selalu berbinar menatap beberapa binatang yang sudah tertidur.
"Ihh badaknya imut banget!" teriak Rara senang saat melihat sang badak.
"Huh ... badak 50 juta," gumam Alden sambil tersenyum kecut.
__ADS_1
"Ihh badaknya imut bangetkan Mas?" ucap Rara sambil melihat badak tersebut.
"Cih ... apanya yang imut? Darimana sejarahnya badak imut?" gerutu Alden hati.
"Iya yah sayang, badaknya imut banget, giginya juga kayaknya baru tumbuh," ucap Alden asal.
"Iya, kepalanya juga baru tumbuh," ucap Rara asal.
"Eh ... darimana sejarahnya kepala bisa tumbuh?" tanya Alden polos.
"Ckk ... lagian mana ada giginya baru tumbuh!" ketus Rara kesal.
Alden hanya bisa tersenyum menampilkan gigi putihnya.
"Daritadi Rara liat, kok badaknya gak ada yang warna pink ya Mas?" tanya Rara sambil terus melihat kesana kemari.
"Astagfhirullah Yank, darimana sejarahnya ada badak warna pink?" Alden benar-benar dibuat terkejut dengan pertanyaan istrinya.
"Ihh Rara pengen badak warna pink," rengek Rara sambil mengoyang-goyangkan lengen suaminya.
"Tapi gak ada Yank."
"Yaudah badaknya dipilok aja pakai pilok warna pink," ucap Rara yang masih merengek.
Seketika Alden semakin dibuat frustasi dengan permintaan istrinya itu, sedangkan para petugas besarta sang pemilik hanya bisa menggaruk tengkuk mereka yang pastinya tidak gatal. Jika disuruh memilih, mereka lebih memilih untuk mengembalikan uang Alden dibandingkan memberi warna pada badak tersebut, karna dapat dipastika nyawa mereka akan melayang jika melakukannya.
Alden lalu menatap sang pemilik dengan wajah memelas seolah meminta tolong untuk menuruti permintaan istrinya.
"Maaf pak, kami tidak bisa menuruti permintaan istri Anda, saya akan mengembalikan uang Anda," ucapnya mantap. Ia lebih memilih mengembalikan uang tersebut dibandingkan harus turun kebawah sana untuk memberi warna pada salah satu badak.
"Yaudah sini kembaliin uangnya, masa cuman ngasih warna badak gak bisa," ketus Rara dengan wajah garang.
Sang pemilik kebun binatang itu lalu mengeluarkan uang yang sempat diberikan oleh Alden tadi, lalu menyerahkannya kembali kepada Alden, tapi sebelum Alden menerimanya, Rara lebih dahulu merebutnya.
"Buju buset banyak amat duitnya," geram Rara.
"Nih sejuta buat kalian makan bakso," ketus Rara sambil menyerahkan 10 lembar uang berwarna merah.
Sang pemilik kebun binatang itupun mengambilnya.
"Silahkan kalian pergi!"
"Ckk ... pakai diusir segala lagi," ketus Rara.
Mereka lalu segera pergi dari kebun binatang tersebut, tapi tiba-tiba Rara melihat sesuatu yang membuatnya tersenyum jahil.
"Eh ... itu ada kembaran Mas," ucap Rara sambil menunjuk salah satu hewan.
Alden lalu mengalihkan pandangannya kearah tunjukkan Rara. Mata Alden langsung membelalak melihat hewan yang Rara sebut kembarannya.
"Maksud kamu apa? Masa kamu nyamain Mas sama monyet," ketus Alden kesal.
"Ihh mirip lho Mas, matanya, hidung sama mulutnya sama, dan yang pastinya gantengnya juga sama," ucap Rara sambil mengacungkan kedua jempolnya.
Alden hanya berdecak kesal mendengar penuturan istrinya, bisa-bisanya istrinya menyamainya dengan monyet itu. Tanpa basa basi Alden langsung mempercepat jalannya meninggalkan istrinya. Sedangkan Rara, ia justru terkekeh geli dengan sikap suaminya, ia langsung segera menyusul suaminya setelah memberikan flying kiss kepada monyet yang terus menatapnya.
Setelah Rara masuk kedalam mobil, Alden langsung tancap gas untuk pulang tanpa berbicara sepatah katapun. Sedangkan Rara, ia hanya mengangkat bahunya acuh, lalu mulai membuka amplop yang berisi uang.
"Lumayan dapat duit 49 juta. Ini semua berkat kejeniusan seorang Diandra," ucap Rara menyombongkan dirinya sambil tersenyum bangga.
"Berkat kejeniusan?" Alden justru bingung mendengarnya.
"Ckk... yaiyalah! Rara udah tau kalau Mas pasti ngeluarin duit banyak untuk nurutin permintaan anak Mas, lagian tadi juga banyak petugas yang jaga, jadi pasti Mas ngeluarin duit banyak," ketus Rara jengkel.
"Terus?" Alden masih belum mengerti maksud istrinya itu.
"Ya makanya Rara pura-pura pengen badak warna pink, karna mereka pasti gak bisa nurutinnya, jadi uangnya pasti dikembaliin."
"Jadi kamu pura-pura doang pengen ngeliat badak warna pink?" tanya Alden yang mulai memahami maksud istrinya.
Rara hanya mengangguk semangat. Senyum Alden langsung mengembang, bahkan ia terkekeh mendengar ucapan istrinya barusan, sungguh Alden tidak menyangka istrinya itu sejenius itu sehingga bisa membaca situasi.
"Gila! Ternyata istri gue jenius banget," batin Alden sambil tersenyum bangga.
"Bu Istri memang sangat jenius," ucap Alden sambil mengacungkan jempolnya.
"Iya dong, Rara gitu loh."
.
.
.
.
Author
Sebenarnya Rara ini jenius atau apasih.....
__ADS_1
Jadi keingat waktu kecil, pas emak marahin akoh, auto ambil tas terus masukin baju terus langsung cuss pergi dari rumah, tapi tapi ... pas sorenya akoh pulang lagi karnaa laperrrr.... auto diketawain wkwkwk
Maaf aku cuman up 1 kemaren, ku usahakan up lebih deh besok xixi.