Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen

Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen
Sebuah Tamparan Keras


__ADS_3

Setelah mengantar Ella pulang ke rumah, Alden lalu menjalankan mobilnya untuk pulang. Seperti kata dokter, Ella memang memiliki penyakit Leukimia, bahkan stadium tiga, hampir tidak ada harapan untuk bisa sembuh, mengingat kondisi tubuh wanita itu sedikit lemah.


Entah apa yang harus dilakukan Alden, ia sendiri tidak tau, apakah terus berbohong kepada istrinya karena membantu Ella? Atau tidak memperdulikan wanita itu?


Tak berselang lama, mobil Alden tiba di rumah. Laki-laki itu segera masuk, tidak sabar ingin bertemu istrinya.


"Assalamualaikum."


"Sayang?"


Tidak ada sahutan. Jika biasanya Rara akan menunggu kedatangan dengan duduk di ruang tamu, tapi kali ini tidak. Alden tetap berpikir positif, ia lalu melangkah menuju kamar, mengira jika istrinya mungkin kelelahan, dan memilih untuk tidur.


"Sayang?"


Lagi dan lagi tidak ada sahutan, bahkan Alden tidak menemukan keberadaan istrinya. Seketika perasaan cemas muncul di hatinya. Tidak biasanya Rara pergi tanpa ijin padanya, biasanya wanita itu akan meminta ijin, meskipun hanya keluar rumah untuk membeli sesuatu.


Alden lalu berlari mengelilingi rumah, berharap Rara mungkin ada di salah satu ruangan. Tapi, Alden sudah mencari ke segala penjuru, dan sama sekali tidak menemukan istrinya. Laki-laki itu bahkan terus berteriak memanggil istrinya. Apakah Rara menunggunya di taman? Tapi ... bukankah tadi hujan turun dengan sangat lebat? Tidak mungkin kan Rara menunggu? Sementara ia sudah mengirim pesan pada wanita itu bahwa ia tidak bisa mengantar Rara ke rumah sakit.


Alden lalu menyambar kunci mobil, pergi ke taman depan komplek. Tapi lagi dan lagi tidak menemukan keberadaan istrinya.


"Astaga Ra, kamu di mana?" gumam Alden khawatir.


Alden sudah seperti orang kesetanan, melajukan mobilnya dengan kecepatan sangat tinggi. Laki-laki itu bahkan tidak peduli dengan keselamatannya, yang ia pikirkan hanyalah istrinya saja. Dia bahkan lupa mengenakan seat belt, saking terburu-buru ingin mengetahui keberadaan Rara.


Akhirnya setelah hampir setengah jam, mobil Alden memasuki perumahan elit orang tuanya. Alden sangat yakin jika ayahnya pasti tau keberadaan Rara. Alden lalu dengan cepat memakirkan mobilnya di garasi, lalu masuk ke dalam rumah tanpa mengucap salam, laki-laki itu bahkan membanting pintu dengan cukup keras.


"Astagfhirullah! Alden!" pekik Elena karena terkejut, sedangkan Mike hanya diam, sedikit terkejut tapi bisa mengendalikan rasa terkejutnya.


"Rara di mana, Pah?" tanya Alden to the point, ia lalu berjalan mendekati Mike.


"Apa maksudmu?" tanya Mike dingin.


"Rara di mana, Pah? Papah pasti tau kan keberadaan Rara, karena Papah mengawasi rumah tangga Alden?" Alden kembali bertanya dengan lebih jelas, setelah mampu menormalkan deru napasnya.


Mike dan Elena lalu saling pandang, seolah-oleh mereka tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Alden. Sepertinya, pasangan itu berbakat menjadi aktor.

__ADS_1


"Kamu menanyakan keberadaan Rara? Al, are you okey ? Apa kepalamu baru saja terbentur?" tanya Mike dengan sinis.


"Pah! Alden lagi serius! Rara di mana? Papah pasti taukan di mana Rara!" Tanpa sadar Alden justru membentak ayahnya. Mike tentu tidak terima, ia lalu bangkit dan berjalan mendekati Alden, kemudian ....


Buggg


Mike melayangkan satu bogeman ke wajah tampan Alden. Merasa tidak puas, Mike kembali menghajar Alden sehingga membuat sudut bibir laki-laki itu berdarah. Napas Mike benar-benar sudah memburu, andai saja Elena tidak menghentikan, ia pastikan Alden akan habis di tangannya.


"Kenapa kamu menanyakan keberadaan istrimu pada kami? Hah?" teriak Mike menggelegar.


"Karena Alden yakin kalau Papah pasti tau," lirih Alden, sambil mengusap bibirnya.


"Untuk apa kamu menanyakan keberadaan istrimu? Bukankah dia tidak ada artinya untuk kamu? Bukankah Ella adalah segala-galanya buat kamu?" Mike tersenyum sinis.


"Pah, Alden suaminya!" Alden yang tidak terima dengan ucapan Mike lagi-lagi membentak orang tuanya.


"Iya, suami b******n yang sudah meninggalkan istrinya sendirian di pantai, sedangkan ia justru pergi dan berciuman dengan kekasi- maksudnya mantan kekasih." Akhirnya Elena ikut angkat bicara.


"Mah, Alden sudah mengatakan jika saat itu Alden nggak seng-"


"Maaf." Hanya itu yang bisa Alden katakan setelah diceramahi Elena.


"Apa kamu yakin Rara akan kembali memaafkan kesalahan kamu setelah apa yang kamu lakukan?" tanya Mike menatap putranya.


"Maksud Papah?" Alden bingung, apa lagi kesalahan yang ia buat?


"Pura-pura nggak tau?" Mike terkekeh. "Apa Rara akan memaafkan suaminya yang kembali berbohong? Meninggalkan dia sendirian di taman, sedangkan suaminya justru pergi bersama wanita lain? Bahkan di depan matanya sendiri ia melihat mobil suaminya yang melaju dengan kencang. Kedinginan di tengah hujan yang sangat deras, menangis di sana sendirian. Dia wanita lho! Kamu pikir dia bakal memaafkan kamu gitu aja, sementara kamu terus mengingkari janjimu?" Mike berkata dengan santai.


Melihat raut wajah bingung putranya, Mike lalu mengambil beberapa lembar foto yang tadi diberikan anak buahnya. Tapi, Mike sengaja tidak memberi foto Rara bersama Reza. Ia ingin melihat seperti apa reaksi putranya.


Alden mengambil dan melihat foto tersebut. Seketika tubuhnya membeku, apakah Rara sudah mengetahui semuanya? Apakah wanita itu tau jika dia berbohong tadi siang? Lalu apakah kali ini Rara akan memaafkan dirinya?


"P-Pah, a-apa Rara udah tau semuanya?" Tiba-tiba saja bibir Alden terasa kelu.


"Sepertinya begitu. Kamu tau? Dia menangis hampir satu jam lebih di taman, bahkan tubuhnya menggigil dan wajahnya sampai pucat. Apakah kamu berpikir Rara akan memaafkan kamu? Atau justru surat cerai yang akan diberikannya untuk kamu?" Mike terkekeh, seolah-olah mengejek putranya, sepertinya merasa senang jika perceraian itu benar-benar terjadi.

__ADS_1


Mendengar ucapan ayahnya, sontak saja tubuh Alden ambruk. Tidak! Rara tidak boleh meninggalkan dirinya! Dia akan gila tanpa Rara, apalagi jika wanita itu membawa anak-anaknya. Alden menggeleng dengan kuat, tidak sanggup memikirkan apa yang akan terjadi dengan dirinya jika Rara benar-benar meminta cerai.


"P-Pah, Alden mohon, di mana Rara?" Alden berlutut di depan kaki Mike, air matanya menetes. Menatap Mike dengan tatapan memohon, berharap Mike mau mengatakan di mana keberadaan istrinya.


"Waw, kamu bisa nangis Al? Mamah pikir kamu cuman bisa bikin orang nangis." kekeh Elena mengejek putranya. Tapi meskipun demikian, Elena sebenarnya merasa kasihan dengan Alden, merasa tidak tega dengan putranya yang menangis, tapi mau bagaimana lagi, putranya sudah benar-benar keterlaluan.


Seketika Alden teringat, mungkin saja istrinya berada di rumah Abimanyu. Alden lalu bangkit, berniat pergi untuk menjemput istrinya di sana. Tapi, sebelum itu terjadi, Mike lebih dahulu angkat bicara sehingga membuat langkah laki-laki itu berhenti.


"Apa kamu ingin pergi ke rumah Abimanyu? Dan akan saya pastikan jika kamu tidak akan selamat jika ternyata Rara tidak ada di sana!" Mike berkata dengan dingin.


Benar! Jika ia pergi ke sana, dan tidak mendapatkan istrinya, maka ia akan habis di tangan mertuanya. Alden lalu berbalik, kemudian kembali berlutut di depan Elena, berharap Elena mau memberitahukan keberadaan Rara. Alden benar-benar stres, bagaimana kondisi istrinya sekarang? Ini sudah malam, dan dia masih belum menemukan istrinya.


"Rara sangat terpukul dengan kebohongan kamu Al. Jadi Mamah mohon, biarkan dia sendiri dulu. Kamu udah keterlaluan, kamu memalukan Al. Rara sudah mengatakan jika dia ingin sendiri. Memikirkan apa yang akan dia lakukan salanjutnya. Entah apa yang akan dia putusnya, Mamah akan tetap setuju. Seorang wanita masih mampu untuk bertahan dengan satu kebohongan, tapi sangat sulit untuk memaafkan kebohongan yang sama untuk kedua kalinya!" ucap Elena sambil menatap sendu putranya.


"Apa kamu masih punya muka untuk bertemu istri kamu? Setelah apa yang sudah kamu lakukan? Saya pikir kamu sudah tidak waras jika berani menunjukkan batang hidungmu di depan Rara!" sinis Mike.


"Biarkan Rara sendiri dulu. Dia butuh waktu untuk menyembuhkan luka yang sudah kamu buat. Meski pada akhirnya luka itu tidak akan sembuh," ucap Elena, lalu bangkit dari sofa yang ia duduki, kemudian menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar.


"Jangan pernah kamu membuat luka baru lagi di hati Rara! Atau jika itu benar-benar terjadi, maka Papah pastikan kamu tidak akan bisa bertemu istrimu lagi!" ucap Mike dingin, lalu bangkit dan menyusul istrinya masuk ke dalam kamar meninggalkan Alden sendirian.


Alden terduduk lemas di lantai. Membayangkan istrinya yang menunggu dia di tengah hujan yang sangat deras, berdiam di sana selama satu jam? Apakah istrinya baik-baik saja sekarang?


"Ra, kamu di mana sayang? M-Mas minta maaf. Mas tau kalau Mas udah keterlaluan. Mas harap kamu tidak akan pergi dan meninggalkan Mas." Alden menangis di ruang tamu tersebut. Menyesal? Tentu! Tapi, apakah ia merasa bersalah? Entahlah, bukankah dia baru saja melakukan kebaikan? Dia tidak mungkin kan meninggalkan Ella yang kondisinya sedikit drop siang tadi?


"Kembali sayang. Hiks ...."


.


.


.


.


Nangis juga kan lo akhirnya Sarden.. Ini baru permulaan Bwangg >< Entar kalaupun lo nangis darah, Rara tetap nggak akan kembali...

__ADS_1


Muter? NGGAK LAH!! Ya Allah, ini benar nggak muter kok, suerr✌


__ADS_2