
..."Mencintai bukanlah apa-apa. Dicintai adalah sesuatu. Tapi mencintai dan dicintai berarti segalanya"...
...Alden and Diandra...
...------------------------...
Sehabis dari mall, Rara dan Alden lalu pulang.
Saat sedang menyetir, Alden sesekali menatap istrinya yang terlihat tegang dan seperti banyak pikiran, hal itu tentu membuat Alden sedikit bingung.
"Kamu kenapa sayang? Kok kayak banyak pikiran aja," ucap Alden heran sambil menatap sebentar istrinya, lalu kembali menatap kedepan.
Rara yang memang sedang melamun seketika sedikit terkejut mendengar ucapan suaminya.
"Mas tadi ngomong apa?" tanya Rara, ia tidak terlalu jelas mendengarnya, itu karena pikirannya sedang berkeliaran kemana-mana.
"Kamu kenapa kayak banyak pikiran?" tanya Alden lagi.
"Oh, itu... anu... Rara cuman mikirin hubungan bang Sat sama Rissa aja," ucap Rara berbohong.
"Emang kenapa sama hubungan mereka?"
"Rara heran aja, Rara gak pernah mergokin bang Sat diam-diam ngeliat Rissa, dan Rara juga gak pernah mergokin Rissa diam-diam ngeliat bang Satya, jadi Rara heran aja mas, kok Rara bisa gak tau ya, padahalkan Rara orangnya peka lho," tutur Rara.
"Sejak kapan kamu peka Ra?" celetuk Alden tiba-tiba, setelah itu Alden langsung menutup mulutnya, sungguh ia tidak sengaja keceplosan.
"Maksud mas apaan? Jadi Rara orangnya gak peka gitu," ketus Rara kesal.
Sedangkan Alden sedikit kelabakan, ia sedang tidak ingin berdebat dengan istrinya itu.
"Gak gitu Ra, maksud mas tadi... betul banget, kok bisa ya kita gak nyadar mereka ternyata saling suka, padahalkan kamu orangnya cukup peka," ucap Alden yang ikutan berpura-pura heran, padahal ia sudah bisa menebak sejak diacara pernikahannya saat itu.
"Nah itu Rara juga heran mas," ucap Rara mengiyakan ucapan suaminya.
"Emang kenapa kalau mereka pacaran? Kamu gak setuju?"
"Rara sih setuju-setuju aja mas, lagian Rissa kan cewek baik," ucap Rara tersenyum manis.
Alden yang mendengarnya hanya mengangguk menyetujui ucapan istrinya, dari yang ia lihat, Rissa memang perempuan yang baik, hanya saja kelakuannya sama seperti istrinya, yaitu bar-bar.
"Ini kita mau makan direstoran atau dirumah?" tanya Alden.
"Dirumah aja deh mas, Rara juga udah sms bibik buat bikin makan malam," ucap Rara lembut.
Alden yang mendengarnya hanya mengangguk saja pertanda paham, setelah itu ia tidak bertanya lagi, ia kembali fokus menatap jalanan, sedangkan Rara kembali bergelut dengan pikirannya sendiri.
"Sumpah gue ngerasa deg-deg'an banget," batin Rara.
Tak berselang lama, Alden dan Rara akhirnya sampai dirumah, mereka lalu berjalan naik keatas untuk membersihkan diri.
"Sumpah gue takut banget," ucap Rara setelah menutup pintu kamarnya. Alden memang memilih untuk membersihkan diri dikamarnya saja, menurutnya itu lebih menghemat waktu.
"Oke Ra, lo harus bisa, ini udah saatnya mas Alden dapat apa yang seharusnya menjadi miliknya," ucap Rara menyemangati dirinya.
Rara lalu masuk kedalam kamar mandi, lalu mulai membersihkan dirinya dengan sabun yang baru ia beli, sungguh Rara sangat suka sekali dengan baunya, bau bunga mawar menyeruak dari tubuhnya. Setelah selesai membersihkan diri, Rara lalu duduk didepan meja rias, lalu memoles sedikit bedak tipis diwajahnya, setelah itu memoles lipstik dibibirnya.
Rara lalu keluar dari dalam kamar dengan pakaian tidur yang wajar, saat membuka pintu ia tak sengaja bertemu suaminya yang kebetulan membuka pintu juga.
Alden yang mencium aroma bunga mawar menyeruak dari tubuh istrinya hanya meneguk salivanya dengan kasar, ia berusaha menahan gejolak nafsunya.
"Kamu udah bersih-bersih Ra?" tanya Alden basa basi.
"Iya dong mas, gak liat Rara kan udah cantik, udah wangi juga," ucap Rara sambil melenggokkan tubuhnya.
Hal itu justru membuat Alden tersiksa, tapi apalah daya, ia tidak mungkin memaksa istrinya melakukannya.
"Ya udah ayok makan," ucap Alden tersenyum paksa.
Rara hanya menggangguk saja tanpa mengeluarkan sepatah katapun, lalu mereka turun menuju meja makan.
Rara dan Alden lalu duduk berdampingan, Rara dengan gesit mengambil lauk pauk sesuai porsi suaminya tanpa Alden berbicara terlebih dahulu. Hari ini Rara benar-benar akan melayani suaminya dengan baik.
"Makasih ya sayang," ucap Alden lembut sambil tersenyum tipis.
"Sama-sama mas, ya udah ayok makan,' ucap Rara lembut sambil tersenyum manis.
Saat sedang makan, Alden sedikit heran dan geli melihat istrinya yang makan dengan cepat dan sangat lahap.
"Astaga pelan-pelan Ra, mas gak akan makan milik kamu kok," ucap Alden heran.
__ADS_1
Seketika wajah Rara memerah menahan malu saat mendengar ucapan suaminya. Rara lalu memberanikan diri menatap mata suaminya.
"Gue udah jadi milik mas Al, ini adalah tugas gue, gue gak boleh ngecewain dia, gue merasa bersalah banget karna udah buat mas Al sengsara menahan nafsunya, gue rasa ini udah saatnya mas Al mendapatkan haknya" batin Rara sambil menatap dalam manik mata suaminya.
"Semoga gue gak salah ambil keputusan."
"Ra!"
"Eh kenapa?" tanya Rara yang seketika sadar.
"Yang harusnya nanya itu mas, kamu kenapa bengong aja dari tadi? Mana ngeliatin masnya kayak gitu," ucap Alden.
"Eh gak papa kok mas, ya udah ayok dilanjutin makannya," kilah Rara.
Meskipun Alden sedikit heran dengan sikap istrinya, tetapi ia tak memperdulikannya, ia segera memakan kembali makannya.
.
.
Sehabis makan, Rara dan Alden lalu masuk kedalam kamar Rara. Alden memang selalu tidur dikamar Rara.
"Ya udah Rara mau kekamar mandi dulu," ucap Rara sambil membawa paper bag.
Alden hanya bergumam mendengarnya, lalu ia mulai fokus dengan handphonenya, memeriksa beberapa laporan dari kantor, yang menurutnya sedikit tidak penting.
Sedangkan didalam kamar mandi, Rara sedang gelisah sambil memutar balikkan lingerie yang ada ditangannya.
"Buset bajunya kok kayak gini ya, udah tipis mana pendek lagi," gerutu Rara.
"Aduh sumpah gue deg-deg'an banget, tapi ini udah menjadi kewajiban gue, lo bisa Ra," ucap Rara menyemangati dirinya sendiri sambil melihat bayangannya dicermin.
Rara lalu mulai mengenakan daleman seksi yang ia beli tadi, lalu mengenakan lingerie yang berwarna merah terang, setelah itu ia kembali memoleskan sedikit bedak dan kembali memoleskan lipstik berwarna merah terang.
"Buset, kok gue kayak jal*ng ya," kekeh Rara melihat bayangannya didepan cermin.
Rara lalu menarik nafas dan mengeluarkannya secara perlahan, setelah itu keluar dari dalam kamar mandi.
Ceklek
Saat Rara keluar dari kamar mandi, ia sedikit menunduk, tapi ia tidak menemukan respon suaminya. Rara lalu mulai mengangkat kepalanya, ternyata suaminya sedang fokus dengan benda pipih miliknya.
"Mas," cicit Rara.
Deggg
Alden seketika terdiam membisu melihat penampilan Rara yang menurutnya sangat cantik dan sexy malam ini. Sedangkan Rara yang melihat suaminya menatapnya langsung kembali menunduk malu.
"Sa-sayang," ucap Alden terbata-bata dengan suara berat.
Rara tak menyahutinya, ia hanya meremas tangannya yang terasa dingin.
"Ma-maksud kamu apa?" tanya Alden sambil terus menatap Rara.
Seketika Alden merasa ada yang berontak dibawah sana, melihat Rara yang berpenampilan seperti itu, junior Alden rasanya menegang.
Rara lalu menarik nafas. "Rara siap mas," ucap Rara mantap.
"Si-siap apa?" tanya Alden yang takut salah mengartikan maksud istrinya.
"Rara siap melayani mas, Rara siap memberikan hak mas," ucap Rara dengan penuh keyakinan.
"Sayang, kau membuat mas terangsang."
Alden tersenyum manis, lalu ia mulai bangkit dari tempat tidur dan berjalan mendekati Rara, Rara yang melihat suaminya mendekat hanya diam mematung antara takut dan gugup.
Alden lalu memeluk Rara dan mulai mengelus punggung mulus Rara yang masih terbungkus lingerie, setelah itu Alden melepaskan pelukannya lalu mulai mencium bibir cerry Rara dengan sedikit kasar, Rara awalnya terkejut dengan ciuman suaminya, tapi setelah itu ia ikut membalas ciuman itu. Setelah puas dengan bibir manis Rara, ciuman Alden turun ke leher putih Rara. Alden mencium leher putih Rara dengan penuh gairah dan membuat beberapa tanda disana.
"Enghh." D*sahan pertama Rara lolos dari mulutnya, membuat Alden semakin bersemangat melanjutkan kegiatannya.
Alden lalu menggendong Rara dan menghempaskannya diatas kasur, lalu kembali menyerang bibir manis Rara sambil tangannya berkeliaran dibukit kembar milik Rara. Rara tentu semakin menggila dengan ulah suaminya, Rara terus mengeluarkan suara aneh tanpa sadar.
Alden lalu mulai menyingkap lingerie yang membungkus tubuh sexy istrinya, lalu membuang kesembarang arah. Alden kembali mencium bibir Rara sambil tangannya berusaha membuka tali bra istrinya. Setelah berhasil Alden lalu merem*s lembut buah d*d* Rara yang sintal.
Puas bermain dibagian atas, Alden lalu membuka ce*ana da*am istrinya, dan terpesona dengan barang berharga istrinya. Alden lalu mulai membuka seluruh pakaiannya, sehingga memamerkan pedang panjang miliknya. Rara yang melihatnya seketika melotot, ia merinding membayangkan pedang itu masuk kedalam miliknya yang sempit. Tanpa sadar Rara menutup miliknya menggunakan kedua tangannya.
"Kenapa?" tanya Alden dengan suara berat.
Rara tidak menjawab, bibirnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan suaminya.
__ADS_1
"Kalau kamu belum siap, mas gak maksa kok sayang," ucap Alden sedikit kecewa.
Saat Alden hendak pergi, Rara segera menahan tangan kanan suaminya, dan itu membuat Alden bingung.
"Kenapa Ra?" tanya Alden yang tidak mengerti maksud istrinya itu.
"Mas jangan pergi, Rara siap kok, Rara cuman sedikit terkejut dan takut aja, soalnya punya mas gede banget, mana panjang lagi. Kayaknya gak bakal muat deh," ucap Rara jujur.
Alden yang mendengarnya langsung mengembangkan senyumnya, ia pikir Rara hanya terpaksa melakukannya karna merasa bersalah dengannya. Alden juga merasa bangga karna miliknya dipuji oleh istrinya.
"Jadi kamu takut cuman karna ini?" tanya Alden terkekeh sambil menunjukkan miliknya.
Rara hanya mengangguk polos saja sambil menunduk memainkan ujung jarinya.
"Kamu gak usah takut Ra, mas akan pelan-pelan kok, kamu tenang aja, mas akan membuat kamu merasakan kenikmatan yang tidak pernah kamu rasakan sebelumnya," tutur Alden sedikit mengoda.
Rara yang mendengarnya hanya mengangguk saja tanpa mengeluarkan sepatah kata. Alden yang melihatnya seketika mengembangkan senyumnya.
"Kamu benaran siap sayang, mas gak mau kamu melakukan ini karna kamu kasihan sama mas, mas gak mau kamu menyesal," tutur Alden yang masih belum yakin dengan istrinya.
"Rara siap kok mas, Rara ngelakuin ini bukan karna kasihan, tapi karna ini udah menjadi tugas Rara sebagai istri, Rara gak bakal menyesal kok. Lanjutin aja mas," ucap Rara lembut.
"Baiklah kamu yang meminta, jadi jangan pernah menyesal," ucap Alden, lalu kembali menyerang Rara.
Alden lalu mulai menyatukan miliknya dan milik istrinya.
"Arggg ... hiks." Rara merasa sangat sakit saat merasakan ada yang robek dari dalam miliknya.
Alden yang melihat air mata Rara lalu membiarkan miliknya sebentar tanpa bergerak untuk mengurangi sakit yang istrinya sedang rasakan. Alden lalu mencium bibir Rara dengan lembut.
Setelah dirasa Rara mulai tenang, Alden lalu mulai memompa dengan pelan, dan lam-lama semakin hebat, Rara terus mend*sah dan mengeluarkan suara-suara aneh.
"Akh-ahh-ahh le-lebih ce-cepat mashhh," ucap Rara yang merasakan kenikmatan.
Alden semakin semangat, ia memompa lebih cepat, sambil memainkan buah d*d* Rara dan sesekali mencium bibirnya.
"Ma-mashh ... Ra-Rara pengen ke-keluar Mashh," ucap Rara.
"Bersama sayang," ucap Alden yang semakin mempercepat pompaannya.
"Aakhhh." Alden berteriak saat sudah mencapai *******.
Alden lalu menjatuhkan tubuhnya diatas tubuh Rara, agar sp*rma miliknya tidak tumpah.
"Gi-gimana sayang? Enakkan?" tanya Alden sambil menatap wajah istrinya yang terlihat sangat cantik dimatanya, dengan peluh dan rambut yang berantakkan justru menambah kadar kecantikannya.
"E-enak kok Mas," ucap Rara sedikit malu-malu.
"Mas mau lagi, boleh ngak?" tanya Alden yang masih menginginkannya lagi.
"Ra-Rara capek Mas," ucap Rara yang benar-benar merasa kelelahan.
"Yaudah gak papa, Mas minta maaf," ucap Alden sambil mencium kening.
"Makasih ya sayang," ucap Alden sambil menatap manik mata Rara dengan penuh kasih sayang.
"Lho, makasih buat apa Mas?" tanya Rara lembut.
"Makasih karna sudah menjaga mahkota berharga kamu buat Mas," ucap Alden tulus.
"Mas gak akan ninggalin kamu, Mas akan selalu sayang dan mencintai kamu Ra," lanjut Alden tulus.
"Sama-sama Mas."
"Rara harap ini awal kebahagiaan yang sesungguhnya," batin Rara sambil tersenyum tipis.
.
.
.
Author
Akhhh bikinnya sambil mesem-mesem sendiri, sampai dikira gila😆
Akhirnya mereka udah juga🤭, awal kebucinan dimulai🥳.
Tapi agak kasihan sih sama Rara, soalnya konfliknya bakal dimulai🥺, kasihan sama Rara yang udah ngasih barang berharganya😭. Jadi gak rela bikin konfliknya😄
__ADS_1
Yaudah deh, sekian dari aku, moga suka ya😇.
Jangan lupa tinggalkan jejak lho, soalnya ini udah live🤭, biasanya kan yang aku baca cuman singkat doang😂.