
..."Jangan pernah berjanji, jika pada akhirnya kamu mengingkarinya"...
...Diandra Latasha Jonshon...
...•••••••••••...
"S - sebenarnya aku pergi karena aku memiliki penyakit leukimia No," jawab Ella dengan suara pelan.
"Ma - maksud kamu?"
"Aku ninggalin kamu karena aku dinyatakan positif terkena penyakit leukimia No. Aku terpaksa ninggalin kamu karena aku pikir hidupku nggak akan lama lagi, aku nggak mau bikin kamu kecewa dan sedih, makanya aku memutuskan untuk membuat kamu benci sama aku dan melupakan aku. Ta - tapi ... hiks ... aku nggak bisa lupain kamu No, aku terlalu sayang sama kamu. Setiap hari aku selalu berharap bertemu kamu, tetapi takdir tidak mempertemukan kita, hingga aku nyerah. Tapi ... ternyata aku melihat kamu dengan wanita lain, ternyata kamu udah menikah. Aku sempat terpukul, tapi bukankah itu wajar jika kamu ninggalin aku. Aku minta maaf sama kamu No ...." Ella menjelaskan sambil menangis sesenggukkan. Entah wanita itu jujur atau tidak, tapi Alden sangat yakin jika Ella tidak akan mungkin berbohong, ia sangat tau wanita itu.
Alden terdiam mendengar penuturan Ella. Jadi, selama ini gadis itu meninggalkannya karena memiliki penyakit mematikan? Seketika Alden merasa bersalah, ia benar-benar merasa seperti laki-laki bre**sek yang tega berkhianat pada sang kekasih, dan yang lebih parahnya, ia sempat membenci Ella. Padahal wanita itu sedang mengalami masa-masa sulit, dan ia tidak ada di samping wanita itu. Alden benar-benar menyesal telah berkhianat dan menikah dengan wanita lain. Tapi apakah ia benar-benar menyesal?
Ah! Alden seketika bimbang, bingung dengan perasaannya sendiri. Jujur ia sangat mencintai istrinya, tetapi mendengar alasan sang mantan kekasih yang mengatakan alasan sesungguhnya membuat Alden bimbang. Hatinya terbagi menjadi dua, entah nama siapa yang lebih bertahta? Alden sendiri tidak tahu.
"Apa kamu sudah sembuh?" tanya Alden khawatir.
"Belum," lirih Ella.
"Maksudmu?"
"Kamu tahu sendiri jika aku nggak punya uang buat berobat. Jadi, aku hanya mengkonsumsi obat saja," jawab Ella.
"Ka - kamu sudah stadium berapa?" tanya Alden sedikit terbata-bata.
"Stadium tiga," lirih Ella lagi.
"Kamu kenapa nggak bilang sama aku sih! Aku itu kekasihmu! Jika kamu mengatakannya sedari awal, aku mungkin akan membantu biaya pengobatanmu!" Tanpa sadar Alden membentak Ella.
"Maaf ... a - aku hanya tidak mau menyusahkan kamu." Ella hanya bisa menunduk saat Alden membentaknya.
"Maaf ... aku tidak sengaja membentak kamu El, aku hanya merasa seperti laki-laki bre**sek yang justru menikah dengan wanita lain di saat kekasihku justru mengalami masa-masa yang sulit." Alden langsung membawa wanita itu ke dalam dekapannya.
Ella tidak keberatan, ia justru merasa nyaman berada di dekapan Alden. Menghirup aroma tubuh laki-laki itu yang dulu menjadi candunya.
'Aku harap, aku tidak akan kembali jatuh cinta padamu No'
"Kamu selalu seperti ini El. Kamu selalu tidak mau menyusahkan orang lain. Padahal aku ini kekasihmu. Kenapa kamu tidak mengatakannya dari dulu agar aku membantumu?" Tanpa sadar air mata Alden terjatuh membayangi masa-masa sulit kekasihnya. Sementara ia? Ia justru berbahagia bersama wanita lain.
"Maaf ...." Hanya kata itu yang bisa Ella ucapkan.
"Tidak apa-apa, aku memaafkan kamu. Di sini justru aku yang salah. Aku minta maaf." Alden sedikit mendorong Ella sehingga pelukan itu lepas. Ia lalu menghapus air mata yang mengalir dari mata Ella.
"Apakah kamu sering pergi ke rumah sakit?" tanya Alden.
"Tidak, aku tidak punya uang sebanyak itu untuk berobat," jawab Ella.
"Kenapa? Kamu seharusnya pergi ke rumah sakit El." Alden sedikit tidak suka saat mendengar jika termyata Ella jarang ke rumah sakit.
"Kamu sendiri tau No, kalau uang yang aku dapat hanya cukup untuk makan sehari-hari." Ella hanya menunduk.
Seketika Alden terdiam, apa yang diucapkan Ella ada benarnya. Alden tau sekali seperti apa kondisi ekonomi wanita itu. Ella adalah gadis yatim piatu. Orang tuanya sudah meninggalkan ia sejak masih kecil.
"Mulai sekarang kamu harus pergi ke rumah sakit! Aku yang akan membayar pengobatanmu!" ucap Alden tegas.
"Tapi ...."
"Tidak ada tapi-tapi El! Pokoknya kamu harus pergi ke rumah sakit!" Alden tidak terima penolakkan.
"Tapi ... apakah kamu mau menemaniku?" tanya Ella dengan suara pelan, takut jika Alden justru tidak mau.
"Tentu!" Alden menjawab tanpa berpikir panjang.
"Ya udah, aku pamit mau pulang, ya?" Ella lalu bangkit.
"Kamu pulang sama siapa?" tanya Alden.
"Hem, entahlah, aku nggak tau. Aku sendiri ke pantai ini, hanya untuk mengingat kenangan-kenangan kita karena aku tidak bisa pergi jauh, jadi aku hanya menganggap jika ini pantai kita berdua dulu." Ella tersenyum.
Alden ikut tersenyum mendengar alasan Ella datang ke pantai, dan Alden semakin mengembangkan senyumnya melihat senyum manis Ella, senyum yang membuat ia candu.
"Ya udah, aku anterin, ya?" ucap Alden sambil bangkit dari duduknya.
"Nggak per -"
__ADS_1
"Shhh!" Ella memegang kepalanya seolah-olah sakit kepala.
"Kamu kenapa?" tanya Alden khawatir.
"Nggak apa-apa kok No, cuman sakit kepala sedikit doang." Ella meyakinkan dengan tersenyum tipis.
"Apanya yang nggak apa-apa? Orang kamu sakit!" Alden menjadi kesal sendiri.
"Ya udah, pokoknya aku anterin kamu pulang, tidak ada penolakkan!" ucap Alden penuh penekanan.
"Lalu ... istri kamu, gimana?"
Alden terdiam sebentar. Ia bahkan lupa akan keberadaan istrinya yang pastinya sedang menunggu di tepi pantai. "Cuma sebentar, kok. Jadi nggak apa-apa."
Akhirnya Alden pun mengantarkan Ella ke rumah milik kekasihnya. Ah tapi, apakah Ella masih bisa dibilang kekasihnya? Entahlah, Alden sedikit bingung siapa Ella untuknya sekarang, kekasih kah atau mantan kekasih?
Saat dalam perjalanan, ponsel Alden berdering. Ternyata Rara yang menelpon. Ragu-ragu Alden menekan tombol berwarna hijau. Sebelum mengangkat panggilan, ia sudah menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
"Halo, sayang?" sapa Alden dengan manis.
Ella yang berada di samping Alden hanya bisa menunduk, bukan karena ia cemburu, tetapi karena ia kasihan pada wanita itu yang ditinggal oleh suaminya.
"Mas kencing batu, apa? Kok lama banget!" teriak Rara dari seberang sana.
"Maaf sayang. Kayaknya Mas ada urusan."
"Urusan? Urusan apa?" selidik Rara.
"Pekerjaan, sayang. Tadi Bryan menelpon Mas, katanya Mas harus menandatangani dokumen untuk besok."
Rara mendengus kesal mendengarnya. Apa-apaan suaminya tiba-tiba mengurus pekerjaannya dan meninggalkan istrinya sendirian di pantai ini.
"Sayang?" panggil Alden. Dia tau, jika saat ini istrinya itu sedang marah.
"Apaan?" ketus Rara dari seberang sana.
"Kamu tunggu aku, ya? Aku cuman sebentar, kok! Aku janji nggak akan lama. Nggak apa-apa, kan?"
"He'em."
Dengan berat hati Rara mengiyakan. Apalagi suaminya sudah berjanji. Jadi, Rara pikir suaminya tidak akan berbohong karena Alden bukanlah tipe orang yang akan ingkar janji.
"Aduh, ternyata kamu pintar ngebohong ya, No?" kekeh Ella dengan terpaksa.
'Siapa pun kamu, aku minta maaf.'
Alden tak menjawab, laki-laki itu hanya diam. Fokus dengan jalanan yang ada di depannya.
********
Sudah cukup lama Rara menunggu suaminya, tetapi masih belum ada tanda-tanda suaminya kembali.
Rara melahap makanan bekalnya dengan sangat lahap. Awalnya ia tidak ingin makan, ia berniat menunggu suaminya, karena ingin makan bersama-sama. Tapi apa-apaan ini? Laki-laki itu bahkan meninggalkannya dirinya hanya karena pekerjaan! Sungguh, sepertinya suaminya memang tidak memiliki otak!
"Apa sebegitu pentingnya pakarjaan dia sampai melupakan istrinya sendiri," gerutu Rara sambil memakan bekalnya dengan sangat lahap.
"Uhuk ... uhuk ... uhuk!" Rara tersedak karena makan terlalu lahap.
Minum! Ya, ia butuh minum!
Rara lalu mengobrak-abrik tas miliknya tetapi tidak menemukan air. Ternyata ia lupa memasukkan air untuk mereka. Saat dirinya sedang membutuhkan minum, tiba-tiba seseorang menyodorkan sebotol air mineral untuk Rara. Dengan cepat Rara langsung meneguk air mineral itu tanpa melihat siapa pemiliknya.
"Makasih, nanti akan saya ganti," ucap Rara sambil menyeka mulutnya.
"Nggak perlu."
Rara mendongakkan kepalanya, menatap laki-laki yang baru saja menyodorkan sebotol air mineral kepadanya.
"Kenzo?" Rara sedikit terkejut saat mengetahui ternyata orang yang menyodorkan sebotol air mineral kepadanya adalah Kenzo.
"Hai, Diandra." Kenzo tersenyum manis, lalu duduk di sebelah Rara tanpa meminta ijin terlebih dahulu pada Rara.
Kenzo sedikit melirik perut Rara yang membesar. Rara tentu sedikit terkejut, ia baru ingat jika Kenzo tidak tahu jika ia sudah menikah.
Rara memegang perutnya sambil menunduk, takut jika Kenzo akan menyebarkan berita kehamilannya pada anak kampus. Tapi, bagaimana pun Rara tidak bisa menyembunyikan perut besarnya.
__ADS_1
Kenzo terkekeh melihat perilaku Rara. "Lo tenang aja, gue udah tau kok, kalau lo sebenarnya udah nikah sama pak Alden." Kenzo berkata sambil terkekeh.
"Maaf ...."
"Maaf kenapa?" Kenzo mengerutkan alisnya, bingung dengan maksud gadis, ah! Maksudnya wanita di depannya.
"Maaf karena sudah membohongi lo waktu itu, dan gue minta maaf juga karena saat itu Mas Alden menampar lo." Rara merasa sedikit bersalah karena saat itu suaminya menampar wajah Kenzo.
"Nggak apa-apa, santai aja, itu wajar kok kalau pak Alden marah istrinya di pegang laki-laki lain. Jadi, seharusnya gue yang meminta maaf." Kenzo berbicara sambil terkekeh kecil.
'Cih ... sayangnya lo sudah terlambat Diandra.'
"Lo sama siapa ke sini? Ah maaf! Apa gue boleh duduk di sini?"
"Tentu! Duduklah! Gue ke sini sama Mas Alden," jawab Rara sambil tersenyum tipis.
Kenzo hanya mengangguk paham. Setelah itu tidak ada lagi obrolan di antara mereka. Keduanya sama-sama terdiam, hingga matahari mulai kembali pada peraduannya, langit yang tadinya membiru, kini sudah berubah menjadi menjingga.
Rara masih setia menunggu kedatangan suaminya, dan Kenzo masih setia menemani Rara. Meski keduanya hanya saling membisu.
"Ini udah sore, lo nggak mau pulang?" tanya Kenzo dengan suara lembut.
Rara hanya menggeleng pertanda tidak. Rara menolak pulang sekarang karena takut jika nanti suaminya kembali, dan ternyata tidak mendapati dirinya.
"Memangnya suami lo pergi ke mana?" tanya Kenzo berpura-pura tidak tahu.
"Dia bilang kalo dia ada kerjaan mendadak," jawab Rara jujur.
"Dan dia meninggalkan lo sendirian?" Kenzo memasang wajah tidak percaya. "Bagaimana mungkin dia meninggalkan lo hanya karena pekerjaan?" Kenzo memulai aksinya, yaitu membuat wanita hamil itu ragu dengan suaminya.
"Jangan ikut campur urusan rumah tangga gue," jawab Rara dengan suara datar.
Melihat suara datar dari Rara membuat Kenzo tersenyum miring tanpa sepengetahuan Rara.
"Lo pulang, ya? Gue yang akan antar lo."
"Tidak!" jawab Rara singkat.
"Tapi ini udah sore! Nggak baik buat lo dan bayi yang ada di kandungan lo!" tegas Kenzo.
Rara menatap Kenzo dengan tatapan sendu.
"Gue tahu. Tapi ...."
"Tapi apa?" tanya Kenzo tak sabaran.
"Bisakah jika menunggu sebentar lagi? Gue takutnya, jika Mas Alden datang ke sini untuk menjemput, tetapi gue sudah pulang," jelas Rara. Rara masih kekeh jika suaminya pasti akan menjemputnya. Ia yakin jika suaminya tidak akan meninggalkan ia sendirian di sini! Apalagi suaminya sudah berjanji.
Kenzo hanya diam, ia tak berkomentar apa pun. Dia sebenarnya tau jika Alden tidak akan kembali. Karena laki-laki itu pergi bersama kekasihnya, Raya. Ah! Apakah Raya pantas disebut kekasih Alden? Mungkin sebentar lagi ha-ha-ha.
Tiba-tiba saja bayi yang ada di dalam kandungan Rara kembali menendang. Rara tersenyum, lalu tanganya mulai mengelus perutnya.
"Dedek-dedek kanget sama daddy, ya? Sabar ya, daddy lagi kerja, buat nanti beli mamam buat dedek-dedek." Rara tersenyum.
Kenzo yang melihat perut Rara ditendang dari dalam oleh bayi-bayi yang ada di kandungan Rara, jadi ingin mencoba merasakannya.
"Boleh gue pegang perut lo? Gue cuman penasaran gimana rasanya." Kenzo bertanya dengan hati-hati.
"Tentu saja!" jawab Rara tersenyum.
Kenzo lalu mendekatkan tangannya pada perut Rara, lalu mengusapnya. Dia merasakan, jika bayi-bayi itu sedang menendang-nendang.
"W - wah ...." Kenzo benar-benar takjub. Ini pertama kalinya ia memegang perut wanita hamil, dan itu luar biasa!
"Luar biasa, kan?" tanya Rara.
Kenzo mengangguk semangat, rasanya benar-benar menakjubkan.
Kenzo kembali membujuk Rara untuk pulang karena hari sudah mulai gelap. Rara awalnya menolak, tetapi karena kasihan dengan anak-anaknya, Rara akhirnya menyetujui. Mengingat hari mulai gelap, dan angin semakin dingin, sangat tidak baik untuk dirinya dan bayi-bayi yang ada di dalam perutnya.
'Dan pada akhirnya, kamu mengingkari janjimu.'
.
.
__ADS_1
.
.