Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen

Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen
Pengen Martabak Bang Sat


__ADS_3

Hampir tiap hari Rara mengeluarkan isi perutnya. Rasanya sangat mual, sampai - sampai badan Rara terasa lemah.


Hari ini adalah akhir pekan, sehingga Alden bisa menemani Rara dirumah. Alden tak memiliki rencana untuk pergi keluar, ia hanya ingin menghabiskan waktu bersama istrinya.


"Masih mual?" tanya Alden sambil mengusap lembut kepala istrinya yang sedang bersandar didada bidangnya.


"Iya," lirih Rara.


Wajah Rara terlihat sangat pucat, sehingga membuat Alden merasa khawatir. Sebelumnya Rara tidak seperti ini, ia hanya mengeluarkan isi perutnya saat pertama hamil, setelah itu tidak pernah lagi, tapi beberapa hari ini Rara justru terus menerus mengeluarkan isi perutnya, bahkan untuk makanpun ia sangat susah sekali.


"Kamu makan, ya?" tawar Alden sambil terus mengusap kepala istrinya dengan penuh kasih sayang. Alden khawatir dengan istrinya, apalagi ia belum makan apapun.


"Gak mau!" ucap Rara sambil menggelengkan kepala.


"Kenapa gak mau hmm? Kamu harus makan sayang, biar kamu gak pucat kayak gini."


"Gak mau Mas! Rara gak berselara," tolak Rara lagi.


Alden hanya bisa menghela nafas berat mendengar ucapan istrinya. Ia bingung, bagaimana istri dan bayi yang sedang dikandung oleh Rara akan mendapat nutrisi, jika ibunya saja tidak memakan apa-apa sedari pagi.


"Dedek ko jadi rewel gini, sih? Dedek gak kasihan sama Mommy apa? Mommy gak makan apa-apa lho dari tadi pagi. Kalo Mommy nggak makan, nanti dedek gak bisa gede. Dedek gak mau apa main bola sama Daddy? Daddy gak mau apa ketemu Daddy yang paling ganteng ini?," ucap Alden berbicara dengan bayi yang ada didalam perut Rara.


"Nggak mau! Daddy jelek," ucap Rara menirukan suara bayi.


"Astagfhirullah sayang, masa Mas yang ganteng kayak gini dibilang jelek," ucap Alden kesal.


"Canda Mas," kekeh Rara.


Tangan Rara terangkat, lalu mengusap lembut kepala Alden yang berada tepat di depan perutnya.


Alden mendongakkan kepalanya, menatap Rara yang sedang menatapnya. Kemudian Alden tersenyum, mendekatkan bibirnya pada bibir cerry milik istrinya.


Sudah cukup lama Alden belum berhubungan dengan Rara akibat ulah Rara yang selalu meminta macam-macam.


Mata Rara terpejam saat wajah Alden mulai mendekat ke arah wajahnya. Hembusan nafas Alden menyapu permukaan kulit wajah Rara. Hangat, Rara merasakan hembusan nafas Alden terasa lembut dan hangat.


Alden lalu menempelkan bibirnya, lalu mulai mencium secara lembut bibir cerry Rara, kemudian mel*matnya secara lembut. Menggigit bibir bagian bawahnya, dan lidahnya mulai menerobos masuk.


Rara mencekram erat baju yang dikenakan oleh Alden. Ia juga mulai membalas setiap ciuman yang diberikan Alden.


Ciuman mereka semakin panas, tangan Alden mulai bergerilya masuk kedalam baju yang dikenakan Rara, lalu mengusap lembut punggungnya, dan meremas bukit kembar Rara dengan lembut.


"Eummmphhh ... " lenguh Rara saat bukitnya dijamah oleh tangan nakal milik suaminya.


Alden tersenyum senang saat mendengar lenguhan istrinya, sepertinya istrinya mulai menikmati permainan yang ia ciptakan. Dengan perlahan, Alden membuka kancing baju Rara.


Sedangkan bibir mereka masih menempel, saling memagut, mengigit dan menyesap. Tanpa Rara sadari, baju yang ia kenakan sudah terlepas dari tubuhnya. Kini tubuh wanita itu hanya mengenakan bra dan hot pants saja.


Tangan Alden kembali meremas lembut bukit kembar milik Rara. Lagi-lagi Rara melenguh kenikmatan, saat bukit kembarnya diremas oleh sang pemilik sesungguhnya. Geli-geli nikmat rasanya!

__ADS_1


Alden melepaskan pagutan bibirnya, napas keduanya memburu. Netra coklat milik mereka bertemu, saling menatap, menjelajahi isi hati mereka melalui tatapan itu.


Alden kembali mencium bibir Rara, yang membuatnya sangat kecanduan. Dan Rara pun kembali memejamkan matanya saat Alden kembali mencium dirinya. Tangan Rara melingkar dengan sempurna di leher milik Alden.


Setelah puas bermain dengan bibir, dan mengabsen rongga mulut milik Rara. Bibir Alden turun, menjelajahi leher panjang milik Rara. Tangan nakalnya kembali bergerilya mendaki bukit dan sesekali meremasnya.


Alden lalu mulai meninggalkan jejak kemerahan dileher milik Rara. Bibir laki-laki itu kembali turun, dan berakhir dibukit kembar milik Rara.


Alden mulai menghujani bukit itu dengan kecupan, lalu ******* bulatan merah muda milik Rara yang sudah mengeras. Seperti mendapat mainan baru, lidah Alden langsung memainkan p*ting milik Rara. Sedangkan tangan kirinya meremas bukit Rara yang satunya.


"Ahh ... " des*h Rara saat putingnya dimainkan oleh lidah milik Alden.


Jemari Rara meremas rambut belakang Alden, melepaskan kenikmatan yang ia rasakan. Ah, ini benar-benar membuat Rara gila!


Bergantian, Alden menyusu dari bukit kiri ke bukit kanan. Tangan kanannya mulai turun ke perut Rata milik Rara dan terus turun, hingga akhirnya ia tepat barada di atas lembah. Tangannya masih diluar, belum menyelinap masuk.


Saat tangannya akan menyelinap masuk, tiba-tiba saja tangannya ditahan oleh Rara.


"Kenapa?" tanya Alden dengan suara berat. Padahal ia sudah tidak tahan ingin buru-buru mengacau didalam sana.


"A - aku lagi hamil, Mas," lirih Rara sambil mengalihkan pandangannya.


Alden terdiam, dia lupa jika sekarang istrinya sedang hamil. Alden sebenarnya pernah mendengar jika wanita hamil masih boleh melakukan hubungan suami istri.


Tetapi ia tak ingin salah langkah, mementingkan nafsunya dan melupakan keselamatan anak yang masih ada didalam perut istrinya. Sepertinya besok pagi mereka akan pergi ke rumah sakit, dan harus berkonsultasi pada dokter mengenai hal ini.


"Mau kemana?" tanya Rara saat melihat suaminya yang tiba-tiba beranjak.


"Mau ngapain?" tanya Rara polos.


"Mau boboin si adek," ucap Alden yang langsung berlalu meninggalkan Rara yang masih kebingungan.


*************


"Kamu kenapa? Kayak banyak pikiran aja," kekeh seorang perempuan.


"Huh ... gue suka sama cewe kak," ucap laki-laki itu sambil menghembuskan nafas berat.


"Yaelah, cuman gara-gara cewe doang kamu jadi sampai kayak gini. Bukannya biasanya cewe yang ngejar kamu?"


"Iya sih kak, tapi dia beda dari perempuan lain, gue marasa tertantang buat dapetin dia, tapi .... "


"Tapi kenapa?"


"Tapi dia udah punya suami."


Tampak keterkejutan diwajah perempuan itu saat mendengar penuturan adiknya.


"Terus kamu ngapain?"

__ADS_1


"Dia udah ngebohongin gue, dan gue gak terima akan itu, jadi gue lagi mikirin cara buat ngehancurin mereka," ucapnya sambil menggebu-gebu.


Perempuan yang diyakini kakaknya itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan adiknya.


**************


Rara membolak - balikkan tubuhnya. Ini sudah hampir jam 12 malam, tetapi wanita itu belum juga memejamkan matanya.


Perutnya terasa lapar, ingin sekali makan martabak, tetapi anehnya, ia ingin martabak yang buat oleh abangnya. Tetapi ini sudah malam, tidak mungkin jika ia tiba-tiba pergi ke rumah mertuanya.


Rara terus mencoba memejamkan matanya lagi, tetapi nihil. Dengan ragu-ragu ia hendak membangunkan suaminya yang sedang tertidur pulas disampingnya.


Tanganya sudah sampai diudara, tetapi masih belum berani menyentuh suaminya, ia jadi ragu. Apakah ia harus membangunkan suaminya itu? Atau dia kembali tidur saja?


Saat Rara sedang bergelut dengan pikirannya, tiba-tiba Alden terbangun.


"Astagfhirullah!" pekik Alden saat mendapati istrinya belum tidur, dan sedang duduk seolah banyak pikiran.


"M - Mas .... "


"Kamu kenapa? Ko belum tidur?" tanya Alden dengan khawatir.


Sebenarnya Alden terbangun karna merasa haus, ia ingin pergi kedapur mengambil segelas air, tetapi ia juatru dikejutkan dengan istrinya yang sudah bangun.


"A - aku laper Mas," cicit Rara.


Alden tersenyum, kenapa istrinya ini merasa lapar lagi. Padahal saat makan malam tadi, Rara makan cukup banyak.


"Mau makan apa? Nanti aku buatin," ucap Alden sambil tersenyum manis.


"A - aku pengen makan martabak, Mas .... "


"Martabak? Kayaknya bahan-bahannya ada deh, yaudah nanti aku buatin," ucap Alden yang berniat berdiri dan turun kedapur untuk membuatkan martabak seperti keinginan istrinya.


"T - tapi aku pengen makan martabak buatan bang Sat," cicit Rara.


"Maksud kamu bang Satya?" tanya Alden memastikan.


Rara hanya menganggukkan kepalanya pertanda iya.


Alden melirik jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 12 lewat. Dan sudah dipastikan jika para penghuni rumah mertuanya sudah pada terlelap. Tapi mendengar nama Satya, entah kenapa Alden menjadi senang.


"Yaudah ayok!" ucap Alden bersemangat.


"Baiklah, selamat merasakan drama bumil bang Sat"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2