
"Ini kita mau ngepet, kan?" tanya Rara polos. Rara benar-benar berpikir jika mereka akan ngepet, pasalnya ia melihat lumayan banyak lilin-lilin yang menyala, serta kelopak bunga mawar yang bertaburan.
Alden yang mendengarnya hanya melongo, ia sudah susah payah menghias kamar mereka agar terlihat romantis, tetapi istrinya justru mengatakan apakah mereka akan ngepet? Sungguh Alden benar-benar kesal dengan mata istrinya, apakah dekorasi yang ia buat terlihat mengerikan bukan romantis? Tapi tidak mungkin ia marah ataupun menunjukkan rasa kesalnya, jadi ia hanya mempertahankan senyum manisnya.
"Masa romantin gini dibilang pengen ngepet sih Yank. Mas special bikininnya buat kamu lho," ucap Alden dengan sedikit wajah kecewa.
"Untuk?" tanya Rara mengerutkan keningnya.
"Karna kamu sudah mau mengandung anak Mas, makasih," ucap Alden tulus, kemudian mengenggam tangan Rara, lalu mendaratkan sebuah kecupan dikening wanita itu.
Perlakuan manis yang diberikan suaminya justru membuat Rara tersipu dan deg-deg'an. Rara cukup terkejut dengan apa yang baru saja dilakukan suaminya, terlebih saat mendengar ucapan terima kasih yang diucapkan suaminya yang terdengar sangat tulus.
"Ayo, kamu mandi dulu. Kamu belum mandi, kan?"
"I - iya."
Rara menurut, ia langsung masuk ke dalam kamar mandi. Menyalakan shower, membasuh tubuhnya dengan air hangat. Menikmati setiap tetesan air yang membasahi tubuhnya.
Termenung sejenak, memikirkan hubungan antara dirinya dan suaminya. Senyum mengembang di wajahnya, menurutnya, hubungannya dengan suaminya benar-benar manis.
"Semoga kita selalu bersama Mas," lirih Rara.
Selesai mandi, Rara langsung mengenakan jubah mandinya, lalu berjalan ke luar dari kamar mandi dan bergegas menuju lemari, untuk mengganti bajunya.
"Hah, baju aku kemana?" tanya Rara bingung saat tidak mendapati satupun pakaiannya, hanya lingerie merah yang pernah ia beli waktu itu.
Alden hanya diam, laki-laki itu dengan santainya menyangga kepalanya dengan tangan, sambil terus menatap istrinya dengan setangkai bunga mawar dimulutnya. Sedangkan Rara belum menyadari keberadaan Alden.
"Mas, baju ak-" Ucapan Rara terhenti saat melihat suaminya yang sedang menatap dirinya dengan tatapan menggoda.
"Mas lagi ngapain disitu? Mana gayanya kayak gitu lagi, Mas kesambet setan mesum, ya?" tanya Rara sambil bergidik ngeri.
"Come here, honey !" panggil Alden dengan suara sens*al.
Rara bergidik ngeri mendengar ucapan suaminya yang terdengar menggelikan. Tiba-tiba matanya menatap segelas di atas nakas, Rara lalu berjalan berniat mengambil segelas air putih itu.
Alden yang melihat Rara berjalan mendekatinya langsung mengembangkan senyumnya, Alden mengira istrinya sudah siap.
"Saha ieu? Saha?" Rara mencipratkan air ke arah suaminya sambil sesekali memegang kepala suaminya.
Alden tentu terkejut dengan ulah istrinya, ia pikir istrinya sudah siap, ternyata istrinya mengambil air karna mengiranya kesurupan.
Alden langsung menangkap tangan istrinya, dan mengambil gelas yang ia pegang, lalu meletakkannya kembali ke atas nakas, istrinya sudah benar-benar menjengkelkan menurutnya.
Dengan cepat ia menarik Rara dan mendudukkan wanita itu di atas pangkuannya. Lalu mendaratkan kecupan singkat di bibir cerry milik Rara.
"Padahal Mas pengennya kamu memakai lingerie itu, tetapi sudahlah ... Mas sudah tidak tahan, apalagi dengan sikapmu," bisik Alden tepat disebelah telinga istrinya, lalu menjil*t dan menggigit pelan telinga istrinya.
Rara sedikit merinding dan sedikit mengeluarkan suara aneh saat suaminya menggigit pelan telinganya. Alden yang mendengarnya tentu sangat tera*gsang.
Alden kembali mendaratkan kecupan yang lembut di bibir merah Rara. Kecupan lembut yang perlahan-lahan berubah menjadi ciuman yang ganas dan saling menuntut.
Decapan terdengar jelas di dalam kamar milik mereka. Rara pun mengalungkan tangan pada leher milik Alden. Dengan cepat, Alden merebahkan tubuh istrinya di atas kasur.
Alden melepas ciuman, lalu saling memandang. Tatapan mereka sudah dipenuhi oleh gelora api. Setelah itu, dua insan itu pun saling menyatukan tubuh mereka, memadu kasih dan suasana kamar pun dipenuhi oleh suara-suara kenikmatan.
********
"Selamat pagi kesayangan Mas," ucap Alden saat melihat istrinya membuka mata.
"Selamat pagi juga Mas," ucap Rara sambil tersenyum.
"Ishh panggil sayang juga dong," rengek Alden.
Cuupp
"Selamat pagi juga kesayangan Rara," ucap Rara setelah mencium singkat bibir suaminya.
"Sayang kamu membuat Mas tergoda tau gak. Mau main lagi?" tanya Alden bersemangat sambil tangannya mulai bergerilya di atas bukit istrinya.
"E - eh jangan Mas! Hari ini Rara ada mata kuliah penting, jadi Rara harus ke kampus," ucap Rara yang langsung menjauhi tangan suaminya.
"Yah ... yaudah deh, tapi janji nanti malam lagi ya? Kalo bisa 10 ronde," ucap Alden sambil mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
Rara hanya menatap jengah suaminya, lalu bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sedangkan Alden hanya meneguk salivanya kasar saat melihat istrinya yang berjalan santai menuju kamar mandi dengan tidak memakai sehelai benangpun, apalagi melihat bukit kembar milik istrinya yang bergoyang naik turun saat istrinya berjalan.
"Akhh kenapa lama banget sih malam, rasanya gue pengen main lagi," gerutu Alden dalam hati.
Alden lalu bangkit dan memungut pakaiannya yang berserakan, lalu memakainya dan berjalan keluar, memilih untuk mandi di kamarnya saja daripada menunggu istrinya.
.
.
"Sayang, kayaknya hari ini Mas gak ngajar deh," ucap Alden sambil mengunyah roti miliknya. Saat ini mereka sedang sarapan bersama.
"Emangnya Mas mau kemana?" tanya Rara sambil memakan nasi goreng miliknya. Entahlah, Rara tiba-tiba saja ingin makan nasi goreng pagi ini.
"Mas harus ke kantor hari ini sayang, berkas-berkas udah pada numpuk," jelas Alden.
Rara yang mendengarnya hanya mengangguk paham.
"Yaudah gak papa Mas."
"Yaudah yuk berangkat!" ucap Alden saat makanannya dan makanan istrinya sudah habis.
Rara mengangguk, lalu mengambil tas kecilnya. Setelah itu mereka langsung segera berangkat ke kampus, mengantarkan Rara terlebih dahulu.
"Yaudah Rara turun ya Mas. Assalamualaikum," ucap Rara sambil mencium tangan suaminya.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati ya sayang," ucap Alden lembut setelah memberikan ciuman dikening istrinya.
Alden tidak menjalankan mobilnya, ia memilih untuk melihat istrinya terlebih dahulu sampai tidak terlihat lagi. Tiba-tiba handphonenya berbunyi menandakan ada pesan masuk, Alden lalu mengambil handphonenya dan membaca pesan yang ternyata dikirim oleh sekretarisnya, Bryan.
Alden lalu menyimpan kembali handphonenya, dan kembali melihat istrinya yang ternyata sudah tidak sendiri, ada perempuan lain yang berjalan bersamanya sambil merangkulnya.
"Perempuan itu ... " gumam Alden saat merasa tidak asing dengan perempuan yang sedang berjalan dengan istrinya.
"Mungkin dia sahabat Rara yang pernah dia ceritakan dulu," lanjut Alden mengangkat bahunya acuh.
Alden lalu menyalakan mobilnya dan langsung tancap gas menuju kantornya.
Selama dalam perjalanan menuju kantor. Alden tak henti-hentinya tersenyum saat membayangi pergulatan panasnya dengan Rara semalam.
Apakah ia egois karna sudah menyimpan dua nama perempuan sekaligus di hatinya?
Hingga akhirnya Alden tiba di kantor. Senyum manis terukir manis di wajah tampannya, bahkan para pegawai sedikit tertegun karna untuk pertama kalinya melihat senyum manis bosnya.
Alden lalu mendudukkan dirinya di kursi kebesaran miliknya dengan senyum yang terus menghiasi wajahnya.
Ceklek
"Napa lo senyam-senyum, kesurupan?" Tiba-tiba Bryan masuk ke ruangan Alden tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Apakah seperti ini caramu berbicara dengan bosmu sekretaris Bryan?" tanya Alden yang langsung mengubah mimik wajahnya menjadi dingin.
"Ckk... sok dingin banget sih lo bos," ucap Bryan sambil berjalan santai menuju sofa diruangan tersebut.
Alden yang melihat sekretaris sekaligus sahabatnya yang tidak punya sopan santun tersebut hanya berdecak kesal.
"Kenapa lo senyam-senyum tadi, lagi seneng?"
"Iya, gue lagi senang banget." Seketika senyum manis kembali terukir di wajah Alden.
Bryan tertegun melihat senyum manis sahabatnya, senyum yang sudah hilang sejak kekasih sahabatnya itu meninggalkannya tanpa alasan yang jelas. Bryan yang melihatnya sontak tersenyum tipis, ia bersyukur pada Rara yang sudah membantu sahabatnya untuk melupakan mantan kekasihnya.
"Kenapa?"
"Istri gue sedang mengandung anak gue."
Deggg
Bryan yang mendengarnya sedikit terkejut, apa ia tidak salah dengar? Istri sahabatnya sedang hamil?
"Selamat ya bro, sebentar lagi lo bakal jadi seorang ayah," ucap Bryan tersenyum tipis.
"Makasih Yan."
__ADS_1
"Lo udah ngelupain dia, kan?" tanya Bryan ragu.
Alden yang mendengarnya seketika terdiam, benar! Ia sudah tidak pernah lagi memikirkan Ella akhir-akhir ini, apalagi sejak mengetahui istrinya hamil.
Apakah ia sudah benar-benar melupakan perempuan itu?
Apakah ia sudah mencintai istrinya dan posisi Ella sudah tergeser?
Atau mungkin perhatiannya itu diberikan hanya karna mengetahui Rara sedang mengandung anaknya?
Seketika perasaan bimbang menelusup ke dalam hati Alden. Saat Bryan mengingatkannya tentang dia, tiba-tiba sepenggal kisah cinta mereka terbesit dipikiran Alden, wajah cantik Ella tiba-tiba menari-nari dipikirannya. Alden kembali menjadi bimbang.
"G - gue gak tau," ucap Alden pelan sambil menunduk.
"Gue mohon bro, lo udah punya istri dan sebentar lagi lo bakal menjadi seorang ayah. Gue mohon lupain dia," ucap Bryan dengan wajah memohon.
"G - gue gak tau Yan. Lo tau kan seberapa berpengaruhnya dia sama kehidupan gue, gue .... "
"Stop Al! Gue mohon jangan pernah kecewain istri lo. Jika lo ngecewain dia, gue berani bertaruh kalo lo bakal menyesal seumur hidup! Jangan pernah tertipu dengan wajah dan kelakuan istri lo, dia emang gadis bar-bar dan blak-blakan, tapi bagaimanapun dia tetap seorang perempuan yang lemah, yang menutupi kelemahannya dengan sifat sok beraninya."
"Lo tenang aja, dia juga tidak akan kembali."
"Jangan salah Pak Rey, Anda tidak tau apa saja yang akan terjadi, Anda bahkan tidak tau bahaya apa yang sedang mengintai Anda, jadi saya mohon dengan hormat, lupakan dia sebelum semuanya terlambat," ucap Bryan dengan suara datar dan dingin, ia bahkan menggunakan bahasa yang formal. Entahlah... Bryan bahkan tidak tau mengapa ia berani ikut campur dengan urusan rumah tangga orang lain, mungkin karna sekarang ia sudah menjadi seorang ayah dan sudah mempunyai seorang putri sehingga ia tidak rela jika perempuan mana saja tersakiti, ditambah ia merasa akan ada sesuatu yang terjadi pada rumah tangga sahabatnya itu.
Setelah mengatakan itu, Bryan langsung beranjak keluar dari ruangan Alden tanpa berbicara ataupun pamit.
Sedangkan Alden, ia terdiam cukup lama setelah mendengar penuturan sahabatnya itu. Apa yang diucapkan Bryan ada benar juga! Dia bahkan tidak tau apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Mungkin sekarang ia sedang bahagia, tetapi entah apa yang akan terjadi besok, lusa, seminggu, sebulan, bahkan setahun yang akan datang.
Alden lalu membuka lacinya dan mengambil selembar foto yang sudah cukup usang, bahkan wajahnya dan sang gadis hampir tidak dikenali.
"El ... sekarang saya bimbang, saya masih mencintai kamu, tetapi saya juga menyayangi istri saya, dan sekarang di tambah buah hati saya yang akan lahir. Buah hati yang saya pikir akan menjadi milik kita, tetapi ... ternyata takdir berkata lain, ternyata kita tidak berjodoh," lirih Alden sambil memandang sendu perempuan yang sangat ia rindukan.
Tanpa sadar air mata menetes dari matanya. Alden yang menyadarinya segera menyekanya.
"Saya berjanji tidak akan kembali dengan kamu El," ucap Alden mantap, lalu menyimpan kembali foto tersebut. Entah kenapa ia tidak rela membuang, merobek, ataupun membakar foto satu-satu miliknya bersama sang mantan.
*******
Setelah pamit pada suaminya, Rara berjalan santai menuju kampus dengan sesekali bersenandung. Di pertengahan jalan, ia ternyata bertemu sahabatnya, Raya. Ia dan Raya hanya berbicara obrolan ringan saja seperti biasanya. Setelah itu ia pamit pada Raya setelah sampai didepan cafe.
Sesampainya di ruangan, Rara tidak mendapati teriakan Rissa seperti biasanya, tetapi ia justru melihat Rissa yang menunduk, meletakkan kepalanya di atas lipatan tangannya.
"Kenapa tuh anak?" batin Rara heran, karna biasanya Rissa tidak seperti itu.
Rara lalu berjalan mendekati Rissa, lalu menepuk pelan bahu Rissa.
"Lo kenapa?"
Alangkah terkejutnya Rara saat Rissa mengangat kepalanya, dapat terlihat mata Rissa yang sembab, bahkan masih ada sedikit air mata di kelopak matanya.
"Lo kenapa?" tanya Rara khawatir, lalu mengambil kursi dan duduk disamping sahabatnya itu.
"Ra .... " Tangis Rissa justru semakin pecah, ia bahkan tidak mampu untuk berbicara, ia hanya mampu memeluk erat sahabatnya itu.
Rara tidak menolak pelukan Rissa, ia justru membalas dan menepuk pelan punggung Rissa. Ia tau jika Rissa saat ini sedang terpuruk, meskipun ia tidak tau apa penyebabnya, tetapi jika Rissa sudah seperti ini, maka dia pasti benar-benar sedang terpuruk saat ini.
"Kenapa hmm?"
"Ra ... g - gue g - gue dijodohin sama orang tua gue," ucap Rissa sambil terus terisak.
"APA?"
.
.
.
.
Love love sekebon deh untuk Papah Bryan yang bijaknya minta ampunnnn.
Pak Alden, jangan jadi br*ngsek yaa huhuhu. Itu foto ngapa disimpan sihhhhhhh.
__ADS_1
Btw maaf banget ya karna aku ganti judul wkwk, ada beberapa yang bilang kaget pas buka judulnya berubah. Awalnya aku pengen ubah "Jangan Galak-Galak Pak Dosen" tapi gak jadi, jadinya yaitu "Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen". Karna yang pemarah ternyata istrinya buka suaminya ><
Yang pentingkan udah dimasukin ke ranjang favorit, kan??? ><