Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen

Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen
Twins K (Kelvin & Kanaya)


__ADS_3

..."Ketika kamu sedih, kamu harus tersenyum. Ketika kamu bahagia, kamu harus tertawa. Ketika kamu lemah, kamu harus tetap kuat!" ~Diandra....


..."Seseorang yang pergi dalam keadaan marah akan selalu kembali. Tetapi seseorang yang pergi dengan sebuah senyuman tidak akan pernah kembali lagi."...


..."Sekarang saatnya karakter baru kamu dibentuk! Jangan mengotori tanganmu untuk membalas dendam. Kamu cukup menyaksikan karma yang memainkan tugasnya." ~Diandra....


Sudah tiga hari Rara berada di rumah sakit. Kondisi wanita itu juga baik-baik saja. Selama tiga hari itu juga tidak ada kabar dari Alden, dan Rara tidak peduli akan hal itu. Hatinya benar-benar sudah mati rasa. Bagaimana mungkin laki-laki itu tidak mencarinya, bahkan handphonenya tidak aktif lagi? Sudahlah, Rara sudah mengiklaskan semuanya. Terserah takdir mau membawanya kemana, yang penting anak-anaknya selalu ada bersama dia.


"Satu suap lagi," pinta Austin sambil menyodorkan satu sendok bubur pada mulut Rara.


"Ishh!" Rara hanya berdecak kesal saat Austin kembali meminta ia memakan satu sendok bubur lagi. Dengan terpaksa Rara memakan dengan wajah cemberut. Melihat wajah Rara yang cemberut membuat Austin terkekeh lucu. Di matanya Rara sangat menggemaskan. Ah, bolehkan ia berjuang untuk mendapatkan wanita itu?


Setelah selesai, Austin lalu meletakkan mangkok tersebut di atas nakas.


"Bawa Twins K ke sini dong Kak," pinta Rara dengan memanggil Austin dengan sebutan Kakak.


"Yaudah bentar." Austin lalu berjalan menuju bok bayi di mana Kelvin dan Kanaya diletakkan.


Sebelum mengambil bayi-bayi tersebut, Austin lebih dulu memperhatikan kedua bayi kembar tersebut.


"Ra!" panggil Austin.


"He'em?"


"Kamu ngerasa ada yang aneh nggak sih sama bayi-bayi kamu?" tanya Austin menatap Rara.


"Hah? Emang kenapa sama anak-anak Rara? Ada yang salah?" Rara seketika panik, ia kira maksud Austin anak-anaknya ada kelainan.


"Iya! Sepertinya ada kelainan. Kenapa yang cowok sangat aktif, dia terus menggerak-gerakkan tubuhnya, dan sesekali tertawa, lalu menangis. Sementara yang cewek cuman diam aja, nggak ada nangis, nggak ada ketawa, kayak datar banget tau nggak sih!" ucap Austin yang terus menatap bayi-bayi Rara.


"Maksud Kakak apa? Sifat anak-anak Rara ketukar gitu? Yang cowok jadi bencong, terus yang cewek jadi laki, gitu maksudnya?" tanya Rara dengan ketus.


Austin yang mendengarnya hanya cengengesan, tidak berani mengiyakan ucapan Rara yang wajahnya sedang kesal. Padahal ucapan Rara seratus persen benar, sesuai sekali dengan pemikiran Austin.


Austin lalu menggendong Kanaya, kemudian memberikannya pada Rara. Setelah itu ia mengambil Kelvin, dan menggendongnya. Austin sangat gemes melihat wajah tampan Kelvin yang benar-benar sangat mirip seperti Alden. Austin hanya berharap semoga sifat br***sek Alden tidak menurun pada Kelvin.


"Buset dah, ini anak Rara kenapa nggak ketawa-ketawa Rara gelitikkin?" Rara hanya mampu menelan ludahnya dengan kasar. Sepertinya putrinya benar-benar akan memiliki sifat dingin jika sudah besar nanti.


"Bahkan nih anak nggak bisa nangis lagi. Ini kalau Rara lempar, bakal nangis nggak sih kira-kira?"


"Sembarangan kamu Ra! Ya pasti dia nggak bakalan nangis, karena udah meninggal kalau dilempar!" ketus Austin.


Rara hanya cengengesan mendengar jawaban Austin. Kini Rara tidak terpuruk lagi, karena sudah ada anak-anaknya yang akan selalu bersama dia.


"Kak, bagaimana dengan surat perceraian itu? Apa kau sudah mengurusnya?" tanya Rara setelah Austin meletakkan Twins K kembali ke dalam bok bayi.


Sehari setelah Rara melahirkan, Rara meminta Austin untuk mengurus surat perceraian dirinya dan Alden. Sudah cukup! Dia sudah tidak tahan dengan semuanya.


Rara sudah tau tentang semua masalah yang terjadi. Informasi itu semua ia dapatkan dari Austin. Rara sempat terkejut saat mengetahui jika Raya ternyata sudah memiliki anak perempuan, akibat kesalahan yang dia buat saat SMA dulu. Bahkan Rara sudah tau alasan yang membuat Raya melakukan semuanya.


"Sudah. Bentar aku ambil suratnya." Austin lalu mengambil tasnya yang ada di atas meja, kemudian mengeluarkan surat perceraian seperti yang diminta Rara.


Sebenarnya Austin sudah melapor pada Abimanyu perihal Rara yang sudah melahirkan, tetapi Rara meminta agar orang tuanya tidak datang ke sini. Abimanyu mengiyakan itu semua, ia membiarkan putrinya untuk pergi, dan dia sendiri yang akan mengurus sisanya di sini.


Rara menerima surat tersebut, lantas membacanya. Senyum terbit di bibir Rara.


"Tinggal tanda tangan aja, kan Kak?"


"Iya!"


Rara lalu mengambil pulpen yang diberikan oleh Austin, kemudian mulai tanda tangan, pertanda bahwa ia setuju.


'Semuanya sudah berakhir. Aku harap ini yang terbaik untuk kita berdua' batin Rara.


"Makasih banyak Kak. Makasih banyak karena sudah ada bersamaku. Makasih karena Kakak sudah mau menjalankan tugas ini dengan baik," ucap Rara setelah meletakkan kembali surat perceraian tersebut di atas meja.


"Sama-sama Ra. Itu semua sudah menjadi tugasku," sahut Austin.

__ADS_1


'Pada awalnya aku memang hanya menjalankan tugas Ra. Tapi, sekarang aku tulus menjagamu, bahkan jika bisa terus bersamamu'


"Apa kita akan pergi hari ini juga?" tanya Austin.


Rara memang meminta pergi jauh saja. Dia tidak sanggup jika terus berada di sini, dengan luka yang teramat-amat dalam. Dia hanya ingin hidup bahagia bersama buah hatinya.


"Tentu! Tapi, bisakah jika kita bertemu anak kecil itu sebentar?" Rara mengetahui jika anak Raya dirawat di rumah sakit tersebut, karena Austin yang memberitahukan.


"Baiklah, kita akan bertemu dia sebentar." Austin lalu membantu Rara untuk berjalan. Mereka kemudian berjalan menuju ruangan di mana Rina di rawat. Setelah sampai, mereka lalu masuk, dan mendapati Rina yang sedang melamun.


"Halo gadis manis," sapa Rara menyadarkan lamunan gadis kecil itu.


"Siapa?" tanya Rina bingung.


"Aku adalah sahabat Ibumu. Bagaimana kabarmu?"


"Aku baik. Tapi, Ibu tidak mengunjungi aku lagi hampil seminggu ini," jawab Rina dengan lemah.


Rara yang mendengarnya tersenyum kecut. Rara tau di mana keberadaan suami dan sahabatnya, Austin sudah mengarahkan semua anak buahnya untuk mencari keberadaan Alden, dan ternyata Alden sedang merawat Raya yang sedang berdrama seperti perintah Kenzo di sebuah rumah sakit.


"Kamu yang sabar, ya. Ibumu sangat menyayangi kamu. Dia bahkan rela melakukan apa pun demi kamu. Semoga kamu cepat sembuh, ya." Rara mengecup kening Rina dengan penuh kasih sayang. Rina tentu sedikit tertegun dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Rara, tapi sedetik kemudian dia tersenyum. Sepertinya wanita di depannya ini memang sangat baik.


"Makasih banyak Tante," sahut Rina dengan senyum yang mengembang.


"Tante mau bilang, kalau apa pun yang terjadi, Rina harus kuat. Apa yang sudah dilakukan Ibumu, semuanya untuk Rina. Jangan pernah membenci Ibumu saat kamu sudah tau kebenarannya, karena bagaimana pun dia adalah Ibumu." Rara mengelus pucuk kepala Rina. Sementara Rina yang mendengarnya sontak mengerutkan keningnya, bingung dengan maksud wanita di depannya.


"Iya Tante. Ina janji ngak akan benci sama Bunda." Meski sedikit bingung dengan maksud wanita di depannya, tapi Rina memilih untuk mengiyakan saja.


"Yaudah Tante pergi, ya. Dadah Rina."


"Dadah Tante."


Rara lalu keluar dari ruangan tersebut, setelah melihat dan bebicara pada Rina. Rara tersenyum saat mengingat wajah Rina, benar-benar perpaduan antara Raya dan Haikal. Haikal sendiri adalah teman Rara semasa SMA, hanya saja dia tidak terlalu dekat dulunya.


"Mau pergi sekarang?" tanya Austin saat mereka sudah kembali ke ruangan.


Entah hanya perasaan Austin saja, semenjak Rara melahirkan saat itu, wanita itu menjadi sosok yang selalu tersenyum, seolah-olah dia sudah sembuh, sama sekali tidak terluka lagi.


"Kenapa kau selalu tersenyum selama berada di rumah sakit?" tanya Austin sedikit terkekeh, kemudian memberesi barang-barang yang akan dibawa mereka nantinya.


"Karena sekarang aku sudah bebas. Perasaanku pun sudah baik, lebih tepatnya sih sudah mati rasa. Aku merasa bahagia, karena setelah ini aku akan pergi. Sudah cukup air mata yang aku keluarkan. Sudah cukup aku terlihat lemah oleh semua orang. Sudah saatnya aku bangkit. Sekarang sudah ada anak-anakku yang akan selalu ada bersamaku. Menemani hari-hariku ke depannya. Sudah cukup aku menjadi bodoh karena cinta. Sudah cukup aku mengemis semuanya," jawab Rara yang terus mempertahankan senyumnya.


"Setidaknya apa yang sudah terjadi mengajarkan Rara banyak hal. Sesuatu yang manis, belum tentu akan berakhir dengan manis juga. Sama seperti permen karet, hanya manis di awalnya saja, setelah itu menjadi hambar pada akhirnya," lanjut Rara yang sontak terkekeh saat menyadari kata-kata bijaknya yang sedikit aneh.


"Apa kau tidak berniat membalas dendam pada mereka yang sudah menyakitimu?" tanya Austin.


"Percayalah Dok, jiwa psikopat ku meronta-ronta. Rasanya ingin syekali aku m*tilasi mereka, terus kasih ke buaya. Tapi, mengurus mereka hanya menghabiskan waktu berhargaku. Aku terlalu suci untuk melakukan pekerjaan kotor itu ha-ha-ha." Rara sontak tertawa setelah mengatakan kalimat terakhir. Sementara Austin hanya berdecih kesal mendengar kalimat terakhir itu.


"Siapa tau, dengan aku merelakan semuanya, Tuhan akan memberikan dua kali lipat untukku," gumam Rara, tapi masih bisa didenggar oleh Austin.


"Dua kali lipat? Maksudmu, kau ingin punya suami lebih dari satu, gitu?" tanya Austin tidak bisa menutupi rasa terkejutnya.


"Iya, rencananya Rara pengen ngoleksi suami. Jadi nanti ada yang duda, perjaka, brondong, suami orang, dan lain-lain," sahut Rara dengan semangat, kemudian tertawa dengan sangat nyaring.


"Stres!" gumam Austin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Setelah itu memilih untuk diam.


"Yaudah, ayok berangkat!" ucap Austin setelah selesai mempersiapkan semuanya.


"Kak, bisa Kakak pinjamkan aku uang sepuluh miliar?" tanya Rara dengan suara pelan. Austin yang mendengarnya sontak membuka mulutnya dengan lebar. Berapa? Sepuluh ribu? Bukan, sepuluh miliar? Untuk apa Rara meminjang uang sebanyak itu?


"Maaf merepotkanmu Kak, tapi aku tidak ingin berhutang budi pada orang lain. Aku ingin membayar semuanya, semua yang sudah mantan suamiku berikan. Tenanglah, aku pasti akan membayarnya nanti," lanjut Rara saat menyadari keterkejutan Austin.


Austin mengangguk paham, kemudian mengambil dompetnya, mengeluarkan sebuah kartu, dan memberikannya pada Rara.


"Ini, di sini isinya sekitar sepulu miliar lebih," ucap Austin.


"Terima kasih. Maaf merepotkanmu," ucap Rara tulus.

__ADS_1


"Tidak masalah!"


"Bisa Kakak tinggalkan aku sendirian dulu? Ada yang ingin aku tulis sebentar," pinta Rara.


Austin hanya mengangguk singkat, lalu keluar membawa Twins K.


Sementara Rara mulai mengambil kertas dan pulpen. Dia mulai menulis apa yang ingin dia sampaikan selama ini pada semua orang. Tidak ada air mata yang mengalir selama ia menulis, justru senyum terus terukir di wajah cantiknya.


Rara menulis untuk semua orang yang hadir di dalam hidupnya. Alden, orang tuanya, mertuanya, Rissa, Satya, bahkan Raya.


Setelah selesai, Rara lalu menatap cincin pernikahan mereka. Senyum kembali terbit di wajahnya.


"Hingga pada akhirnya, cincin ini aku lepaskan, dan aku kembalikan, karena ternyata cincin ini memang tidak seharusnya berada di jari manisku," gumam Rara tersenyum tipis.


"Semuanya sudah berakhir, dan aku sudah mengikhlaskannya. Semoga keputusan kali ini adalah keputusan yang tepat. Jika pun suatu hari nanti kita dipertemukan kembali, aku harap status kita tidak lebih dari orang tua si kembar."


"Maaf jika kali ini aku egois." Rara lalu melepaskan cincin pernikahan mereka, lalu memasukkannya ke dalam amplop yang berisi surat perceraian dan surat yang ia tulis untuk suaminya tadi. Kemudian meletakkan di atas nakas. Tidak hanya surat perceraian, tapi juga semua informasi mengenai konflik yang terjadi, yang diberikan Austin.


Rara lalu mengambil handphone yang baru saja diberikan Austin, kemudian mengirim pesan pada Raya dan Alden.


[Gue adalah istri Alden. Rumah tangga yang lo hancurin adalah rumah tangga gue. Semua sudah direncanakan oleh Kenzo! Tapi gue udah bukan istri Alden, karena sekarang gue hanya mantan istrinya. Selamat! Kalian menang, dan gue kalah!]


*Foto*


Rara mengirim pesan tersebut untuk Raya, lalu mengirim foto pernikahannya dan Alden. Setelah itu lanjut mengirim pesan pada Alden.


[Rumah Sakit Pondok Indah, kamar nomor 22.]


******


"Yaudah ayok!" ucap Rara.


Austin mengangguk, kemudian menjalankan mobilnya menuju bandara. Tidak ada obrolan di antara mereka, karena Rara yang sibuk bermain dengan bayi-bayinya.


Tak berselang lama, mereka akhirnya sampai di bandara. Tanpa basa-basi mereka lalu masuk ke dalam pesawat, karena sebentar lagi pesawat akan lepas landas. Untuk mobil Austin sendiri, ia sudah meminta anak buahnya untuk mengambil.


'Selamat tinggal semuanya. Rara pergi. Jaga diri kalian baik-baik'


.


.


.


.


Untuk kenapa Alden nggak ada kabar selama tiga hari, nanti dijelasin. Yang pastinya handphone Rara jatuh dan rusak, tapi sayangnya Austin dan Rara nggak ngambil handphone rusak itu. Jadi ...


Gini, kita bikin kesepakatan aja ><


●Kalau misalnya aku bikin Alden menyesal banget, dan memperjuangkan Rara nantinya. Apakah kata maaf itu masih ada? Apakah Alden dimaafin? Perjuangan Alden bukan main nanti, dan yang pastinya Karma is the real. Bagaimana?


...Atau...


Alden aku bikin jadi Sugar Daddy aja😂


● Austin tulus. Apa pengen Rara sama Austin aja? Atau aku bikin kembaran Rara aja buat pak Dokter (mungkin lebih somplak dari Rara🤭), dan yang pastinya bukan perjodohan, dan konflik sedikit aman?


...Atau...


● Aku comblangin Rara sama cowok yang 11 12 sama kayak Rara (Agak sedikit mereng otaknya😆). Jadilah keluarga yang agak-agak yaa begitulah...


Rara ❤ Alden (Sudah berubah)


Rara ❤ Austin (Tulus sama Rara)


Rara ❤ Pemain Baru (Somplak)

__ADS_1


__ADS_2