
..."Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku. Berdua kita hadapi dunia. Kau milikku ku milikmu kita satukan tuju. Bersama arungi derasnya waktu"...
...Tulus~Teman Hidup...
...---------------------...
"Mas marah?" cicit Rara yang melihat suaminya selalu diam.
Alden tak menjawab pertanyaan istrinya, ia terus mengendarai mobil dengan tatapan tajam menghadap depan, ia bahkan tidak menatap istrinya sedikitpun.
"Rara minta maaf Mas," cicit Rara lagi, tapi sayangnya lagi dan lagi Alden tidak menghiraukannya.
Hiks hiks
Tiba-tiba terdengar isakan kecil, Alden yang mendengarnya tentu sedikit terkejut, ia langsung menatap kesamping, dan benar saja istrinya sedang menunduk sambil sesekali menghapus air matanya yang jatuh.
Alden yang melihatnya tentu sedikit merasa bersalah karna sudah membuat istrinya menanggis, Alden lalu menepikan mobilnya, lalu menangkup wajah mungil istrinya yang sudah dipenuhi air mata, bahkan ing*snya pun keluar.
Hurghhh
Rara menarik ing*snya kembali sehingga menciptakan suara yang cukup menjijikkan.
"Astagfhirullah, istri gue kok jorok banget sih," batin Alden yang merasa sedikit jijik.
"Kenapa hmm?" tanya Alden lembut sambil menghapus jejak air mata istrinya.
"Mas kenapa marah sama Rara? Hiks," ucap Rara yang masih sedikit sesenggukkan.
"Huh ... Mas cemburu Ra, Mas cemburu, Mas kesal ngeliat kamu dipegang-pegang sama laki-laki lain," ucap Alden jujur sambil membuang nafas kasar.
"Hiks ... tapi Mas belum mendengar penjelasan Rara," ucap Rara kesal tapi dengan sedikit sesenggukan, hal itu tentu membuat Alden merasa gemes, tapi ia berusaha menahan tangannya untuk tidak menguyel-uyel istrinya.
"Mas tau kalau kamu pasti gak mau bareng sama laki-laki bre*gsek itu, Mas udah ngeliat kok kalau kamu udah nolak. Tadi Mas mau menyusul kamu ke cafe, Mas pikir tugas-tugas itu bisa dikerjakan nanti, sekalian Mas juga pengen kenalan sama sahabat kamu, tapi Mas marah pas ngeliat dia narik-narik kamu kayak tadi, dan kamu tau apa yang membuat Mas sangat marah?" tutut Alden dengan bertanya diakhir kalimat.
Alden memang sudah melihat semuanya, ia senang melihat respon yang diberikan Rara pada laki-laki tersebut, tapi Alden seketika marah saat laki-laki itu tiba-tiba menarik dengan sedikit paksa tangan istrinya, Alden tentu langsung turun dan memberikan bogeman mentah pada laki-laki kurang ajar tersebut.
Rara hanya menggeleng, jika bukan karna itu, lalu kenapa suaminya sangat marah?.
"Karna kamu tidak mengakui Mas kepada laki-laki bre*gsek itu, Mas kecewa karna kamu tidak mengakui pernikahan kita, kenapa kamu tidak mengatakan jika Mas adalah suami kamu? Apakah Mas tidak cocok bersanding dengan kamu?" tutur Alden dengan raut wajah sedikit kecewa, jujur Alden memang sedikit kecewa dengan pengakuan istrinya tadi.
Rara tentu sangat merasa bersalah dengan suaminya, ia tidak bermaksud seperti itu, ia hanya tidak ingin orang lain tau terlebih dahulu tentang pernikahannya, apalagi Kenzo adalah orang yang baru dikenal, ia takutnya Kenzo ember dan akan menyabarkan berita itu keseluruh kampusnya, Rara sangat yakin jika orang-orang akan membencinya karna sudah menikahi dosen, dan Rara masih belum siap itu terjadi.
"Ra-Rara minta maaf Mas, Rara gak bermaksud seperti itu, Rara takutnya Kenzo menyebar beritanya kalau dia tau kita sepasang suami istri," ucap Rara pelan.
"Apakah kita harus mempublikasikan pernikahan kita?" tanya Alden yang mulai melembut.
"Enggak dulu deh Mas, Rara masih belum siap anak kampus tau sama pernikahan kita," ucap Rara memberi pengertian.
Alden yang mendengarnya hanya tersenyum kecut, sebenarnya ia ingin sekali pernikahannya ini dipulikasikan agar semua orang tau jika Rara adalah istrinya, tapi sayangnya, istrinya terlalu berpikir terlalu jauh.
Tringgg
Tiba-tiba handphone Rara berbunyi nyaring menandakan ada yang menelponnya.
"Rissa?" gumam Rara saat melihat nama 'tepung Sasa' yang tertera.
[Hal-]
^^^[HALLO!]^^^
[Buset dah Sa, lo ngapa pakai teriak-teriak segala sih! Gue gak budek juga kali!]
^^^[Hehe gue cuman mau nanya, lo mau ikut kita kagak?]^^^
[Mau kamu bawakan kemana istri saya?]
^^^[Eh ... ada lakinya ternyata. Jadi gini pak, Rissa sama ayang Rissa mau ngajak kalian buat jalan-jalan bareng, jadi pasang-pasangan gitu, kebetulan malam ini ada pasar malam.]^^^
__ADS_1
[Tidak!]
"Eh maksud Mas apaan! Rara pengen ikut," rengek Rara sambil menggoyangkan tangan suaminya.
"Tapi sayang .... "
Rara lalu mengeluarkan puppy eyes nya, hal itu tentu membuat Alden pasrah, padahal rencananya ia ingin bermain dengan istrinya malam ini, tapi jika mereka pergi otomatis Rara akan merasa lelah malamnya, Alden hanya bisa pasrah karna malam ini ia tidak akan dapat jatah.
^^^[Eh buruan! Gak usah ngomang pakai sayang-sayangan segala!]^^^
[Iya-iya Sa, jam berapa perginya?]
^^^[Entar gue sama ayang gue ke rumah lo.]^^^
Tut...tut...
Panggilan tiba-tiba dimatikan secara sepihak oleh Rissa, Rara tentu sangat kesal sekali.
"Yaudah ayok pulang," ucap Rara bersemangat.
Alden yang mendengarnya hanya mengangguk pasrah, lalu mulai menjalankan mobilnya untuk segera pulang.
Tak berselang lama, mereka akhirnya sampai di depan rumah mewah nan megah. Rara lalu segera turun dari mobil dan masuk kedalam rumah dengan semangat. Sedangkan Alden hanya tersenyum kecut sekaligus kesal dengan Rissa yang sudah mengajak istrinya untuk pergi malam ini.
"Ckk... puasakan gue jadinya," gerutu Alden kesal, lalu segera menyusul istrinya.
"Yaudah sana Mas siap-siap! Ini udah jam 4," ucap Rara.
"Gimana kalo mandinya sama-sama aja sayang, biar cepat," ucap Alden memberi usulan, tetapi tentu dengan niat yang lain.
"Eum ... boleh. Eh, enak aja, entar yang ada gak selesai-selesai mandinya," ketus Rara yang baru menyadari maksud suaminya.
Alden tentu kesal karna istrinya menyadari maksud sesungguhnya, Alden lalu berjalan mendahului istrinya dengan kaki yang dihentakkan layaknya anak kecil yang sedang merajuk.
Rara yang melihatnya hanya menggelengkan kepala, lalu segera berniat masuk kedalam kamarnya, tetapi baru saja ia melangkah, tiba-tiba terdengar suara deru mobil diluar.
"Astagfhirullah, itu salam atau mau ngajak tawuran," ucap Rara sambil mengelus dada, bagaiman tidak, suaranya sangat nyaring dan memekik ditelinga.
Rara lalu berjalan kembali keruang tamu.
"Wa'alaikumsalam."
"Ngapain kalian datangnya cepet banget?" ketus Rara.
"Emangnya gak boleh?" tanya Satya sambil menautkan alisnya.
"Cih... sok cool banget sih lo bang Sat, muka pas-pas'an aja bangga," ketus Rara.
"Ayang ... liat tuh dia, masa jahat banget sama aku," ucap Satya manja sambil menggoyang-goyangkan tangan Rissa.
"Astagfirullahaladzim," ucap Rara yang benar-benar terkejut mendengar suara manja abangnya yang justru seperi bencong dimata Rara.
"Ihh lo apa-apaan sih Ra. Kamu gak papakan ayang, udah jangan nangis," ucap Rissa sambil memeluk Satya. Rara yang melihatnya tentu semakin jijik dengan pasangan didepannya.
"Ekhem ekhem," dehem Satya sambil memegang tenggorokannya seakan memberi kode.
"Kenapa? Batuk? Makanya minum bayg*n," ucap Rara asal.
"Mati dong Ra kalo minum bayg*n," ketus Rissa kesal.
"Ya kalo mati tinggal kubur aja," jawab Rara asal.
"Eh ... dimana-mana tuh ya, kalau orang bertamu itu dijamu. Ditawarin apa kek, kopi, teh, jus, atau apalah," ketus Satya yang sudah sangat kesal dengan adiknya itu.
"Bibik!" panggil Rara.
"Eh iya non, ada perlu apa?"
__ADS_1
"Tolong bawakan 2 gelas air comberan!"
"Maksud lo apaan Ra? Lo kira kita apaan dikasih air comberan," ketus Rissa.
"Ckk... yaudah lo pada mau minum apa?" tanya Rara kesal.
Satya dan Rissa lalu mulai menarik napas panjang, hal itu tentu membuat Rara was-was.
"Rissa cuman mau jus jeruk, jus apel, mie goreng, nasi goreng, cemilan, sama apa aja deh," ucap Rissa tersenyum manis.
"Satya cuman mau jus lecy, jus jeruk, keripik, kentang goreng, mie goreng, dan tambahannya tetserah aja," ucap Satya tersenyum manis juga.
Rara yang mendengarnya sontak melotot, sedangkan bik Asih justru sedikit bingung dengan permintaan mereka.
"Ckk... buatkan dua gelas jus jeruk aja bik," ucap Rara kesal.
"Cih... pelit amat," ucap Satya dan Rissa bersamaan.
Rara yang mendengarnya hanya berdecak kesal, ia lalu segera pergi dan naik keatas untuk membersihkan diri.
15 menit kemudian, Rara selesai membersihkan diri, ia lalu turun kebawah dan disana sudah ada suaminya serta pasangan yang menurut Rara sangat menjijikkan.
"Yaudah ayok buruan pergi," ucap Rara yang melihat mereka sibuk dengan telpon genggam mereka masing-masing.
Mereka semua lalu mengangguk, lalu mulai pergi kepasar malam dengan mengendarai mobil dengan pasangan masing-masing.
Tak berselang lama, mereka akhirnya sampai ditempat yang ramai, bahkan banyak anak muda yang datang dengan pasangan mereka juga.
Mata Rara dan Rissa seketika berbinar melihat banyak sekali permainan-permainan, tanpa basa basi mereka segera mencoba berbagai permainan disana, Alden dan Satya yang melihat tentu segera menyusul, dan terpaksa mencoba berbagai permainan yang Rara dan Rissa cobai.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang menggunakan hoodie hitam yang terus memperhatikan bahkan mengikuti kemana saja mereka pergi.
"Hahaha sumpah muka laki lo lucu banget Ra," ucap Rissa sambil ketawa melihat Alden yang mabuk setelah main Roller coaster.
"Haha Mas ternyata cemen," ejek Rara yang ikutan tertawa.
"Ini juga karna kamu sayang," ketus Alden kesal.
******
"Sayang?"
"Jadi dia adalah suami kamu baby," ucap orang misterius itu setelah mendengar penuturan Rissa.
"Kamu tarnyata sangat pandai berbohong."
"Baiklah ... kubiarkan kalian bersenang-senang terlebih dahulu, setelah itu lihatkan apa yang akan aku lakukan," ucap orang misterius itu sambil menyunggingkan senyum miring, sepertinya ada banyak rencana jahat dikepalanya.
Setelah itu dia pergi karna merasa sudah mendapatkan informasi yang diinginkannya.
.
.
.
Author.
Hai, tumbenkan aku crazy up, soalnya aku lagi stress, jadi aku lampiaskan dengan menulis terus (tapi jangan didoa'i ya supaya aku setres mulu, jadi banyak bab yang di up).
Disini Rara udah buat kesalahan, dia terlalu overthingking sama apa yang akan terjadi nantinya, padahal dia sendiri gak tau gimana respon orang-orang kalau pernikahan mereka dipublikin, sebenarnya kalo Rara publikin pernikahannya mungkin apa yang ditakutkan tidak akan pernah terjadi, kalaupun ada konflik mungkin cuman konflik kecil. Tapi Rara udah buat kesalahan yang cukup fatal.
"Berpikir secara berlebihan (over-thingking) bisa menjadi masalah semakin rumit, menimbulkan kekhawatiran yang tidak perlu, dan menjadikan semua terasa lebih buruk dari seharusnya. Jadi jangan overthingking yaa"
Konfliknya udah selesai yeee, konflik awal maksudnya.
Happy ending or Sad ending? Kalo ini misalnya Sad ending gimana.
__ADS_1