Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen

Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen
Sahabat Rasa Saudara


__ADS_3

"Wanita ini ...."


"DOR!" Seketika lamunan Rara buyar saat ada yang mengejutinya dengan menepuk bahunya.


"Astagfhirullah!" pekik Rara spontan.


Ternyata orang yang baru saja mengejutinya adalah Raya. Raya hanya cengengesan saat Rara menatap tajam dirinya, ia lalu mengangkat dua jarinya pertanda ingin berdamai.


"Lo tuh bisa nggak sih jangan suka ngejutin orang!" kesal Rara.


"He-he, maaf Ra. Habisnya kamu melamun mulu. Kenapa sih? Kamu ada masalah?" tanya Raya, lalu duduk di samping Rara.


"Biasa, masalah rumah tangga," jawab Rara setenang mungkin.


"Oh, itu wajar aja sih Ra, semua rumah tangga pasti pernah ngalaminnya. Kamu sabar ya, kalian harus bisa saling mengerti, jangan mementingkan ego." Raya memberi nasehat pada sahabatnya.


Tapi lo nggak tau masalah yang gue hadapi Ray


Rara hanya tersenyum dan mengangguk, merasa malas menanggapinya. Seketika pikirannya kembali teringat apa yang saja yang sudah diperbuat oleh suaminya.


"Oh iya, Rissa mana?" tanya Rara.


"Nggak tau, mungkin sebentar lagi," jawab Raya.


"Eh, tuh perut udah gede aja, udah berapa bulan?" goda Raya.


"Tujuh bulan. Gue benar-benar nggak sabar nungguin anak-anak gue lahir." Rara menjadi semangat membicarakan tentang bayi-bayinya.


Raya tersenyum, lalu berjalan mendekati Rara, kemudian membungkukkan badannya dan mengusap perut Rara.


"Hai adek-adek manis, aku sahabatnya mamah kamu lho. Kalo kalian udah lahir, kalian bisa panggil aku aunty." Senyum Raya mengembang saat merasakan tendangan bayi-bayi yang ada di dalam kandungan Rara.


Rara hanya tersenyum melihat tingkah lucu sahabatnya.


"Udah hampir satu tahun lho Ra kamu nikah. Masa aku belum tau juga gimana suami kamu. Bahkan namanya aja aku nggak tau." Raya sedikit memanyunkan bibirnya, merasa kesal sekaligus penasaran dengan suami sahabatnya itu.


"He-he-he." Rara hanya cengengesan mendengarnya. Ketika Rara ingin mempertemukan suaminya dengan sahabatnya, selalu saja ada masalah yang terjadi, entah suaminya yang sibuk, atau Raya yang tidak ada kabar. Meskipun suaminya tidak sibuk, dan Raya ada kabar, tetapi saat itu pikirannya yang sedang tidak baik-baik saja. Jadi, mereka memang belum pernah bertemu. Rara hanya sering cerita perihal Raya kepada suaminya. Sayangnya Rara tidak memiliki foto Raya di galery handphonenya, sehingga ia tidak bisa menunjukkan rupa Raya pada Alden.


"Kenapa?" ketus Raya yang paham dengan arti tawa Rara.


"Yaelah Ya, masih setahun, kan? Belum juga seabad," kekeh Rara. "Lagian suami gue sibuk, lo free. Suami gue nggak sibuk, eh malah lo yang sibuk," balas Rara dengan ketus.


Raya hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, apa yang diucapkan Rara ada benarnya juga. "Terus nama suami kamu siapa?"


"Sarden!" ketus Rara, yang merasa malas menyebut nama suaminya.


Raya terkekeh mendengarnya, jika sudah seperti ini, ia sangat tau jika sahabatnya sedang marah dan ngembek, sehingga malas menyebut nama suaminya sendiri. Raya memilih diam saja, sambil menyesap minumannya.


"Halo Rara burik! Kembarannya Selena Gomez datang! Yuhuu! Pangerannya mana nih!" Rissa tiba-tiba datang dengan pekikan yang sangat nyaring, untungnya restoran agak sepi.


"Gila lo Sa! Kalo teriak itu yang benar dikit! Lebih nyaring kek!" balas Rara dengan berteriak.


Raya hanya mampu menutup kedua telingganya mendengar Rara dan Rissa yang saling menyahut dengan berteriak.

__ADS_1


"Gimana kabar lo?" tanya Rissa setelah duduk.


"Tadinya sih baik, tapi setelah lo datang, gue langsung stres," jawab Rara asal.


"Cih ... by the way, perut gue juga udah gede. Entar anak kita seumuran kalo lahirnya, cuman beda bulan doang. Gue udah nggak sabar pengen dipanggil Mama." Risaa tersenyum sendiri membayangkan moment itu nanti.


"Iya kalo dipanggil Mama, kalo mereka manggil pembantu, gimana?" tanya Rara sambil terkekeh.


Satu sentilan mendarat tepat di kening Rara, pelakunya sudah tentu Rissa. Ia benar-benar kesal dengan sahabat sekaligus adik iparnya itu.


"Dasar, Rissa ka**ret!" maki Rara sambil mengusap keningnya.


"Eits, nggak boleh gitu sama kakak ipar," kekeh Rissa.


Rara hanya mendengus kesal, kemudian mereka mengobrol hal-hal yang tidak penting, biasalah perempuan kalo sudah kumpul bawaannya suka gibah.


"Lo kapan nyusul nikah Ya?" tanya Rara pada Raya.


'Aku bahkan sudah memiliki seorang putri' batin Raya.


"Nggak tau, doa'in aja secepatnya," jawab Raya tersenyum.


"Emang lo ada pacar?" tanya Rara penasaran.


"Aku lagi dekat sama Nono."


"Nono mantan lo itu?" tanya Rara memastikan.


"Iya, kita lagi PDKT sih, mungkin sebentar lagi jadian," jawab Raya berbohong.


"Iya, kapan-kapan pasti aku kenalin kok. Sekalian bawa suami kamu juga, biar kita saling kenalan," ucap Raya memberi usul.


Rara mengangguk semangat, sepertinya sangat menyenangkan jika mereka pergi jalan-jalan berenam, dan yang pastinya berpasang-pasangan.


"Hai bumil-bumil." Tiba-tiba saja datang seseorang yang ternyata adalah Reza.


Rara dan Rissa kompak menatap jengah Reza, sepertinya bertemu dengan Reza adalah suatu musibah untuk mereka. Reza berdecak kesal dengan respon teman kuliahnya itu, lalu tidak sengaja mata Reza menatap wanita yang ada di samping Rara. Reza sedikit melebarkan matanya saat melihat wanita yang sepertinya ia kenali.


D-dia?


"Kenapa, ya?" tanya Raya yang sedikit risih dengan tatapan Reza.


"E-h maaf, nama lo siapa?" tanya Reza langsung.


Meski sedikit bingung, Raya tetap menjawabnya. "Nama aku Raya, Raya Giesella," jawab Raya sedikit mengangkat sudut bibirnya.


"Ternyata benar," gumam Reza dengan suara yang sangat pelan, sehingga tidak ada yang mendengarnya.


"Dan kalian bertiga saling kenal?" tanya Reza lagi.


"Iya! Kita adalah sahabat rasa saudara!" jawab mereka bersamaan, kemudian tertawa. Berbeda dengan mereka, Reza justru membeku mendengarnya, apa ia tidak salah dengar? Sa-sahabat rasa saudara?


"G-gue pergi dulu, ya? Bye ...."Reza langsung segera pergi dari sana, pikirannya tiba-tiba kacau saat bertemu wanita yang bernama Raya tadi.

__ADS_1


"Nggak mungkin!" Reza menggeleng kepala, masih belum bisa mempercayai apa yang baru saja ia lihat dan dengar.


Rara dan Rissa yang melihat gelagat aneh Reza hanya mengangkat bahu acuh, menurut mereka Reza memang sudah tidak waras dari dulu. Berbeda dengan mereka, Raya justru mengerutkan alisnya, ia sempat mendengar laki-laki itu bergumam, hanya saja ia tidak mendengar dengan jelas.


'Kenapa dia seperti terkejut melihatku?'


Tak berselang lama, makanan yang mereka pesan akhirnya datang. Tanpa basa-basi mereka segera menyantapnya dengan sesekali bercanda bersama.


"Oh iya, gimana kalo kita ke rumah bunda?" tanya Rara.


"Boleh boleh, kebetulan aku juga kangen sama bunda Elmira dan ayah Abimanyu," jawab Raya mengembangkan senyumnya. Rissa mengangguk mengiyakan, ia juga cukup lama tidak bertemu mertunya, karena Rissa dan Satya memilih untuk tinggal sendiri saja, dan marga mereka juga sudah diubah menjadi Velove.


Mereka lalu keluar dari dalam restoran tersebut, dan memesan taksi online menuju rumah Abimanyu.


******


"Assalamualaikum!" teriak Rara dan Rissa kompak. Sementara Raya hanya mampu mengelus dada mendengar teriakkan mereka yang menggelegar.


"Wa'alaikumsalam. Eh kalian?" Elmira cukup terkejut melihat keberadaan putri dan menantunya.


"Hai Bunda!" sapa mereka bertiga kompak.


"Dia siapa?" tanya Elmira heran melihat Raya.


"Ish Bunda, ini aku Raya!" jawab Raya sambil memanyunkan bibirnya.


"Raya?" Elmira kembali mengingat-ingat nama itu. "Oh Raya! Wah, sekarang kamu makin cantik aja!" Elmira sedikit berteriak saat mengetahui jika wanita itu adalah Raya, wanita yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.


Mereka lalu berpelukkan, menyalurkan rasa rindu karena sudah lama tidak bertemu.


"Gimana kabar kamu?" tanya Elmira lembut, sedangkan Rara dan Rissa yang diabaikan langsung beranjak dan berjalan menuju lemari pendingin, memakan apa saja tersedia di sana.


"Aku baik kok Bun, gimana kabar kalian juga?"


"Bunda sama Ayah baik kok. Oh iya, kok kamu belum ngisi? Teman-teman kamu udah pada ngisi lho," goda Elmira.


"Entar deh kalo aku udah balikan sama mantan aku. Aku pasti kenalin dia sama Bunda dan Ayah kok," jawab Raya tersenyum. Tentu yang ia maksud adalah Alden! Memangnya siapa lagi mantannya? Alden adalah satu-satunya mantan yang dia miliki!


"Yaudah secepatnya ya! Kalo mantan kamu geraknya lambat, kamu yang nyatain cinta duluan! Setelah itu bawa ke hadapan Bunda dan Ayah. Kita akan langsung menikahkan kamu, dengan Ayah yang akan jadi penghulu kamu." Elmira jadi tidak sabar menanti pernikahan anak ke tiganya. Ya! Elmira memang sangat menyayangi Raya. Raya sudah ia anggap seperti putrinya sendiri.


"Makasih ya Bun. Kalian adalah penyelamat hidup Raya. Tanpa kalian, Raya mungkin nggak akan bisa hidup." Raya lalu memeluk Elmira, merasa beruntung karena dipertemukan dengan wanita sebaik Elmira. Bahkan jika diberi pilihan, Raya akan memberikan nyawanya pada keluarga Jonshon dengan suka rela!


"Sama-sama sayang. Bunda kan udah nganggep kamu seperti putri Bunda sendiri. Bunda sayang sama kamu seperti Bunda menyayangi Rara. Jadilah wanita baik, ya Nak!" Elmira mengelus lembut pucuk kepala Raya.


Sayangnya Abimanyu sedang berada di kantor sekarang. Andai laki-laki itu tau keberadaan Raya, ia pasti sangat senang melihat putri yang sempat ia urus saat itu. Abimanyu juga sangat menyayangi Raya.


Raya terdiam mendengar kalimat terakhir Elmira. Perasaan bersalah kembali menelusup ke dalam hatinya.


'Maaf Bun, tapi Raya udah terlanjur'


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2