Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen

Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen
Akan Bertahan!!


__ADS_3

Raya terbengong setelah melihat kepergian Alden, pikirannya sudah berkeliaran ke mana-mana, memikirkan apa saja yang akan terjadi ke depannya.


Tiba-tiba handphonenya berbunyi dan menampilkan nama 'Kenzo baj**gan'.


"Halo." Dengan malas Raya menjawabnya.


"Bagaimana? Apa saja yang sudah kalian lakukan?" tanya Kenzo dengan terkekeh.


"Tidak ada!"


"Oh, benarkah? Tapi sayangnya aku sudah melihat semuanya dari layar laptopku apa saja yang kalian lakukan," kekeh Kenzo.


"Kau!" Raya benar-benar dibuat terkejut mendengarnya, jadi rumah ini sudah dipasang CCTV.


"Tidak perlu marah Nona. Lakukan saja tugasmu selanjutnya! Padahal aku sangat ingin kalian melakukan hubungan badan, karena dengan begitu semuanya akan hancur dengan cepat. Tapi sudahlah ... kau terlalu naif! Menolak berhubungan tapi terbuai dengan permainan laki-laki itu." Setelah mengatakan itu, Kenzo langsung mematikan pangilan tersebut.


"Huh ... setidaknya, video ini cukup kuat untuk menghancurkan wanita itu." Kenzo mengeluarkan smirk miliknya. "Diandra Diandra, kau dan suamimu sudah membuat aku muak! Bahkan aku tidak pernah mendapat tamparan, tapi suamimu dengan lancang merusak wajah tampanku!"


"Akan ku ledakkan tiga bom ini secara bersamaan. Ah ... sepertinya tidak menyenangkan, secara bertahap mungkin lebih membunuhmu!" kekeh Kenzo.


"Entahlah, aku memiliki dendam pada suamimu, tapi kenapa aku justru menyakitimu? He'em ... mungkin karena aku tak menemukan sesuatu di hidupmu untuk menyakiti dia. Sementara suamimu, ternyata ada sesuatu yang terjadi di masa lalu, dan yang lebih mengejutkannya, dia sahabatmu. Entah bagaimana reaksi kalian jika aku mempertemukan kalian bertiga di satu tempat." Kenzo terus terkekeh membayanginya.


"Dan aku tidak sabar menunggu masa itu tiba!" pekik Kenzo sambil merentangkan tangannya.


*******


Rara menggeliat, mengerjab-ngerjapkan matanya. Lalu mengambil handphone yang ada di atas nakas, melihat jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


"Uh ...."Rara merasa sedikit sesak akibat pelukan suaminya yang cukup kencang. Ia lalu menyingkirkan tangan Alden, kemudian mengumpulkan nyawanya yang memang masih belum terkumpul sepenuhnya.


Setelah merasa nyawanya terkumpul, Rara lalu berjalan keluar dari kamar.


"Aduh, lapar," gumam Rara sambil mengelus perutnya.


Rara tersenyum melihat perutnya yang sudah membesar, tidak menyangka jika sebentar lagi ia akan menjadi seorang ibu. Tiba-tiba Rara berpikir, apakah ia akan mengurus dan membesarkan anaknya seorang diri? Tanpa sosok ayah di sampingnya?


Tidak! Rara tidak akan membiarkan anak-anaknya tumbuh tanpa seorang ayah. Besar tanpa sosok ayah di sampingnya, adalah mimpi buruk yang tidak akan pernah terjadi! Rara tidak akan membiarkan itu terjadi! Dia harus membesarkan anak-anaknya dengan keluarga yang utuh. Di mana anaknya bisa memanggil Mommy dan Daddy.

__ADS_1


"Apa pun yang terjadi, Mommy bakal bertahan demi kalian," gumam Rara tersenyum sambil mengelus perutnya.


Ya, apa pun yang terjadi, dia tak boleh berpisah dengan Alden. Dirinya pun tak boleh egois, hanya memikirkan dirinya sendiri, karena sekarang ada nyawa lain di dalam perutnya. Rara akan bertahan meskipun hatinya harus ditusuk oleh ribuan jarum, pokoknya anak-anaknya harus merasakan kebahagiaan dari keluarga yang utuh!


"Lo bisa Ra! Gue tau kalo lo kuat! Jangan lemah! Lo nggak boleh egois sampai memilih berpisah dengan suami lo!" Rara menguatkan dirinya sendiri.


Rara lalu keluar dari kamar, dan berjalan menuju dapur. Rara memilih tidak menghidupkan lampu yang ada di ruang tamu, takut mengganggu orang rumah.


Rara berjalan menuju lemari pendingin, mencari makanan yang bisa ia makan. Ternyata masih ada makanan sisa tadi sore. Ia lalu mengambilnya dan memanasinya. Tak memerlukan waktu lama, makanan pun jadi.


Wanita itu lalu memakan dengan sangat lahap. Karena untuk ke depannya dia harus memiliki banyak tenaga menghadapi kemungkinan Alden yang akan kembali berbohong kepadanya.


Berbohong itu bagaikan nark*ba, membuat candu. Di mana sekali kamu berbohong, maka ke depannya akan berbohong lagi dan lagi. Tapi percayalah, suatu saat nanti kebohongan itu akan terungkap juga. Seperti kata pepatah 'Sepandai-pandai seseorang menyimpan bangkai, suatu saat akan tercium oleh orang-orang'.


Selesai makan, Rara lalu mencuci piring dan wajan yang ia gunakan tadi. Setelah itu berjalan menuju ruang tamu, memilih untuk menonton TV saja, karena tidak mungkin ia tidur sehabis makan.


TV menyala, menampilkan sinetron Indonesia. Rara menonton TV dengan volume yang kecil, karena takut membangunkan orang rumah yang sedang istirahat.


Pikiran Rara kemana-mana, wanita itu bahkan tak menonton TV. Lagi-lagi Rara teringat akan kebohongan yang sudah dilakukan oleh suaminya. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi ke depannya. Bagaimana jika suaminya bersatu dengan mantan kekasihnya? Apakah ia dan anak-anaknya akan dibuang oleh Alden?


"Bukankah ending dari kehidupanku sudah bisa ditebak?" lirih Rara.


Bukankah berpura-pura menjadi kuat cukup menyiksa?


Jika hal yang Rara takuti benar-benar terjadi, Rara yakin orang yang paling hancur adalah Abimanyu. Ia sangat tau seperti apa ayahnya. Rara yakin laki-laki itu akan menyesal seumur hidup melihat putri kesayangannya hancur, karena sudah memaksa anak perempuannya untuk menikah.


Tak terasa air mata terus membasahi pipi mulusnya. Wanita itu menangis di tengah kesunyiaan malam, wanita itu benar-benar terpukul. Wanita yang selalu menunjukkan senyum dan sikap bodo amatnya kepada semua orang, kini menjadi wanita yang sangat lemah.


Lelah menangis, mata Rara mulai terasa berat. Perlahan-lahan wanita itu terlelap, efek kelelahan menangis dan perut kenyang. Karena malas untuk bangkit dan kembali ke kamar, Rara memilih untuk tidur di sofa saja, toh sofanya juga empuk.


Tiba-tiba datang seseorang mendekati Rara yang tengah terlelap. Tangan kekarnya mengusap pipi wanita itu yang masih basah karena sisa air matanya yang masih belum mengering.


"Maafkan Mas, sayang," ucap laki-laki itu memandang sendu wajah Rara.


******


Alden menggeliat saat merasakan tidak ada Rara di sampingnya. Sedikit panik, apakah wanita itu pergi? Tapi Alden kembali tenang saat tau jika kemungkinan besar sekarang Rara tengah berada di dapur. Sejak hamil, Rara memang sering terbangun tengah malam karena merasa sangat lapar, bahkan saat tidurnya telah lelap sekali pun.

__ADS_1


Alden berjalan keluar dari dalam kamar. Memilih untuk mengendap-endap agar langkahnya tidak terdengar oleh Rara. Ternyata benar, Rara sedang berkutat dengan wajan.


Alden tersenyum melihat istrinya yang sibuk memasak. Ingin menghampiri istrinya, tapi ia takut, takut jika istrinya masih marah.


Alden langsung bersembunyi di balik tembok saat Rara berjalan menuju meja makan. Untungnya semua lampu ruangan sudah mati, jadi Rara tidak akan menyadari keberadaan Alden. Hanya lampu dapur yang menyala, dan dengan jelas Alden dapat melihat apa saja yang di lakukan istrinya.


Alden terus memperhatikan Rara, hingga akhirnya Alden mendengar isak tangis Rara. Alden dapat melihat dengan jelas bahu wanita itu yang bergetar, bahkan samar-sama Alden mendengar lirihan Rara yang tidak terdengar jelas di telingganya.


Alden mengepalkan tangannya, merasa telah menjadi laki-laki yang paling bre**sek yang sudah membuat istrinya menangis. Bukan menangis karena bahagia, melainkan menangis karena terluka. Ini adalah pertama kalinya Alden melihat dengan mata kepalanya sendiri, Rara menangis akibat kebr***sekkannya.


Rasa bersalah langsung memenuhi relung hatinya. Ia bingung apa yang harus ia lakukan. Meninggalkan Ella? Itu tidak mungkin! Wanita itu sedang membutuhkan dirinya sekarang, ditambah wanita itu sedang sakit dan tidak mempunyai keluarga sama sekali, ia tidak mungkin sejahat itu pada Ella. Tapi, melihat istrinya yang menangis membuat Alden bersalah.


"Maafin Mas sayang, mungkin setelah ini Mas akan berbohong lebih banyak lagi," lirih Alden.


"Apa yang harus gue lakukan? Apa gue cerita aja masalah penyakit Ella pada Rara, agar nggak terjadi kesalahpahaman? Tapi gue nggak pengen buat Rara makin sedih." Alden menjadi bingung, ingin bercerita atau tidak perihal Ella yang sebenarnya sedang sakit, dan itu alasannya meninggalkan Rara di pantai, karena menjaga Ella.


Merasa jika Rara sudah tertidur, Alden berjalan mendekat dan mengusap pipi wanitanya yang masih terasa basah akibat air mata.


Dengan pelan, Alden mengangkat tubuh Rara dan membawanya ke kamar. Nafasnya mulai ngos-ngosan saat menaiki tangga. Mengingat tubuh Rara sudah naik, entah berapa sekarang berat badan Rara, Alden tidah tau. Setiap ia menanyakan hal itu pada Rara, istrinya tidak mau memberitahukan, rahasia negara katanya.


Hingga akhirnya dia tiba di kamar, merebahkan istrinya. Setelah itu ia bersandar di sisi ranjang sambil mengatur nafasnya yang hampir habis. Untung saja dia mampu membawa istrinya dengan selamat, tidak ada yang namanya terjungkal ataupun terguling ke bawah.


Alden mengusap kepala istrinya dengan penuh kasih sayang. Tak bisa dipungkiri jika dia sudah jatuh cinta pada Rara. Wanita itu yang bisa merobohkan dinding pertahanan Alden yang sudah ia bangun dengan sebaik mungkin untuk tidak jatuh cinta kembali. Tapi, Rara justru dengan mudah merobohkannya.


"Mas sangat mencintai kamu Ra. Mas minta maaf kalau Mas masih belum bisa jujur sama kamu tentang Ella. Mas berharap kamu tetap mau berada di samping Mas sampai semua ini selesai," gumam Alden sambil terus mengusap pucuk kepala Rara.


"Kamu tenang aja, di hati Mas hanya ada nama kamu sayang, sedangkan nama Ella sudah tergeser." Alden lalu memejamkan matanya, menyusul istrinya yang lebih dahulu terlelap.


Tanpa Alden sadari, Rara terbangun saat laki-laki itu mengangkatnya, tetapi ia berpura-pura masih tidur.


Rara percaya sama Mas. Rara akan bertahan, sampai kesabaran itu habis


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2